
Vino terus berpikir eras mencari cara bagaimana agar Vitto tidak curiga kepadanya tentang Rana. Vino merasa bahwa tempat ini paling aman untuk mengurung Rana. Selain jauh dari keramaian, Vino juga sudah mendesain secara khusus agar Rana tidak bisa kabur dari tempat ini sebelum semua dendamnya pada Rana terbayarkan.
Sementara itu Angel supir itu membawanya berkeliling saja tanpa membawa Rana ke klinik ataupun rumah sakit. Dia harus menunggu kabar dari Vino mengenai keadaan villa, karena Angel tahu bahwa tempat paling aman untuk menyekap Rana adalah villa itu. Vino saat ini pasti sedang memikirkan sesuatu untuk menghindari kecurigaan Vitto.
Inilah ketakutan Angel selama ini, Vitto akan datang lalu mengacaukan semuanya. Vitto juga bukan laki-laki yang bisa dengan mudah dibodohi, dia akan selalu berusaha untyk menemukan sesuatu yang sekiranya mengganjal di hatinya sampai dia bisa menemukannya.
Dan Angel sangat panik ketika tadi dia datang dan menemukan mobil Vitto terparkir di depan. "Bagaimana bisa kau membiarkan Vitto masuk ke dalam villa? Bukankah seharusnya kau meminta ijin dulu pada Vino....?!" Teriak Angel marah kepada penjaga yang saat ini sedang mengemudikan mobilnya.
"Kami pikir tuan Vitto boleh masuk...!"
"Bodoh....!!! Aku dan Vino kan sudah bilang bahwa jangan ijinkan siapapun masuk selain kami berdua...! Bagaimana bisa kau membiarkan Vitto masuk begitu saja....!" Teriak Angel lagi.
"Tuan Vitto kan saudara tuan Vino jadi itu alasan kami membiarkannya masuk...!"
"Bodoh.....! Jika aku ataupun Vino sudah mengatakan bahwa tidak boleh ada siapapun yang boleh masuk kecuali kami, harusnya kau sudah bisa berpikir, siapapun itu mau saudara Vino ataupun orangtuanya tetap saja kau harus mendapatkan ijin darinya untuk mempersilahkan mereka masuk, kau dan temanmu itu memang tidak berguna.... Lihatlah kekacauan yang kalian buat sekarang....! Vino pasti tidak akan mengampuni kalian...!"
Penjaga itupun terdiam mendengar kemarahan dari Angel dan nanti dia juga harus bersiap dengan kemarahan Vino. Bahkan mungkin juga harus bersiap karena Vino tidak akan segan-segan memukulnya jika pekerjaan yang diberikan lelaki itu tidak berjalan dengan baik. Dan itulah yang sering dilakukan Vino padanya dan temannya yang lain. Dia sangat menyesal sekali kenapa bisa melakukan kesalahan seperti ini padahal tahu bahwa hubungan Vino dan Vitto tidaklah harmonis, harusnya dia memberitahu Vino lebih dulu apalagi Vino tadi berada di dalam. Ini benar-benar gawat sekali tetapi semua sudah terlambat dan Vino pasti akan marah besar nanti.
__ADS_1
Vino masih duduk dengan Vitto di ruang tamu. Vino ingin sekali segera bisa menghubungi Angel untuk memberinya iintruksi tetapi dia tidak mungkin meninggalkan Vitto begitu saja yang justru nanti akan menambah kecurigaan kakaknya tersebut. Vino mencoba mengajak Vitto mengobrol hal lain untuk mengalihkan kakaknya itu dari pembahasan mengenai Rana.
"Bagaimana kondisi Papa???" Tanya Vino.
Vitto terkekeh. "Apa matahari sekarang terbit dari barat?" Tanya Vitto balik.
Vino mengernyit mendengar pertanyaan itu. "Maksudmu???"
"Tidak....! Aku pikir matahari terbit dari barat setelah mendengar pertanyaanmu itu, kau menanyakan kondisi Papa setelah bertahun-tahun.... Apa yang membuatmu peduli seperti itu?"
Vitto menggeleng dan tersenyum. "Tidak pernah ada yang salah dari adikku....!"
"Ah sudahlah malas sekali aku mengobrol denganmu...!" Gerutu Vino.
