Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 64


__ADS_3

Vino terus mondar-mandir. Dia sangat gusar dan tidak tenang sama sekali. Sampai saat ini belum ada tanda-tanda ditemukannya Rana. Ini adalah hal yang tidak pernah dia duga sama sekali. Rana kabur lebih cepat, dan entah berada dimana perempuan itu sekarang. Vino tidak menyangka bahwa Rana bisa secerdik itu juga senekat itu, padahal tahu bahwa apa yang dilakukannya adalah hal yang sangat berbahaya. Vino berpikir apakah ini ada hubungannya dengan apa yang sudah dilakukannya pada Rana beberapa hari yang lalu. Masih terngiang ditelinganya tangisan dan rintihan Rana agar dia mau menghentikan aksinya, sayangnya Vino justru mengabaikan hal itu. Sejak saat itu Vino juga tidak lagi bertemu dengan Rana karena Rana selalu berada di dalam kamarnya. Dan Rana pasti marah sekali padanya.


Sebenarnya Vino sedikit merasa kecewa dengan dirinya sendiri karena dia tidak bisa menahan diri tetapi saat itu hasratnya sedang ingin disalurkan, dan Angel sedang tidak bersamanya. Awalnya Vino tidak merasa bersalah setelah melakukannya tetapi saat ini dia baru merasakannya. Entah kenapa keyakinannya mengatakan bahwa Rana kabur adalah karena apa yang terjadi kemarin. Vino tidak berani mengungkapkan semuanya kepada Angel karena perempuan itu pastilah akan marah besar nantinya. Dan dia bisa saja kehilangan Angel.


Sementara itu, Vitto menghabiskan makan siang sekaligus sarapannya dan Rana masih terlelap. Tadi dia memesan makan lewat online sehingga tidak perlu pergi lama untuk meninggalkan Rana. Yang terjadi saat ini adalah sebuah ketidakbenaran, dan Vitto sangat membenci itu. Rasanya dia ingin sekali menghajar Vino karena sudah berani memperlakukan seorang perempuan seperti hewan. Orangtuanya selalu mengajarkan untuk menghargai orang lain sekalipun itu adalah musuh, tetapi apa yang dilakukan Vino sudah diluar batas kewajaran.


Vitto sendiri juga tidak tahu kejadian pastinya seperti apa, dan bagaimana dulu Vania bisa mengalami hal mengerikan itu. Kebenaran dan apa yang terjadi hanya kedua orangtuanya yang mengetahuinya. Vitto sendiri saat itu merasa kesal dan juga marah menghadapi kenyataan kehilangan adik tersayangnya, tetapi dia mencoba ikhlas menerima takdir yang digariskan Tuhan. Melihat Vania kesakitan dan betapa menderitanya perempuan itu selalu menyayat hatinya, dan dia pernah sekali meminta pada Tuhan agar lebih baik mengambil saja nyawa adiknya itu daripada harus melihatnya menderita seperti itu. Tetapi ketika Vania pergi, suasana dikeluarganya menjadi buruk sekali. Puncaknya adalah ketika Mamanya meninggalkan rumah begitu saja saat Papanya sedang sakit. Semakin meninggalkan banyak kepahitan dikeluarga mereka.


Ya, Mamanya kabur bersama lelaki lain yang umurnya jauh dibawahnya. Lelaki itu bahkan seumuran dengannya. Mamanya pergi membawa babyak sekali uang dan menghilang samlai sekarang. Entah dia sudah meninggal atau belum, baik Vitto maupun Vino tidak tahu dengan hal itu.


Kejadian itu sempat membuat goyah keluarga mereka, beruntungnya Vino diberi kelebihan untuk mengurus perusahaan dan menjadikannya seperti saat ini. Vitto memang tidak berbakat dengan hal itu dan dia yakin bahwa adiknya sendiri akan mampu untuk menjalankannya. Sebenarnya perihal pembagian aset milik Papanya, bukan Vitto yang memintanya tetapi itu adalah keinginan Vino sendiri saat itu. Ya, selama satu tahun kepengurusan perusahaan ditangani oleh Vino sendiri dan selama itu pula Vino sudah tidak lagi berbicara ramah dengan Vitto karena memang Vitto menolak untuk membantunya. Bukan menolak lebih tepatnya Vitto memberi ruang agar adiknya itu bisa lebih sibuk dan tidak larut dalam kesedihan setelah kehilangan Vania dan kepergian Mama mereka yang semakin membuat kekacauan.


