
Seperti biasa, Vino menjemput Rana setelah dia kembali dari kantornya. Kali ini Vino tidak akan langsung mengantar Rana pulang, melainkan akan mengajaknya ke restoran, karena Vino merasa lapar sekali, siang tadi dia tidak sempat makan siang karena kesibukkannya di kantor. Rana mengiyakan saja keinginan Vino, kekasihnya itu pasti lapar sekali.
Sesampainya di restoran itu, mereka mulai memesan makanan. Mungkin karena terlalu lapar, Vino memesan beberapa makanan hingga membuat Rana menahan tawanya karena tingkah lelaki itu.
Selagi menunggu makanan datang, Rana teringat akan obrolannya siang tadi bersama Jeany bahwa sahabatnya itu ingin sekali bertemu dengan Vino, dia harus memberitahu Vino agar bisa mengatur waktu untuk menemui Jeany.
"Siang tadi sahabatku datang, aku sering menceritakan tentangmu kepadanya dan dia ingin sekali bertemu denganmu, mengingat dia bilang kau adalah lelaki spesial yang ada dihatiku" Gumam Rana.
"Sahabatmu yang sering kau ceritakan itu???"
"Ya, Jeany! Apakah kau bisa mengatur waktumu dan kita bisa menemuinya???"
"Tentu saja! Kau saja yang mencari waktu, aku selalu bisa jika itu tidak dalam jam kerja"
"Kau baik sekali!" Rana menumpukan dagunya di telapak tangannya dan memandang Vino dengan senyum manisnya.
Vino tersenyum dan mencubit hidung Rana. "Berhentilah menatapku seperti itu, jika tidak, aku akan melahap bibir ranummu itu disini"
"Vino! Kau ini!"
Setelah makan bersama, Vino melanjutkan perjalanan untuk mengantar Rana pulang. Vino terdiam dan memikirkan sesuatu, dia sudah merasa bosan dengan situasi seperti ini, dia harus mengambil langkah selanjutnya dan mengikat Rana. Vino merasa bahwa dia harus segera mempersiapkan lamaran untuk Rana setelah itu menikahinya. Semua akan lebih mudah jika itu sudah dilakukan. Vino harus memikirkan lamaran yang baik dan romantis untuk Rana, agar perempuan itu semakin jatuh ke dalam pesonanya kemudian akan kesakitan saat waktunya tiba nanti.
Vino juga teringat kepada Vitto, saudaranya itu saat ini masih berada di luar negeri, dan dia bisa kembali sewaktu-waktu tanpa diduga. Jika Vitto kembali sebelum dia bisa mengikat Rana, kemudian Vitto sampai mengetahui rencanannya, pasti saudaranya itu tidak akan membiarkannya melakukan balas dendam ini.
Vino terkadang tidak mengerti dengan cara berpikir Vitto yang masih tidak mau mengerti dengan keputusan yang diambilnya. Mungkin karena selama ini kakaknya itu hidup bebas diluar sana hingga tidak pernah memikirkan keluarganya ataupun dirinya. Padahal pembalasan dendam ini adalah untuk keluarganya yang sudah dihancurkan oleh keluarga Rana, sementara Rana sudah tidak memiliki siapapun, jadi perempuan itu yang harus menerima hukuman atas perbuatan keluarganya dulu pada keluarga Vino.
__ADS_1
"Vino!!!" Teriak Rana menyadarkan Vino dari lamunannya.
"Ah iya, ada apa???" Tanya Vino kemudian.
"Kenapa kau sejak tadi diam saja??? Apa yang sedang kau pikirkan???"
"Ah tidak!"
"Aku akan menghubungi Jeany dan nanti akan memberitahumu kapan Jeany bisa bertemu dengan kita"
"Baiklah, terserah kalian ingin kapan aku akan mengikut saja" Vino membelokkan mobilnya ke jalan kecil menuju rumah Rana.
Sampailah mereka di halaman rumah Rana. Saat Rana hendak melepaskan seatbeltnya, Vino menggenggam jemarinya dengan lembut sambil mengarahkan senyum padanya. Tangan Vino membelai rambut hitam Rana lalu beralih ke pipinya, dia memuji kecantikan Rana dan senyum manis gadis itu.