Vitto tidak menanggapi dan beranjak dari sofa. "Aku ingin istirahat jadi jangan sampai ada yang menggangguku...!" Ujar Vitto kemudian meninggalkan Vino dan naik ke lantai 2 dimana disana kamar untuknya sudah disiapkan.
Vino memperhatikan kepergian kakaknya, setelah merasa aman dia juga langsung naik ke kamarnya untuk menghubungi Angel. Vino menutup dan mengunci kamarnya lalu masuk ke kamar mandi dan menghubungi Angel. Vino meminta kekasihnya itu agar membawa Rana kembali ke tempat ini karena Vino tahu bahwa jika Vitto sedang beristirahat tidak akan ada yang berani mengganggunya dan Vitto juga akan sangat lelap ketika tidur. Tidak lupa Vino menyuruh Angel agar membeli obat tidur untuk Rana, untuk membuat perempuan itu tidur sepanjang hari sehingga tidak akan ada waktu untuk kabur atau bertemu dengan Vitto sehingga bisa membongkar kedok mereka.
__ADS_1
Sekitar 30 menit kemudian, Angel menghubungi Vino dan meminta lelaki itu keluar karena dia sudah sampai. Beruntungnya Rana masih dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Vino akhirnya keluar dengan wajah penuh kemarahan kepada penjaga pintu gerbang villa ini. Tanpa banyak bicara, Vino langsung memukul wajah mereka berdua bergantian sebagai ungkapan kekesalan serta kemarahannya atas keteledoran mereka berdua membiarkan Vitto masuk tanpa memberitahunya. Setelah menghajar keduanya, Vino langsung mengangkat Rana dan membwa perempuan itu naik ke kamarnya lagi. Tidak lupa sebelumnya Vino sudah meminta seorang pekayan berjaga di depan kamar yang digunakan oleh Vitto berjaga-jaga takut Vitto keluar dari kamarnya, tetapi pelayan itu memberitahunya bahwa Vitto sepertinya sudah beristirahat.
Vino membaringkan Rana di tempat tidur, sementara Angel memilih bersantai di halaman belakang membiarkan Vino mengurus Rana. Vino kemudian duduk di sebelah tempat tidur Rana dan menatap dingin perempuan itu dalam diam. Rasa dendamnya terlalu tinggi pada Rana sehingga Vino sama sekali tidak memiliki rasa belas kasihan kepada perempuan itu.
Vino melirik ke atas meja dimana disana ada sebuah gelas berisi air putih. Vino mengambilnya dan langsung saja menyiramkan air itu tepat di wajah Rana yang awalnya tidak sadarkan diri langsung terbangun dengan rasa terkejut yang luar biasa. Rana kembali terbatuk-batuk dan mengusap wajahnya lalu memandangi Vino dalam ketakutan.
"Sudah cukup istirahatnya! Sekarang aku harus memberitahumu satu hal penting...! Ingat dann Cam kan baik-baik ucapanku ini, jangan membantah dan jangan sampai kau mengabaikannya atau aku akan menghabisimu dalam hitungan detik saja dengan ini...!" Vino menunjukkan sebuah bubuk kristal yang ada di dalam plastik kecil yang di pegangnya.
"Ini adalah sianida, kau tahu kan ini akan bisa menghabisi orang dalam beberapa detik saja, aku bisa melakukannya padamu jika kau tidak menuruti keinginanku dan jangan membantahku... Mengerti...!" Ucap Vino.
Rana terdiam, dia benar-benar takut sekali. Dia tidak ingin mati cepat, karena banyak hal yang masih ingin dia lakukan. Dan Rana tentu tidak ingin mati konyol ditempat ini. Ancaman Vino selalu tidak main-main lelaki kejam itu akan selalu menepati ancamannya untuk menyakiti Rana.
"Katakan...! Apa yang kau inginkan...!" Jawab Rana dengan suara yang pelan dan lemah.
"Jangan sampai kau mengatakan kepada Vitto tentang semua yang sudah aku lakukan padamu, jika dia bertanya jawablah sebisa mungkin dengan berbohong....! Jangan juga katakan bahwa kau adalah istriku dan aku sudah menikahimu, jangan katakan itu padanya. Jika kau tidak melakukan itu, aku akan bisa memaksamu memakan ini dan kau akan langsung mati....! Kau mengerti???" Teriak Vino.
__ADS_1