Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 202


__ADS_3

"Aku pulang dulu....!" Ucap Vino kemudian berdiri. Dia tidak menanggapi ucapan Vitto, Vino sudah kepalang malu dengan apa yang terjadi saat ini. Dia harus menenangkan dirinya sebentar jadi dia akan memilih pulang, beristirahat dan mengganti pakaiannya, sejak kemarin dia tidak menggantinya.


"Kau ingin pulang??? Papa kan sebentar lagi sampai???" Ujar Vitto.


"Badanku lengket, aku ingin mandi dan berganti pakaian, aku akan kembali sore atau malam nanti, aku juga akan membawakanmu pakaian jika kau mau...!"


"Baiklah jika kau ingin pulang, hati-hati....!" Ucap Vitto.


Vino keluar begitu saja dari ruang perawatan Rana. Semua orang hanya terdiam melihat kepergiannya. Vitto menatap punggung adiknya, tahu bahwa Vino pasti butuh waktu untuk berpikir dan menenangkan dirinya. Yang terjadi kemarin dan hari ini pasti sangat mengejutkannya mengingat Vino sangatlah mencintai dan mempercayai Angel, bahkan melebihi percaya kepada dirinya sendiri. Ada rasa kasihan juga di hati Vitto melihat Vino seperti itu. Tetapi mau bagaimana lagi, setiap perbuatan selalu memiliki konsekuensi di belakangnya, mau yang baik ataupun buruk tetap akan ada balasannya.


Dan Vino saat ini sedang menghadapi konsekuesi besar atas apa yang sudah di perbuatnya terhadap Rana. Dan bagaimana dia di permainkan oleh Angel, setelah kemarin mempermainkan ketulusan serta kebaikan hati Rana. Setelah ini tinggal Angel yang akan menghadapi konsekuensi atas segala perbuatannya selama ini, yang sudah menghancurkan kehidupan keluarganya. Vania meninggal, Mamanya menjadi pengkhianat besar dan Angel selalu melakukan cara-cara yang licik untuk memenuhi hasratnya yang gila akan materi dan pembalasan dendam yang aneh dan tidak masuk akal, karena jelas sekali bahwa apa yang di lakukan oleh mendiang Papa Angel dan Jason adalah hal yang salah sehingga dia harus menerima hukuman atas perbuatannya. Tetapi sayangnya, Angel, Mamanya dan Jason justru balas dendam akan hal itu padahal seharusnya mereka mengkoreksi apa yang terjadi. Bukan malah semakin menjadi-jadi seperti ini.


Sementara itu, Angel keluar dari lift dengan langkah gemulainya. Saat ini dia sedang berada di kantor Vino. Sejak pagi tadi Vino belum menghubunginya dan ponsel Vino juga tidak aktif jadi Angel ingin menemui kekasihnya itu. Selain itu, Angel juga sudah di buat penasaran sejak semalam mengenai hasil dan reaksi yang akan di dapatkan Vitto dan Papa nya. Dia sudah menambahkan obat yang bisa membuat keduanya mengalami gejala kelumpuhan, tetapi obat itu butuh beberapa kali dosis, tidak bisa hanya sengan sekali pemberian. Dan efek yang di timbulkan juga akan bertahap. Mungkin akan di awali dengan stroke ringan selama beberapa hari. Dan jika dosis kedua di berikan, akan sedikit lebih parah dari sebelumnya. Dan seterusnya hingga akan benar-benar mengalami kelumpuhan. Dia melakukan ini adalah agar Vitto dan Papanya tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kepada Vino hingga Angel bisa melakukan tugas terakhirnya untuk mendapatkan uang dari Vinonlalu meninggalkan lelaki itu. Dan Angel sekarang juga membawa puding yang di buatnya tadi sekaligus dia campur dengan obat itu lagi, dan akan dia berikan lagi kepada Vitto dan Papanya.


Angel menghentikan langkahnya di deoan meja kerja sekretaris Vino.


"Selamat siang Nona Angel???" Sapa sekretaris Vino.