Vino melepaskan seatbeltnya lalu mendekatkan tubuhnya ke tubuh Rana yang berada disebelahnya. Vino kemudian menyentuh dagu Rana lembut untuk mendongakkan kepalanya, kemudian dikecupnya bibir Rana. Lidahnya mendesak masuk kemudian, terasa panas dan menggoda, tanpa permisi menjelajahi seluruh bagian mulut Rana, mencecapnya dan menggodanya, lidah itu lalu menemukan lidah Rana yang lembut dan berjalinan di sana. Mulut Vino mencecap seluruh bagian bibir Rana, seakan ingin menyerap semua rasanya. Pelukannya mengencang, jemarinya menelusuri permukaan kedua lengan Rana, bergerak naik turun.
*****
Setelah membersihkan rumahnya, juga sudah mandi dan berganti pakaian, Rana kembali masuk ke kamarnya lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Jeany untuk membahas acara makan bersama dengan Vino. Tak perlu menunggu lama, Jeany langsung mengangkat panggilan dari Rana.
"Hai Na??? Ada apa???" Sahut Jeany di ujung telepon.
"Aku sudah berbicara dengan Vino tentang pembahasan kita tadi siang, dia siap untuk bertemu denganmu, Vino bisa kapan saja yang terpenting malam hari karena saat siang dia pasti disibukkan dengan pekerjaannya, kau sendiri bagaimana Jean?" Tanya Rana.
"Kurasa besok malam aku bisa Na!"
__ADS_1
"Emmmm Oke aku akan menanyakan kepada Vino, besok dia bisa atau tidak, lalu aku akan memberitahumu oke???"
"Oke"
Rana kemudian menutup teleponnya dan bergantian menghubungi Vino.
Disisi lain, Vino duduk termenung di kamarnya, dia sudah mandi dan berganti pakaian. Vino masih memikirkan ide untuk melamar Rana. Angel saat ini sedang berada di luar negeri untuk pekerjaannya sehingga Vino tidak bisa meminta bantuannya untuk menjebak Rana dalam sebuah lamaran. Biasanya Angel lah yang memberikannya berbagai ide jika dia mengalami kesulitan saat ingin melakukan sesuatu kepada Rana.
Vino meraih ponselnya yang ada di meja, ada nama Rana disana. Vino mengernyit dia malas sekali jika harus berbicara lama-lama dengan Rana. Dia sangat tidak menyukainya tetapi tidak ada pilihan lain selain melakukannya dan terus berpura-pura baik di depan perempuan itu.
"Ya sayang, ada apa? Hmm Apakah kau sudah merindukanku lagi??" Ucap Vino dengan nada menggoda yang dibuat-buat.
"Kau ini, selalu saja begitu, aku menelepon untuk memberitahumu jika besok malam Jeany bisa bertemu dengan kita, bagaimana denganmu?? Apa kau ada waktu besok malam???"
"Ya, tentu saja aku bisa!"
"Baiklah kalau begitu, aku akan mencari restoran untuk besok!!"
"Kenapa kau yang harus mencari, biar aku saja, anggap saja ini jamuan makan malam spesial untukmu dan sahabatmu, jadi kau tidak perlu repot-repot mencarinya"
"Terserah kau saja, sudah ya, bye..."
"Bye Rana sayang, see you tomorrow and I love you"
"Love you too" Rana menutup teleponnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Sementara wajah Vino dipenuhi dengan rasa muak yang luar biasa. Setiap hari mulutnya mengatakan bahwa ia mencintai Rana tetapi tidak dengan hatinya.
Besok Rana mengajaknya untuk menemui sahabat baiknya, itu membuat Vino malas tetapi harus melakukannya walaupun pertemuan itu pasti akan sangat membosankan. Tetapi kemudian Vino tercetus sebuah ide, dia tadi sibuk memikirkan bagaimana cara melamar Rana dan sekarang dia tahu harus melakukan apa. Besok saat mereka makan malam bersama dan di depan sahabat Rana itu, Vino akan melamar Rana. Ya itu adalah sebuah ide yang bagus untuk Vino, tetapi dia sekarang harus mencari ide yang pas untuk merencanakan dan melakukannya nanti agar Rana semakin tergila-gila dengannya.