Vino memang sangat mencintai Vania, dia rela melakukan apa saja untuk melindungi adiknya itu, Vitto juga sama hanya saja jika mengenai kedekatan Vino lah yang paling dekat sekali dengan Vania.


Vino adalah orang yang paling terpukul ketika Vania meninggal, seolah dunianya hancur begitu saja. Melihat keterpurukan adik lelakinya, Vitto merasa bahwa Vino sepertinya harus memiliki kesibukkan lain agar bisa melupakan kesedihannya karena Vania. Itu sebabnya dia menyarankan kepada sang Papa agar Vino saja yang mengurus perusahaan. Sayangnya usaha Vitto itu justru membuatnya terjebak karena Vino marah kepadanya dan selalu menganggapnya tidak berguna karena hanya menghabiskan waktu untuk bermain-main diluar daripada membantunya. Sebenarnya bukan bermain-main, tetapi Vitto senang melakukannya karena dia ingin mengenang Vania dengan caranya sendiri. Dia selalu membawa foto Vania disetiap pendakiannya dan Vitto ingin mewujudkan setiap keinginan adiknya yang belum tercapai.


Vania sangat mencintai alam, dia suka menghabiskan waktunya ketika libur sekolah dengan pergi ke tempat yang cantik-cantik seperti pegunungan, sungai, air terjun, danau, pantai dan lainnya. Vania mulai jatuh cinta dengan hal berbau alam adalah ketika Vitto mengajaknya mendaki sebuah gunung yang tidak terlalu tinggi untuk menikmati sunrisenya. Vania ikut bersamanya dan ketika sampai di atas wajah Vania terlihat begitu bahagia dan dia ingin lebih banyak lagi melakukan kegiatan ini. Itu sebabnya jika ada waktu luang Vitto selalu mengajaknya. Gunung terakhir yang dia daki dengan Vania adalah sebuah gunung tertinggi di pulau ini, dan tertinggi keempat di negara ini. Dimana gunung itu memiliki pemandangan yang luar biasa dan memiliki kesan mendalam bagi Vania.


Ketika sedang berdiri di puncak gunung itu, Vania memeluk Vitto dan mengatakan bahwa dia ingin sekali bisa mengunjungi dan mendaki banyak gunung di dunia ini. Bahkan Vania juga ingin sekali mendaki puncak tertinggi di dunia yaitu puncak Everest. Saat itu Vitto hanya bisa menjawab keinginan adiknya dengan sebuah pesan yang masih diingatnya dengan baik dimana dia mengatakan bahwa butuh lebih banyak pengalaman untuk menaklukkan gunung itu, dimana disana tidak hanya mendaki saja tetapi kesiapan mental dan hal lainnya juga harus dipersiapkan. Itu sangat berbahaya sekali, karena pendaki yang sudah profesional pun bisa mengalami hal tidak terduga bahkan kehilangan nyawanya disana. Akan tetapi Vitto berjanji pada Vania saat itu bahwa dia akan mengajak Vania kesana suatu saat nanti ketika mereka sudah siap dengan segala hal, selain pengalaman. Dan baru beberapa bulan kemarin Vitto baru saja dari sana untuk pertama kalinya setelah menyiapkan segalanya, untuk mewujudkan impian adiknya itu dengan membawa foto Vania. Vitto sangat senang sekali karena dia berhasil menaklukkan gunung itu dengan perjuangan yang sangat berat dan butuh waktu lama untuk mengumpulkan semua keberaniannya.


Setelah dari sana barulah dia pergi mengunjungi Papanya. Vitto senang karena kondisi Papanya sudah membaik dan pengobatannya akan selesai dalam waktu dekat ini sehingga Papanya bisa segera datang kesini. Disana Papanya di rawat oleh kakaknya juga masih ada Omanya yang selalu menjaga Papanya. Vitto sangat terbantu dengan hal itu, dan berharap Sang Papa bisa segera pulih.


Selain membenci Vitto, Vino juga merasa kecewa dengan Papanya karena Papanya bukannya membantu meyakinkan Vitto agar mau membantunya, justru Papanya itu malah membiarkan Vitto melangkah dengan jalannya sendiri membiarkan Vino sendirian mengurus perusahaan.


Membahas tentang Papanya, Vitto tiba-tiba teringat dengan sang Papa yang sempat merasa khawatir dengan kenekatan Vino setelah mendengar cerita dari Vitto mengenai rencana pembalasan dendam yang akan dilakukan Vino pada keluarga dari supir taksi itu. "Apa aku harus menceritakan semua ini pada Papa??? Ya, aku harus menceritakannya, tetapi aku masih belum pasti apakah Rana memang anak dati supir taksi itu...!" Gumam Vitto.


