
Rana beranjak dari tempat tidur dan melangkah menuju sebuah kursi yang ada di dekat jendela. Rana kemudian mencoba membuka jendela kamar itu dengan memasukkan lengannya ke lubang tralis besi. Dia berhasil melakukannya kemudian mendorong jendela agar terbuka. Rana mengernyit karena ternyata ada sebuah tembok tinggi sekali bahkan tingginya lebih dari balkon yang ada di depannya.
"Tinggi sekali...! Kenapa Vino memilih rumah seperti ini??? Ini terlihat jadi seperti sebuah rumah tahanan, bahkan diatasnya juga ada kawat berduri....!" Gumam Rana dengan ekspresi keheranan.
"Makan siang datang....!" Teriak seseorang dari luar.
Mendengar itu Rana langsung berdiri mencari sumber suara. Langkah Rana terhenti ketika dia melihat sebuah tangan muncul dibalik lubang itu, dan mengulurkan sepiring makanan lalu 2 gelas berisi air putih dan jus jeruk. Rana mengernyit dan mendekat ke lubang itu. Rana membungkuk dan melihat siapa yang ada dibalik itu.
"Ini makanan untuk siapa???" Tanya Rana bingung.
"Makanan untuk anda!" Jawab perempuan itu dengan nada ketus.
"Untukku??? Kenapa kau mengantarnya dengan cara seperti ini? Disini kan ada ruang makan, dan aku akan makan siang dengan suamiku...!" Ucap Rana lagi.
"Makan saja, jangan banyak bertanya, jika sudah selesai letakkan kembali piring dan gelas kotornya disini, nanti aku akan mengambilnya...! Tuan sedang pergi jadi jangan buat perutmu kosong karena menunggunya...!" Ujar pelayan itu lalu berlalu begitu saja meninggalkan Rana yang masih bingung.
Rana diam dan membathin, kenapa pelayan itu bersikap ketus sekali padanya, padahal tahu bahwa Rana adalah istri dari Vino. Tetapi Rana tidak mau ambil pusing dengan hal itu dan mencoba memaklumi bahwa mungkin pelayan itu memang memiliki sikap yang terlihat ketus. Rana kemudian kembali berpikir jika memang Vino pergi kenapa dia harus di kunci di dalam kamar padahal seharusnya tidak perlu seperti itu dan membiarkannya bisa beraktifitas di rumah ini. Rana juga heran kenapa Vino tidak memberitahunya jika akan pergi dan kemana dia pergi. Lalu sekali lagi Rana tidak ingin berpikir negatif tentang Vino, mungkin suaminya itu ada urusan mendesak.
Rana kemudian mengambil nampan berisi makanan dan minuman lalu membawanya masuk. Rana sangat lapar sekali, tadi dia tertidur ketika menyalakan televisi lalu bangun dengan perut keroncongan. Rana meletakkan nampan itu di atas meja dan dia duduk di sofa kemudian mulai memakannya.
★★★
Malam akhirnya tiba, makan malam Rana kembali diantar, dan Rana kembali menanyakan keberadaan Vino kepada pelayan itu. Sayangnya jawabannya pun sama bahwa Vino tidak ada di rumah ini. Rana mulai merasa cemas dan bingung, kenapa Vino menguncinya seperti ini. Apa yang sedang dilakukan oleh Vino saat ini dan kemanakah suaminya itu pergi. Vino pergi sejak pagi dan tidak kembali hingga malam. Ingin menghubungi Vino tetapi Rana juga tidak memegang ponsel sama sekali. Ponseonya tertinggal di rumah Vino dan di kamar ini juga tidak ada telepon. Selain itu Rana juga tidak tahu ada dimana dia sekarang, Vino menutup matanya ketika membawanya kesini sehingga dia tidak bisa melihat kemana Vino membawanya.
"Mungkin aku harus meminjam ponsel pelayan itu untuk menghubungi Vino...!" Gumam Rana kemudian mengambil makanannya.
Setelah menghabiskannya, Rana meletakkan nampan ke lubang itu dan menunggu pelayan itu mengambilnya. Sehingga nanti dia bisa meminjam ponsel pelayan itu sebentar saja.
__ADS_1
Cukup lama Rana menunggu sampai akhirnya pelayan itu datang dan langsung mengambil nampan Rana. Kemudian memberikan paperbag untuk Rana dan mengatakan jika itu berisi pakaian untuk Rana. Dan Rana memang bingung dia sudah mandi tapi dilemari tidak ada satupun pakaian yang bisa dia gunakan selain hanya sebuah jubah mandi. Rana terpaksa memakai lagi pakiannya tadi.
"Permisi... Bisakah aku meminjam ponselmu untuk menghubungi suamiku???" Tanya Rana dengan sopan.
"Tidak...! Aku tidak punya ponsel...!" Pelayan itu langsung pergi begitu saja.
"Apa kau tahu dimana suamiku????" Teriak Rana tetapi tetap tidak mendapat respon. Rana benar-benar kecewa sekali.
Dengan langkah gontai, Rana membawa pakaian itu lalu ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Setelah selesai, Rana kembali ke tempat tidur. Dengan sedih dan terus bertanya-tanya, Rana mencoba menunggu kedatangan Vino, dan akan bertanya alasan Vino mengurungnya seperti ini. Dan jika memiliki salah, Rana siap untuk meminta maaf.
Seharusnya ini adalah hari bahagia untuk Rana, menikmati masa pengantin barunya tetapi Vino justru tidak kunjung kembali, dan menguncinya di kamar yang tertutup seperti ini.
