
"Rana...! Vitto menipu mu... Kenapa kau mau dengannya??? Dia penipu, dia pasti ingin menjebak mu???" Ucap Vino.
"Kau atau dia yang penipu??? Sekarang lebih baik kau pergi saja dari sini, aku muak sekali harus bertemu denganmu lagi dan lagi.... Pergilah...! " Rana kembali berteriak.
Vitto memegang pundak Rana dan tersenyum tipis, dia kemudian memberi isyarat kepada Rana agar perempuan itu mundur, karena dia yang akan menghadapi Vino. Rana pun mundur dan kembali berasal di belakang Vitto.
Vitto tersenyum masam menatap tajam Vino yang ada di depannya. "Ya, aku memang menyembunyikan Rana selama ini, menyembunyikannya darimu, aku hanya ingin memastikannya aman, perihal aku menjalin hubungan dengannya itu memang benar adanya, tetapi aku dan Rana tahu batasan yang ada, kami tidak menjalin hubungan saat dia masih berstatus istri orang, setelah semua ikatan nya terlepas dan dia membuka ruang, aku baru berani masuk, jadi apa yang kau ucapkan tadi tentangnya itu tidaklah benar sama sekali...! So, what's your problem now???" Vitto terlihat memasang wajah menentang Vino.
Pandangan Vino semakin menajam, penuh kebencian terhadap Kakaknya. Tatapan yang sebelumnya tidak pernah muncul di mata nya. Rasa kesal, marah, kecewa, semua bercampur menjadi satu. Tatapan kemarahan itu tiba-tiba berubah menjadi tatapan jijik. Vino juga menertawakan Vitto, seolah mengejek kakaknya itu. "Vitto Prakarsa...! Kau tampan, Terkenal, berprestasi, tetapi lucunya kau akan menikahi seorang perempuan seperti Rana??? Janda bekas adikmu sendiri... Hahahaha... Wow... Bagaimana nanti orang akan bereaksi jika mereka mengetahui masalalu Rana?? Kau akan di tertawakan oleh mereka, dan mereka pasti akan mencuatkan mengenai skandalmu dengan Rana, mereka akan mengurangi bahwa Rana berselingkuh dariku dan selingkuhannya adalah kakakku sendiri..??" Ujar Vino.
Vino memundurkan langkahnya, tetapi kemudian dia berjalan mengelilingi Rana dan Vitto sambil terus melempar senyum mengejek pada kedua nya. "Kau akan di anggap buruk begituoun dengan Rana, kau juga pasti akan kehilangan banyak kontrak pekerjaan karena kau akan di anggap perebut istri orang, upss istri adikmu sendiri maksudnya hahaha, apa kau tidak pernah memikirkan hal itu??? Kau akan kehilangan segalanya Vit, dan aku juga akan membuatmu dari perusahaan, sangat mudah untuk mempengaruhi orang-orang di luar sana untuk membencimu, kau sudah menyulut api kemarahanku dan mengkhianatiku selama ini, aku pun bisa melakukan hal yang sama padamu...!!"
Vitto tersenyum kecut. "Kau mengancamku??? Apa kau pikir aku takut kehilangan semua itu??? Whatever ... I don't give a f*ck about it... And It's doesn't matter to me..! Semua itu juga tidak akan berdampak apapun pada pernikahanku dengan Rana...!" Ucap Vitto dengan penuh ketegasan. Dia tahu Vino hanya menakutinya agar dia mau menyerah, tetapi Vitto tidak akan menyerah begitu saja.
"Hanya dalam hitungan menit, aku bisa membuat karirmu hancur, akan ku pastikan semua orang akan membencimu.." Vino kembali mengancam Vitto.
"Whatever.. I don't care... F*ck about it....! Can you leave my house now????? Please... GO.......!!! And don't come back....! Go.......!!! " Teriak Vitto.
"Tunggu saja.... Aku pastikan mulai besok semuanya akan hancur, dan kau tidak bisa menikahi Rana, kau sudah mencurangi ku, jangan harap segala kebusukanmu dan rencana mu itu berhasil, Rana itu hanya akan menjadi milikku ... Dia sudah pernah menikah denganku dan dia harus kembali padaku...!" Vino menatap Vitto tajam, sebelum pergi dia mendorong Vitto, kemudian meninggalkan rumah Vitto dengan keadaan penuh kemarahan.
Selepas Vino pergi, Vitto berbalik badan menatap wajah Rana yang terlihat khawatir. Vitto tersenyum dan memeluk perempuan itu. Dalam pelukannya, Rana akhirnya kembali terisak. Penghinaan Vino kepadanya dan juga ancaman Vino pada Vitto membuat Rana sangat khawatir. Rana sangat mengerti maksud dari ancaman itu, dan sangat takut jika karena dirinya Vitto akan kehilangan banyak hal seperti pekerjaan dan lainnya, Vitto juga akan bermusuhan dengan Vino.
