
Vino mendekap Arindah, mendongakkan dagu istrinya. Sehingga wajah Arindah menatapnya. Vino memegang dagu istrinya itu dan mendekatkan wajahnya untuk mencium nya tetapi tiba-tiba terdengar suara ponsel berbunyi di luar. "Ah sepertinya ponselmu berbunyi... Aku ambil dulu, takut penting..." Ucap Arindah sambil tersenyum dan melepaskan pegangan Vino. Arindah pun meninggalkan Vino, dan wajah lelaki itu mengernyit serta terlihat kesal. Arindah hanya terkekeh sambil lalu.
Tak lama Arindah kembali masuk dan memberikan ponsel Vino. "Ini....!" Arindah menyodorkan ponsel suami nya.
"Ya Halo..." Jawab Vino. "Bagaimana??? Ada perkembangan apa???" Tanya nya langsung.
"Kami sudah dapatkan orang yang punya kenalan di rutan.. " Ucap orang yang menghubungi Vino.
"Serius??? Kau sudah mendapatkannya???" Tanya Vino tidak percaya.
"Iya bos, saya sudah mendapatkannya... Dia punya teman di sel perempuan... Lalu apa yang harus saya lakukan???" Tanya orang itu.
"Oke, bawa dia ke rumahku sekarang, aku akan menunggu kalian... Dan tugaskan yang lain untuk mengawasi Reino, aku yakin dia akan menemui Angel jika tidak siang pasti sore, di jam kunjungan... Jadi bawa orang yang kau maksud itu untuk menemuiku, aku tunggu di rumah saja, kebetulan aku akan ke kantor sedikit siang karena harus mengantar istriku bekerja... Kau bisa membawanya???" Tanya Vino.
"Bisa bos, saya akan menghubungi dan menjemputnya... "
"Oke, aku akan kirim alamat rumahku, dan datanglah kesini, segera mungkin..." Vino pun mengakhir panggilan itu. Dia tersenyum karena apa yang dia harapkan hampir terwujud. Dan dia ingin rencana nya kali ini berhaskl6, setidaknya sedikit mendapatkan gambaran kecil apa yang dilakukan oleh Reino di rutan itu.
"Mereka dapat???" Tanya Arindah.
"Ya... Semoga usahaku membawa hasil hari ini..."
"Semoga saja.... Kau berarti tidak akan bersiap ke kantor sekarang??? Kenapa tidak menunggu mereka di kantor saja???" Tanya Arindah.
"Tidak apa, aku menunggu mereka di rumah saja, dan sekaligus nanti mengantarmu, lagipula aku juga ada meeting di luar kantor, sekalian nanti kesana..." Jawab Vino.
"Karena aku kau jadi jarang berangkat kerja tepat waktu... "
Vino melempar senyum dan mengecup bibir Arindah. "Aku bisa berangkat ke kantor kapanpun, lagipula mengantar istriku juga adalah tugasku..."
Pintu ruang ganti terbuka. Langkah kecil Naufal, membuat Vino lekas menghampiri anaknya itu dan menggendongnya. "Ada apa anak ganteng??? Kau sudah lapar???" Tanya Vino.
Naufal memegang mainannya dan menunjukkan pada Vino. "Opa..." Ucapnya. Vino pun langsung mengerti maksudnya.
Vino mencium pipi Naufal dengan gemas. "Kau ingin turun dan bermain dengan Opa??? Oke, Papa akan mengantarmu ke bawah... Biarkan Mama berganti pakaian dulu..." Ucap Vino. "Aku akan turun, kau bisa mengganti pakaianmu dan bersiap, kita akan sarapan.."
Arindah menganggukkan kepala nya. "Baiklah... Aku akan mengganti pakaianku.... "
Vino keluar kamar bersama Naufal, meninggalkan Arindah sendirian. Arindah tersenyum, dia benar-benar bahagia dengan pernikahannya. Vino melakukan tugasnya dengan baik sebagai suami, serta begitu menyayangi Naufal. Hubungannya dengan Vino juga seperti suami istri pada umumnya, hanya saja mereka belum saling mengungkapkan perasaan masing-masing. Arindah akan menunggu hari itu, dimana Vino akan mengungkapkan perasaan nya. Karena sebenarnya dia juga sudah kembali memliki perasaan yang nyaman dan perasaan cinta nya pada Vino yang dulu sempat hilang juga sudah mulai kembali. Kehangatan dan perhatian Vino selama ini membuat Arindah menaruh hati, seperti saat dulu dia menyukai lelaki itu.
