
Setelah menikmati sarapan, Vitto dan Rana turun ke lantai satu, dimana ada ruang keluarga yang luas yang bisa digunakan untuk bersantai. Rana memilih menyalakan televisi, menyingkirkan beberapa bantal kemudian Vitto duduk disofa itu sedangkan berbaring diatas paha Vitto, memiringkan tubuhnya menghadap televisi.
Rana mencoba memmencet beberapa kali tombol yang ada di remote kontrol, dan terhenti di channel yang menayangkan infotainmen. Pagi seperti ini memang beberapa channel menayangkan acara infotainment. Sedangkan Vitto hanya memainkan ponselnya dan sibuk membalas beberapa pesan. Keduanya diam sibuk dengan aktifitasnya masing-masing tanpa saling berbicara. Cukup lama mereka diam hingga akhirnya Rana tersenyum menonton televisi itu.
"Vitto....!" Panggilnya dengan suara pelan tetapi Vitto mengabaikannya.
Rana mendongat mendapati laki-laki itu masih sibuk dengan ponselnya. "Vitto....!" Panggilnya lagi tetapi Vitto masih tidak bergeming.
"Vitto.....!!!" Suara Rana sedikit meninggi tetapi lagi-lagi Vitto tidak merespon, karena jengkel di abaikan, Rana pun merebut ponsel Vitto dan beranjak dari paha laki-laki itu.
Vitto pun menoleh ke arah Rana dengan tatapan datar tetapi masih tidak mau mengatakan apapun. Rana langsung memasang wajah jengkel. "Kau ini, kenapa mengabaikanku???" Protes Rana.
"Aku tidak mengabaikanmu...!" Gumam Vitto dengan santainya.
"Tidak mengabaikanku bagaimana??? Jelas tadi aku memanggilmu berkali-kali dan kau malah sibuk bermain ponsel....!"
"Kau memanggilku??? Bagaimana tadi kau memanggilku??? Aku tidak merasa kau memanggilku???"
"Tadi aku memanggilmu Vitto... Vitto sampai tiga kali tetapi kau mengabaikanku...!"
"Oh tadi itu kau memanggilku??? Kupikir kau memanggil yang lain... Aku adalah kekasihmu, apa begitu caranya memanggil seorang kekasih??? Apa kau tidak pernah pacaran atau menjalin hubungan dengan orang lain sampai kau tidak tahu bagaimana cara memanggil pasangan???" Ucap Vitto.
Kali ini giliran Vitto yang memprotes. "Setidaknya jangan hanya panggil namaku, sematkanlah panggilang Sayang or Baby, or Love or Ect yang menunjukkan panggilan mesra lainnya, aku selalu memanggilmu sayang tapi kau...???"
Rana terdiam menatap laki-laki itu. Memang benar bahwa dia tidak pernah memanggil Vitto dengan panggilan sayang 2 hari ini setelah menerimanya. Rana merasa bahwa dirinya sejujurnya belum sepenuhnya siap dan masih takut, ingatan mengenai hubungannya dengan Vino dulu masih selalu membayangi hidupnya. Ada keraguan dihatinya.
Vitto menatap lembut wajah Rana yang terdiam. Mata Rana berkaca-kaca dan Vitto menyadari bahwa perempuan di depannya ini sedang menyimpan sesuatu seperti sebuah ketakutan. Vitto melempar senyumnya dan mengusap kepala Rana dengan lembut, kemudian memegang jemari perempuan yang dicintainya itu.
"Baiklah aku mengerti apa yang sedang kau pikirkan sekarang, tidak masalah kau memanggil namaku, aku tidak akan memaksamu lagi, lupakan apa yang aku katakan tadi, panggil saja namaku jika itu membuatmu merasa lebih baik...!"
__ADS_1
"Aku minta maaf...!"
Vitto merengkuh Rana dalam pelukannya. "Tidak perlu meminta maaf...! Aku sangat mencintaimu dan aku akan selalu menunggu sampai waktu itu tiba, kau yang akan berlari padaku dan merengkuhku dalam pelukanmu...." Ucap Vitto yang kemudian mengecup kepala Rana dengan lembut.
"Vitto sayang...!" Gumam Rana yang langsung membuat Vitto melepaskan pelukannya dan menatap Rana.
"Apa kau bilang???"
"Vitto sayang....!!!" Gumamnya sambil tertawa melihat ekspresi keterkejutan Vitto.
"Kenapa kau terkejut??? Apa kau tidak mau aku memanggilmu seperti itu???" Tanya Rana.
"Tidak... Tidak... Aku sangat menyukainya....!" Vitto kembali memeluk Rana dengan perasaan bahagia. Rana pun membalas pelukan itu dan mengatakan bahwa dia meminta waktu kepada Vitto agar bisa menerima lelaki itu seutuhnya.
Tanpa peringatan, ditariknya Rana ke dalam pelukannya dan dikecupnya bibirnya lembut. Rana sedikit terkejut karena tiba-tiba Vitto memeluknya dengan begitu erat dan mengecup bibirnya. Tetapi kecupan itu tidak dimaksudkan sebagai paksaan. Vitto menciumnya dengan lembut, tetapi tidak kasar, lelaki itu seolah memberi kesempatan Rana menolak kalau dia tidak mau. Dan tentu saja Rana tidak akan menolak. Aroma jantan itu, parfum Vitto membuatnya tertarik tanpa daya. Tetapi Rana hanya ingin merasakan ciuman itu, merasakan lebih jauh lagi.