"Tapi kalaupun Rana bukan kelyarga dari supir taksi itu, aku tetap harus menghubungi Papa, mungkin Papa punya solusi...!" Gumamnya lagi.


Vitto meraih ponselnya dan langsung mencari konak Papanya, kemudian menghubunginya karena Papanya pasti sudah bangun saat ini. Ini sudah jam 2 siang dan disana pasti sudah jam 9 pagi. Vitto menunggu panggilannya diangkat oleh Papanya. Dan akhirnya telepon itu dijawab, suara lembut khas Papanya terdengar lalu menyapa Vitto.


"Iya Vit... Bagaiamana kabarmu???" Tanya Papanya.


Vitto tersenyum. "Aku baik Pa, papa sendiri bagaimana? Apa yang sedang Papa lakukan sekarang???" Tanya Vitto.


"Papa baru saja selesai sarapan, kau sendiri sedang apa?"


"Vitto sedang ada dirumah sakit, teman Vitto sedang sakit dan Vitto menungguinya sekarang...!" Vitto berdiri dari sofa melirik ke arah Rana yang masih tidur, dia kemudian berjalan menuju jendela dan berdiri disana dengan ponsel yang masih menempel ditelinganya.


"Semoga temanmu itu lekas sembuh...!" Gumam Papanya.


"Iya Pa semoga saja, ngomong-ngomong, Vitto ingin berbicara hal penting dengan Papa tentang Vino, aku harap Papa bisa memberiku saran atau apapun itu mengenai masalah yang akan ku ceritakan ini...!"


Papa Vitto terdiam, putranya itu ingin membicarakan hal tentang Vino. Apa lagi yang sedang dilakukan oleh anak keduanya itu, jika Vitto sudah mengatakan ini artinya Vino pasti sedang membuat ulah. "Iya Vit, katakan saja aoa yang ingin kau bicarakan tentang adikmu....!"


"Vino....! Dia menikahi seorang perempuan beberapa waktu yang lalu, sepertinya pernikahan itu terjadi sebelum aku kembali dari Paris....!" Ucap Vitto.


"Menikah??? Dengan siapa? Dengan Angel???"


Vitto menggeleng, dia lupa jika sedang berbicara ditelepon. "Bukan Pa, dia menikah dengan orang lain yang saat ini sedang terbaring dirumah sakit akibat perbuatan yang dilakukan oleh Vino, dan aku menungguinya karena takut Vino akan menemukannya..."


Papa Vitto mengernyit dan masih bingung. "Apa maksudmu Vit? Apa yang dilakukan adikmu kepada perempuan itu sehingga dia dirumah sakit???" Tanyanya penasaran.


"Dia menjebak Rana dalam sebuah pernikahan, Rana adalah perempuan yang saat ini ada bersamaku, setelah menikah dia menyiksa Rana seperti Rana itu bukan seorang manusia, dia memukulinya, menendangnya, melemparnya dari balkon ke kolam renang juga hal mengerikan lainnya yang harus diterima oleh Rana, dia merubah Villa kita menjadi sebuah rumah tahanan dimana tembok beton tinggi menjulang mengelilingi Villa kita dengan kawat berduri diatasnya serta Pecahan kaca, Vino membakar tempat usaha Rana dan lebih gilanya dia berhubungan badan dengan Angel di depan Rana dan sengaja melakukannya untuk semakin menyiksa Rana, dia sudah gila dan tidak waras Pa....!" Ujar Vitto dengan wajah kesalnya.


"Apa.....!!!" Seru Papa Vitto. "Bagaimana bisa dia melakukan itu? Dan apa kau yakin dengan apa yang dikatakan perempuan itu? Mungkin dia membohongimu dengan merangkai cerita seperti itu..."

__ADS_1


"Tidak Pa... Aku sangat percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rana, karena saat Vino melemparnya dari balkon ke kolam Renang aku ada disana dan aku yang menolong gadis malang itu yang tenggelam dan hampir kehilangan nyawanya...! Aku juga melihat sendiri ada luka bekas setrika di punggung tangan Rana, wajahnya sembab seperti banyak menangis, dan pagi tadi aku hampir menabrak Rana yang tiba-tiba muncul dari dalam hutan ke jalanan, kondisi Rana sangat memprihatinkan, tubuhnya dipenuhi duri dari semak belukar, lukanya ada dimana-mana, kakinya terkilir karena dia melompat dari atas tembok pembatas villa yang tingginya sekitar 15 meter itu, Rana berusaha kabur dari Vino, dan aku membawnaya ke rumah sakit....! Aku tidak tahu kegilaan apa yang ada di otak Vino saat ini...!"


