Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 196


__ADS_3

Rana seperti sudah kehilangan kendali nya, dia benar-benar menginginkan Vitto, meskipun mungkin nanti dia akan menyesalinya, dan merasa kesakitan, tetapi dia akan menahan kesakitan itu. Karena jika di lakukan dengan cinta, kesakitan itu aka menjadi sesuatu yang nikmat. Rana dengan sengaja memegang lagi milik Vitto.


Melihat gelagat Rana yang sepertinya sengaja melakukan itu, Vitto pun berpikir bahwa sepertinya Rana benar-benar menginginkan dirinya. Vitto tahu Rana terkadang suka mencuri pandang ke arah miliknya ketika dia sedang berolahraga pagi. Mungkin Rana terpesona dan penasaran.


Rana memegang pergelangan tangan Vitto. "Aku memintamu agar berhenti tetapi kau malah semakin penasaran...! Apa kau benar-benar ingin aku melakukannya??? Jika tidak ingin aku lepas kendali maka berhentilah dan menjauh dariku, tetapi jika kau menginginkan aku melakukannya maka aku tidak akan mundur, dan aku tidak mau di salahkan olehmu, jadi katakan apa yang kau inginkan?" Tanya Vitto.


Rana diam tetapi kemudian tersenyum menatap Vitto. Rana memejamkan matanya, melingkarkan kedua lengannya di leher Vitto, menariknya agar mendekat ke lehernya. Vitto tersenyum dan tahu bahwa Rana memang menginginkannya. Dan bagaimana mungkin Vitto menolak ajakan sensuual itu?


Mata Vitto begitu dalam, menghipnotis Rana, dan Rana seolah ingin tenggelam di sana, kehilangan daya dalam sensasi sensuual yang luar biasa paanas.


"Kau tidak ingin aku mundur ya??? Kau benar-benar ingin aku melakukannya???" Tanya Vitto tetapi dia tidak perlu jawaban lagi dari Rana karena perempuan itu sepertinya sudah sangat menginginkannya.


Vitto berdiri dari sofa dan mengangkat Rana seolah Rana sangat ringan, lalu membawanya menaiki tangga menuju kamarnya.


Rana dibaringkan dengan lembut di atas seprai suterra berwarna putih. Dan lelaki itu berdiri di sisi ranjang menatap Rana sambil tersenyum


"Sayang... Aku tidak mau memaksamu kalau kau meragu..!" Ucap Vitto.


"Kau bisa pergi kalau kau berubah pikiran..! Tetapi kalau kau memutuskan iya, maka kau tidak bisa mundur lagi..!"


Rana menatap Vitto dalam senyuman dan berpikir bahwa Vitto begitu baik kepadanya selama ini. Hanya Vitto yang ada dalam hidupnya beberapa terakhir ini, dan Rana hampir yakin kalau dia juga mencintai lelaki ini. Suasana hari ini begitu mistis, dan Rana ternggelam ke dalam pesona Vitto. Dia siap. Meskipun mungkin dia akan menyesal keesokan harinya, tetapi hari ini dia siap.


Rana sepertinya membaca penerimaan dari mata Rana, lelaki itu mengerang, lalu membungkut dan mencium bibir Rana dengan bergaairah, ciumannya tidak ditahan-tahan lagi. Lelaki itu melahap seluruh bibir Rana, menjiiilat dan memainkannya dengan lidahnya, mencecap rasanya.


"Ah ya Ampun, akhirnya aku memilikimu sayang... Aku berjanji padamu bahwa kau tidak akan menyesalinya karena aku akan memberikan sesuatu yang akan membuatmu tersus menginginkannya jika bersamaku, jangan takut aku tidak akan menyakitimu seperti Vino, ini akan jadi yang terindah untukmu..!"


Vitto mengaerang parau. Jemarinya bergerak dan menurunkan gaun Rana, terus menurunkannya sampai semua terlepas, melepaskan br* Rana dengan cekatan sehingga buah d*da Rana yang r*num terpampang di depannya. Rana langsung menutuonya dengan kedua lengannya tetapi Vitto menahannya dan meminta Rana agar membiarkan dirinya menikmati pemandangan indah itu.


"Ah... indahnya.. Rana ku yang indah.. aku akan memujamu, aku akan membuatmu merasakan keniikmatan yang belum pernah kau dapatkan sayang..." jemari Vitto bergerak lembut dan menyentuh p*t!ng si kembar milik Rana, lalu Vitto membungkuk dan bibirnya menyusul dan menye5apnya lembut. Rana mengerang, merasakan keint!man baru yang tidak pernah di rasakannya sebelumnya.


"Vitto.. jangan... jangan disitu... Ssshhhh...." Rana mengerang merasakan rasa panaas menyerangnya, di put*ngnya yang sekarang menegak kaku dan pay*d*ra nya yang mengeras, rasa hangat itu membakarnya, membuatnya hampir kehilangan kesadaran.


Vitto mengangkat kepalanya dan tersenyum mengg0da, "Jangan di sini katamu?" senyumnya polos dan se*sual. Lelaki itu menj*lati p*t!ng Rana sambil lalu kemudian meniupnya lembut.


"Apa sayang? Katakan lagi... kau bilang jangan di situ? Bagaimana kalau aku juga menyentuh ini???" Jemari Vitto yang satunya beralih menyingkap cd suteera putih milik Rana.


