
"Nyari kopi yukk...!" Ajak Veronica pada Rana.
"Boleh...!"
Veronica menoleh sambil tersenyum ke arah Rana. Dia kemudian mengarahkan mobilnya ke sebuah coffee shop. Tetapi Veronica mengajak Rana untuk tidak minum kopi di dalam coffee shop itu melainkan pergi ke taman agar mereka bisa mengobrol lebih enak, dan membahas detail persiapan pernikahan Rana dengan Vino. Tanpa curiga, Rana pun mengiyakan. Veronica turun dan memesan kopi untuknya dan Rana, membiarkan Rana menunggu.
Sampai akhirnya Veronica kembali dengan 2 kopi ditangannya. Veronica memberikan ice coffee latte pesanan Rana dan mereka melanjutkan perjalanan ke sebuah taman yang berada tidak jauh dari coffee shop itu.
Mereka turun dari mobil dan mengobrol sambil menyedot es kopi mereka. Mereka berjalan menyusuri taman kemudian duduk di sebuah bangku taman.
Veronica terlihat sangat antusias dengan persiapan pernikahan Rana dan Vino. Rana hanya bisa tersenyum seraya mendengarkan semua yang dikatakan oleh Veronica karena perempuan itu yang berjanji akan menyiapkan semuanya. Sementara Rana dan Vino nanti tinggal terima beres saja.
Rana pun hanya bisa mengangguk dan menuruti saja semua yang diinginkan oleh Veronica. Rana bisa melihat dengan jelas kebahagiaan perempuan disampingnya itu, dan Veronica dari awal adalah orang yang sangat menyenangkan bagi Rana. Veronica juga pasti bisa menjadi teman yang baik untuknya nanti.
Setelah puas mengobrol, Veronica pun mengajak Rana untuk pulang karena hari sudah mulai gelap. Mereka berjalan pelan sambil mengobrol sampai akhirnya ponsel Rana berdering dan senyumnya melebar ketika nama Vino ada disana.
"Hai sayang... Apa kau dan Ve sudah pulang???" Tanya Vino dengan cepat ketika Rana mengangkat panggilannya.
"Belum...! Ini baru mau pulang...!" Jawab Rana.
"Cepat pulang, ini sudah gelap...! Ve akan membawamu ke rumah dan nanti aku yang akan mengantarmu pulang...!"
__ADS_1
"Iya....! Ini kita akan pulang...!"
Rana kemudian menutup panggilan dari Vino. Dia dan Veronica kembali melanjutkan perjalanan mereka keluar taman untuk menuju rumah Vino. Tapi tiba-tiba saja seseorang merebut ponsel Rana yang baru akan dia memasukkan ke dalam tasnya. Sontak Rana dan Veronica terkejut bukan main, dan Rana langsung menyadari bahwa ponselnya telah dijambret orang. Seketika itu Rana langsung berteriak dan mencoba mengejar laki-laki itu, disusul dengan Veronica. Sayangnya laki-laki penjambret itu berlari dengan sangat kencang dan Veronica serta Rana tidak bisa mengejarnya. Dan dia kabur dengan motor.
Rana dan Veronica terengah setelah berlari mengejar jambret itu. Veronica kemudian menenangkan Rana. "Kita tidak mungkin mengejarnya...!" Ucap Veronica dengan masih terengah dan mengatur napasnya.
Wajah Rana terlihat sedih. "Ponselku...! Disana banyak sekali menyimpan nomor para customerku, bagaimana aku bisa bekerja tanpa ponselku???" Ujar Rana dengan sedih.
"Kita bisa mengurus lagi nomornya nanti, yang terpenting kita baik-baik saja... Kurang ajar memang mereka, main ambil saja yang bukan miliknya... Sabar ya???" Gumam Veronica lagi.
Rana mengangguk. Bukan perkara tentang ponselnya tetapi yang penting bagi Rana adalah kontak-kontak penting yang ada disana. Tetapi mungkin belum rejekinya, dan benar kata Veronica bahwa dia bisa mengurusnya lagi nanti. Mereka berdua pun akhirnya kembali area parkir untuk pulang.
