
Langkah itu semakin mendekat, Rana bergegas mencari tempat untuk sembunyi. Rana berlari menuju ujung rak lalu bersembunyi disana. Rana diam dan terdengar suara pintu ruangan ini di tutup dari luar. Rana mengintip dan benar saja pintu itu di tutup. Wajah Rana langsung panik, dia sepertinya akan terjebak disini.
Rana melangkah perlahan mendekat ke pintu itu, lalu dengan pelan dia mencoba menurunkan gagang pintu itu, dan tidak bisa diturunkan yang artinya dia di kunci dari luar. Rana langsung terduduk lemas dilantai. Dia terjebak itu sudah pasti, dan dia juga bingung bagaimana nanti jika pelayan atau Vino mencarinya. Mereka pasti akan bertanya-tanya kemanakah dirinya pergi karena tidak ada di kamar.
"Aku tidak menemukan petunjuk apapun disini dan aku justru terjebak.... Oh God kenapa nasibku selalu saja buruk....!!" Rana mendesah dan menghela napasnya panjang. "Aku harus mencari alasan agar Vino tidak mendampratku dan menyiksaku... Tetapi alasan apa???" Gumam Rana lagi sambil terus memikirkan sesuatu untuk menghindari kemarahan Vino.
Sementara itu, Vino membuka pintu mobilnya dan keluar dari sana membawa bucket bunga mawar putih, bunga kesukaan mendiang Vania, adiknya. Setelah melakukan meeting dengan Klien, Vino memutuskan untuk datang ke area pemakaman mewah, dimana Vania beristirahat disana untuk selama-lamanya. Vania meninggal beberapa bulan setelah mengalami kecelakaan yang cukup parah beberapa tahun silam. Sebuah insiden yang menghancurkan hati Vino serta seluruh keluarganya.
Sepeninggal Vania, keluarga Vino menjadi hancur. Papanya menjadi sakit-sakitan dan Mamanya entah saat ini sedang berada dimana, Mamnya pergi begitu saja meninggalkannya dan Vitto serta Papanya. Sampai detik ini Vino masih belum bisa menerima kepergian adik tersayangnya. Itu sebabnya dia harus melakukan pembalasan dendam ini, agar semuanya menjadi setimpal. Tetapi beberapa terakhir ini Vino memutuskan untuk memberi ruang Rana agar sembuh dan berhenti menyiksanya, karena Vino sendiri tidak tega jika harus menyiksa seseorang yang sedang dalam keadaan sakit.
Vino berdiri di depan makam Vania, dan menatap pusara adiknya itu dalam diam dibalik kacamata hitamnya. Ketika datang ke tempat ini, Vino selalu berjanji di depan nisan adiknya itu bahwa dia akan membalaskan dendam Vania kepada keluarga yang sudah membuat adik ya itu celaka, dan Vino tidak akan pernah memaafkannya. Sayangnya saat ini dari keluarga itu hanya tersisa Rana saja, tidak ada pilihan lain selain Rana lah yang harus menanggung semuanya.
__ADS_1
Vino senang sekali ketika usahanya untuk balas dendam di dukung oleh Angel. Mengingat Angel adalah sahabat baik dari Vania dan dia juga masih sangat terpukul dengan kepergian Vania hingga detik ini.
Setelah kejadian kecelakaan itu, Vania mengalami luka yang sangat parah dan mengalami koma selama lebih dari satu bulan. Luka di kepalanya sangat parah dan di operasi beberapa kali sebelum akhirnya Vania sadar tetapi meskipun sadar, Vania mengalami kelumpuhan di tubuhnya, dan hanya bisa berbaring lemah diatas temlat tidur. Dia juga tidak bisa berbicara. Penderitaan yang dialami Vania sangatlah menyakitkan. Kecelakaan itu menghancurkan seluruh impian Vania yang sudah disusun dan direncanakan dengan baik.