Dengan lembut Vitto menggerakkan naik turun jari tengahnya di pusat Rana, menyentuh milik Rana, membuat perempuan itu menggeliat seperti cacing. Dengan ahlinya Vitto menggerakkan jarinya, menelusuri hati-hati dan menemukan titik paling sens*tif di Rana.


Jemari Vittk mengusapnya pelan dan tubuh Rana seakan disetrum oleh listrik, dia mengigit bibirnya dan mengerrang. Mata Vitto mengamati setiap reaksi Rana dengan penuh gaiirah. Jemarinya menggoda lagi, kali ini bergerak di pusat Rana dan kemudian melakukan usapan memutar. Suara nikmat Rana makin kencang, membuat mata Vitto berkabut penuh gai rah.


"Oh.. Astaga Vitto. yaa... di situ sayang..!." Rana mengerang putus asa, bulatan berwarna pink miliknya mengencang dan mendamba. Mendamba kan bibir Vitto yang hangat dan lidahnya yang mengg0da.


Dan Vitto mengabulkan permintaannya, tidak mau membuat Rana tersiksa lama-lama. Lelaki itu menundukkan kepalanya lagi, lalu mengisap bulatan pink milik Rana dengan penuh gai rah, memuja si kembar bergantian, membuat badan Rana menggeliat dan melengkungkan punggungnya mendaamba.


Lelaki itu menunduk ke telinga Rana dan berbisik parau.


"Biarkan aku memuaskanmu sayang, alu akan berhati-hati dan tidak akan menyakitimu..!"


Digigitnya lembut telinga Rana membuat perempuan itu menggeliat.


Vitto tak tahan lagi, kepalanya pening oleh ga*rah. Tapi dia tahu bahwa dia harus berhati-hari. Bisa saja Rana mengalami kesakitan lagi, mengingat setelah Vino melakukan itu, Rana tidak pernah lagi melakukannya.


Dengan penuh keahlian, Vitto mencium Ra a, bibirnya ada di mana-mana, meninggalkan jejak hangat dan basah di seluruh tu6uh Rana, di lehernya, pundaknya, si kembar, perutnya, ping gulnya, dan Rana menjerit ketika bibir yang hangat itu menyentuh miliknya.


Lelaki itu mencium miliknya tanpa ampun, memujanya. Menggunakan bibir dan lidahnya untuk menggoda Rana. Lidah Vitto mengusap di pusat area v Rana dan kemudian lelaki itu menghiisapnya, membuat Rana memekik atas sensasi yang dirasakannya.


Ketika Vitto memutuskan bahwa Rana sudah sangat basah dan siap untuknya, lelaki itu melepaskan cellananya di depan Rana. Rana menatap Vittk dengan malu, pipinya merona, menyebar dengan cepat ke tubuhnya, Rana tampak sangat.... jan+an.... oh Astaga...


Rana tidak pernah melihat milik lelaki sebelumnya, saat Vino melakukannya, Rana hanya sibuk menangis dan meronta agar Vino tidak melakukannya, dan sekarang perasaan Rana tidak bisa dijelaskan, tiba-tiba Rana kembali merasa takut.


Vitto rupanya melihat rasa takut di mata Rana. Lelaki itu menunduk dan mengecup bibir Rana dengan lembut, kemudian bergantian mengecup mata, dahi, dan pucuk hidung Rana dengan tak kalah lembutnya,


"Jangan takut sayang... aku... aku tahu kau punya pengalaman yang buruk di moment pertamamu dan aku tidak mungkin akan menyakitimu seperti adikku, kau harus percaya kalau aku akan melakukannya dengan lembut, aku tidak tahu apakah ini juga akan sakit atau tidak, mengingat kau tidak pernah lagi di sentuh setelah yang dulu, jika sakit, katakan saja, aku akan bergerak dengan sangat lembut, tetapi percayalah sakit itu tidak akan bertahan lama seperti sebelumnya, karena aku akan membuatmu merasa lebih baik, dan menjadikan ini hal yang indah untukmu....!"


Rana tersenyum, mengangguk dan percaya. Kelembutan di mata Vittk membuatnya percaya, karena itu, ketika lelaki itu menempatkan diri di antara kedua pahanya, Rana membuka dirinya untuk Vitto, lelaki itu duduk tepat di depan milik Rana dan menggesseknya pelan naik turun. Rana bisa merasakan milik Vitto yang besar dan keras menyentuhnya, membuatnya menggeliat oleh sensasi asing yang aneh.


"Kau siap...???" Tanya Vitto memastikan.


Rana menganggukkan kepalanya, menatap Vitto percaya. Lelaki itu lalu mendesakkan ping gulnya pelan-pelan, berusaha membuka pintu untuk memasuki milik Rana. Tetapi yang pertama kali Vitto rasakan adalah Rana terasa sangat sempit sehingga Vitto harus mendesakkan dirinya lebih dalam lagi. Sampai kemudian dengan menggertakkan giginya, Vitto menekankan dirinya dengan kuat. "Aaahhh....!" seru Vitto ketika dia berhasil memasuki Rana.


"Mmmmmppppp.....!" Rana menghela napasnya panjang.


"Sakit sayang?" Vitto memandang Rana cemas.


Rana menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Penuh... Aneh... But so good...!" Gumamnya.


