Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 48


__ADS_3

Rana beranjak dari duduknya dan menyeka airmatanya dengan kasar. Dia kemudian keluar dari kamarnya dan mencari Vino. Rana harus meminta penjelasan dari lelaki itu. Rana tidak bisa harus terus seperti ini, Vino dan Angel sudah keterlaluan sekali melakukan semua ini padanya. Mereka berhubungan dan entah kenapa mereka bisa merencanakan hal seperti ini.


Rana melangkah cepat dan menyusuri lantai dua. Semua pintu kamar itu tertutup, Rana berpikir mungkin Vino dan Angel masih menikmati makan malam dibawah tetapi langkahnya terhenti ketika ada pintu terbuka dari kamar Vino, kamar dimana Vino tadi siang melemparnya ke kolam renang.


Dengan langkah pelan Rana mendekati pintu kamar itu dan benar saja Vino sedang berdiri disana sementara Angel duduk di sisi tempat tidur. Dipenuhi dengan rasa kesal dan kecewa Rana langsung masuk begitu saja. Vino serta Angel langsung menoleh kemudian saling berpandangan. Angel berdiri mendekat ke Vino.


Rana berdiri tepat di depan kedua orang itu, tatapannya penuh dengan kekecewaan. Sementara Vino hanya memandang Rana datar tanpa ekspresi. "Ada apa kau kesini???" Tanya Vino pada Rana.


Airmata Rana mengalir lagi dari kedua matanya. "Kenapa kalian mempermainkanku? Apa salahku pada kalian sehingga kalian membuat kebohongan sebesar ini????"


"Sudah berapa kali aku bilang bahwa kau tidak perlu tahu apapun tentang semua ini....!" Gumam Vino datar.


"Aku berhak tahu Vino....!!!" Teriak Rana dengan suara bergetar.


"Kau menjebakku untuk menikahiku tetapi kau ternyata tidak mencintaiku, kau menghancurkan persahabatanku dengan Jeany, lalu membawaku ke tempat ini yang tidak aku tahu dimana, kau mengurungku, kau menyiksaku, kau membakar tempat usahaku dan sekarang aku mendapatkan satu fakta lagi bahwa kalian berdua adalah sepasan kekasih...! Apa sebenarnya yang kalian inginkan dariku??? Jika aku memiliki salah kenapa kalian tidak langsung mengatakan padaku apa kesalahanku, tetapi kalian justru menghukum diriku seperti ini dan aku sama sekali tidak tahu kesalahan apa yang aku lakukan....!" Airmata Rana membanjiri kedua pipinya, dia terisak pilu dan hatinya terluka begitu dalam.


Vino melempar senyum mengejeknya pada Rana, dan sama sekali tidak peduli dengan tangisan Rana. "Teruslah menangis, dan itu akan membuatku puas sekali...!"


Rana memukul dada Vino dengan kedua tangannya. "Kau jahat sekali Vino... Kau jahat sekali... Aku akan mengatakan semuanya pada Vitto tentang apa yang kau lakukan padaku....! Aku tidak akan pernah mendengarkanmu....!"


"Kau mengancamku???" mata Vino melotot menatap tajam penuh kemarahan kepada Rana, dan dengan kasar Vino menarik kerah blouse Rana.


"Kau pikir kau siapa berani mengancamku? Jika kau mau katakan saja, dan akan ku pastikan aku akan melakukan sesuatu yang lebih kejam daripada yang kemarin ataupun tadi pagi...!" Vino kemudian mendorong Rana dengan hingga Rana terjatuh dilantai.


Vino mendekati Rana yang masih terbaring di lantai, dan menginjak tangan Rana dimana disana luka bakar itu masih ada. Seketika itu juga Rana menjerit kesakitan, Angel langsung menutup pintu kamar Vino. Lelaki itu duduk berjongkok dan tidak peduli dengan suara Rana yang kesakitan.


"Jangan berharap akan ada yang menolongmu sekarang...! Aku sudah berulang kali mengingatkanmu agar jangan pernah menentangku, meskipun kau menangis darah memohon kepadaku, aku tidak akan pernah melepaskanmu, bukan urusanmu juga jika aku ingin menjalin hubungan dengan siapapun...! Kau hanyalah sampah untukku...!"


"Tapi aku adalah istrimu....!!!" Teriak Rana.


