
Vino kembali ke ruangannya setelah melakukan meeting dengan klien. Dia langsung meminta sekretarisnya agar segera membuat laporan hasil meeting itu sehingga dia juga bisa melaporkannya pada sang Papa yang saat ini berada di ruangannya.
"Hai Pa....!!" Vino masuk ke ruangannya dan tersenyum menyapa Papanya.
"Hai Vin...! Sudah selesai meetingnya???"
Vino mengangguk sambil melangkah menuju meja kerjanya. "Sudah Pa, dan aku juga sudah menyuruh Clara untuk segera membuat laporan hasil meeting tadi sehingga Papa juga bisa membacanya...! Bagaiman apa ada yang Papa ingin tanyakan kepadaku mengenai seluruh data kerja sama perusahaan kita???" Tanya Vino.
"Ya, ada beberapa yang sudah Papa tandai untuk Papa tanyakan kepadamu...!" Gumam Papa Vino sambil tersenyum.
Papa vino tidak ingin membahas kedatangan Angel tadi pada putranya, dia hanyaa akan fokus dengan urusan kantor. Membahas Angel si perempuan licik itu tidak akan membuat dampak apapun pada perusahaannya, dan dia sama sekali tidak peduli. Angel datang hanya untuk memintau uang pada Vino jugaeminta dibelanjakan, itu adalah ciri-ciri perempuan yang hanya bisa melihat segala sesuatu hanya dengan uang. Bahkan menghalalkan segala cara hanya untuk kesenangannya sendiri. Sungguh bukanlah tipe menantu idaman Papa Vino. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa Vino bisa tergila-gila dengan perempan licik seperti Angel.
Vino sibuk menjelaskan tentang oerusahaan kepada Papanya hingga dia tidak sempat mengecek ponselnya. Dan Angel sudah mengirimi Vino banyak pesan menanyakan tentang Papa Vino yang ada disini. Vino mencoba menghargai kehadiran Papanya, meskipun dia sendiri masih memiliki kemarahan kepada Papanya tentang kepergian Vania serta pembebasan supir taksi saat itu, juga sedikit marah karena dia sendirian diberi tanggung jawab terhadap perusahaan, yang seharusnya Vitto juga ikut andil dalam hal itu. Sayangnya, Papanya justru memberi kebebasan pada Vitto untuk melakukan hal yang disukai, sementara Vino merasa dirinya terjebak dalam rumjtnya mengurus perusahaan ini. Meski begitu Vino sebenarnya sudah cukup menikmatinya hanya saja sesekali dia merasa bosan juga.
Ada kelegaan yang luar biasa dirasakan oleh Vino hari ini, dimana dia bisa bertemu lagi dengan Papanya, juga kondisi Papanya terlihat sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Papanya bahkan mengatakan akan membantunya mengurus perusahaan itu adalah kabar yang sangat bagus, dimana dia akhirnya bisa berbagi tugas. Dulu Vino berharap Vitto yang akan membantunya tetapi kakaknya itu terlalu enjoy dengan hidupnya hingga sekali saja tidak pernah Vino mendengar jika Vitto tertarik dengan dunia bisnis.
Tidak terasa jam makan siang akhirnya datang, dan Vino tidak menyadarinya karena dia terlalu sibuk berdiskusi dengan Ayahnya. "Sudah jam makan siang... Apa Papa ingin makan diluar? Atau ingin dipesankan???" Tanya Vino.
"Papa ingin makan dirumah, apa bisa kita oulang sekarang dan melanjutkan ini besok saja. Tantemu sudah berada disana, oagj tadi dia membawa barang-barang Papa, jadi lebih baik kita pulang...!" Unar Papa Vino.
"Baiklah kita pulang sekarang, Papa juga pasti butuh istirahat...!" Vino beranjak dari kursi kerjanya dan memakai jasnya, kemudian merapikan barang-batangnya dan dia mendorong kursi roda Papanya lalu keluar meninggalakan ruangannya.
__ADS_1
"Clara...! Atur ulang jadwalku hari ini, aku akan mengajak Papa pulang...." Ucap Vino pada sekretarisnya.
"Baik pak Vino...."
.★★★★
Sampai dirumah, Vino membawa Papanya masuk ke dam rumah dan ternyata kamar Papanya juga sudah disiapkan oleh pelayannya, mungkin kaarena Tantenya sudah berada disini lebih awal sehingga menyuruh Pelayan untuk menyiapkannya. Vino tidak lupa menyapa dan menyalami tantenya yaitu adik dari Papanya yang selama ini juga sudah membantu merawat Papanya di perancis.
Sambil menunggu makan siang disiapkan, Vino menyuruh Paoaanya agar beristiraha dulu dan dia juga akan bersih-bersih badan. Vino kemudian menuju kamarnya dan langsung melempar tubuhnya diatas tempat tidur. Dia mengambil ponselnya yang ada di saku celanannyaaaa.