Vitto tersenyum menerima jawaban Rana. "Bagus... Itu artinya kau menerimaku di dalam sana, dan aku merasakan kau membungkusku dalam kehangatan yang rapat dan panas! Aku akan bergerak pelan, katakan sesuatu jika kau menikmatinya, atau mintalah padaku jika kau ingin aku bergerak lebih cepat!" Ucap Vitto.


Vitto pun mulai menggerakkan tubuhnya dengan ritme pelan, dan Rana juga mulai meracau karena kenikmatan yang mungkin dirasakannya. Vitto senang mendapati Rana yang mulai mengikuti gerakannya.


"Oh god.... Vitto.... Ssshhhhh...... Ahhhh....!"


"Kau menyukainya???" Tanya Vitto.


"Ya.... Hmmmmppppp... Owh.... Ahhh...!"


"Kau ingin aku sedikit lebih cepat???" Tanya Vitto dengan suara parau.


"Yaa.... Cobalah... Tapi hati... Hati... Jangan menyakiti bayi nya....!" Suara Rana tersenggal karena sensani yang dirasakannya sekarang.


Vitto tersenyum. "Tidak sayang.... Aku tidak akan menyakiti bayi kita....!"


Vitti yang semula bergerak pelan, kemudian sedikit mempercepat ritme nya, sesuai dengan permintaan Rana dan ga irah mereka yang makin cepat dan napas mereka yang makin tersenggal.


"Oh ya ampun, kau rapat sekali sayang... Kau membungkusku dengan begitu rapat..." Vitto berucap parau, ketika mereka sudah hampir mencapai puncak. Ping gul Rana bergerak mengikuti Vitto membiarkan lelaki itu membawanya ke puncak yang belum pernah dia datangi sebelumnya. Sensasi gerakan tubuh Vitto pada penyatuan mereka luar biasa nikmatnya.


Rana akhirnya memejamkan mata ketika dia mencapai puncak itu, meledakkan dirinya dalam kenikmatan yang tak bisa dia ungkapkan, membuatnya melayang dan meleleh sekaligus. Dan dia juga mendengar Vitto mengeerang, lelaki itu meledak di dalam tuubuhnya.


Setelahnya Vitto merangkak di atas Rana tetapi tidak menind!hnya dan Vitto mengecup bibir Rana. Vitto kemudian meminta Rana berbaring miring dan dia juga melakukan hal yang sama, mereka saling berhadapan dengan napas terrengah. Vitto kemudian memeluk Rana, keduanya saling melempar senyum dan masih ngos-ngosan karena dipengaruhi oleh sensasi euforia puncak kenikmattan yang luar biasa dahsyat. Vitto memeluk Rana erat-erat, jemarinya menelusuri punggung Rana yang teIanjaang, merapatkan tubuh perempuan itu ke dalam lindungan daada bidangnya.

__ADS_1


"Kau menikmatinya kan??? Kau juga tidak merasakan sakit kan???" Tanya Vitto lagi.


"Tidak...! Aku tidak merasakan sakit, dan aku menikmatinya.. Jawab Rana pelan.


Rana menenggelamkan kepalanya ke dalam rengkuhan Vittl, menikmati debaran jantung mereka yang makin lama makin tenang. Puncak kenikmattan itu membuat Rana mengantuk, sebelum jatuh ke dalam tidurnya, dia mendongakkan kepalanya dan menatap Vitto penuh cinta, "Aku mencintaimu Vitto.."


Tatapan Vittk kepadanya tampak lembut dan penuh haru, "Aku juga sayang, aku mencintaimu...! Terima kasih kau sudah mempercayaiku, dan aku janji aku tidak akan menyakitimu, aku akan menjagamu dan bayimu, setelah kau melahirkan nanti, aku akan menyiapkan pernikahan kita lalu kita akan bahagia...! Jaga dirimu baik-baik, juga bayi selama aku pergi beberapa hari ke depan, aku akan sangat merindukanmu nanti...!" Ucap Vitto kemudian mendaratkan kecupan di kening Rana.


"Aku akan sangat merindukanmu... Cepat kembali...!"


"Ya, aku juga...!"


Dan mereka tertidur bersama, dalam pelukan penuh cinta.


★★★★★


Keesokan harinya, Vitto menikmati sarapannya dengan Rana. Perasaannya begitu bahagia karena sudah tidak ada jarak lagi di anatar mereka berdua. Rana sudah membuka diri, meskipun begitu, Vitto akan belajar untuk menahan diri agar tidak serimg-sering melakukan seperti kemarin lagi, rasanya tetap mengganjal saja karena mereka belum menikah. Tetapi jika dirasa sangat di perlukan, baru Vitto akan melakukannya. Ya, setidaknya itu tidak di lakukan setiap hari. Vitto juga ingin menjaga Rana dan tidak mau memanfaatkannya hanya untuk kepuasannya.


"Kau akan berangkat jam berapa???" Tanya Rana.


"Nanti dini hari, jam 2 aku harus sudah ada di airport...! Kau tidak apa-apa kan aku tidak menginap malam ini???"


"Tidak... Tidak apa-apa, kau istirahat saja di rumah, lagipula Jeany nanti akan kesini, aku memintanya menginap selama kau pergi...!!"


Vitto tersenyum. "Ya bagus, kau punya teman mengobrol, sampaikan salamku nanti pada Jeany... Dan iya, kau harus menjaga dirimu baik-baik selama aku pergi, jaga makananmu dengan baik, makan es krim dan cokelat seperlunya, lalu minum vitaminmu tepat waktu, dan juga yang pasti, jangan sering-sering naik turun tangga, kasihan bayinya, kau tidak boleh terlalu lelah...! Bayi perempuan kita harus di jaga dengan baik, aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu dan juga bayimu... Ingat itu...!"


