
Beberapa hari kemudian..
Vitto membaringkan Rana di tempat tidur yang ada di kamarnya. Rana hari ini sudah di ijinkan untuk pulang. Sebelum pulang, Rana meminta Vitto mengantarnya ke pemakaman dan berziarah ke makam bayi serta kedua orang tuanya. Rana tidak bisa menghentikan tangisnya ketika berada disana, teringat bagaimana hari-harinya selama hamil. Dia selalu berharap bahwa bayinya bisa menjadi pelipur lara nya nanti, membayangkan bahwa akan sangat menyenangkan sekali jika bayi itu lahir tetapi ternyata Tuhan menyayanginya dan mengambilnya lebih cepat. Rana mencoba untuk mengikhlaskan nya tetapi dia tentu masih belum menerima jika ternyata ada seseorang yang berhati kejam telah berusaha untuk mencelakai orang lain. Rana sendiri sebenarnya juga menyalahkan dirinya sendiri karena tidak berhati-hati saat mengkonsumsi makanan itu juga tidak memberitahu atau menanyakan pada Vitto, akan tetapi terlepas dari itu Angel sangatlah jahat sekali bisa melakukan hal serendah itu, berniat mencelakai Vitto dan entah untuk apa tujuannya.
"Kau beristirahatlah... Jeany sebentar lagi sampai, aku akan ke dapur untuk mengambilkanmu minum...!" Ucap Vitto sambil membelai kening Rana kemudian mengecupnya lembut.
Rana tersenyum. "Disinilah sebentar saja sampai Jeany datang, ambil minumnya nanti saja...!" Gumam Rana.
Vitto mengernyit. "Kenapa?? Baru beberapa hari meninggalkan rumah ini dan kau mulai takut sendirian??? Apa kau melihat sesuatu di pojokan sana???" Vitto menunjuk. "Atau di pojokan itu, atau disana???"
Rana memukul lengan Vitto. "Kau ini.... Ya sudah pergi sana jika kau tidak mau menemaniku...!"
Vitto terkekeh lalu naik ke atas tempat tidur, duduk bersila di samping Rana. "Oke baiklah tuan putri, aku akan menemanimu...!"
"Jadi kau akan pulang dan tidak tinggal disini lagi???" Tanya Rana.
"Iya, tetapi tidak untuk beberapa hari ini, aku harus memastikanmu benar-benar sembuh, besok aku akan membawa satu pelayan dari rumah agar bisa mengerjakan pekerjaan rumah, sementara kau harus full istirahat, jangan melakukan kesibukan apapun itu...!" Jawab Vitto.
"Aku sudah tidak lagi harus bersembunyi dari Vino, dan kau akan meninggalkanku...!"
Vitto tersenyum. "Bukan seperti itu sayang... Aku tetap akan kesini setiap hari, lagipula jika Vino tahu kau tinggal disini dia juga tidak akan bisa masuk dengan mudah tanpa ijin darimu atau dariku, aku sudah memberitahu Mario dan Tania, bahwa semua tetap akan sama, penjagaan tidak ada yang berubah..!"
Vitto belum memberitahu Papa nya jika Rana sudah mengatakan bersedia untuk menikah, karena Vitto merasa suasana belum terlalu kondusif karena Vino sendiri masih dalam tahap merencanakan untuk menjebak Angel dan menyeret perempuan itu ke penjara. Vitto merasa bahwa sebaiknya dia menjelaskan itu nanti saja jika masalah Vino sudah beres, lagi pula Rana juga masih sakit dan mereka berdua belum bisa membahas perihal kapan dan akan bagaimana nanti pernikahan mereka. Vitto juga belum terpikirkan akan melamar Rana dengan cara apa dan akan bagaimana. Sekarang dia hanya akan berfokus pada kesembuhan Rana, dan menghilangkan kesedihan Rana setelah kehilangan bayi nya.
"Lebih baik kau hubungi managermu dan lanjutkan lagi syuting yang kemarin kau batalkan karena aku...! Kau bilang itu akan di tunda dan mereka pasti masih menunggu pemberitahuan mu, jadi kau harus segera melanjutkannya, jangan terlalu lama membuat mereka menunggu!" Ujar Rana.