Ketika membukanya, beberapa pesan masuk dan itu dari Angel. Vino mengernyit, dia lupa jika ponselnya dalam mode silent juga tanoa getar sehingga dia tidak tahu ada panggilan serta pesan masuk. Vino langsung menghubungi Angel dan perempuan itu langsung mengangkatnya.
"Tadi aku ke kantormu, tapi kau tidak ada disana... Jadi aku pulang...!"
"Ke kantor??? Kenapa tidak bilang sebelumnya jika kau akan datang ke kantor????"
"Apa sebelumnya aku pernah melakukan itu? Kau sendiri yang kenapa tidak bilang padaku jika Papamu ada disini...! Aku tadi bertemu dengannya ketika aku ingin menemuimu...!"
"Kau bertemu dengan Papa??? Kok Papa tidak cerita padaku ya???"
"Aku bertemu dan menyapanya, ah lupakan soal Papamu aku tadi datang untuk mengajakmu belanja, kau ingat kan jika kemarin aku ya pernah menunjukkan sesuatu padamu, yaitu tas dan sepatu, kemarin belum releas tapi sekarang sudah ada, kau bilang akan membelikanku? Jadi aku datang untuk menagihnya, bagaimana kalau kita pergi membelinya sekarang...???"
__ADS_1
Vino terkekeh, kemudian dia mengatakan bahwa dia akan memenuhi janjinya untuk membelikan Angel dan sepatu yang diinginkan oleh kekasihnya itu, tetapi tidak sekarang karena sekarang dia berada di rumah untuk menemani Papanya. Lagipula Papanya juga baru sampai kemarin dan butuh pendampingan, jadi Vino mengatakan pada Angek bahwa dia tidak bisa mengantarnya sekarang. Jika Angel mau maka harus menunggu sampai besok. Terpaksa akhirnya Angel mengalah dan membiarkan Vino untuk dirumah saja.
★★★
2 Minggu kemudian....
Vitto akhirnya datang ke rumah Vino dan berpura-pura terkejut ketika melihat Papanya sudah pulang. Itu dia lakukan tentu untuk menghindari kecurigaan Vino. Dan Vitto sengaja datang untuk menyaksikan ekspresi adiknya ketika nanti mendapatkan sebuah kejutan.
Vitto langsung memeluk Papanya dan meminta maaf karena dia baru kembali dari mendaki beberapa gunung. Dan dia sangat terkejut ketika tahu bahwa Papanya sudah kembali kesini.
Mengenai urusan perusahaan, Vino benar-benar terbantu sekali dengan kehadiran Papanya. Tugasnya juga semakin ringan dan dia bisa berbagi tugas. Selama itu pula Papa Vino tidak membahas hal apapun selai pekerjaan. Mengenai Rana, ternyata gugatan perceraian antara Rana dan Vini sudah di daftarkan di pengadilan oleh pengacara yang ditunjuk. Dan sekarang tinggal menunggu surat langgilan dari pengadilan datang. Tana sendiri juga sudah mempersiapkan diri serta segalanya untul perpisahan ini. Dan seperti janji Vitto, Rana sampai sekarang dalam keadaan yang sangat aman, Rana juga sudah bisa berjalan serta beraktifitas. Rana setiap hari mengisi waktunya untuk nemasak, membuat kue, dan membaca buku, dan ketika Vitto menanyakan apakah Rana bosan, jawaban Rana tidak, dia sama sekali tidak bosan terus berada di apartemen itu hampir satu bulan lamanya.
Vino, Vitto dan Papanya duduk di sofa ruang tamu, mengobrolkan tentang kesehatan Papa mereka. Dan ernyata Papanya memang sudah dinyatakan baik-baik saja hanya oerlu mengkonsumsi obatnya dengan teratur sehingga perawatannya bisa berjalan dengan maksimal. Ditengah obrolan itu, ada suara bel dari pintu. Pelaan berlari untuk meilhat siapa yang datang. Tak lama pelayan itu kembali masuk dengan membawa sebuah surat untuk Vino.
Vino pun langsjng menerimanya, dan diam-diam Vitto dan Papanya tersenyum saling berpandangan karena tahu surat itu dari siapa. Itu adalah surat pemanggilan Vino untuk menghadiri sidang perceraiannya dengan Rana.
Vino melihat kop surat itu dan mengernyit karena disana tertulis dengan jelas bahwa surat itu dari pengadilan agama. Karena penasaran dengan isinya, Vino langsung membukanya dan membacanya. Betapa terkejutnya dia ternyata itu adalah surat gugatan cerai dari Rana. Dengan cepat, Vino melipat surat itu dan langsung memasukkannya ke kantong celananya, sayangnya saat itu pandangan Papanya mengarah ke dirinya.
"Surat apa itu Vin???" Tanya Papanya. "Kenapa kau memasukkannya ke kantongmu??? Coba berikan pada Papa, surat dari siapa itu???" Papa Vino langsung mengulurkan tangannya untuk meminta surat yang disimpan oleh Vino.
Sementara wajah Vino mulai menegang dan takut.
__ADS_1