Perempuan mana yang tidak meleleh ketika setiap hari dia di hujani oleh banyak cinta dan kasih sayang serta perhatian dari suami nya. Selalu mengawali hari dengan kecupan manis di pagi hari. dan mengakhiri hari dengan percintaan yang romantis serta memuaskan saat malam hari. Itulah kehidupan pernikahan yang Arindah impikan selama ini, dan semua itu terwujud bersama cinta pertama nya. Tidak hanya tampan yang begitu rupawan, tetapi kelembutan dan perlakuan Vino selalu membuat Arindah merasa nyaman dan bahagia. Apalagi ketika mereka melakukan hubungan badaan, Vino sangat luar biasa ahli.
Tidak lama, Vino kembali naik dan masuk ke kamar. Dia terkejut ketika mendapati Arindah masih berdiri di tempat yang sama saat tadi dia turun untuk mengantar Naufal. "Hei... Kok masih berdiri disini???" Tanya Vino sambil menutup pintu kamar. Dia mendekati Arindah. "Kenapa??? Kata nya ingin ganti baju???"
Arindah tersenyum. "Kau sudah mengantar Naufal???" Tanya Arindah.
__ADS_1
"Dia bersama Papa di ruang tengah, sedang bermain..."
Arindah melempar senyum dan sedikit maju ke depan mendekat ke Vino. Arindah melingkarkan kedua lengannya di leher lelaki itu dan bergelayut manja. Arindah menciumi leher Vino dan menyentuh bibir lelaki itu. "Kumisnya sudah tumbuh, kenapa kau tidak mencukurnya??? Kalau kau berkumis kah terlihat tua... " Ucap Arindah.
Vino terkekeh. "Terlihat tua??? Hahaha kau ini bisa saja... Aku akan mencukurnya nanti, jika itu yang kau mau...."
"Aku bisa melakukannya.. Kau mau???"
"Iya, nanti... Aku sekarang kan sudah rapi begini..."
"Oke... Nanti aku tidak hanya akan mencukur kumismu saja, yang lain juga... "
Vino mengernyit. "Yang lain???"
Arindah mengangguk.
"Yang mana??? Yang di bawah??? Kan sudah bersih, dan aku juga tidak menyukai jika panjang, membuatku terlihat kotor.. Kau juga bilang kalau kau menyukai nya karena bersih...???"
"Bukan yang itu... Dasar kau ini..." Arindah mencubit pinggang Vino. "Maksudku, rambutmu.. " Arindah memegang kepala Vino. "Aku akan sedikit merapikan nya..."
"Rambutku??? Ah tidak tidak... Weekend nanti aku ke barbershop saja... "
"Tidak perlu.... Aku bisa melakukannya, hanya sedikit di rapikan saja... Apa kau tidak percaya padaku???"
"Bukan begitu... Nanti kalau jadi makin berantakan bagaimana??" Tanya Vino.
"Oh....!" Vino terkekeh. "Jadi kau merayu ku???? Aku sudah mandi dan juga sudah rapi, kau tau itu kan??? Tadi aku sudah mengatakan bahwa kau tidak perlu menyiapkan sarapan sehingga waktumu bisa kau gunakan untukku... Sekarang aku sudah mandi dan rapi, kau malah menggodaku... "
"Nanti bisa mandi lagi, mandi denganku lebih menyenangkan...!" Ucap Arindah dengan nada sensuaI.
"Ada Naufal nanti, dan kau harus segera bersiap karena kita harus sarapan.."
"Itulah kenapa, lebih baik sekarang saja, Naufal ada di bawah..." Arindah melepaskan pegangannya pada Vino, lalu pergi menjauh menuju pintu. Vino hanya diam memperhatikan istrinya saja sambil tersenyum, penasaran dengan apa ang akan di lakukan istrinya. Vino mengira Arindah akan keluar tetapi justru mengunci pintu kamar.
"Kau yakin akan bisa menolak ku???" Arindah berjalan sambil melepaskan gaun yang di pakai nya. Berjalan pelanggan menghampiri Vino. Setelah melepaskan gaunnya, Arindah melepaskan br'a nya di lanjutkan dengan ceIana daIam nya.