"Aku akan pergi kalau kau sudah benar-benar sembuh..!"
"Vitto...! Aku sudah membaik, aku juga bisa berjalan, ke kamar mandi sendiri dan lainnya, aku bisa menjaga diriku, lagipula tadi kau bilang kalau kau akan mengirim pelayan kesini jadi apa lagi yang harus kau khawatirkan?? Ada Jeany yang akan sering kesini juga..! Segera hubungi mereka, jangan sampai mereka kecewa dan membuat kau kehilangan kontrak, kita butuh banyak uang untuk menikah kan???" Rana tersenyum kemudian mengedipkan matanya dengan genit.
Vitto tertawa dan mencubit hidung Rana. "Apa kau ingin pernikahan yang mewah???" Tanya Vitto.
"Setiap perempuan memimpikan pernikahan yang meriah meskipun tidak mewah, mungkin aku salah satu dari mereka, tetapi nasib buruk tidak membawaku kesana, kemarin aku menikah tanpa tamu, hanya Angel saja dan petugas yang menikahkan kami serta saksi dua orang, sangat sederhana dan sama sekali tidak pernah aku bayangkan sebelumnya." Rana tersenyum mengenang dan matanya berkaca-kaca.
"Bahkan setelah itupun aku mengalami berbagai hal yang juga tidak ada dalam bayanganku bahwa begitu buruknya pernikahanku, suamiku tidak pernah mencintaiku, dia selalu menyiksaku jika aku coba untuk memprotes perilaku buruknya, puncaknya dia malah sengaja mengikatku di kursi dan melakukan hubungan badan dengan perempuan lain..! Buruk sekali...!" Rana tersenyum miring.
"Kau tidak akan mengalami itu lagi, aku akan membahagiakanmu, mencurahkan seluruh cinta dan perhatianku padamu, kau akan menjadi istri yang akan selalu aku bahagiakan setiap waktunya, kau bisa pegang janjiku...!" Vitto membungkuk mengecup dahi Rana, meluapkan segala cintanya.
__ADS_1
Rana membelai kedua pipi Vitto, menatap lelaki itu dalam senyum manisnya. "Aku berharap kau mau menerima segala kekurangan yang ada pada diriku, melengkapinya dengan cintamu, jangan sampai aku merasa tersakiti lagi seperti dulu, bagiku yang kemarin sudah cukup...!" Ucap Rana.
"Kau akan memulai hal baru dan akan aku pastikan kau selalu bahagia bersamaku...!" Vitto memandangi wajah Rana.
Kedua mata mereka sejajar, Vitto yang membungkuk dan Rana yang berbaring di atas ranjang, wajah Vitto mendekat lalu mereka berciuman dengan lembutnya. Bibir Vitto meluumat bibir Rana dengan penuh perasaaan, membuatnya terlena. Lidahnya menelusur pelan kemudian, mencecap rasa yang sudah lama dirindukannya, rasa yang sangat dikenalnya.
Vitto memperdalam ciuman nya menciptakan sensasi yang berbeda. Membuat dia bisa mencecap, dan merasakan bibir Rana dengan cara yang lebih sensuaal.
Jemari Rana bergerak ragu dan menyentuh pipi Vitto, lelaki itu menempelkan pipinya di sana dan memejamkan matanya, jarinya meraih jari Rana dan mengarahkannya ke bibirnya.
Kali ini ada yang berbeda. Kali ini ada rasa sayang dalam ciuman ini. Ada perasaan lembut yang mengembang dalam pagutan bibir mereka. Vitto meluumat lagi bibir Rana, mencecap seluruh rasa bibirnya, seakan tidak pernah puas.
"Rana....!!! Vitto...!" Teriak Jeany.
Vitto langsung melepaskan bibirnya dari bibir Rana. Mereka berdua sama-sama terkejut. Vitto langsung kembali ke posisi nya semula, duduk dan bersila menghadap ke Rana, sedangkan Rana lekas merapikan rambut dan selimutnya. Beberapa detik kemudian, Jeany mengetuk pintu kamar dan masuk.
"Hai....!" Sapa Jeany. "Apa aku mengganggu kalian???" Tanya nya.
"Ah tidak... Kami menunggumu...!" Jawab Vitto dengan suara terbata karena dia masih terkejut.