Vino tersemyum. "Owh iya aku lupa bahwa kau adalah istriku yang bodoh...!". Vino kemudian mendongak menatap Angel yang berdiri di depan pintu. "Lihatlah sayang, betapa bodohnya gadis ini, dia sudah mulai menunjukkan keberaniannya kepadaku, dia mengatakan bahwa dia istriku tetapi sayangnya aku sama sekali tidak tertarik untuk menyentuhnya, bagaimana jika kau saja yang menggantikan posisi si bodoh ini menjadi istriku...!" Ujar Vino kemudian mengedipkan sebelah matanya pada Angel.


Vino berdiri dan membalikkan badannya, melangkah menuju lemari pakaiannya. Dia membuka lemari itu dan sibuk mencari sesuatu disana. Tak lama Vino pun kembali menghampiri Rana dengan membawa 3 dasi miliknya. Vino menyuruh Angel agar mengambil kursi kayu.


Angel mengangkat kursi itu di dekat Rana, sementara Vino menarik kasar Rana, menyuruh Rana untuk duduk di kursi itu. Setelah Rana di paksa duduk, Vino menyuruh Angel mengikat kedua tangan Rana ke belakang sementara dia akan menahan kaki Rana. Angel mengikat kedua tangan Rana dengan kencang, Rana meronta dan meminta agar di lepaskan tetapi Vino dan Angel tidak menanggapinya. Setelah selesai mengikat tangan Rana, Angel duduk berjongkok di sebelah Vino. Lelaki itu kemudian menyuruh Angel kembali mengikat kaki kiri Rana dan dia menahannya, kedua kaki Rana pun sudah terikat.


"Vino...! Lepaskan aku.....!" Teriak Rana dan dia terus meronta tetapi Vino dan Angel justru menrtawakannya.


"Aku ingin kau menonton sesuatu yang luar biasa, anggap saja ini hiburan gratis untukmu, dan ingatlah satu hal bahwa tidak akan ada yang bisa menggantikan Angel dihatiku...!"

__ADS_1


Vino langsung menarik Angel dalam pelukannya. Lelaki itu mencium bibir Angel dengan kehausan, mencecap seluruh sudutnya dengan bibirnya. Angel membuka bibirnya, lidah Vino menelusup masuk semakin dalam, bertemu dengan lidah Angel dan berjalinan disana, mulut mereka berpadu dan tubuh mereka menjadi semakin rapat. Mereka sengaja melakukan itu tepat dihadapan Rana untuk membuat Rana semakin tersiksa.


Rana memalingkan wajahnya enggan melihat kedua orang yang ada di depannya itu. Vino sudah gila itulah yang ada di pikiran Rana.


Ketika mereka berdua melepaskan kepalanya, mata Vino yang dalam bertatapan dengan mata Angel.


"Aku ingin memilikimu" Bisiknya dengan suara parau tetapi cukup jelas untuk di dengar oleh Rana.


Dan bagaimana mungkin Angel bisa menolak ajakan itu? Mata Vino begitu dalam, menghipnotisnya, dan dia tenggelam di sana, kehilangan daya dalam jeratan vino yang luar biasa panas.


Vino mengangkat tubuh Angel lalu membawanya keatas tempat tidur. Vink kembali mencium bibir Angel lagi, ciumannya tidak ditahan-tahan lagi. Lelaki itu melahap seluruh bibir Angel menjilat dan memainkannya dengan lidahnya, mencecap rasanya.


"Ah ya Ampun, ini yang selalu aku rindukan darimu...!"


Vino mengerang parau. Jemarinya bergerak dan menurunkan gaun Angel sampai kaki. Kemudian melepaskan pelindung dada Angel dengan cekatan sehingga milik Angel yang indah itu terpampang di depannya,


"Ah... indahnya.. Angelku yang indah.. aku akan terus memujamu, aku akan membuatmu merasakan kenikmatan sayang..." jemari Vino bergerak lembut dan menyentuh bulatan berwarna pink milik Angel, lalu bibirnya menyusul dan menyesapnya lembut.


"Kalian sudah gila....! Kalian benar-benar gila....! Kalian sama sekali tidak punya rasa malu...." Teriak Rana.


Vino dan Angel tidak memperdulikan teriakan Rana. Dan Vino terus melanjutkan aktifitasnya bersama dengan Angel.


Vino mengangkat kepalanya dan tersenyum menggoda, "Jangan di sini katamu?" senyumnya polos. Lelaki itu kembali melakukannya sambil lalu kemudian meniupnya lembut, "Apa sayang? Coba Katakan lagi... kau bilang jangan di situ?"