"Apa kau benar-benar serius Vit dengan perkataanmu itu...!" Tanya Papanya lagi yang masih belum.bisa mempercayai jika Vino melakukan hal sekejam itu pada seorang perempuan.


"Apa Vitto pernah membohongi Papa? Aku berbicara yang sebenarnya Pa, itulah yang terjadi! Vino dan Angel sengaja menjebak Rana dalam sebuah pernikahan entah dengan tujuan apa dan mereka berdua menyiksa Rana bersama-sama. Aku ingin seklai menghajar mereka berdua tetapi Rana mencegahku karena jika itu aku lakukan Vino pasti akan tahu keberadaannya dan Rana terlihat trauma sekali dengan semua itu....!"


Papa Vitto hanya bisa terdiam dan wajahnya menjadi sedih dan terpukul. Kecewa sudah pasti dirasakannya saat ini, sebagai seorang ayah dia selalu mengajarkan kepada anak-anaknya agar berbuat baik kepada siapapun dan tidak melukai hati orang lain teritama seoran peremluan tetapi ternyata Vino melupakan semua yang sudah diajarkannya dulu. Dia tidak sakit hati meskipun Vino saat ini tidak lagi memperdulikannya dan tidak pernah datang mengunjunginya karena dia mencoba mengerti bahwa putranya itu pasti butuh waktu untuk memaafkannya juga mencoba memberi Vino waktu untuk mengerti keadaan yang sebenarnya. Dan mendengar semua ini dari Vitto, dia merasa terpukul dan kecewa sekali kepada Vino. Bagaimana bisa Vino melakukan hal bodoh dan tidak manusiawi seperti itu kepada istrinya, dan kenapa dia bekejra sama dengan Angel untuk menjebak seseorang lalu menyiksanya lahir dan bathin.


"Pa.... Papa.....!" Panggil Vitto karena Papanya diam sementara telepkn masih tersambung.


"Ya Vit....Papa masih disini. ...!"


"Are you okay???" Tanya Vitto khawatir.


"Im okay... Hanya saja Papa terkejut dengan pemaparanmu tadi, lalu apa alasan Vino melakukan semua itu pada Rana?"


"Tidak tahu, bahkan Rana juga masih bertanya-tanya apa kesalahannya pada Vino ataupun Angel, tapi aku saat ini sudah mengirim orang untuk mencari informasi tentang semua itu, hanya saja aku pikir, mungkin ini ada hubungannya dengan niat Vino yang pernah kuceritakan pada Papa dulu, yang dia ingin membalaskan dendam atas Vania, Papa ingat itu kan???"


"Maksudmu, Rana adalah anak dari supir taksi itu???"


"Entahlah Pa aku sendiri belum tahu pastinya tetapi aku sedang berusaha mencari informasi tentang itu, jika benar seperti itu, aku rasa Papa yang harus turun tangan menghentikan kegilaan Vino, dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, tidak baik jika papa selamanya diam, karena itu hanya akan membuat orang yang tidak bersalah menjadi korban dari keegoisan dan kegilaan Vino, tetapi Papa sekarang fokus saja pada kesehatan dan pengobatan Papa disana, aku akan berusaha keras memastikan keamanan Rana dari cengkraman Vino, aku tidak mau gadis itu semakin menderita hanya karena sebuah kesalahan yang tidak pernah dilakukannya...!" Ucap Vitto penuh dengan keyakinan.


Ini dia ucapkan bukan karena dia memiliki perasaan lain pada Rana tetapi ini dia katakan untuk sebuah kemanusiaan dan kebenaran. Dendam tidak akan pernah menyelesaikan apapun dan mengembalikan yang sudah pergi. Takdir Tuhan sudah tidak bisa diubah karena itu sudah berlalu, tetapi kita masih bisa merubah takdir masa depan kita dengan usaha, doa dan kerja keras tanpa menyakiti orang lain. Vania sudah tenang bersama Tuhan, lalu untuk apa mengorek masalalu itu dan menghukum seseorang yang tidak bersalah. Tentu hal itu adalah sebuah kesalahan dan kebodohan besar yang dilakukan oleh Vino. Saat ini yang bisa dilakukan oleh Vitto adalah menjaga Rana memastikan keamanannya agar terhindar dari Vino.


Vitto menutup teleponnya dan menyuruh agar Papanya tidak terlalu memikirkan itu, karena urusan disini dia akan menyelesaikannya dan mencari jawaban dari berbagai pertanyaan yang ada di otaknya.