"Siang.... Vino ada di dalam kan??? Papanya juga ada di dalam???" Tanya Angel.


"Eeh maaf, saat ini Pak Vino sedang ijin tidak ke kantor, pak Andri juga baru saja keluar dan mungkin tidak kembali lagi... Apa ada yang bisa saya bantu???"


"Ijin??? Kenapa ijin?? Tidak biasanya Vino ijin...!"


"Oh itu, Pak Vino sedang tidak enak badan jadi tidak masuk hari ini..." Jawab sekretaris itu lagi.


"Tadi kau bilang bahwa Om Andri baru saja keluar???"

__ADS_1


"Iya baru saja ya sekitar hampir satu jam yang lalu katanya ingin ke rumah sakit...!"


"Ke rumah sakit???? Kenaoa ke rumah sakit???" Tanya Angel lagi.


"Kurang tahu saya, tetapi kalau pak Vino sedang beristirahat di rumah.. !"


"Baiklah kalau mereka tidak ada...." Ucap Angel kemudian pergi begitu saja.


Sambil melenggang berjalan menuju lift lagi, senyum Angel tersungging di bibirnya. Papa Vino ke rumah sakit, mungkin bisa jadi Papa Vino sudah merasakan efek dari obat yang di berikannya kemarin lusa. Tetapi Angel juga teringat dengan Vitto, dia akn memastikan apa yang terjadi juga dengan Vitto. Dia akan mencari tahu pada Davica. Angel pun menuju ke ruangan Vitto lebih dulu sebelum dia turun dan keluar dari kantor Vino.


"Hai Dev....!" Sapa Angel.


Davica yang tadinya sibuk menatap layar komputer teralihlan dan melempar senyumnya pada Angel. Dia berdiri dan cipika-cipiki dengan sahabatnya itu. "Hai Ngel...! Kau ada disini??? Pak Vino hari ini tidak masuk...!" Ujar Davica.


"Ya aku tahu, tadi sekretarisnya memberitahuku, apa bos mu ada di dalam???" Tanya Angel.


"Ah tidak... Tidak ada apa-apa, aku pikir Vitto keluar bersama Papanya, karena Papanya juga sedang keluar...! Oke aku permisi dulu ya??? Aku harus menemui Vino, katanya dia sakit...!"


Davica mengangguk. "Oke see you ya?? Hati-hati di jalan....!"


★★★★


Vino akhirnya sampai di rumahnya, wajah murungnya terlihat sejak keluar dari rumah sakit. Dia butuh tenang untuk sementara. Vino benar-benar pusing sekali dan membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya dan memejamkan matanya. Semalam dia tidak bisa tidur dengan tenang. Menguburkan bayinya yang bahkan belum dia lihat ataupun belum pernah dia limpahi kasih sayang. Angel sudah membuatnya merasa menjadi orang paling bodoh. Ingin sekali rasanya Vino langsjng menyeret Angel dan memberi perempuan itu pelajaran atas segala yang di lakukannya selama ini, tetapi Vino harus menahan diri dan juga menyiapkan semuanya dengan baik untuk membongkar semua itu nanti. Dia masih akan berpura-pura untuk bersikap sama seperti sebelumnya agar Angel tidak curiga, juga akan menuruti keinginan peremluan itu seperti biasanya. Vino ingin mengetahui seberapa jauh lagi Angel akan memanfaatkan nya. Dan akan bersikap seperti itu sampai waktunya tiba untuk menjebak balik Angel.


Angel menaiki tangga menuju kamar Vino tanpa mengetuk pintu atau menekan bel. Itu sudah biasa dia lakukan. Vino pasti di rumah karena mobilnya terparkir di depan yanv artinya lelaki itu tidak pergi kemana-mana. Sebelum itu tadi dia meletakkan barang bawaannya di atas meja yang ada di ruang tamu, baru setelah itu naik ke kamar Vino.