Arindah memeluk Vino dan mencium lelaki itu. Vino tidak menolaknya dan justru membalasnya. Karena bagaimana bisa dia menolak sesuatu yang begitu menyenangkan, dan sikap berani Arindah inilah yang sangat Vino sukai.
Setelah puas berciuman, tanpa arahan Arindah duduk berjongkok di depan Vino, dan dia membuka ikat pinggang Vino kemudian resIeting ceIana suaminya itu. Arindah mencoba mengeluarkan peniis Vino dan menggenggamnya. Dengan penuh kelembutan, Arindah menggunakan jemari nya untuk mengusap senjata milik suaminya itu. Lembut dan mulai mengeras secara perlahan. Arindah pun mulai menciumi dari ujung hingga pangkal nya, setelah itu mulai menguIumnya. Arindah tahu ini adalah bagian yang di sukai oleh Vino.Arindah bergerak dengan mulutnya, dan Vino sangat menikmati nya. Vino menekan kepala Arindah agar menguIum lebih dalam lalu menahannya beberapa detik kemudian melepaskannya.
"Sudah cukup... Kita harus segera menyelesaikannya, karena kita sudah di tunggu untuk sarapan.. " Ucap Vino seraya membantu Arindah berdiri.
Vino langsung mengangkat Arindah dan membawanya ke tempat tidur.
Tanpa melepas pakaiannya, Vino pun mulai menyatukan dirinya dengan Arindah. Vino berdiri dan posisinya pas dengan tempat tidur, sehingga dia bisa dengan leluasa bergerak sedangkan Arindah berbaring di atas tempat tidur. Vino mengangkat kedua kaki Arindah, menumpukan pada kedua pundak nya. Tangannya memegang kedua pay*dara istrinya itu, dan bergerak maju mundur dengan ritme teratur. Posisi ini membuat Vino bisa leluasa dan menekan miliknya lebih dalam lagi di milik Arindah.
__ADS_1
"Uhhhh... Astaga Vino.... Kau sangatuar biasa... Ohhh... " Racau Arindah.
"Kau menyukai nya???? Aku akan melakukannya setiap hari untuk mu.... "
Vino bergerak semakin cepat. dia harus segera menyelesaikan ini dengan Arindah karena mereka harus segera turun untuk sarapan.
****
Sekitar setengah jam berlalu, Vino dan Arindah akhirnya turun. Ketika turun, ternyata Papa Vino sudah berada di ruang makan, sedang menyuapi Naufal. "Hei.. Anak Papa sudah lapar ya???" Vino mendekati Naufal dan mengecuk kepala bocah itu. "Maaf ya.... Papa dan Mama lama.. Kau tidak nakal kan tadi???" Tanya Vino dan Naufal menggeleng
Papa Vino tersenyum, menyadari bahwa penampilan Vino sedikit berantakan di bandingkan saat tadi mengantarkan Naufal kepada nya. Selain itu, Arindah juga masih mengenakan gaun yang sama seperti tadi, padahal sebelumnya Vino mengatakan jika Arindah akan berganti pakaian sehingga memintanya agar menjaga Naufal lebih dulu. "Cucu Papa sangat pintar, dan dia sangat senang bermain dengan Opa nya... Jika ada urusan, kalian bisa menitipkan nya lagi pada Papa, karena Naufal sangat senang bermain dengan Papa..."
"Dia sangat mudah bergaul dan memang bukan anak yang rewel jadi dia juga mudah dekat dengan Papa... " Ujar Vino.
"Oh iya tadi kau bilang jika istrimu akan bersiap dan berganti pakaian, tetapi yang Papa lihat dia masih mengenakan pakaian yang sama seperti tadi, dan kau juga kenapa terlihat berantakan Vin??? Kau bilang akan menyelesaikan pekerjaanmu sambil menunggu istrimu, sehingga kau menitipkan Naufal pada Papa??? Tetapi sepertinya kalian baru saja melakukan hal lainnya???" Ucap Papa Vino sambil menahan tawa.