Vitto membalikkan badannya dan menemukan Rana sudah bangun dari tidurnya. Rana ternyata sudah bangun sejak tadi, ketika Vitto berbicara dengan Papanya ditelepon. Rana tentu saja mendengar semua ucapan Vitto, dan bisa merasakan kegeraman dari suara lelaki itu. Setelah mendengar itu, Rana yakin bahwa Vitto adalah orang yang baik dan dia menyalahkan serta menyayangkan semua perbuatan dari Vino.


Rana juga mendengar perihal dendam Vino yang dibahas oleh Vitto tadi, sayangnya Rana tidak bisa mendengar suara Papa Vitto. Dendam atas Vania, dendam apa? Dan siapa Vania, Rana tidak pernah atau tidak kenal dengan Vania. Itulah pertanyaan Rana. Mungkin dia harus menanyakannya pada Vitto.


Rana tersenyum. "Aku mendengar semuanya! Vino pernah membahas tentang balas dendam denganmu atas kepergian Vania? Siapa dia? Aku tidak mengenalnya dan apa hubungannya denganku, kenapa Vino membalaskan dendamnya padaku tentang kepergian Vania???" Tanya Rana penasaran.


Vitto tersenyum. "Vino dulu pernah mengajakku melakukannya tapi aku menolak karena aku tidak mau melakukan hal yang seperti itu, Vania adalah adik kami, dia meninggal beberapa tahun yang lalu, tetapi bagaimana ceritanya Vino membalaskan dendamnya padamu aku tidak tahu, yang tahu semuanya adalah Papaku, hanya saja untuk urusan itu aku tidak pernah ingin tahu kenapa dan bagaimana, karena kepergian Vania masih memukul hatiku hingga saat ini, tapi kau jangan khawatir, kau pasti akan mendapatkan jawabannya nanti, jika Papaku sudha kembali kesini kau bisa menanyakan semuanya kepadanya...!"


Ada airmata disudut mata Vitto, lelaki itu ingin menangis tetapi dia menahannya. Melihat itu Rana mengurungkan niatnya untuk membahas lebih jauh mengenai hal itu. Dia mencoba menghargai Vitto, dan lelaki ini terlihat begitu tulus dan menjunjung tinggi sebuah kebenaran. Rana tidak menyangka jika seorang aktor yang terkenal seperti Vitto yang berwajah dingin, dan terlihat cuek ternyata memiliki rasa kepedulian yang sangat tinggi.


"Thanks kau selalu membantuku, akubtidak tahu bagaimana aku harus membalas kebaikanmu itu...!" Gumam Rana.


"Aku hanya membantumu 2 kali kenapa kau s


menganggapku seperti pahlawan saja.... Haha... Oh iya apa rencanamu setelah ini? Apa kau akan pulang ke rumahmu???" Tanya Vitto.


Rana menggeleng dan juga tersenyum. "Tidak tahu...! Vino dulu menyarankan padaku bahwa sebaiknya rumahku disewakan saja setelah kami menikah daripada tidak dihuni, aku menurut saja saat itu, dan malah beginilah jadinya pernikahan kami....! Aku sudah tidak memiliki apapun lagi, tempat usaha, rumah atau pekerjaan, bahkan barang-barangku juga hilang entah kemana, aku pikir Vino sudah membakarnya bersama dengan Bakery milikku...!"


Vitto terdiam, satu fakta lagi yang mengejutkannya. Adiknya itu sepertinya bukan lagi manusia, dan Vitto sangat yakin bahwa Vino pasti sudah merencanakan semuanya jauh-jauh hari. Ingin sekali rasanya dia mengumpat dan menghajar Vino. Kurang ajar dan tidak ada otak sama sekali. Teganya dia kepada Rana yang sangat baik dan lugu ini. Vitto merasa sangat malu sekali atas ulah Vino.


"Aku benar-benar minta maaf atas semua yang sudah dilakukan Vino...!" Ucap Vitto sedih. "Aku janji aku akan mengganti semua kerugianmu itu, aku akan membuatkan tempat usaha baru untukmu dan juga akan mengurus perihal rumahmu yang disewakan, jadi kau nanti bisa menempatinya lagi"


"Kenapa kau yang minta maaf? Kenapa juga kau yang harus menanggung semua kerugian akibat ulah Vino? Tidak perlu, aku juga bersalah dalam hal ini, aku mengambil keputusan untuk menikah dengannya dan aku sudah ikhlas dengan konsekuensinya, saat ini aku tidak ingin apapun lagi selain aku bisa terbebas dari Vino dan menjalani kehidupan baruku lagi, aku akan mencari pekerjaan, dan mengenai rumahku biar saja toh hanya disewakan selama 5bulan, aku akan tinggal di kost atau kontrakan selama itu sampai batas jatuh tempo rumahku habis baru aku kembali....!"