"Iya sayang... Kau mengingatkanku seperti anak kecil saja...!" Gerutu Rana.


Sementara itu, Marco yang baru saja tiba dan bergantian shift dengan temannya langsung membuka garasi dan memanaskan mobil Vitto. Selain itu dia juga membersihkannya, kegiatan yang selalu dia lakukan ketika pagi hari sebelum majikannya itu berangkat ke kantor. Marco membuka pintu mobil untuk membersihkan yang di dalam juga, tetapi dia justru menemukan sebuah paperbag. Itu pasti milik Vitto. Marco mengeluarkan paper bag itu dan meletakkannya di pojokan garasi, dia akan membersihkan mobil dulu baru setelah itu memberikan papar bag itu pada Vitto atau Rana.


"Oke... Aku harus ke kantor sekarang, menyelesaikan beberapa pekerjaan dan akan pulang untuk bersiap..!" Ujar Vitto.


Lelaki itu memundurkan kursi yang di dudukinya dan berdiri, hal yang sama juga di lakukan oleh Rana. Mereka berdua kemudian turun. Rana selalu mengantar Vitto sampai garasi.


"Marco...!" Vitto memanggil bodyguardnya.


"Ya Pak...!"


"Aku titipkan Rana padamu dan yang lainnya, jaga rumah baik-baik dan jangan keluar jika tidak penting, Rana harus selalu di dalam rumah, aku akan pergi beberapa hari, jadi pastikan semua baik-baik saja... Aku tidak mau hal buruk terjadi pada Rana dan Bayinya.. Jeany nanti kan kesini, biarkan dia masuk, dia akan menemani Rana, selain Jeany, jika ada Cahya datang, juga tidak masalah, hanya orang-orang itu saja yang boleh masuk...!"


"Baik pak...!"


"Buka pintunya...!"


Marco mengangguk dan lekas membuka pintu garasi, Vitto mencium kening Rana dan juga mencium perut Rana dengan lembut sambil mengusapnya. Sekali lagi Vitto berpesan agar Rana menjaga dirinya dan bayinya dengan baik. Rana mengangguk dan Vitto pun masuk ke dalam mobilnya lalu memundurkannya dan keluar dari garasi.


"Byee....!" Ucap Rana sambil melambaikan tangannya.


Mobil Vitto meninggalkan rumah dan Marco langsung menutup lagi pintu garasi. Dan pandangannya tertuju pada paper bag yang ada di pojokan. "Astaga aku lupa...! Nona Rana...! Panggil Marco.


Rana yang hendak masuk ke dalam rumah pun berhenti dan menoleh ke arah bodyguardnya itu. "Ya...!" Jawab Rana.


"Saya lupa, tadi saya menemukan ini di dalam mobil pak Vitto...!" Marco mengambil paperbag itu dan memberikannya pada Rana.


"Baik...!"


Rana kemudian membawa paper bag itu ke dalam. Dia duduk di sofa dan melihat apa yang ada di paper bag itu. Ternyata isi nya adalah pie susu. Rana heran sebenarnya, kenapa Vitto membeli itu padahal dia bisa membuatnya, tetapi Rana berpikir mungkin Vitto memang sengaja membeli untuknya agar dia tidak bersusah-susah membuatnya. Ingin Rana mencobanya tetapi perutnya sudah kenyang setelah sarapan, dan akan mencobanya nanti saja. Rana pun meletakkannya lagi di atas meja, kemudian dia naik ke atas untuk beristirahat.


****


Jam berlalu..... Sudah waktunya makan siang, tetapi Vitto harus pulang untuk berkemas, dan dia juga harus mengecek ulang bukti yang akan di perlihatkannya pada Vino. Sore nanti dia akan datang ke rumah Vino dan membeberkan segalanya tentang kebusukan Angel selama ini pada Vino. Tidak mungkin dia melakukannya sekarang, karena ini di kantor, dan Vitto tidak ingin ada keributan yang bisa saja di lakukan Vino larena marah. Lebih baik sore nanti dia menunggu di rumah Vino saja dan menunjukkan segalanya, dan Papanya juga bisa membantunya nanti, lagipula Vino sekrang juga sedang ada meeting dengan klien.


Vitto menyimpan data di komputernya. Lalu beranjak dari kursi kerjanya, dia harus segera pulang. Bersiap untuk berangkat dini hari nanti, setelah selesai berkemas dia akan mengecek dan pergi ke rumah Vino. Vitto memakai jas nya dan keluar ruangannya.


Davica yang mihat Vitto langsung berdiri dan membungkukkan badan, menyapa Vitto meskipun dia tahu bahwa lelaki itu akan mengabaikannya.


"Aku akan pulang, aku juga sudah memberitahu Vino, bahwa aku hanya masuk sampai siang saja...! Beritahu dia jika dia mencariku, katakan bahwa aku sudah pulang...!" Ucap Vitto dengan nada dingin seperti biasa ketika dia berbicara dengan Davica.


"Baik pak....!!" Jawab Davica.


Vitto pun meninggalkan kantor dan langsung pulang.