"Eeehhh Vino memutuskan tidak jadi langsung ke kantor Pa, itu... Ehhh.... Arindah praktek jam 10, dan aku berniat mengantarnya, selain itu eh ada yang akan datang, jadi aku meminta bertemu di rumah... Jadi ya Arindah tidak jadi berganti pakaian, dan aku mengacak-acak rambutku... " Jawab Vino gelagapan.
Sedangkan Arindah terlihat salah tingkah. Wajahnya juga memerah. Merasa malu dengan Papa mertua nya.
Papa Vino tersenyum dan mencoba menahan tawa nya ketika melihat ekspresi Vino dan Arindah yang salah tingkah dan wajah mereka memerah. "Dudukkah, sebelum sarapannya dingin.. Jangan saling berpandangan seperti itu, sebelum wajah kalian semakin memerah seperti kepiting rebus.... Duduklah, memang siapa yang akan datang???"
Vino menarik kursi untuk Arindah dan untuk dirinya sendiri, lalu mereka duduk. "Anak buahku... Aku ingin membreefing mereka..."
"Untuk apa??? Tanya Papa nya lagi.
" Membuntuti Reino.. "
. Oaapa Vino menghela napasnya. "Apalagi yang ingin kau lakukan Vin??? Tapi ya sudahlah, lakukan apa saja yang menurutmu baik, semoga sukses... Ayo kalian harus segera sarapan..."
★★★
Kedua orang itu akhirnya datang. Dan Vino juga baru saja selesai menyantap sarapannya. Arindah mempersilahkan mereka untuk duduk. Karena Vino ada di atas sedang mengambil sesuatu dan akan segera turun.
Tak lama Vino memang turun dan menghampiri kedua tamu nya itu. Anak buah Vino pun memperkenalkan temannya pada Vino, bukan laki-laki tetapi seorang perempuan. "Well, terima kasih kau sudah berkenan datang, kau pasti sudah di beritahu kenapa aku memanggilmu kesini... Aku butuh bantuanmu, aku sudah mendengar jika kau punya teman yang berada di rutan itu.. Dan aku ingin kau datang untuk menjenguknya, bukan berpura-pura tetapi benar-benar menjenguknya.. " Ucap Vino.
"Dan saat menjenguknya nanti, aku ingin meminta kalian berdua masuk bersamaan dengan Reino, catat dan ingat baik-baik siapa yang ingin di temui Reino... Jika bisa, kalian juga duduk tidak jauh dari Reino saat di ruang kunjungan.."
Vino menyodorkan sebuah alat kecil kepada mereka berdua juga sebagai foto kecil dimana di sana ada foto Angel. "Ini foto perempuan bernama Angel, pastikan jika yang di temui Reino adalah perempuan ini, jika iya, kalian gunakan alat ini untuk merekam, kalian bisa tempel kan di bawah meja atau kursi yang di duduk Reino, sehingga nanti bisa merekam dengan jelas obrolan mereka... Sementara kalian bisa berpura-pura mengobrol dengan teman kalian itu, jika dia tahu dan mengenal Angel, coba kalian pancing dan minta bantuannya juga mengawasi Angel, aku takut Angel merencanakan sesuatu di dalam sana, tenang, aku akan memberi kalian uang, jika kalian mampu bekerja sama... Kalian pasti mengerti maksudku kan???"
"Mengerti bos.... Maksud anda ingin menjadikan teman kami kata-kata di dalam sana, begitu kan???"
"Yups... Tepat sekali, itu jika teman kalian yang disana mengenal Angel, tetapi jika tidak ya tidak perlu... Dan ini hadiah kecil dariku untuk permulaan, jika berhasil, aku akan menambahkannya.. " Vino memberikan amplop cokelat yang berisi uang. "Kerja dengan bagus, Hati-hati dan teratur, dapatkan informasi sekecil apapun itu dari Reino dan orang yang di temui nya... Aku percayakan ini pada kalian.. Jika hasilnya bagus, kalian akan aku nerima bonus yang lebih besar... Ingat, Rapi dan hati-hati.. Mengerti???"
"Mengerti bos... Kami akan berhati-hati... Dan anda akan langsung dapatkan info nya setelah selesai... "
__ADS_1
"Oke.... Jika berhasil kalian hubungi Aku dan nanti temui aku, entah disini jika sudah malam, atau langsung ke kantorku, jika aku masih disana.. Sekarang pergilah dan laksanakan dengan baik... Aku percayakan pada kalian...