
Rana dan Vitto akhirnya sampai di rumah sakit, dan mereka sedang menuju ruang perawatan Jeany, dimana ternyata Jeany sudah membaik sehingga tidak perlu lagi dirawat di ICU. Ketika keluar hotel baik Vitto maupun Rana masih menutup wajah mereka dengan kacamata serta masker. Mereka tidak mau mengambil resiko bertemu dengan Angel langsung.
Ternyata kedatang mereka sudah ditunggu oleh orang tua Jeany. Melihat itu Rana langsung memeluk Mama Jeany sambil mengucaokan permintaan maaf karena dia baru bisa datang dan baru tahu jika Jeany mengalami kecelakaan. Rana mengatakan jika ponselnya hilang sehingga dia tidak memiliki kontak siapapun dan tidak mengetahui informasi apapun. Rana beruvap sambil menangis dan dia sangat menyesal karena baru mengetahui keadaan Jeany.
Rana dan Vitto diajak masuk oleh Mama Jeany. Tampak Jeany berbaring lemah dengan kaki serta kepalanya di perban, lehernya juga di beri penyangga. Rana tidak bisa membendung airmatanya dan dia memeluk Jeany yang terbaring. Jeany juga meneteskan airmatanya, dia masih belum bisa banyak bicara. Rana sahabatnya sudah kembali kepadanya, dan dia sangat merindukan Rana.
"Jean....! Tolong maafkan aku, aku mengabaikan ucapanmu saat itu, kau benar Jean, Vino memang jahat dan dia hanya menjebakku.... Tapi kau jangan khawatir, aku sudah terlepas darinya, aku benar-benar tidak tahu kau mengalami kecelakaan, ponselku hilang dan Bakeryku juga terbakar, aku tidak tahu info apapun tentangmu, aku menyesal sekali sudah mengakhiri hubungan kita tetapi itu tidak akan terjadi lagi, kau adalah sahabatku juga saudaraku, please maafkaan aku Jean...!" Gumam Rana dengan suara terbata dan dia juga terisak.
"A...ku se...nang kau ba...ik-baik sa...ja... Na....!" Suara Jeany terbata dan dia mencoba membalas pelukan Rana.
Rana kemudian melepaskan pelukannya dan mentap Jeany penuh dengan penyesalan. Rana menggenggam jemari Jeany. "Kau harus lekas sembuh, kita bisa jalan-jalan, bergosip lagi dan mencurahkan isi hati kita seperti biasanya....!"
Jeany tersenyum menganggukkan kepalanya. "Kau da..tang.. kesi..ni sendi..ri..an Na???" Tanya Jeany.
"Aku datang bersama temanku...!" Rana menoleh ke belakang dan menunjuk ke arah Vitto yang berdiri sambil melempar senyumnya ke Jeany. "Kita sering membicarakannya Jean ketika kita selesai menonton filmnya, dan kau selalu bilang ingin melihatnya secara langsung, jadi aku datang bersamanya...!" Gumam Rana tersenyum.
"Vitto Pra...karsa..??"
Rana mengangguk. "Ya.... Dia yang sudah banyak membantuku selama ini, dan dia juga yang menyelamatkanku dari Vino...!"
Vitto mendekat dan menyalami Jeany. "Aku senang bisa bertemu denganmu.... Rana banyak bercerita tentangmu... Kau harus cepat sembuh sehingga Rana bisa punya teman mengobrol dan tidak merepotkanku lagi....!!!" Vitto terkekeh.
"Teri..ma Ka..sih su..dah datang dan su..dah memban..tu Rana..!"
"Sudah kewajiban kita sebagai sesama manusia harus saling membantu, tenang saja, Rana akan baik-baik saja, kau fokuslah pada kesembuhanmu....!"