Vitto menatap Rana, meskipun terlihat kuat dan tegar tetapi Vitto yakin sekali bahwa didalam hati perempuan cantik ini ada kesedihan yang begitu dalam. Bagaimana bisa Vino mempermainkan hati perempuan yang sangat luar biasa ini. Jika benar Rana adalah anak dari supir taksi itu, sudah pasti saat ini Rana tidak lagi memiliki keluarga karena dari cerita Papanya, supir taksi itu serta istrinya sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu.


"Rana....! Bagaimana bisa kau bersikap seperti ini...! Jika kau mau aku bisa membantumu untuk memanggil pengacara dan membawa Vino ke penjara atas perbuatannya, aku tidak peduli jika dia adalah adikku tetapi perbuatannya sama sekali tidak bisa dimaafkan...! Ini pasti sudah direncanakan sejak lama....!" Ujar Vitto.


"Tidak perlu.... Itu hanya akan menambah bebanku saja, aku ingin tenang untuk sementara waktu ini, aku hanya ingin memulai kehidupanku lagi, setelah dari rumah sakit aku akan menemui sahabatku dan mungkin aku bisa bekerja di restorannya...!"

__ADS_1


"Jangan Rana, untuk saat ini kau jangan beraktifitas diluar, Vino pasti akan terus mencarimu, dia tidak akan menyerah begitu saja! Aku sangat hafal dengan wataknya... Emmmm Begini saja, aku memiliki beberapa tempat yang ku jamin kau pasti akan nyaman dan aman disana untuk sementara ini sampai Vino berhenti mengejarmu, kau bisa tinggal disana sesukamu, aku juga akan memberimu beberapa pengawal agar ada yang menjagamu, bagaimana?"


Rana diam, apakah dia harus menerima bantuan Vitto atau tidak, tetapi benar juga apa yang dikatakan oleh Vitto. Vino pasti akan terus mengejarnya dan jika dia ditemukan oleh Vino, Rana tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya nanti. Tetapi terlalu berlebihan jika Vitto juga jika harus ada pengawal.


Vitto bisa membaca keraguan dari Rana. Lelaki itu kembali melempar senyum manisnya. "Jangan khawatir Rana, aku tidak merasa direpotkan, aku hanya ingin membantumu, dan menghindarkanmu dari Vino, itu saja....! Percayalah aku tidak akan menjadikanmu tawananku, tetapi aku tidak yakin jika Vino tidak mencarimu, dia pasti akan melakukan segala cara untuk menemukanmj...!"


"Aku akan sangat merepotkanmu.... Kau sudah membantuku itu saja sudah cukup, jika aku terus menerima bantuanmu aku tidak akan jadi wanita mandiri...!" Ucap Rana.


"Saat ini kau memang membutuhkannya tetapi suatu hari siapa yang tahu bahwa mungkin saja aku yang akan membutuhkan bantuanmu???" Vitto tersenyum. "Kuharap kau tidak menolak ini, dan anggap saja ini bentuk pertanggung jawabanku atas perbuuatan adikku, aku rasa Papaku juga akan melakukan hal yang sama seperti ini padamu jika dia sekarang ada disini, kau mau kan??"


Rana masih terdiam. Sementara Vitto berusaha untuk terus meyakinkan Rana bahkan Vitto juga menghubungi Papanya lagi menjelaskan semua niatnya kepada Rana. Papa Vitto yang bijak pun lngsung menyetujui niaat baik putranya itu, bahkan dia juga berbicara secara langsung leewat panggilllan video dengan Rana. Papa Vitto juga meminta maaf pada Rana atas apa yang sudah dilakukan oleh Vino dan berjanji akan mengganti rugi semuanya termasuk membiayai tagihan rumah sakit. Vitto akan mengurus semuanya nanti. Melihat ketulusan serta penyesalan dari wajah Papa Vitto dan Vino, Rana pun akhirnya setuju untuk tinggal di apartemen Vitto sementara waktu sambil menunggu masa habis sewa rumahnya juga melihat kondisinya memungkinkan atau tidak untuk dia kembali beraktifitas diluar, mengingat Vino saat ini pasti masih sibuk mencarinya.


