Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 131


__ADS_3

"Rana.....!!! Aku pulang...!" Vitto masuk ke apartemennya dan memanggil Rana karena di dalam terlihat sepi.


Rana tergopoh keluar kamarnya dan dia hampir tersungkur karena tersandung kakinya sendiri. Beruntungnya Vitto langsung menangkapnya. "Astaga... Berhati-hatilah... Apa yang membuatmu terburu-buru??? Aku hanya memanggilmu untuk memberitahumu saja....!"


"Aku ingin menyambutmu tapi kau sudah pulang duluan...!"


Vitto melempar senyumnya kemudian melepaskan pegangannya pada Rana. "Aku kembali lebih awal karena tadi mengantar Papa ke pengadilan dan aku tidak kembali lagi ke kantor, aku hanya mempelajari berkas-berkas saja...!"


"Sebentar lagi kau pasti akan sibuk sekali... Mandi lah dulu, akan aku siapkan makanan untukmu, tadi aku membuat resep kue baru dan rasanya enak, kau harus mencobanya....!"


"Oke baiklah dan aku tidak sabar untuk mencobanya....!" Vitto mengusap kepala Rana dengan lembut kemudian meninggalkan perempuan itu dan masuk ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.


Rana menuju dapur menyiapkan kue yang tadi dibuatnya untuk Vitto. Ini hari pertama Vitto bekerja di perusahaan, dan Rana tidak ingin melewatkan untuk merayakannya dengan lelaki itu meski hanya dengan cara sederhana. Resep kue yang baru pertama kali dicobanya ternyata sangat enak. Rana yakin Vitto akan sangat menyukainya. Rana memotong kue itu, meletakkannya di piring, kemudian mengambil buah delima untuk dijadikan jus.


Vitto melempar tubuhnya ke sofa, menghela napasnya. Hari pertamanya bekerja berjalan dengan sangat baik. Dia hanya membaca berbagai berkas untuk dipelajarinya. Pembicaraan dengan Papanya mengenai rencana pernikahan Vino sedikit membuat Vitto merasa kesal, membuat moodnya sedikit berantakan. Memikirkan apa yang sebenarnya direncanakan oleh Angel membuat Vitto pusing. Perempuan licik itu pasti sudah merencanakan sesuatu dibalik alasannya menerima permintaan Vino untuk menikahinya. Tidak mungkin seseorang bisa langsung berubah pikiran hanya dalam beberapa hari padahal sebelumnya dia menolak dengan keras permintaan itu.


Sedangkan untuk perceraian kedua orang tuanya, itu sudah didaftarkan dan tinggal menunggu jadwal untuk sidangnya. Vitto berharap semua berjalan lancar dan Papanya bisa terbebas dari belenggu Mamanya yang licik dan tidak berperikemanusiaan itu. Vitto melepas sepatunya kemudian jas yang di pakainya baru setelah itu dia berdiri dan menuju kamar mandi.


****


"Apa kau sudah memutuskan kapan kau akan menikah??" Tanya Papa Vino. Saat ini mereka sedang dalam.perjalaman pulang.


"Hari dan tanggalnya belum, tetapi rencananya 3bulan lagi Pa.... Papa senang tidak aku akan menikah???" Tanya Vino balik pada Papanya.


"Jika putra Papa bahagia, kenapa Papa harus melarang...! Papa hanya ingin jika memiliki menantu adalah perempuan yang baik, menyayangimu dengan tulus dan bisa membahagiakanmu...!"

__ADS_1


"Angel pasti akan jadi menantu yang baik untuk Papa...!" Gumam Vino dengan senyumnya yang tidak luntur dari wajahnya.


"Semoga saja... Tetapi jika boleh jujur, Papa sangat merasa cocok jika melihatmu bersama Rana, sayangnya kalian menikah memang bukan karena saling mencintai, kau hanya menikahinya karena dendam... Tapi ya sudahlah jika pilihanmu adalah Angel, Papa tidak akan bisa menghalangi kalian...!"


"Papa jangan mengingatkanku itu lagi... Itu sudah berlalu... Dan aku tidak sepenuhnya salah dalam hal itu....!" Gumam Vino seraya berfokus dalam mengemudi.


Papa Vino hanya bisa melempar senyum tipis. Ingin sekali rasanya dia mengatakan pada putranya itu bahwa saat ini Rana sedang hamil dan bayi yang dikandungan Rana adalah anak Vino. Sayangnya dia sudah berjanji pada Vitto dan Rana untuk merahasiakan hal ini dari Vino sampai waktu yang belum ditentukan. Ada perasaan kasihan di hati Papa Vino pada Rana, karena perempuan itu harus melewati semuanya sendirian dimasa sulit seperti ini. Yang dilakukan Vino oada Rana juga masih belum bisa papa Vino terima, seharusnya lutranya itu tidak melakukan hal serendah itu meskioun Rana istrinya tetap harus diperlakukan dengan baik. Bukan malah dipaksa dan disiksa seperti itu.