Ketika ciuman itu terlepas napas keduanya nya terengah. Mereka saling menatap dengan senyuman. Meskipun hasrat itu muncul, tetapi Vitto harus menahan diri, dan dia yakin pasti akan mendapatkannya suatu saat nanti, jika Rana benar-benar menerimanya dan membuka diri. Vitto hanya perlu bersabar untuk itu.
"Katakan... Kenapa kau tadi memanggilku???" Tanya Vitto sambil memeluk pundak Rana dan Rana langsung menyandarkan kepalanya di dada Vitto.
Tangan Rana menunjuk ke arah televisi. "Lihatlah sebentar lagi berita tentang seseorang akan ditampilkan...!"
Vitto mengernyit kemudian mengarahkan pandangannya ke arah televisi. Penasaran dengan siapa yang akan muncul di telivisi. Tak lama setelah itu layar televisi menampilkan sebuah tayangan dari infotainmen dimana ada seorang aktris perempuan yang tentu saja di kenal oleh Vitto karena dulu dia sempat bermain peran berpasangan dengan perempuan itu.
"Aku dengar kau dulu menjalin hubungan dengannya... Lihatlah dia sekarang dekat dengan pria lain lagi lawan mainnya...!" Ujar Rana.
Vitto terkekeh. "Apa kau pikir aku mau menjalin hubungan dengannya??? Hahahaha..!"
"Maksudmu???" Tanya Rana.
__ADS_1
"Ayolah Sayang.... Dia sama sekali bukan tipeku, itu hanya gosip basi hanya untuk menaikkan pamor film yang akan kami bintangi, ya kau pasti tau lah hal seperti itu terjadi, aku pun sama sekali tidak tertarik dengannya... Melihat ini ku pikir itu adalah hal yang sama dimana kedekatan itu pasti hanya gosip untuk film baru mereka...!"
"Begitu ya....! Tetapi gosip dulu begitu santer terdnegar hingga banyak yang berpikir bahwa kalian benar-benar berhubungan..."
"Lalu kau juga termasuk dari bagian orang-orang itu???"
Rana tersenyum mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Vitto tertawa lalu memeprerat pelukannya. Mereka kembali berciuman. Dan Vitto harus segera pulang karena dia harus bersiap untuk berangkat dan tidak ingin bertengkar lagi dengan Vini karena dia terlambat. Vitto meminta Rana mendoakan misinya agar ini berhasil dan Angel bisa menghentikan kekacauan ini. Ya meskipun Vitto tahu bahwa hal bagus jika Vino selama ini sudah menuai karmanya atas perbuatannya terhadap Rana, tetapi Vitto juga tidak mau jika keluarganya semakin hancur karena perbuatan dari Angel.
"Aku harus pulang sayang, jika tidak, mantan suamimu yang gila itu akan marah padaku...! Dan aku tidak akan bisa menahan diriku untuk tidak menghajarnya jika dia terus menyerocos...!"
Rana tertawa. "Iya... Hati-hati... Safe flight, aku akan sangat merindukanmu untuk 2 hari ke depan...!" Rana menjinjit dan mengecup bibir Vitto kemudian mengatar laki-laki itu ke garasi.
Vitto mengecup kening Rana kemudian masuk ke dalam mobilnya dan garasi dibuka Vitto pun pergi meninggalkan rumah Rana.
★★★★★
Keesokan harinya...
Vitto, Vino dan Papanya sedang sibuk melakukan meeting bersama Sony, pria paruh baya yang dulu dilihat oleh Vitto sedang bersama Angel. Meeting itu berjalan formal dan tampak berdiskusi serius. Bernegosiasi dan menawarkan segala kelebihan dari perusahaan mereka dengan baik untuk meyakinkan Sony.
"Oke baiklah... Aku memang sudah mendengar mengenai reputasi perusahaan kalian... Dan ini cukup menarik, hanya saja aku harus meminta kalian untuk menunggu keputusanku, aku harus mendiskusikan ini juga aku banyak mengurus kerja sama lainnya dengan berbagai perusahaan lain, kalian harus menunggu giliran untuk keputusanku, bagaimana??? Jika tidak mau menunggu ya tidak masalah" Tanya Sony.
Vino saling melempar pandangan dengan Papa dan Kakaknya. "Ah tidak masalah, kami sangat ingin perusahaan kami menjalin kerja sama dengan anda, kami akan memberi waktu dan berharap Anda mau menerima kerjasama ini, kami pastikan perusahaan anda tidak akan menyesal menjalin kerjasama dengan kami, anda juga bisa datang ke perusahaan kami nanti, dan kami siap memberikan penyambutan yang baik dan akomodasi transportasi dan juga penginapan terbaik, kami sangat berharap anda mau bekerja sama dengan kami..." Ujar Vitto meyakinkan.
"Ya, benar kami akan memberikan penyambutan terbaik kepada pak Sony...!" Sahut Vino kemudian.
"Oke... Pihak kami akan menghubungi kalian untuk langkah selanjutnya...!" Ucap Sony.
Mereka kemudian berdiri dan saling menyalami satu sama lain. Meeting mereka selesai dan Vitto serta Papanya saling memandang sambil tersenyum. Dalam hati mereka sangat berharap bahwa perusahaan pria ini benar-benar mau menerima kerja sama perusahaan mereka. Jika itu terjadi Vitto akan senang sekali dan tidak akan menunggu waktu lama untuk mengeksekusi rencanya menjebak Angel. Tetapi mereka harus sabar menunggu untuk keputusan itu, dan sangat berharap Tuhan mau membantu mereka.
__ADS_1