__ADS_1
Vitto dan kedua orangtua Jeany duduk di sofa membiarkan Rana duduk disebelah ranjang Jeany. Vitto sebenarnya mendapat pesan dari Papanya untuk mengurus segala biaya rumah sakit Jeany, mengingat kecelakaan yang dialami Jeany adalah karena ulah Vino. Hanya saja Vitto bingung harus memulai dari mana, dia takut orangtua Jeany tersinggung dan marah. Vitto pun memilih untuk tidak membahasnya sekarang, mungkin besok saja atau meminta bantuan Rana untuk mengatakan semuanya pada orangtua Jeany.
Ketika hari sudah malam, Vitto dan Rana pun berpamitan untuk kembali ke hotel dan besok akan kesini lagi. Sebenarnya Rana ingin tetap disini saja tetapi entah kenapa sejak turun dari pesawat dia merasa tidak nyaman dengan tubuhnya terutama di perut dan kepalanya yang sedikit pusing. Vitto pun menyarankan untuk beristirahat di hotel dan besok kesini lagi.
Mereka keluar dari rumah sakit dan sudah Ditunggu oleh supir. Mobil pun melaju menuju hotel tempat mereka menginap. Ditengah perjalanan Vitto kembali dihubungi oleh Papanya. Vitto mwngangkatnya dan Papanya justru membahas lagi tenyang pria yang tadi bersama Angel di video itu, ternyata Papa Vitto ingat siapa pria tua itu. Ternyata pria itu adalah seorang pebisnis yang berasal dari negara mereka, hanya saja beberapa tahun ke belakang si pria itu sedang menjalankan bisnisnya di negara ini dan tinggal disini. Dia cukup terkenal dan banyak dihormati oleh pemimpin perusahaan-perusahaan besar baik di negara ini ataupun di negaranya sendiri. Pria itu juga terkenal memiliki beberapa wanita simpanan, dan istrinya tahu tetapi memilih diam dan membiarkannya. Papa Vitto juga setuju dengan keyakinan Vitto bahwa Angel sepertinya menjadi salah satu bagian dari wanita simpanan milik pria itu.
"Oh shiiitt.....! Si nenek lampir itu memang sudah gila.... Dia sudah kehilangan akal sehatnya.... Bisa-bisanya dia bermain api di belakang Vino, dan bodohnya adikku itu bisa jatuh cinta dengan perempuan tidak waras seperti Angel....!" Gerutu Vitto.
"Biarkan saja untuk sementara waktu, sambil berjalan kita harus memikirkan sesuatu untuk mencari cara menjebak Angel di depan Vino...!" Ujar Papa Vitto.
"Oke baiklah Pa.... Aku juga akan memikirkannya, papa istirahat dan jangan lupa meminum obat Papa....!" Vitto menutup panggilan telepon dari Papanya.
★★★★★
Keesokan harinya, Vitto bangun dari tidurnya. Dia tidur di sofa dan membiarkan Rana tidur di ranjang. Vittk bangun dan duduk, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil menguap. Vitto berdiri dan dia mengintip untuk melihat Rana sudah bangun atau belum. Tetapi ranjang itu kosong.
Vitto melihat sekeliling dan Rana tidak ada, sampai akhirnya terdengar bunyi air di dalam kamar mandi. Vitto tersenyum, Rana ternyata sedang mandi. Vitto kemudian menghubungi pihak hotel untuk memesan sarapan. Dia dan Rana akan makan di dalam kamar saja, menghindari bertemu dengan Angel. Vitto merasa kesal sekali, dia datang kesini untuk berlibur, bersantai di kolam renang atap hotel pasti menyenangkan sekali, tetapi malah seperti burunan yang harus menghindari bertemu dengan Angel. Itu membuat Vitto sangat kesal sekali.
Sekitar 30 menit sarapan pesanan Vitto sudah datang, tetapi Rana belum juga keluar dari kamar mandi. Petugas hotel membawa masuk makanan itu dan meletakkannya di meja makan, sementara Vitto duduk dan mengambil cangkir berisi kopi yang dipesannya. Vitto menghirup aroma kopi itu lalu menyesapnya.