Angel melihat pintu kamar itu tertutup tetapi tidak sepenuhnya, dia pun langsung masuk begitu saja dan mendapati Vino sedang berbaring di tempat tidur. Angel langsung melompat di sebelah Vino, membuat lelaki itu terlonjak karena terekejut. "Hai sayang.... Aku tadi ke kantor tapi kah tidak ada disana, aku juga mengirim pesan serta menghubungimu tetapi tidak aktif, katanya kau sakit??? Kau sakit apa???" Tanya Angel sambil mencium bibir Vino.

__ADS_1


"Aku hanya sedikit pusing...!" Jawab Vino datar.


"Kau sudah makan??? Dan juga minum obat???" Tanya Angel dengan suara manja nya.


Vino menatap Angel, kemudian dia menyadari bahwa dia harus bersikap biasa saja seperti sebelumnya meskipun hatinya bergolak dan dia ingin sekali menampar Angel. "Aku belum makan...!"


"Kau harus makan sebelum minum obat, kita ke bawah supaya pelayan bisa menyiapkan makanan untukmu, ayo....!"


Vino pun berdiri dan mencoba mengikuti apa yang di inginkan oleh Angel. Mereka berdua turun ke lantai satu. Angel pun berteriak menyuruh pelayan membuatkan Vino makanan, sementara dia dan Vino akan menunggu di ruang tamu. Vino duduk di sofa di ikuti oleh Angel. "Apa itu???" Tanya Vino ketika melihat ada bungkusan di atas meja, tadi ketika dia masuk dia tidak melihat itu.


"Oh ini, aku membuat pudding untuk Papa, aku tahu Papa menyukai pudding...!" Jawab Angel.


Mendengar itu, Vino pun kembali teringat dengan pie susu itu. Angel lagi-lagi membawa makanan untuk Papanya. Vino langsung menaruh kecurigaaan pada Angel. "Kau membuat puding untuk Papa??? Kenapa tidak untukku juga???" Tanya Vino.


"Kau mau??? Besok aku buatkan...!"


"Kenapa harus besok??? Sekarang aku akan makan ini saja, lagipula sebesar itu Papa juga tidak akan habis...!" Ucap Vino, kemudian dia memanggil pelayan agar membawakan pisau, piring serta garpu atau sendok untuk memakan pudding itu. Vino sebenarnya memiliki rancana yang baru saja terpikirkan, untuk mengerjai Angel.


Sementara itu Angel mengernyit, akan bahaya sekali jika Vino yang memakan puding itu. Yang ada Vino malah jadi korban dari obat yang sudah dia campurkan ke pudding itu.


Tak lama pelayan Vino datang dengan membawa apa yang di minta oleh majikannya. Vino kemudian menyuruh Angel agar membuka kotak berisi puding itu, lalu meminta Angel memotongnya karena itu terlihat lezat dan Vino tidak sabar untuk memakannya. Angel pun menuruti keinginan Vino, karena dia tidak mau ada kecurigaan dari lelaki itu tentang puding yang di bawa nya.


Setelah memotong, Angel meletakkan ke piring kemudian memberikannya pada Vino. "Thaks ya sayang???" Ucap Vino kemudian memotong puding itu dengan sendok. Vino tersenyum memandangi Angel. "Sayang... Buka mulutmu, kau harus ikut makan juga...!" Pinta Vino.


"Aku???" Seru Angel terkejut dengan permintaan Vino. Angel lekas menggelengkan kepalanya. "Tidak sayang... Tidak.. Aku sudah kenyang...!" Angel berbohong, bagaimana bisa dia ikut memakan itu, ini bisa jadi senjata makan tuan untuknya. Angel tidak bsa melakukan ini dan dia harus mencari cara menolak itu.


"Ayo buka mulutmu, sedikit saja sayang?? Tidak akan bikin kenyang kok, ayo buka mulutmu....! Ayo...!" Vino memaksa. "Ayo sayang... Masa masakan sendiri kamu tidak mau coba??? Ayo buka mulutmu....!"

__ADS_1


__ADS_2