"Yakin....???" Tanya Jeany lagi.
Jeany tersenyum, dia menyadari ada kegugupan diantara Rana juga Vitto. Jika saja dia tahu bahwa Vitto ada di kamar Rana, mungkin dia akan menunggu di bawah saja.
"Kau datang bersama Edward??? Apa dia ada di bawah???" Tanya Vitto.
"Kau tidak tahu ya??? Edward hari ini ada janji melakukan pemotretan dan shoot dengan Vino serta Angel...!" Jawab Jeany.
"Pemotretan??? Pemotretan apa???" Vitto mengernyit, terlihat bingung karena tadi Vino memberi tahu nya jika dia ada urursan di luar bukan akan melakukan pemotretan.
"Shoot untuk video dokumenter perjalanan asmara nya dengan Angel..!"
"Video dokumenter??? Untuk apa dia melakukan itu??? Seharusnya itu kan tidak perlu, toh dia juga tidak akan menikahi Angel...! Kenapa tidak pura-pura menunda nya saja... Buang-buang waktu saja...!"
"Aku dan Edward juga bingung dengan hal itu, tetapi Vino bilang bahwa itu akan di putar saat pertunangannya...!"
"Di putar saat pertunangan???" Gumam Vitto dan terlihat berpikir. "Apa rencana Vino sebenarnya??? Apa dia tidak menjelaskan kepada Edward, maybe rencananya dengan video itu atau apalah...???" Tanya Vitto lagi.
__ADS_1
"Tidak...! Dia tidak mengatakan apapun dan hanya meminta Edward menghubungi Mua, designer, penata rambut serta beberapa lainnya untuk persiapan hari ini, semalaman Edward justru di sibukka dengan menghubungi orang-orang itu karena Vino meminta nya dengan begitu mendadak, padahal hal itu harus di persiapkan dengan detail, begitu juga lokasinya, dan dalam waktu semalam Edward bisa memenuhi permintaan Vino, jadilah hari ini mereka bertemu untuk shooting..!"
"Aneh... Apa yang sebenarnya di rencanakan Vino... Kenapa dia malah melakukan itu???"
"Mungkin nanti kau bisa menanyakannya atau kita bisa lihat sendiri apa yang di lakukan Vino nanti di acara pertunangannya...!" Rana menimpali.
"Aku penasaran sekali, drama ini sepertinya akan semakin seru saja....!" Sahut Jeany yang langsung mendapat cubitan dari Rana.
Vitto meninggalkan kamar Rana untuk.mengambil air minum. Sementara Jeany menarik kursi dan duduk di sebelah tempat tidur Rana. Jeany tersenyum geli melihat Rana, membuat sahabatnya itu salah tingkah. "Kenapa kau senyum-senyum seperti itu???" Tanya Rana.
"Ah tidak.... Btw sorry ya Na...!" Ucap Jeany.
Rana menggerutkan dahi nya. "Sorry??? Untuk apa???" tanya Rana bingung.
"Sorry karena aku tiba-tiba datang mengganggu waktu kalian tadi...!"
"Mengganggu??. Tidak sama sekali... Justru aku dan Vitto sedang menunggu mu...!"
"Aku tahu pasti tadi kalian sedang melakukan sesuatu, lalu aku datang dan membuyarkan kalian berdua...!"
Wajah Rana langsung memerah. "Memang apa yang sedang kami lakukan, kau ini...!"
Jeany mengedipkan sebelah matanya menggoda Rana. "Tadi ada sehelai rambut panjang yang tertempel di pipi Vitto, ada juga sehelai lainnya yang ada di bahu nya, sepertinya kalian..???" Jeany memajukan bibirnya seolah mengejek Rana bahwa sahabatnya tadi pasti sedang berciuman atau apalah dengan Vitto.
"Jeany....!! Kau ini...!" Rana memukul paha Jeany dan wajahnya kembali memerah karena Jeany menyadari bahwa dia dan Vitto tadi sedang berciuman. Ciuman mereka memang cukup lama, dan Vitto juga cukup agresif saat menciumnya sehingga membuat beberapa rambutnya rontok dan menempel di badan Vitto. Mungkin lain kali mereka harus melakukannya dengan hati-hati.