Sekitar 15 menit kemudian, Vino berjalan terburu-buru ke ruangan Vitto. Melihat kedatangan Vino, Davica berdiri dan menyapanya.


"Vitto sudah pulang???" Tanya Vino.


"Iya pak, baru saja, sekitar dua puluh menit yang lalu... Ada yang bisa saya bantu pak???" Tanya Davica.


"Ahhh aku terlambat, ada berkas yang harus di tanda tangani Vitto sebenarnya sebelum besok dia cuti.... Ah tapi ya sudah, aku akan mengantar ke rumahnya nanti, kebetulan kurang dari 2 jam lagi aku akan menjemput Angel dan akan lewat ke arah rumah Vitto, thanks ya Dev...!" Vino kemudian meninggalkan Davica.


★★★★


Vitto aakhirnya selesai juga berkemas untuk kepergiannya besok. Pakaian, baju hangat, jaket dan beberapa barang lainnya sudah dia masukkan ke dalam tas carriernya. Sekarang dia tinggal memeriksa berkas dari Papa nya dan juga foto serta video yang sudah di kumpulkannya selama ini tentang keebusukkan Angel. Dan sebentar lagi akan berakhir juga permainan Angel. Perempuan itu akan di hempaskan oleh Vino, dan tidak akan pernah di beri ampun oleh adiknya itu.


Vitto terlihat serius membaca berkas dari Papa nya, dan juga setelah ini dia akan mengambil laptopnya dan juga flashdisk yang menyimpan semua bukti itu. Semua harus di pastikan baik-baik saja dan sesuai dengan keinginannya. Tidak boleh ada kesalahan sehingga Vino nanti akan mempercayai segala bukti itu.


Di tempat lain, Rana turun dari kamarnya menuju lantai satu. Jeany sudah menghubunginya bahwa sebentar lagi akan sampai, jadi Rana akan menunggunya di ruang keluarga yang ada di bawah. Vitto tadi mmenelepon nya memberitahu jika lelaki itu sudah sampai di rumah dan akan berkemas. Ran duduk di sofa, menyalakan televisi, dan senyumnya tersungging ketika melihat lagi Pie susu yang di belikan oleh Vitto. Rana pun mengambil nya dan memakannya sambil menonton televisi dan menunggu kedatangan Jeany.


Vitto sudah selesai memeriksa data serta foto dan videonya. Vitto menyandarkan punggungnya di kursi. "Ahhhh selesai juga, semua sudah siap, dan aku harus mandi dulu sebelum menemui Vino di rumahnya...!" Gumam Vitto kemudian beranjak dari kursinya dan masuk ke kamar manndi, meninggalkan laptopnya yang masih terbuka dan flashdisknya juga masih tertancap disana.


Ketukan pintu membuat pelayan yang ada di rumah Vitto lekas berlari dan membukanya. "Eh Den Vino....! Kok sendirian?? Tuan besar tidak ikut??"


"Halo Bi... Iya, Papa masih di kantor dan akan pulang dengan supir nanti, Vitto ada???" Tanya Vino.


"Ada... Sedang di kamar, mari silakan masuk...! Mau minum apa Den??"


Vino pun masuk. "Tidak perlu Bi, aku hanya mampir sebentar untuk meminta tanda tangan Vitto, aku akan langsung ke kamarnya..!"


"Oh begitu, baik Den... Silakan, Den Vitto ada di dalam kok..!"

__ADS_1


"Makasih Bi..!" Vino kemudian berjalan menuju kamar Vitto.


Vino mengetuk kamar itu tetapi pintunya justru terdorong ke belakang yang artinya kamarnya tidak di kunci. Vino pun masuk tetapi mendapati kamar kakaknya kosong. Vino melirik ke berbagai arah tetapi memang kosong dan terdengar suara gemericik air. Vino tersenyum, Vitto sepertinya sedang mandi. Vino akan menunggunya. Dia duduk di tempat tidur Vitto, tetapi pandangannya mengarah ke meja kerja Vitto, laptop kakaknya masih menyala, sepertinya baru saja di gunakan, ada ponsel Vitto juga disana. Vino berdiri dan berjalan menuju meja kerja itu lalu duduk dan menatap layar laptop kakaknya itu, penasaran dengan apa yang baru di kerjakan olehnya, karena ada stofmap juga di samping laptop itu selain ponsel. Sepertinya Vitto membawa pekerjaan kator ke rumah.


Vino terkekeh. "Wow sepertinya Kakaku sudah jadi worka holic sampai membawa pekerjaan ke rumah..!" Gumam Vino dan mengambil berkas itu untuk memeriksanya.


"Shabella Winatama???" Gumam Vino ketika dia membaca berkas yang ada di meja Vitto.


Vino melanjutkan membaca itu dan tampak serius. Dimana disana tercantum data seorang wanita bernama Shabella Winatama, foto juga keterangan lainnya. Bahkan juga silsila keluarga dengan lengkap. Vino membalik ke halaman kedua, disana ada sebuah foto pernikahan juga antara wanita itu dengan seorang pria bernama Irvan Winatama. Tertulis juga bahwa laki-laki bernama Irvan itu pernah menjadi salah satu staf di Prakarsa Corporate beberapa tahun silam, di jelaskan juga bahwa Irvan pernah melakukan keselahan hingga membuatnya di pecat dan hartanya disita.