Saat itu Vania baru saja lulus dari SMA dan dia juga sudah diterima disalah satu kampus bergengsi di Amerika dan bersiap mengambil jurusan bisnis seperti halnya Vino. Kampus itu juga tempat dimana Vino dan Vitto berkuliah, itu sebabnya Vania sangat bahagia ketika dia dinyatakan berhadil masuk kesana sayangnya seminggu sebelum keberangkatannya ke Amerika, Vania juatru mengalami kecelakaan dan menghancurkan seluruh kehidupannya dan keluarganya. Papanya sakit justru ditinggalkan oleh Mamanya, dan setelah sakit seluruh tanggung jawab perusahaan dilimpahkan kepada Vino dan Vitto, tetapi sayangnya Vitto menolak untuk mengurus perusahaan dan menyerahkan semua kepada Vino. Vitto hanya meminta uang hasil penjualan aset miliknya, uang yang didapat Vitto nilainya sangat fantastic, bahkan Vitto bisa menikmati semua itu seumur hidupnya dan tidak pernah habis. Vitto menjalani kehiduoannya dengan bebas tanpa kekangan siapapun, sementara Vino harus berjuang keras mengurus perusahaan Papanya yang sangat besar itu. Penyebab Vino enggan berbicara atau menjenguk ayahnya diluar negeri adalah karena Vino masih marah kepada ayahnya itu karena sudah memberinya tanggung jawab besar seperti itu, itu juga yang menyebabkan Vino selalu bersikap dingin.
"Aku tidk akan pernah mengingkari janjiku kepadamu, perempuan itu sudah masuk ke dalam perangkapku dan aku perlahan sudah menghancurkan hidul dan kebahagiaannya, Rana memang pantas menerima semua itu karena itupun sebenarnya masih belum cukup untuk membalas semua penderitaanmu, tetapi aku janji akan lebih menghancurkan hati Rana, aku melakukan semua ini untukmu karena aku sangat menyayangimu Vania sayang.... Berbahagialab disurga sana, jangan khawatirkan apapun karena aku pasti bisa menyelesaikan semua ini..." Ucap Vino lalu menunduk dan meletakkan bucket bunga itu di bawah nisan adiknya.
Lalu kapan penderitaan Rana akan Vino akhiri??
Vino tidak tahu, saat ini yang menjadi titik fokusnya adalah menghancurkan Rana dan segalanya yang menjadi milik perempuan itu. Vino menyalakan mobilnya dan keluar dari area parkir pemakaman itu menuju villa nya.
__ADS_1
Vino sangat merindukan Angel, karena kekasihnya itu saat ini pergi ke luar negeri untuk urusan pekerjaan selama beberapa hari. Angel juga cukup sulit dihubungi tetapi Vino yakin bahwa kekasihnya itu pasti akan menghubunginya jika tidak sedang sibuk.
Di tempat lain, pelayan masuk ke kamar Rana membawakan semangkuk bubur dan segelas jus. Saat masuk kamar itu dalam keadaan kosong. Pelayan mencoba mencari di kamar mandi dan dia juva tidak menemukannya. Bergegas dia meletakkan nampan yang dipegangbya dan lari keluar kamar itu untuk mencari Rana.
Pelayan itu berlari kesana kemari mengecek satu persatu setiap ruang dan kamar yang ada, dan hasilnya tetap sama, Rana tidak sedang berada di manapun. Pelayan kemudian berlari turun dan menemui dua pengawal yanv berjaga di depan lalu menanyakan keberadaan Rama. Mereka berdua pun menggeleng dan tidak melihat Rana keluar dari rumah.
Pelaya itu semakin panik sekali, jika Rana kabur dari villa ini, tentu Vino tidak akan mengampuninya dan bisa-bisa lelaki itu juga menghajar serta memecatnya. Dia benar-benar panik dan tidak berhenti menyalahkan dirinya sendiri karena tidak becus menjaga Rana. Sampai akhirnya pelayan yang satunya tiba dan dia melihat kepanikan dari temannya itu. Kemudian diceritakanlah semuanya bahwa saat ini Rana sedang tidak berada di rumah ini.
"Bagaimana ini? Bisa-bisa kita berdua di pecat oleh Vino! Gadis bodoh jtu selalu saja merepitkan kita berdua..." Gerutu pelayan itu.
"Tidak ada pilihan lain selain menghubungi Tuan Vino, daripdakita harus membohonginya dan msalah kita akan menjadi semakin besar" Sahut pelayan yang satunyai
__ADS_1