Rana menanyakan pada Vitto apakah apartemen itu benar-benar aman untuknya dan apakah Vino tahu mengenai hal itu. Vitto menggeleng, itu adalah apartemen yang baru di belinya beberpaa bulan yang lalu dan Vino tidak tahu tentang hal itu jadi Rana pasti akan aman disana. Vitto kembali meyakinkan Rana bahwa semua akan baik-baik saja dan dia tidak perlu khawatir. Demi keamanan, Vitto akan meminta beberapa pengawal untuk berjaga di apartemen itu.


★★★★★


Keesokan harinya, Vitto masih dengan setia menunggui Rana dirumah sakit. Dan mereka mengamhabiskan waktu untuk mengobrol berbagai hal, melupakan sejenak apa yang terjadi kemarin. Dan Vitto juga sama sekali tidak membahas tentang Vino. Dia mengajak Rana mengobrol tentang banyak hal, dari mulai hobi hingga film yang saat ini sedang di bintanginya. Rana senang karena Vitto ternyata orang yang sangat menyenangkan dan jauh berbeda dari tampilannya ketika dilayar lebar.


Sedangkan hal yang sama juga dirasaakan oleh Vitto. Dia semakin mengagumi Rana. Dibalik penampilan sederhananya ternyata Rana menyukai hal yang menantang, dan Rana sudah pasti pandai memasak mengingat Rana lulusan sekolah memesak dan juga memiliki bakery. Vitto pernah mendengar nama Bakery Rana itu, dan sering sekali mendapat kiriman fans berupa aneka kue dari Bakery milik Rana, dan rasanya sangat enak, hanya saja dulu Vitto tidak sempat untuk datang dan mencoba secara langsung.


Jika tersenyum, Rana semakin cantik. Kesederhanaannya dan sikap apa adanya perempuan ini membuat Vitto senang. Seharusnya Vino bangga bisa memiliki Rana, marena menurutnya Rana jauh lebih baik daripada Angel. Sejak dulu dia sangat tidak menyukai Angel, karena perempuan itu menghabiskan waktunya untuk.mengejar Vino. Dan Vitto juga sebenarnya tidak senang Vania bersahabat dengan Angel, entah kenapa Vitto melihat ada ketidak beresan dalam diri Angel, dari dulu hingga sekarang dan itu tidak pernah berubah meskipun lerempuan itu sellau mencoba bersikap baik, tetapi bagi Vitto aneh saja. Sayangnya kedua adiknya itu seolah terperangkap dalam pesona yang ditampilkan ileh Angel, padahal bagi Vitto semua itu seperti sebuah topeng yang terlihat baik diluar tetapi di dalamnya dia tidak tahu bagaimana rupa dari pemakainya, baik ataupun buruk.


Ditengah obrolannya dengan Rana, ponsel Vitto berbunyi dan itu adalah panggilan dari orang suruhannya kemarin untuk mencari tahu informasi tentang Rana juga mencari tahu apa yang terjadi saat ini pada Vino. "Ya.... Ada kabar apa???" Tanya Vitto tanpa basa-basi.


"Begini bos, mengenai keluarga nona Rana saya masih berusaha menggalinya lebih jauh lagi, saya menghubungi anda hanya ingin memberitahu tentang adik anda, Tuan Vino saat ini masih menyebar beberapa orang untuk menemukan nona Rana, dan Villa itu sudah kosong, sepertinya Tuan Vino takut bahwa nona Rana akan melaporkannya pada polisi...! Hanya saja, saya menemukan sebh fakta baru tentang anda dan tuan Vino??"


Vitto mengernyit. "Fakta baru??? apa maksudmu???" Tanya Vitto penasaran.


Orang uitu kemudian menjelaskan jika ternyata Vino membayar rumah produksi yang saat ini menangani film terbaru Vitto. Vino membayar uang cukup fantastis agar produksi film itu berjalan lebih cepat dari jadwak sebelumnya. Itu dilakukan oleh Vino agar Vitto bisa segera keluar dari Villa sehingga Vino bisa bebas untuk menghajar dan menyiksa Rana.


Mendengar itu, sontak wajah Vitto berubah merah dan dia terkejut sekali dengan berita itu. Vitto langsung mengumpat saat itu juga. Dia tidak menyangka Vino dan rumah produksi yang dinaunginya justru bekerja sama untuk hal yang menjijikkan ini. "Oke baiklah... Lanjutkan pekerjaanmu dan infokan hal sekecil apapun yang kau ketahui, urusan Vino dan PH itu biar aku yang membereskannya....!" Vitto langsung menutup teleponnya.