Sampailah Veronica dan Rana di rumah Vino, dan lelaki itu ada diruang kerjanya. Veronica langsung menjelaskan kepada Vino perihal ponsel Rana yang di jambret oleh orang. Mendengar itu tentu saja Vino sangat terkejut meskipun sebenarnya dia sendiri sudah tahu karena dia dan Angel yang merencanakan itu. Bahkan untuk memancing agar Rana memegang ponselnya, juga adalah rencana Vino dimana dia sudah diberi kode oleh Angel untuk menghubungi Rana tadi.
"Kok bisa...??? Apa kalian tidak mengejarnya dan meminta bantuan orang disekitar sana???" Tanya Vino dengan suara terkejut.
"Sudah... Tapi kondisi cukup sepi, dan kami tidak berhasil mengejarnya...!" Jelas Veronica lagi.
"Astaga....!!!" Vino kemudian memeluk Rana dan mencoba menghiburnya. Sementara Angel dan Vino saling melempar senyum, menertawakan Rana.
"Jangan khawatir, kita akan mengurusnya... Aku akan membantumu nanti...! Aku akan membelikanmu ponsel baru nanti dan sim card nya akan aku urus...!" Ujar Vino meyakinkan Rana.
__ADS_1
Sudah tentu Vino tidak akan mungkin melakukannya, tetapi sudah pasti dia akan tetap berpura-pura melakukannya nanti.
Vino kemudian mengajak Rana ke taman belakang bersama dengan Veronica alias Angel untuk mengobrol perihal apa yang tadi sudah mereka lakukan dalam persiapan pernikahan.
"Vino...! Aku tadi sudah katakan pada Rana agar tidak perlu khawatir tentang oersiapan pernikahan kalian karena aku yang akan mengurusnya, kalian berdua hanya tinggal daftar saja, sisanya serahkan padaku...!" Gumam Veronica.
"Ya ... Ya ... Ya... Aku percaya sekali kau bisa mengurusnya, aku tahu kau banyak kenalan dengan WO, kau juga memiliki beberaoa teman yang memeliki pekerjaan itu, aku hanya ingin yang terbaik saja meskipun ini hanya pernikahan sederhana dan tidak akan dihadiri banyam orang tapi yang terbaik tetap harus dilakukan... Benarkan???" Vino mengarahkan pandangannya kepada Veronica dan Angel secara bergantian.
"Katakan bagaimana fitting gaunmu tadi???" Tanya Vino lagi.
Rana kemudian bergantian berbicara menjelaskan kepada Vino tentang fitting gaun yang tadi dilakukan oleh Rana. Bahkan Veronica juga menunjukkan foto Rana ketika memakai gaun itu.
Vino tersenyum dan memuji kecantikan Rana ketika memakai gaun itu. Dan Vino mengatakan bahwa gaun itu sangat cocok untuk Rana, karena pasti nanti saat pernikahan Rana akan terlihat cantik sekali.
Vino menggesek-gesekkan kedua telapak tangannya, dan ungkapan rasa tidak sabarnya menunggu hari itu tiba. Hari dimana dia akan menikahi Rana, dan akan menjadi laki-laki paling beruntung karena bisa bersanding dengan Rana yang sangat dicintainya itu.
Bohong....!
Tentu saja ucapan Vino itu bohong dan hanya dilakukan untuk membuat Rana semakin terjerat ke dalam jebakannya. Bukan hanya sebuah ponsel saja yang dihilangkan oleh Vino dan Angel. Tentu banyak hal yang lebih besar dari Rana juga akan mereka lakukan setelah Vino menikahi Rana.
Vino sudah bersiap menghilangkan semuanya dari Rana sehingga Rana nanti akan semakin menderita, baik mental dan fisiknya. Hari pembalasan akan segera tiba, dan Vino sudah tidak sabar untuk menikahi Rana.
__ADS_1