
"Bagaimana jika nanti pengadilan memberikan hak asuh Naufal pada Reino..???" Tanya Arinda masih terisak di pelukan Vino.
"Kita akan berusaha untuk tidak membiarkan hal itu terjadi, itulah kenapa kita perlu diskusi dengan pengacara, sekarang kita pulang, sebentar lagi mereka akan sampai di rumah... Jangan menangis nanti Naufal bangun... Aku selalu bersamamu, kita hadapi sama-sama oke???" Vino melepaskan pelukannya dan menyeka airmata istrinya. "Semua akan baik baik saja.... "
Arindah mengangguk, walaupun dia ketakutan setengah mati, akan tetapi semua harus bisa dia hadapi, dan harus ada usaha untuk mempertahankan Naufal dengannya. Vino bahkan sudah memberitahu Pengacara untuk berdiskusi dan membantu untuk penyelesaian masalah ini.
"Kita pulang ya???? Kasihan Naufal, dia pasti lebih nyaman tidur di kamar... Sudah jangan menangis lagi, semua akan baik_baik saja... " Ucap Vino meyakinkan istrinya.
Arindah mengangguk dan mencoba tersenyum tipis. Vino memvbalas senyumnya dan memakai lagi seatbelt nya, kemudian melanjutkan lagi perjalanan mereka untuk pulang.
****
Bunyi bel membuat Pelayan segera berlari dan membuka pintu. Dua laki-laki berpakaian rapi tersenyum dan mengatakan tujuannya datang yaitu untuk bertemu dengan Vino. Karena sudah di beri pesan oleh Vino, pelayanan itu mempersilahkan kedua pengacara itu agar masuk karena Vino masih dalam perjalanan Pulang. Mungkin beberapa menit lagi akan sampai di rumah.
Pelayanan mempersilahkan kedua nya duduk dan akan memanggilkan Papa Vino. Tak lama Papa Vino keluar dari kamarnya dan menemukan kedua pengacara nya. Dia sudah diberitahu oleh Vino jika Pengacara akan datang untuk membahas mengenai gugatan hak asuh anak Arindah. Tetapi Papa Vino tidak tahu kepastiannya seperti apa dan meminta agar menunggu Vino dan Arindah pulang saja. Sambil menunggu mereka, Papa Vino memilih membahas mengenai kasus Angel, Mama nya dan juga Jason saja.
Sekitar 30 menit kemudian Vino dan Arindah akhirnya datang. Vino menggendong Naufal yang masih tertidur. Vino masuk ke dalam rumah dan menyapa kedua pengacara nya sebentar lalu berpamitan membawa Naufal ke kamar dan akan kembali turun nanti nya. Vino dan Arindah naik ke lantai dua menuju kamar mereka.
Sampai di lantai dua, Vino melihat seorang pelayan sedang membawa tumpukan pakaian yang baru selesai di setrika. "Mbak....!!!" Panggil Vino pada salah seorang pelayan di rumah nya.
Seorang berlari dari belakang menghampiri Vino. "Iya tuan... "
"Tolong jaga Naufal di kamar ya??? Aku dan Arindah akan turun ke bawah menemui pengacara.... Aku takut nanti dia bangun dan menangis karena tidak menemukan siapa-siapa..."
"Baik tuan, kebetulan saya juga mau membawa pakaian tuan ke kamar... "
"Oke... Aku baringkan dia dulu di tempat tidur.... " Vino membawa Naufal masuk ke kamarnya di ikuti oleh Arindah.
Setelah mengantar Naufal ke kamar, Vino dan Arindah kembali turun ke lantai satu, menuju ruang tamu dimana dia sudah di tunggu oleh pengacara nya. Vino meminta maaf karena terlambat karena tadi di jalan sedikit macet.
"Tidak apa-apa Mas, memang waktu nya jam pulang kerja.. Saya maklum, tadi saya juga mengobrol dengan pak Andri... Ngomong-ngomong ada masalah apa sehingga mas Vino menghubungi saya untuk datang, ada masalah apa dengan istri anda???"
__ADS_1
Vino memberikan surat dari pengadilan kepada pengacara nya. "Istri saya mendapatkan surat ini dari pengadilan, mantan suami nya menggugat hak asuh anak nya... Selama ini istri saya lah yang bekerja mati-matian untuk membesarkan putranya, dan tiba-tiba mantan suaminya menggugat nya.... Kira-kira apa yang bisa di lakukan agar hak asuh tetap pada istri saya????" Tanya Vino.