Vino mengernyit dan bingung untuk apa Vitto menyimpan data ini. Tetapi Vino berpikir bahwa mungkin saja ada sesuatu yang mau ingin kakaknya selidiki tentang pria bernama Irvan itu, hanya saja kenapa Vitto tidak memberitahu ini kepadanya.


"Irvan Witanama memiliki seorang putra dan Shabella juga memiliki seorang putri bernama......" Vino membaca dalam hati dan hendak membalik ke halama tiga, tetapi jari Vino tidak sengaja menekan salah satu keyboard yang ada di laptop Vitto, membuat layar laptop itu menyala. Halamn berkas itu juga sudah terbalik dan disana ada foto Jason dan Angel sayangnya karena layar laptop menyala, Vino tidak memperhatikan berkas itu lagi.


Vino pun mengalihkan pandangannya ke arah layar laptop. Matanya terbelalak ketika dia menemukan sebuah folder yang di beri nama "About ANGELICA KIMBERLY". Membaca itu, Vitto langsung mengernyit karena itu adalah nama dari kekasihnya yaitu Angel. Vino langsung berpikir bahwa sepertinya Vitto telah melakukan sesuatu atau mungkin Vitto diam-diam menyukai Angel. Vino meletakkan berkas yang di pegangnya di atas meja, dan kali ini berfokus pada laptop Vitto.


Vino yang penasaran dengan isi folder itupun mulai membukanya. Dan berjejer beberapa folder lagi dengan berbagai nama. Ada nama "Marina By S*ns Singapura", "Titans hotel", Berbagai nama restoran serta tempat-tempat lainnya, termasuk ada juga folder bernama "GOLDEN SATELLITE Hotel". Vino tidak tahu kenapa ada nama-nama itu, dan dia pun lekas membuka salah satu folder itu, dimana folder pertama adalah nama salah satu hotel terbesar di Singapura.


Muncul lah berberapa foto serta video, dan Vino membukanya. Sebuah foto menunjukkan lobi hotel, dan Vino memperbesar foto itu, betapa terkejutnya dia melihat ada Angel sedang berdiri di depan meja resepsionis dan di sampingnya ada seorang pria berbadan tambun, sayangnya wajah pria itu tertutup oleh tubuh Angel. Vino kembali melanjutkan ke slide berikutnya, dan itu adalah sebuah video, dia pun memainkan video itu. Terlihat Angel meninggalkan meja resepsionis dan berjalan bersama dengan pria itu, hingga tiba-tiba pria itu merangkul punggung Angel, dan Angel tampak nyaman berjalan dengan pria itu, bahkan Angel menyandarkan kepalanya di dada pria itu.


Setelah video berakhir, Vino melanjutkan ke slide berikutnya ada foto lagi Angel berjalan dengan pria yang sama di lorong hotel, selain foto ada video yang sama juga. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang benar-benar mabuk cinta, bahkan mereka berciuman di depan pintu kaamar hotel lalu masuk. Vino benar-benar terkejut sekali melihat apa yang ada di depannya saat ini, tetapi dia masih belum bisa mencerna apa yang terjadi, dan bagaimana Vitto bisa mendapatkan semua itu.


"Marina by S*ns Part 1" Begitulah nama folder itu, dan Vino sudah melihat isinya, tetapi tadi ada yang part kedua. Vino pun kembali membukanya. Terlihat lagi beberapa foto dan video juga tetapi kali ini di ambil di sebuah kolam renang yang sangat terkenal di hotel itu. Vino membukanya dan mencoba berfokus lagi sambil memperbesar layarnya, lagi dan lagi matanya di buat terbelalak dengan apa yang ada di hadapannya.


Angel terlihat menyamping tersenyum berhadapan dengan seorang pria tetapi pria itu bukan pria yang sama seperti yang ada di lobi hotel. Penasaran siapa pria itu, Vino kembali memperbesara nya. Tidak terlalu jelas karena di ambil dari jauh tetapi dia seperti pernah melihatnnya, Vino melanjutkan lagi ke slide berikutnya dan lagi-lagi itu sebuah video. Di putarlah video itu, masih di tempat yang sama. Angel terlihat mengobrol dengan pria itu dan beberapa detik kemudian, pria itu menarik Angel ke dalam pelukannya, lalu mereka berciuman.


Vino hanya bisa terperangah dengan apa yang di lihatnya, tidak tahu harus mengatakan apa, dan bingung maksud dari semua itu, tetapi dia mencoba tetap tenang dan melihat semuanya. Selesai berciuman, pria itu tersenyum dan menoleh ke belakang, disitulah Vino menghentikan video itu lalu memperbesarnya.


"Jason....?????" Gumamnya. "Angel dan Jason????" Gumam Vino lagi, raut wajahnya masih bingung, heran dan tidak percaya. Dia pun kembali melanjutkan mihat foto lainnya, masih sama seperti sebelumnya, Angel benar-benar seperti sepasang kekasih saat bersama Jason dan pria tua itu. Vini masih belum menyadari siapa pria tua yang bersama Angel di lobi hotel tadi.


Vino yang masih penasaran dengan isi dari seluruh folder itu, akhirnya tetap melanjutkan melihatnya satu persatu dan berharap menemukan jawaban dari semua pertanyaan tentang foto dan video ini.