★★★
Sementara itu, hari sudah malam, Vino dan Angel masih berada di suatu tempat untuk proses pembuatan video dokumenter perjalanan cinta mereka, sekaligus pemotretan untuk prewed meskipun tidak semuanya dan hanya akan mengambil beberapa foto saja. Sisanya akan di lakukan nanti setelah pertunangan. Begitulah yang di rencanakan oleh Vino, walaupun dia tahu bahwa setelah ini tidak akan ada lagi pemotretan prewed dengan Angel.
Saat ini masih ada beberapa shoot lagi. Sejak pagi mereka sudah di sibukkan dengan hal itu, dan harus berganti ke beberapa lokasi. Vino merasa lelah sekali dan juga terpikirkan dengan Rana yang pulang dari rumab sakit pagi tadi tetapi dia tidak bisa untuk menanyakan hal itu pada Vitto karena Angel bersama nya. Dan sebenarnya Vino juga sangat risih bersama Angel hanya saja dia harus bertahan dan tidak terlihat mencurigakan.
Vino sudah terlanjur janji dengan Edward dan Edward juga sudah mempersiapkan semuanya dengan baik sesuai permintaannya. Karena hal itu, Vino meminta Vitto agar mengurus kepulangan Rana dari rumah sakit. Dia mengatakan pada Vitto bahwa dia ada urusan mendesak, tidak mengatakan jika akan melakukan shoot dengan Angel. Mengenai hasil lab dari pie dan pudding pemberian Angel, Vino sudah tahu hasilnya yaitu keduanya mengandung obat yang sama seperti Pie yang di konsumsi oleh Rana. Artinya Angel memang memberikan obat itu pada makanan yang akan dia berikan pada Vitto dan Papa nya. Kekecewaan dan kemarahan Vino memuncak, sudah jelas sekali bahwa Angel berniat buruk terhadap Papa dan juga Kakaknya yang entah untuk tujuan apa melakukan itu. Vino merasa sangat di khianati, bahkan itu sangat melukai hatinya begitu dalam, lebih sakit daripada melihat video Angel bercinta dengan Sony. Vino semakin muak dengan semua ini, hidupnya sudah di kacaukan oleh Angel.
Vino juga sudah berbohong pada Angel dengan mengatakan bahwa Papa nya saat ini sedang sakit dan sengaja Vino melarang Papa nya pergi ke kantor untuk lebih meyakinkan Angel. Agar angel mengira bahwa usaha nya mencelakai Papa nya berhasil. Dan mengenai Vitto, Vino juga membohongi Angel, mengatakan bahwa Vittoasih di luar kota untuk mendaki gunung sekaligus syuting untuk sebuah acara jadi Vitto tidak bisa di hubungi.
Sementara itu, Angel cukup terkejut ketika Vino memberitahu nya bahwa akan melakukan shoot untuk pembuatan video dokumenter sekarang, padahal mereka sudah mengaturnya untuk nanti sebelum pernikahan. Tetapi ternyata Vino memiliki alasan lain kenapa ini harus di lakukan sekarang dan selesai dalam satu hari, yaitu karena Vino nanti akan di sibukkan dengan pekerjaan nya, apalagi Vino ke depannya akan memiliki banyak tender yanga akan menguras waktunya. Itulah kenapa ini harus di lakukan hari ini dan selesai dalam waktu satu hari.
__ADS_1
Angel merasa senang sekali karena sepertinya obat yang dia berikan ke dalam pie itu untuk Vitto dan Papa nya berhasil. Karena Vini sempat memberitahunya jika beberapa hari ini Papanya tidak bisa ke kantor karena sakit dan setengah bagian tubuhnya mati rasa, sehingga sekarang sedang beristirahat di rumah sambil melakukan perawatan. Dari situlah Angel menyimpulkan bahwa Papa Vino sudah memakan pie itu. Tetapi dengan Vitto, Angel tidak tahu apa itu juga sudah di makan atau belum oleh Vitto, mengingat Vitto masih belum kembali dari luar kota. Angel sudah mencoba mengorek hal itu pada Vino untuk memastikan, tetapi Vino bilang jika tidak ada kabar dari Vitto, karena Vitto sedang melakukan aktifitas mendaki gunung dan ponsel nya tidak aktif.