"Apa anak yang tadi mas Vino gendong adalah anak yang ingin di gugat hak asuhnya???"
Vino menganggukkan kepala nya. "Ya, namanya Naufal dan usia nya dua tahun menuju 3 tahun sebentar lagi.... "
"Apa Nona Arindah selama ini melakukan sesuatu yang buruk terhadap putra nya??? Sehingga mantan suami nya merasa bahwa Nona Arindah tidak mampu menjaga dan merawat putra nya...!!!?? " Tanya pengacara lagi.
Vino menoleh menatap istrinya, dan meminta Arindah agar menjelaskan semua nya kepada pengacara. Lalu cerita itupun mengalir dari mulut Arindah. Dia menjelaskan jika sejak usia Naufal baru beberapa bulan, dia bercerai dengan Reino, setelah perceraian itu tentu Arindah yang bertanggung jawab untuk mengurus dan merawat Naufal. Sejak saat itu, sekalipun Reino tidak pernah memberi nafkah untuk Naufal padahal pengadilan juga sudah membebankan biaya bulanan Naufal pada Reino. Akan tetapi nyata nya Reino sama sekali tidak peduli dan bahkan sampai Naufal berumur satu tahun lebih, Reino baru muncul untuk menengok nya sekaligus mengajak Arindah rujuk. Tetapi Arindah menolaknya, dan menyuruh Reino untuk tidak membahas itu dan lebih berfokus pada Naufal saja. Lagi-lagi Reino tidak mengindahkan, jika dia datang tentu alasan utama Reino bukan untuk melihat atau menengok Naufal tetapi meminta Arindah kembali lagi dengannya.
"Apakah pernah pak Reino memberikan kewajibannya menafkahi Naufal????" tanya Pengacara.
Arindah menggelengkan kepala nya. "Sekalipun saya tidak pernah menerima uang dari nya karena dia memang tidak pernah memberikan itu pada Naufal, hanya satu kali dia pernah membawakan Naufal mainan, hanya itu saja, sisa nya dia hanya terus mengajak saya untuk kembali rujuk dengannya... Dengan Naufal pun dia tidak pernah mendekatkan diri, kalaupun mencium dan menggendong, bisa di hitung menggunakan jari, dan itupun di lakukan seperti terpaksa hanya untuk memancing kepedulian saya saja.. Surat ini membuat saya sangat terkejut sekali, karena sangat tidak masuk di akal dia ingin mengambil Naufal dari saya, padahal sekalipun dia tidak pernah peduli dengan anaknya itu..."
"Jika memang seperti itu, alasan apa yang mendasari pak Reino melakukan ini??? Apa anda pernah mengalami masa sulit, maksud saya apakah anda pernah mengalami kekurangan ekonomi sehingga pernah mengeluh tidak sanggup merawat Naufal???"
Arindah menggelengkan kepala nya lagi. " Sejak saya bercerai, saya tidak pernah merasa kekurangan dalam hal ekonomi dan keuangan, karena saya memiliki cukup tabungan untuk menghidupi diri saya sendiri dan juga anak saya.... Saya sebelumnya juga sudah menjadi dokter, dan penghasilan saya saya sisihkan untuk tabungan saya, jadi saya memanfaatkan uang itu dulu sambil mendapatkan pekerjaan yang baru, dan sekitar satu bulan akhirnya saya mendapatkan pekerjaan, jadi tidak ada sama sekali saya merasa kekurangan dalam hal ekonomi untuk membesarkan Putra saya... " Jawab Arindah.
"Tidak Pak.... Sesibuk apapun saya bekerja, saya tetap mengutamakan Naufal, orang tua saya juga membantu saya dengan baik menjaga dan merawat Naufal, tidak akan pernah kami membiarkan Naufal terlantar..."