Sementara itu, Rana duduk santai di sofa sambil menonton televisi, dia sudah memakan pie susu itu setengah dan perutnya kenyang karena pie itu cukup besar. Jeany belum juga datang dan masih di perjalanan, mungkin kurang lebih sekitar sepuluh menit lagi akan sampai. Saat sedang asyik menonton televisi, tiba-tiba saja Rana merasa pusing dan perutnya juga terasa sakit, melilit. Rana bangkit dari sofa berniat untuk ke kamar mandi tetapi dia langsung jatuh tersungkur ke lantai. Pandangannya menjadi gelap dan Rana pingsan.


Vino benar-benar merasa seperti langut sedang runtuh di atasnya. Angel, ternyata mempermainkannya. Seluruh folder itu berisikan hal yang sama sekali tidak di duga olehnya. Selain fot-foto dan video Angel bersama laki-laki lain, Vino juga di kejutkan dengan pertemuan Angel dengan beberapa orang lainnya serta obrolan mereka dimana Angel ternyata membayar beberapa orang itu untuk berpura-pura menjadi WO, ada juga yang berpuar-pura menjadi manager hotel hingga lainnya yang beberapa dari mereka sudah pernah Vino temui, kemudian mereka mendapat bayaran dari Angel. Vino sama sekali tidak menyangka Angel memanfaatkannya untuk hal seperti itu dan mempermainkan ketulusan dan cintanya. Dia sudah begitu mempercayai kekasihnya itu, memberikan uang yang nilainya tidak sedikit, dan itu tidak di gunakan sesuai kebutuhan yang sedang mereka persiapkan untuk persiapan pernikahan mereka.


Vino terlihat menunduk sedih di atas meja, hatinya benar-benar hancur dan sakit. Dia sudah di permainkan orang yang paling dia percayai selama ini. Hanya saja Vino masih belum tahu motif Angel melakukan semua ini apa. Vino mengangkat kepalanya dan menatap layar laptop lagi masih ada satu lagi folder yang belum dia buka yaitu folder "Golden satellite hotel". Entah apa lagi yang ada di dalam folder itu.


Vino membuka folder terakhir yang ada di laptop itu. Dan lagi-lagi ada foto serta beberapa video. Vito membuka foto yang ada disana. "Pak Sony????" Gumamnya dengan mata terbelalak.


Beberapa foto menunjukkan Angel bertemu Sony di hotel Golden Satellite, dari pakaiannya itu seperti yang di kenakan Sony saat bertemu dengannya di restoran membahas kerja sama mereka. Yang artinya, di hari itu juga Sony bertemu dengan Angel. Vino beralih ke slide selanjutnya lagi sebuah video mereka berada di lift dan Angel bergelayut manja. Berpindah lagi ke video selanjutnya, Angel dan Sony berciuman di lorong hotel. Vino menjadi teringat dengan video pertama tadi dimana Angel bersama pria tua bertubuh tambun, sama seperti tadi, artinya yang di Singapura itu adalah Sony.


Vino mengacak-acak rambutnya dengan kasar, dia benar-benar kesal, marah kecewa campur aduk yang dia rasakan sekarang. Vino beralih membuka video terakhir, dan ternyata itu adalah video s*x Angel dan Sony. Mereka berciuman dengan kasar dan mereka melakukan hubungan badaan.


Vino hanya bisa terdiam dengan mulut ternganga, jelas sekali terlihat kekasihnya itu bercinta dengan Sony seperti hal nya sedang bercinta dengannya, Angel sangat menikmatinya, bahkan suara dessahan Angel terdengar begitu keras. Vino menghentika video itu dan dia tidak sanggup lagi melihatnya, ini sudah sangat melukai hatinya. Mata Vino mengeluarkan airmata, dia menangis, hatinya hancur sekali. Vino menunduk menekuk sikunya dan terisak pedih.


Setelah terisak beberapa saat, Vino mengankat kepalanya dan tidak sengaja siku Vino menyenggol map berisi berkas yang tadi di bacanya. Vino menunduk untuk mengambil berkas itu, tetapi matanya kembali terbelalak melihat ada gambar Jason dan juga Angel. Dengan cepat Vino mengambilnya dan langsung membaca isi dari berkas itu. Vino diam membacanya dalam hati.


Sebuah kejutan lagi untuk Vino dimana disana tertulis fakta yang sangat mengejutkannya. Angel dan Jason adalah saudara tiri. Dan mereka juga memiliku hubungan lebih dari sekedar saudara artinya mereka adalah sepasang kekasih. Mereka juga memiliki motif untuk menghancurkan keluarga Prakarsa dengan mengatur segala rencana mereka seperti dengan sengaja Angel mendekati Vino, kemudian Jason mendekati Vania dan juga Vita. Bahkan fakta yang mengejutkan adalah Angel sengaja mempengaruhi Vania mengenai perselingkuhan yang di lakukan oleh Jason dan Vita. Sengaja menyusun rencana dengan Jason untuk mengajak Vita ke hotel dan Angel memberitahu Vania mengenai hal itu, sehingga Vania datang kesana, lalu terjadilah kecelakaan itu dan Vania meninggal beberapa bulan setelahnya.


Jason sengaja mendekati Vita dan mengajak Vita pergi ke luar negeri membawa uang dan menjual beberapa aset milik Papa Vino dan Vitto. Semua di lakukan untuk mendapatkan uang Vita. Sementara Angel bertugas untuk mendapatkan uang dari Vino, Angel masih bertahan sampai saat ini dan bahkaan berniat meninggalakan Vino sebelum pernikahan, membawa uang hasil oemberian Vino untuk persiapan pernikahan mereka. Angel selama ini sebenarnya mengkhianati Vino dan memiliki beberapa kenalan pria kaya, menjadi selirnya dan juga berselingkuh dengan mereka untuk mendapatkan uang serta berbagai barang mahal, itulah pekerjaan Angel selain menjadi model.