Rana akhirnya keluar dari kamar mandi dan terlihat sudah rapi, hanya saja wajah Rana terlihat pucat. Rana bangun tidur dan merasakan mual yang luar biasa, dan dia sejak tadi muntah-muntah di dalam kamar mandi. Efek jetlag masih dia rasakan dan pusing dikepalanya juga tidak hilang sejak kemarin.
"Selesai juga kau di kamar mandinya, aku sudah pesan sarapan, kita sarapan disini saja, kau makan dulu, aku akan mandi...!" Ucap Vitto.
"Ya, maaf aku lama, badanku benar-benar tidak enak sekali, kepalaku masih pusing dan aku juga merasa mual...!"
__ADS_1
"Minum jus itu supaya kau merasa lebih baik, aku memesan lemon jus untukmu....!" Vitto kemudian meninggalkan Rana untuk ke kamar mandi.
Rana duduk dan mengambil gelas berisi jus lemon. Baru hendak meminumnya, pandangan Rana tiba-tiba berputar dan menjadi gelap. Gelas yang di pegangnya jatuh. Vitto yang baru akan ke masuk ke kamar mandi di buat terkejut dengan suara itu. Dia melihat ke arah Rana yang duduk tetapi tubuh Rana terlihat lemas dan perempuan itu akan terjatuh dari kursi. Vitto langsung berlari dan menangkap tubuh Rana. Hampir saja Rana jatuh ke lantai.
"Rana.....Rana.... Kau kenapa???" Ucap Vitto.
Rana memejamkan matanya. Rana pingsang, Vitto panik dan langsung mengangkatnya ke tempat tidur. Dia harus menghubungi pihak hotel dan menanyakan dokter di sekitar sini. Rana terlihat pucat dan dia sejak kemarin mengeluh pusing. Rana pasti sakit. Setelah membaringkan Rana, Vitto menghubungi pihak hotel agar mengirim dokter ke kamarnya.
Vitto berusaha membangunkan Rana, tetapi Rana belum bangun juga. Hingga akhirnya sekitar 10 menit ada suara ketukan pintu, Vitto bergegeas membukanya. Seorang oetugas hotel datang memberitahu jika yang bersamanya adalah seorang dokter. Vitto mempersilahkannya untuk masuk dan memeriksa Rana.
Dokter oun mulai melakukan tugasnya dan memeriksa Rana, mulai dari detak jantung serta tensi Rana. Dokter juga terlihat merangsang penciuman Rana dengan bau-bauan sehingga Rana akhirnya membuka matanya. Rana mengernyit dan memijat pelipisnya.
"Good Morning Miss??" Sapa dokter itu, kemudian dia menyebutkan nama serta profesinya kepada Rana. Rana tersenyum dan menjawab sapaan itu dengan suara pelan.
Dokter tersenyum. "Im sorry miss, have you seen an obstetrician before coming here?" (Sudahkah Anda menemui dokter kandungan sebelum datang kemari?) Tanya dokter itu.
"Obstetrician!!!" Seru Vitto bersamaan dengan Rana.
"No, I haven’t! But why I meet obstetrician???" (Tidak. Tapi untuk apa saya bertemu dengan dokter kandungan???) Tanya Rana bingung.
Dokter itu hanya tersenyum. "Do you remember when your last menstruation period was?" (Apakah Anda ingat kapan terakhir menstruasi?) Tanya dokter itu lagi.
Rana terdiam dan dia mencoba mengingat, bulan kemarin dia memang tidak mendapatkan tamu bulanannya. Sementara itu Vitto sendiri masih bingung dengan apa yang terjadi karena dokter itu masih belum menjelaskan dengan pasti.
"I’m not sure, but if I’m not mistaken, it was by the end of December" (Saya tidak yakin, tapi kalau tidak salah, pada akhir bulan December)
__ADS_1
"Is it your first pregnancy?" (Apakah ini kehamilan pertama Anda?) Tanya dokter lagi.
"What.....??!!!! Pregnant???" Seru Vitto dan Rana bersamaan dan mereka saling berpandangan.