"Oh.. ya Vino.. yaa... disitu" Angel meracau putus asa, bulatan itu mengencang dan mendamba. Mendambakan bibir Vino yang hangat dan lidahnya yang menggoda.


Dan Vino tentu saja mengabulkan permintaannya, tidak mau membuat Angel tersiksa lama-lama. Lelaki itu menundukkan kepalanya lagi, lalu menghisap lagi, memuja Angel bergantian, membuat Angel menggeliat dan melengkungkan punggungnya mendamba.


Jemari Vino bergerak dan menuju pusat Angel, tempat di mana rasa itu terus muncul ketika dihisap oleh Vino. Jemari itu menelusup dan menyentuh miliknya yang di bawah. Dengan ahlinya Vino menggerakkan jarinya, menelusuri hati-hati dan menemukan titik paling rawan di Angel.


Jemari Vino mengusapnya pelan dan Angel seakan disetrum oleh listrik, dia mengigit bibirnya dan meracau. Mata Vino mengamati setiap reaksi Angel. Jemarinya menggoda lagi, kali ini menggesek titik itu dan kemudian melakukan usapan memutar. Racauan Angel makin kencang, membuat mata Vino berkabut.


Dengan penuh keahlian, Vino menggoda Angel, bibirnya ada di mana-mana, meninggalkan jejak dan basah di seluruh badan Angel, di lehernya, pundaknya, dada, perutnya, pinggulnya, dan Angel menjerit ketika bibir yang panas itu menyentuh miliknya yang ada di bawah.


Lelaki itu mencium miliknya tanpa ampun, memujanya. Menggunakan bibir dan lidahnya untuk menggoda Angel. Lidah Vino mengusap titik paling sensitif di milik Angel dan kemudian lelaki itu menghisapnya, membuat Angel memekik atas sensasi yang dirasakannya.


Ketika Vino memutuskan bahwa Angel sudah sangat basah dan siap untuknya, lelaki itu melepaskan semua yang menempel ditubuhnya. Sementara itu Rana memejamkan matanya menolak apa yang saat ini terjadi di depannya. Mereka berdua sudah gila dan kehilangan akan sehatmya sehingga bisa melakukan hal seperti itu di depannya, padahal jelas bahwa mereka berdua bukanlah suami istri.


Vino menempatkan dirinya dengan baik kemudian mulai menyatu dengan Angel dan Angel menerima Vino di dalamnya, membungkusnya dalam kehangatan yang rapat dan luar biasa, dia menggelengkan kepalanya. Vino tersenyum menerima Angel, dia menggerakkan tubuhnya. Semula pelan, lalu dengan ritme yang makin cepat, sesuai dengan keinginan mereka yang makin cepat dan napas mereka yang makin tersengal.

__ADS_1


"Oh ya ampun, kau luar biasa sekali, kau membungkusku dengan rapat..." Vino berbisik.


Angel bergerak mengikuti Vino membiarkan lelaki itu membawanya ke ujung, dan gerakan Vino pada penyatuan mereka berdua luar biasa nikmatnya. Angel dan Vino meracau dengan suara cukup keras, dan sengaja melakukannya agar Rana semakin tersiksa. Seluruh kamar di villa ini memang didesain kedap suara sehingga jika ada yang berteriak didalam sudah oasti orang yang ada di luar tidak akan bisa mendengarnya. Itu sebabnya dengan santainya Vino dan Angel melakukan ini di depan Rana, karena tidak akan ada yang bisa mendengar suara mereka dari luar. Rana tidak akan bisa meminta bantuan orang yang ada di luar jika dia berada di dalam kamar ini.


Angel akhirnya memejamkan mata ketika dia mencapai titik itu, meledakkan dirinya dalam perasaan yang tak bisa dia ungkapkan, membuatnya melayang dan meleleh sekaligus. Dan Vino memeluknya erat-erat tetapi terus bergerak dengan cepat seakan begitu kehausan dan akan mati kalau tidak dipuaskan.


Gerakan Vino sedikit kasar, lelaki itu mengecupi seluruh wajah Angel lalu bibirnya mencium bibir Angel, melahapnya tanpa batas. Bibirnya mencium bergantian bibir atas Angel dan bibir bawah Angel, menyesapnya, menghisapnya, mengulum dan menikmatinya sesukanya. Lalu lidahnya menelusup masuk begitu dalam dan inten. Ciuman itu menyatukan bibir dan lidah mereka, lalu bergerak menggoda, seiring dengan gerakan lelaki itu yang semakin cepat di bawah sana.