Membaca berkas itu, berkas hasil dari investigasi detektif yang di percayai oleh Papa Vino. Hati Vino benar-benar hancur sehancur-hancurnya. Angel sangat dia percayai selama ini ternyata sudah menipu nya. Sudah mempermainkannya padahal Vino sangat mencintainya juga sangat menyayanginya. Angel tega sekali melakukan itu kepadanya.


★★★


Mobil Edward masuk ke garasi rumah Rana, Marco mempersilahkan mereka untuk masuk karena Rana ada di dalam. Jeany dan Edward keluar dari mobil dan lewat pintu dalam yang terhubung dengan ruang keluarga. Pintu tidak di kunci. "Rana......!!! Na.... Aku datang...!!" Jeany setengah berteriak memanggil Rana.


"Kok sepi ya Jean???" Tanya Edward.


"Rana di kamarnya mungkin, kita naik saja...!"


Jeany dan Edward berjalan menuju tangga untuk mencari Rana di atas. "Astaga..... Rana....!" Seru Edward ketika tidak sengaja matanya melirik ku belakang sofa, lelaki itu langsung berlari.


Jeany pun menoleh dan di terkejut ketika melihat Rana terkapar di lantai. Jeany menyusul Edward. "Astaga Rana.....!!"


Jeany dan Edward duduk berjongkok. Edward menepuk-nepuk pipi Rana dan memanggil namanya. "Rana.... Ran... Bangun Ran....!!!" Ucao Jason.


Hal yang sama juga di lakukan oleh Jeany, dan Jeany sangat panik. "Rana.... Naa... Bangun Na...!"


"Jean, ada darah di kaki nya...!"


Jeany langsung melihat ke arah kaki Rana. Darah segar mengucur disana. "Ya Tuhan..... Ed... Kita harus membawanya ke rumah sakit... Rana pendarahan..... Aku akan panggil Marco, bawa dia ke mobil..."


Edward mengangguk dan langsung mengangkat Rana, sementara Jeany berlari ke garasi dan berteriak memanggil Marco dengan panik, menyuruhnya agar memebuka pintu garasi. Marco yang sedang duduk bersama Tania di depan terkejut mendengar gedoran pintu garasi dan teriakan dari dalam. Marco berdiri dan membuka pintu garasi


"Ada apa nona Jeany???" Tanya Tania.


"Rana... Dia pingsan dan berdarah, buka pintunya, kita harus membawanya ke rumah sakit....!"


"Apa...????"


Marco dan Tania melihat Edward menggendong Rana, Tania berlari dan membantu membuka pintu mobil. Edward meminta Jeany dan Tania masuk ke mobil dan membantu Rana, sementara dia akan mengendarai mobil. "Marco, kau juga ikut, buka pintunya dan langsung tutup, kita ke rumah sakit...!" Pinta Edward.


"Baik pak...!"


Edward lekas mengeluarkan mobil dari garasi, sementara Jeany panik sekali dan menangis memanggil nama Rana agar temannya itu sadar. Wajah Rana pucat dan bibirnya membiru. Rana berbaring di atas paha Jeany, dan darah masih mengucur deras dari pahanya. Tania mengambil tisu dan mengusap darah Rana.


"Jean, segera hubungi Vitto....! Suruh dia langsung ke rumah sakit...!"


"Oke...!"


Jeany mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Vitto.


Sementara itu, Vino menyeka airmatanya, dia masih menunggu kakaknya yang masih ada di dalam kamar mandi untuk menanyakan perihal data serta foto dan video yang tadi dilihatnya. Tetapi Vitto tidak juga keluar. Entah apa yang sedang di gosok oleh Vitto, lama sekali di kamar mandi.


Vino di buat terlonjak oleh ponsel Vitto yang berdering di depannya. Vino mengambil ponsel itu dan ada nama Jeany disana. Vino mengernyit, "Jeany????"


Vino melihat foto Jeany yang sama dengan Jeany sahabat Rana, untuk apa dia menghubungi Vitto. Tetapi karena penasaran dan ada hubungan apa antara Jeany dengan Vitto, Vino mengangkatnya. Belum sempat berbicara, Vino mendengar suara tangisan dari telepon itu.

__ADS_1


"Vitto.....!!! Rana... Vit... Aku dan Edward membawanya ke rumah sakit, dia pingsan dan ada darah yang keluar menetes di pahanya, aku khawatir ada gangguan dengan kehamilannya, cepat kau menyusul kami...!" Ucap Jeany panik dan tidak memastikan siapa yang sedang mengangkat teleponnya.


"Rana...????" Tanya Vino tetapi belum sempat melanjutkan ucapannya, tiba-tiba ponsel yang di pegangnya di rebut seseorang dari belakang. Vino menoleh dan mendapati Vitto berdiri di belakangnya. Vino langsung menatap tajam kakaknya itu. Vitto ternyata tahu tentang keberadaan Rana. Jadi selama ini kakak ya sudah membohonginya. Vino langsung menarik kerah tshirt yang di pakai Vitto dengan marah.


__ADS_2