
"Pa...! Kita pulang sekarang ya???"
Vino memutar kursi kerjanya dan mengarahkan pandangannya ke Papanya yang sedang sibuk menatap layar laptop. Papa Vino mendongak melihat ke arah jam dinding, sudah hampir pukul empat sore, memang sudah waktunya untuk bersiap pulang.
"Iya Vin, ya sudah kita bersiap-siap...!"
Vino berdiri memakai jasnya kemudian mengambil jas Papanya dan membantunya memakai. Vino dan Papanya akan pulang ke rumah Vitto lagi, mereka akan tinggal selama beberapa hari. Vino hanya ingin berjaga-jaga saja. Terlebih lagi sekrang Jason juga ada disini dan bersama Mamanya, yang artinya mereka bisa saja ingin melakukan sesuatu yang licik dan bisa menyakiti Papanya. Rumah Vitto tidak diketahui oleh Mamanya, jadi Vino merasa aman berada disana.
"Kita akan ke rumah Vitto lagi???" Tanya Papa Vino.
"Iya Pa, kita pulang kesana saja, itu lebih baik untuk sekarang...!"
"Jangan menyusahkan kakakmu Vin, dia jarang pulang dan kau harus bisa menjaga sikap....!" Ujar Papa Vino.
__ADS_1
Dia harus mengingatkan hal itu pada Vino, agar Vino tidak terlalu berlebihan saat tinggal di rumh Vitto. Mengingat Vino memiliki sikap yang terlalu berlebihan ketika mencurigai sesuatu. Papa Vino tidak ingin jika Vino terlalu berlebihan bersikap pada Vitto, terlebih lagi saat ini Vitto sedang mengurus persembunyian Rana dan segala sesuatunya harus dilakukan dengan hati-hati.
Saat sarapan tadi pagi, Vitto sudah memberitahunya mengenai perginya putranya itu dengan Rana. Dan apa yang sudah dilakukan Vita pada Vitto sehingga Vitto terpaksa untuk meninggalkan apartemennya. Dia hanya berharap istrinya agar berhenti melakukan hal nekat yang justru membuat Vitto ataupun Vino semakin membencinya. Seharusnya Vita bisa menahan diri untuk tidak bersikap seperti itu. Vino dan Vitto sudah cukup banyak menderita selama ini. Keduanya terlihat baik-baik saja, terlihat acuh tetapi hati keduanya sangat rapuh karena harus dihadapkan dengan situasi yang menyesakkan dada seperti ini. Dia sangat kasihan sekali terhadap kedua putranya itu. Dia juga tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Vino namti saat semua kedok Angel terbingkar, Vino pasti akan hancur sekali. Belum lagi dengan kehamilan Rana, yang entah sampai kapan akan terus disembunyikan dari Vino. Ingin sekali kadang-kadang dia bisa memberitahu Vino tetapi dia menahan diri dan mencoba menghargai keputusan Rana yang tidak ingin Vino tahu mengenai hal itu.
Setelah bersiap, Vino mendorong kursi roda Papanya keluar dari ruangannya untuk pulang. Vino akan membawa Papanya ke rumah Vitto lagi.
"Papa..! Sebenarnya Papa istirahat saja dan tidak perlu ikut ke Singapura, aku dan Vitto akan bisa menangani itu....!" Vino membawa Papanya masuk ke dalam lift.
"Iya, Vino khawatir jika Papa bepergian jauh... Papa akan mudah lelah kan???"
"Papa kemarin dari Paris kesini oke oke saja, lalu kenapa Papa harus khawatir jika hanya pergi ke Singapura...!"
"Ah iya.... Memangnya Papa waktu datang kesini dari Paris, Papa dan tante naik pesawat apa??? Dan kenapa Papa senekat itu padahal kondisi Papa masih belum pulih sepenuhnya...!" Tahya Vino.
__ADS_1
"Vitto mengirim pesawat untuk menjemput Papa dan tantemu disana"
"Mengirim pesawat??? Maksudnya???" Vino mengernyit.
"Vitto mengirim private jet milik temannya, dia menyewanya sebenarnya tetapi endingnya temannya itu tidak mau dibayar"
"Baik sekali....! Teman Vitto yang mana yang punya private jet???" Tanya Vino lagi seraya mendorong keluar kursi roda Papanya dari lift.
"Aditya... Aditya Sahasya, Ceo HS Enterprise, kau pasti mengenalnya....! Dia teman baik Vitto sejak mereka kuliah di Oxford dulu...!"
Vino mendongak ke atas tampak berpikir. "Aditya Sahasya??? Hs Enterprise, ah ya ya ya aku tau... Aditya yang itu, aku beberapa kali bertemu dengannya dan pernah bekerja sama juga, dia sangat terkenal loyal dan baik di kalangan pimpinan-pimpinan perusahaan... Jadi dia adalah teman Vitto...!"
"Iya...!"
__ADS_1