Percintaan itu keras dan cepat. Vino tidak lembut lagi, tetapi setidaknya dia kembali membawa Angel ke titik itu dengan cepat dan meledak, hingga Angel hampir tak sadarkan diri ketika akhirnya Vino juga mencapai titik itu, sekali lagi meledakkan dirinya dalam-dalam jauh di dalam sana.


Napas mereka tersenggal dengan tubuh yang berkeringat. Angel membuka matanya dan bertatapan langsung dengan mata tajam itu. Vink menatapnya seakan menembus hatinya. Lelaki itu tampak luar biasa tiba-tiba saja meraih pinggangnya dan membalikkannya supaya membelakanginya. Lelaki itu menempelkan miliknya yang mengeras di bagian belakang pinggul Angel. Jemarinya menelusur penuh keinginan, menyentuh kaki Angel dan mengangkatnya ke atas.


"Vino sayang...!" Gumam Angel.


"Aku belum puas sayang, malam ini belum selesai untuk kita..."


Lelaki itu menyelipkan dirinya dari belakang dan menyatukannya lagi dengan Angel. Dia menggerakkan tubuhnya lagi. Membawa Angel kembali naik ke dalam pusaran yang makin lama makin membawa kesadarannya.


Vino benar, malam itu seakan tidak ada ujungnya, keinginan Vink seakan tidak ada habisnya untuk Angel. Dan Vino kembali meledak.


Setelahnya mereka berbaring berpelukan, dipengaruhi oleh sensasi euforia yang luar biasa dasyat. Vino memeluk Angel erat-erat, jemarinya menelusuri punggung Angel yang halus, merapatkan perempuan itu ke dalam lindungan dada bidangnya.


Angel menenggelamkan kepalanya ke dalam rengkuhan dada Vino menikmati debaran jantung mereka yang makin lama makin tenang. Pencapaian itu membuatnya mengantuk, sebelum jatuh ke dalam tidurnya, dia mendongakkan kepalanya dan menatap Vino penuh cinta, "Aku mencintaimu Vino sayang...!"


Tatapan Vino kepada Angel tampak lembut dan penuh cinta "Aku juga sayang, aku mencintaimu" Jawab Vino.


Dan mereka tertidur bersama, dalam pelukan penuh cinta. Angel sudah mulai tidur sementara Vino yang sedang memeluk Angel pun mengarahkan pandangannya kepada Rana yang memejamkan matanya. Vino terkekeh kemudian mengambil sebuah bantal dan melemparkannya ke arah Rana. Sontak Rana terkejut dan membuka matanya.


"Tontonan yang seru bukan...???" Tanya Vino mengejek.


"Kau memang sudah gila dan kehilangan akal sehatmu...!" Gerutu Rana.


"Hahaha.... Sering-seringlah kau berkaca...! Kau tidak ada apa-apanya dengan Angel, dia perempuan paling cantik dan dia selalu ada dihatiku, sangat jauh berbeda denganmu..! Kau hanya perempuan bodoh yang tidak akan pernah selevel dengan Angel....! Aku selalu menjadi miliknya....!" Ucap Vino.


Vino kemudian menarik selimut dan memeluk Nagel dengan kencang lalu menyusul peremluan itu tidur. Sedangkan Rana masih terikat di kursi itu. Rana tahu bahwa Vino sekarang tidak


akan mau melepaskannya dan Laki-laki itu juga sudah tidur.


Rana.memejamkan matanya dan kembali terisak. Nasib sudah mempermainkannya. Cinta tulusnya pada Vino justru berbalas dengan hal seperti ini. Dan Vino sama sekali tidak menjaga perasaannya. Vino tidak menjalankan tugasnya sebagai seorang suami dengan baik dan justru melakukan hal yang tidak bermoral dengan perempuan lain bahkan di depan Rana yang adalah istri sahnya menurut agama dan negara.

__ADS_1


Rana semakin sadar bahwa sudah tidak ada lagi yang bisa dia harapkan dari Vino. Laki-laki itu memang tidak.pernah mencintainya dan semua kebaikan yang dilakukan Vino selama ini, sebelum mereka menikah adalah sebuah kebohongan besar. Dan Vino juga telah mempermainkan sebuah pernikahan yang suci ini. Vino sangatlaha kejam.


__ADS_2