"Sebenarnya ini juga yang aku khawatirkan, Reino akan mencapai alasan konyol untuk mengajukan hal semacam ini.. Dia pernah memergoki ku keluar dari kamar Arindah di sebuah hotel dan membawa polisi untuk menggrebek kami, padahal saat itu aku dan Arindah tidak melakukan apapun, karena hal itu yang takutnya menjadi sebuah fitnah di masa mendatang dan bisa di jadikan Reino sebagai senjata, maka aku memutuskan untuk segera menikahi Arindah... Dan aku sangat yakin, dia sudah memikirkan alasan lain untuk menggugat hak asuh Naufal dari Arindah, setelah gagal dengan rencana nya memfitnah kami berdua... " Vino menimpali.
"Ya bisa jadi Mas, setelah dulu saya mendengar cerita Mas Vino mengenai penggrebekan itu, saya juga memiliki feeling bahwa bisa saja alasan itu di gunakan untuk menyerang Mas Vino ataupun Nona Arindah... Dan saat ini tentu ada alasan lain yang di gunakan untuk bisa mendapatkan hak asuh Naufal.... " Ujar Pengacara. Dia memang sudah pernah di beritahu Vino mengenai masalah yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Saat itu Vitto menghubungi nya dan memberitahu jika Vino dalam masalah. Kebetulan ketika itu dia juga ada di hotel yang sama karena memang di undang di acara pernikahan Vitto dan Rana, sehingga ketika Vitto menghubungi nya, dia lekas menyusul ke kantor polisi dan membantu Vino dan Arindah agar di bebaskan malam itu juga. Bersamaan dengan itu ternyata hadir juga pemilik hotel yang membawa rekaman CCTV hotel ketika itu, sehingga pembebasan Vino dan Arindah cepat.
"Dan sendengar semua cerita anda Nona Arindah, sebenarnya kecil kemungkinannya pak Reino bisa mendapatkan Naufal, karena selama ini anda sendirian yang sudah menanggung segala kebutuhan Naufal, dan Naufal juga masih berumur dua tahun, dimana tentu tugas seorang ibu untuk menjaga nya.... Kami rasa anda tidak perlu takut untuk menghadapi tuntutan ini, karena kecil kemungkinannya bahwa pak Reino tidak bisa mendapatkan yang di inginkan, tentu dengan catatan bahwa Nona Arindah harus menunjukkan hukti-bukti jika pak Reino selama ini tidak melakukan tugasnya dengan baik sebagai seorang ayah....!"
"Tentu Pak, saya bisa membuktikan hal itu, dan saya mohon bapak bantu saya, saya tidak bisa jauh dari anak saya... Selama ini saya mencoba bersikap bijak untuk tetap menerima Reino jika ingin. bertemu Naufal meskipun saya tahu bukan itu tujuan utama nya, tetapi saya tidak pernah menghalangi nya untuk melihat dan bertemu Naufal... " Ucap Arindah.
"Tentu saja kami akan membantu Anda untuk mempertahankan hak asuh Naufal, jadi kami akan mengurus masalah ini, jika di butuhkan bukti dan hal lainnya, saya harap anda langsung bisa memberikannya pada kami untuk mempermudah semua nya...."
"Tentu saja Pak.... Aku dan Arindah akan menghubungi anda, dan aku harap kita bisa benar-benar membungkam Reino si brengseek itu.... " Vino menimpali. "Dia pikir dia siapa, berani sekali mengancam dengan cara seperti ini.... " Geritu Vino.
__ADS_1
*****
Sementara itu, di tempat lain, Vitto dan Rana benar-benar menikmati hari mereka. Setelah puas melihat dan jalan-jalan di tepi Danau, mereka menuju destinasi selanjutnya dimana mereka bisa melihat keindahan danau yang mereka ku jungi tadi dari ketinggian. Tempat itu bernama Harder Kulm.
Wajah sumringah terlihat dari kedua nya. Menikmati setiap moment dengan bahagia. Mengobrol membahas tempat yang mereka kunjungi itu, juga mengagumi keindahannya. Makan es krim bersama hingga mengabadikan setiap moment yang mereka lewati. Semua harus di manfaat kan dengan sangat baik, karena Rana bukan dalam masa hamil atau dalam masa menjalani program hamil. Sehingga Rana masih merasa bebas untuk melakukan aktifitas yang menguras keringat dan juga berjalan jauh. Dan Vitto juga ingin menikmati masa ini dengan baik dan bebas dari kesibukan pekerjaan yang biasa menumpuk, sehingga bisa fokus untuk membahagiakan Rana serta menikmati masa pengantin barunya.
..
__ADS_1