"Siallll.......!!!! Ternyata dia benar-benar ssudah kehilangan akalnya...!" Gerutu Vino.


"Apa yang terjadi????" Tanya Rana.


Vitto terkekeh. "Adikku memang sudah gila....! Hanya untuk membuatku pergi dari Villa itu, dia membayar PH yang aku naungi untuk mempercepat jadwal syutingku....! Biarkan saja, aku tidak akan segan-segan memberi mereka hukuman atas kelicikannya yang dilakukan padaku......! Aku tidak akan mengampuni mereka....!" Gumam Vitto.


Dan Vitto juga memberitahu Rana bahwa saat ini Vino sudah menyuruh beberapa orang untuk berpencar mencarinya. Yang artinya keadaan saat ini masih belum memungkinkan untuk membiarkan Rana pergi tanpa pengawasan. Dan Vitto menyarankan jika bisa Rana lebih baik tidak kemanapun dalam waktu dekat ini sampai kondisi membaik. Karena Vino yang gila itu pasti akan menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan Rana kembali.


Mendengar itu, Rana langsung sedih lagi, dia sudah terjebak begitu dalam hingga dia harus menanggung sendiri keputusan yang dia ambil untuk menikaji Vino yang ternyata begitu kejam.


Melihat kesedihan Rana, Vitto berusaha menghiburnya dan meminta Rana agar bersabar sementara dia akan memikirkan sebuah cara untuk merubah keadaan sehingga Vino tidak bisa lagi melakukan hal bodoh yang menyakiti Rana.


Airmata Rana kembali mengalir dari kedua matanya. "Apa kesalahan yang aku perbuat, kenapa Vino tidak membiarkanku hidup dengan tenang, dia tahu sekali bahwa aku sangat mencintainya tetapi dia justru membalasnya dengan hal yang kejam dan menyakiti diriku....!!" Rana terisak pilu.


Vini berdiri dari kursi dan memeluk Rana menenangkan perempuan itu. Terlihat dari kesedihannya, Rana memang sepertinya sangat mencintai Vino hanya saja Adiknya itu memang tidak waras. Mempermainkan hati seorang perempuan sebaik Rana bukanlah hal yang bagus. "Tenanglah dan yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja....! Vino pasti suati saat nanti akan mendapat balasannya atas apa yang dilakukannya padamu....! Karma itu ada dan aku yakin apa yang ditanam Vino akan dia petik suatu hari nanti, bibit yang baik akan menghasilkan buah yang baik, bibit yang buruk tidak akan tumbuh, kalaupun tumbuh dia tidaka akan memiliki hasil yang sama dengan bibit yang baik.... Sabar... Tihan pasti akan mengatasi kesulitanmu karena kau orang baik....!"


Rana terus terisak dan tiba-tiba saja dia menjaadi teringat dengan Jeany. Dia sudah berjanji bahwa dia akan meminta maaf kepada sahabatnya itu atas kesalahan yanv sudah dilakukannya dulu tidak mempercayai ucapan Jeany. Andai saja dia mendengarnya mungkin sekarang dia tidak akan mengalami hal menakutkan seperti ini. "Andai saja aku dulu mendengarkan sahabatku bahwa Vino bukanlah laki-laki yang baik, tentu aku tidak akan seperti ini...!" Ucap Rana.


Vitto melepaskan pelukannya dan kembali duduk. Menatap Rana dalam. "Mendengarkan sahabatmu, memang apa yang dia katakan padamu...???" Tanya Vitto.


"Aku memiliki seorang sahabat baik dia bernama Jeany, aku sering menceritakan tentang Vino kepadanya, dan dia penasaran akhirnya aku mengajaknya bertemu dengan Vink tetapi saat bertemu sikap Jeany aneh, hingga tanpa sepengetahuanku dia diam-diam mencari info tentang Vino dan menemukan fakta bahwa Vino berhubungan dengan Angel, Jenay menjelaskan semuanya padaku tetapi aku tidak mempercayainya dan aku memutuskan huhungan persahabatan kami yang sudah bertahun-tahun hanya karena aku dibutakan oleh cinta Vino, sekarang aku menyesal sekali dan ingin bertemu dengan Jeany, meminta maaf kepadanya aas sikapku..."


Vitto tersenyum. "Aku nanti akan mengantarmu menemuinya, jangan khawatir, sekarang kau harus fokus dengan kesembuhanmu.. oke???" Vitto menyeka airmata Rana dan menggenggam erat jemari perempuan itu, menguatkannya.

__ADS_1


__ADS_2