****


Vitto sudah selesai mandi, berganti pakaian dan dia hanya menyisir rambutnya yang basah ke belakang. Vitto keluar dari kamarnya menuju ruang makan, dimana Rana sedang sibuk disana. Rana memandangi Vitto yang tersenyum san berjalan me arahnya. Lelaki itu terlihat sangat tampan ketika seperti ini. Vitto memakai tshirt putih dengan celana pendek warna abu-abu, membuatnya semakin terlihat sempurna. Penampilan seperti ini selalu mbuat Rana terpesona diam-diam.


"Wah terlihat sangat lezat....!" Gumam Vitto yang langsung kenarik kursi, duduk dan memotong kue buatan Rana. Vitto memakannya dan matanya terpejam karena rasanya sangat nikmat. "Seperti tampilannya, rasanya juga sangat enak... Kau memang ahli dalam hal ini...!"


"Aku senang kau menyukainya, aku membuatnya spesial untuk merayakan hari perrtamamu bekerja...!"


"Kau tadi bertemu dengan Angel ya???" Tnya Vitto.


Rana mengangkat kepalanya menatap Vitto. "Tania dan Mario memberitahumu ya???"


Vitto mengangguk. "Dia tidak melihatmu kan???"


"Ku rasa tidak, karena aku segera pergi, tetapi mobil kami berdampingan di area parkir, aku melihatnya dari dalam mobil, cukup dekat"


"Berdampingan??? Tapi dia tidak melihatmu kan???" Seru Vitto.

__ADS_1


"Tidak, aku ada di dalam dan tubuh Mario menghalangi kaca pintu mobil jadi Angel tidak bisa melihatku....!"


"Ahhh syukurlah... Lain kali kau harus hati-hati ya saat keluar???"


Rana menganggukkan kepalanya. Dia berjanji pada vitto akan sangat hati-hati lagi jika sedang keluar.


★★★


Keesokan harinya, di kantor Vino. Papa Vino memeberika sebuah berkas keoada Vino yang duduk disampingnya. Itu adalah proposal untuk menawarkan kerja sama perusahaan dengan perusahaan luar negeri. Perusahaan di singapura yang ditangani oleh oranv dari negara ini sendiri. Itj adalah permintan kerja sama dalam bentuk Vino menerima itu dan mulai membaca berkas itu dengan baik. Sementara diam-diam Papa Vino mengirim pesan ke Vitto agar outra pertamanya itu masuk ke ruangan ini untuk membantjnya meyakinkan Vino agar bersedia untuk mengajukan kerja sama dengan perusahaan besar itu.


Selang beberapa menit, Vitto mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk oleh Vino dari dalam. Vitto pun pura-pura bertanya beberapa hal mengenai berkas perusahaan mereka itu langkah pertama sebelum nanti akhirnya Vino mau menyetujui pengajuan itu. Vitto duduk dan mencoba diam sebentar karena adiknya terlihat sibuk dengan tumlukan berkas di depannya.


"Apa Papa yakin mereka mau bekerja sama dengan Kita???" Tanya Vino.


"Kenapa tidak, Papa mengenal pemilik perusahaan itu, kita akan untuk banyak ketika bekerja sama dengan perusahaan itu, kita harus mencobanya...!" Jawab Papa Vino.


"Memangnya rencana bekerja sama dalam hal apa???" Sahut Vitto. Vino pun memberikan proposal yang di pegangnya pada Vitto dan Vittoulai membacanya.


"Lalu apakah kita harus mengundang mereka???" Tanya Vino pada Papanya.


"Kita akan mengundang mereka kesini jika kerja sama ini sudah disetujui, tetapi alangkah lebih baiknya kita pergi kesana menemui mereka, ajak Vitto juga agar kakakmu itu mengerti juga...!"


Vitto mengangkat kepalanya memandang bergantian ke arah Papanya dan Vino. "Mengajakku??? Apa tidak salah???" Vitto bertanya pura-pura heran.


"Memangnya kenapa? Sekalian kau bisa latihan...!" Sahut Vino. "Oke aku setuju, kita bertiga akan peegi kesana, kau juga ikut..." Vino menunjuk ke arah Vitto.

__ADS_1


Vitto hanya mengeluarkan ekspresi bingung dan pura-pura terkejut padahal dalam hatinya dia sangat senang, berharap ini awal yang baik untuk rencanamya dan Papanya berhasil menjebak Angel. Papa Vino akan mengatur untuk berbicara lebih dulu dengan pihak perusahaan itu sebelum.nanti mereka datang kesana.


__ADS_2