Rana terus menunggu sampai jam menunjukkan hampir pukul 12 malam tetapi suasana terlihat sepi sekali dan tidak ada tanda-tanda ada orang. Rana tahu bahwa sepertinya pelayan itu saat ini tidur. Dalam kebingungannya, Rana membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Tiba-tiba saja Rana terisak, entah kenapa dia merasa sendirian di tempat yang tidak dia ketahui. Rana terbiasa sendiri dirumahnya dan tidak pernah merasa ketakutan seperti ini. Suaminya membawanya kesini tetapi lelaki itu tidak kunjung kembali.
"Vino.... Kau ini sebenarnya kemana?mm Aku takut sekali...!" Gumam Rana sambil terus terisak hingga sarung bantalnya pun basah oleh airmatanya.
★★★★
Disisi lain.....
Vitto sedang mengemasi pakaiannya untuk kembali ke negaranya setelah berbulan-bulan pergi untuk bersenang-senang juga mendaki beberapa gunung yang ada di berbagai dunia.
Sebuah ketukan di pintu mengalihkan Vitto dari kesibukkanya. Seorang laki-laki setengah baya yang duduk di kursi roda mendekati Vitto dengan pelan. Vitto tersenyum kemudian smenyusul dan mendorong kursi roda itu masuk ke kamarnya.
"Penerbanganmu jam berapa???" Tanya lelaki itu.
"Malam nanti Pa...!" Jawab Vitto.
__ADS_1
"Kau akan langsung pulang atau kau akan mampir kemana dulu???"
"Aku akan langsung pulang tapi mungkin aku akan liburan beberapa hari sebelum akhirnya memulai syuting untuk filmku...!"
Lelaki yang dipanggil Papa oleh Vitto itu tersenyum. Dia adalah Andre Prakarsa, ayah dari Vitto dan juga Vino. Dia sudah sakit sejak beberapa tahun terakhir dan memilih menetap di Paris untuk melanjutkan pengobatannya. Sejak sakit dan tidak bisa beraktifitas, Tuan Andre mewariskan seluruh perusahaannya pada kedua putranya. Sayangnya Vitto menolak untuk mengurus perusahaan itu dan melimpahkan semuanya ke Vino. Vitto tidak tertarik sama sekali dengan hal yang berbau bisnis, dan lebih suka bersenang-senang dan menikmati kegiataannya sebagai seorang aktor. Sebenarnya Tuan Andre tidak keberatan dengan apa yang dilakukan oleh Vitto, selama putranya itu merasa nyaman dengan apa yang dia suka. tapi tidak menutup kemungkinan juga, Tuan Andre berharap suatu saat Vitto mau berbisnis juga.
"Selalu berhati-hati dalam setiap hal yang kau ingin lakukan...! Apa ada kabar dari adikmu???" Tanya Tuan Andre pada Vitto.
"Apa pedulinya dia padaku...! Jangankan kabar, setiap aku menghubunginya saja dia tidak pernah mau mengangkatnya...!"
"Kau harus bersabar dengan sikap adikmu itu!"
Vitto terkekeh. Tentu saja dia harus memahami sikap Vino, tidak mudah untuk meluluhkan kerasnya hati yang dimiliki oleh adiknya itu.Vitto sendiri tidak tahu bagaimana bisa menyadarkan Adiknya itu, dan mengembalikannya menjadi Vino yang seperti dulu.
Setelah kepergian Vania, dan juga Mama mereka yang sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya ditambah lagi Vitto menolak untuk bekerja sama mengurus perusahaan. Vino menjadi pribadi yang keras hati, tidak pernah mau mendengarkan siapapun, seperti apa yang terjadi beberapa tahun terakhir ini. Vino seolah memupuk kebenciannya kepada semua orang yang membuatnya kesal, termasuk kepada Papa mereka sendiri. Vino hanya mau mendengarkan Angel saja. Berurusan dengan Angel adalah hal yang paling menyebalkan bagi Vitto, itu sebabnya dia tidak pernah menyukai Angel.
"Aku sudah terlalu bersabar...! Biarkan saja Pa, selagi dia tidak melakukan hal yang buruk, kita jangan mengusiknya...!" Gumam Vitto.
"Lalu bagaimana dengan rencana bodohnya itu tentang balas dendam...!" Tanya Tuan Andre.
Vitto sempat bercerita pada Papanya bahwa Vino pernah mengajaknya untuk membalaskan dendam pada seseorang terkait dengan kepergian Vania. Dan Vitto tentu saja menolaknya dengan keras, karena hal itu sangatlah tidak benar untuk dilakukan. Vitto juga sudah menjelaskan semuanya kepada Vino agar jangan membalas dendam pada orang yang tidak bersalah tetapi adiknya itu tetap tidak peduli. Dan setelah penolakan itu, tidak terdengar lagi bahwa Vino berniat melanjutkan rencana balas dendamnya, itu membuat Vitto sedikit merasa lega.
"Kurasa dia tidak berniat untuk melanjutkannya Pa...!" Jawab Vitto.
"Syukurlah...! Papa senang...! Papa tidak ingin anak-anak Papa menjadi orang yang tidak berperasaan, lagipula untuk apa melakukannya, karena semua itu tidaklah benar sama sekali! Papa harap kau bisa mencegah adikmu melakukan hal yang tidak benar, jika kondisi papa sudah membaik, Papa pasti akan pulang...!"
Vitto mengangguk lalu memeluk Papanya. Vitto sebenarnya masih tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi perihal kepergian Vania. Tetapi Vitto tetap tidak membenarkan jika adiknya melakukan hal buruk seperti itu.
__ADS_1