__ADS_1
"Hei... Kenapa kau mengkhawatirkan itu??? Jangan takut dengan ancamannya, semua akan baik-baik saja..! " Ucap Vitto sambil mengusap punggung Rana.
"Karena aku kau pasti akan kehilangan banyak hal termasuk hubunganmu dengan Vino pasti memburuk lagi...! " Gumam Rana sambil terisak.
"Lupakan itu, ayo obati luka mu...!"
"Kenapa kau peduli dengan luka ku, wajahmu babak belur seperti itu, aku yang akan mengompres lebam mu...! " Rana melepaskan pelukannya pada Vitto dan mengajak Vitto ke kamar.
"Mbak...! " Panggil Rana pada Art Vitto yang berdiri di pintu arah keluar ke halaman belakang. "Tolong ambilkan kotak obat dan air hangat, serta handuk kecil..! antar ke kamar...! " Ucap Rana.
"Iya non..! "
"Aku masih bingung, bagaimana dia tiba-tiba menendang ku dari belakang!?" Tanya Vitto sambil mengernyit karena seperti nya rasa sakit di wajahnya mulai terasa.
Vitto menoleh. "Dari dalam kamarku??? " Tanya nya lagi, dan Rana menganggukkan kepala. Vitto mengernyit, Vino sangat tidak sopan menasuki kamarnya sembarangan tanpa meminta ijin darinya lebih dulu. Pasti di dalam kamar itu Vino menemukan sesuatu.
Vitto dan Rana masuk ke kamar. Rana meminta Vitto duduk, dan saat itulah mereka berdua mendapati ada pecahan kaca di lantai, dan ternyata frame foto jatuh. "Jadi dia menemukan ini??? " Gumam Vitto mengambil foto yang ada di lantai. Foto nya dan Rana.
"Pantas saja dia marah besar..! " Ujar Rana.
Vitto tersenyum. "Pada akhirnya dia akan tetap tahu tentang kita... Biarkan saja, setidaknya tidak ada lagi yang harus kita sembunyikan...! "
__ADS_1
Art rumah Vitto membawa air dmhangat, kotak P3K juga air dingin ke kamar Vitto. "Ini air dan kotak P3K nya..! " Ucapnya pelan.
Rana mempar senyum. "Makasih ya mbak..!"
"Oh iya Mbak ada di rumah kan?? Berarti tahu kan Vino datang kesini???"
"Iya Tuan, tadi beliau datang kesini karena katanya mobilnya mogok di dekat sini, dan sedang di perbaiki, beliau kemudian memutuskan datang dan ingin menunggu tuan Vitto pulang, saya juga membuatkan tuan Vino minum tadi..!"
"Kalau begitu kenapa tidak di larang saat dia ingin masuk ke kamarku??? Kenapa tidak menyuruhnya menungguku di ruang tamu? Atau seharusnya Mbak bisa menghubungiku kalau dia datang kesini?? Bukankah sudah aku ingatkan agar siapapun tidak masuk ke kamarku tanpa ijinku??? " Sela Vitto kemudian dengan nada sedikit jengkel.
"Tuan Vino masuk ke kamar???" Seru nya terkejut.
"Ya, dia masuk kesini, dan keributan yang tadi adalah karena dia masuk ke kamarku, dia juga memakai pakaianku, artinya dia mandi dan berganti pakaian disini.. Bukankah sudah sering aku katakan, jika ada apa-apa tentang Vino langsung hubungi aku jika tidak di rumah, sehingga jika sebelum terdi apa-apa, kita bersiap, lihatlah sekarang...!" Vitto mengacak-acak rambutnya, kesal dan marah sekali. Melihat itu Rana memegang tangan Vitto, untuk menenangkan lelaki itu. Rana juga mendapati Wajah Art Vitto ketakutan.
Art Vitto menunduk dan merasa bersalah dan teledor sekali tadi meninggalkan Vino, sehingga Vino bisa masuk ke kamar Vitto, sehingga tadi terjadi keributan. Tetapi tidak ada pilihan lain selain meminta maaf pada Vitto. "Maaf Tuan Vitto, sekali lagi saya minta maaf, tadi saya meninggalkan Tuan Vino untuk memyetrika pakaian di belakang, saya tidak tahu jika Tuan Vino masuk ke kamar anda..!"
"Kenapa bisa seteledor itu sih Mbak??? Astaga...! " Vitto sedikit berteriak, Rana lekas menahannya dengan mengusap punggung Vitto, berharap Vitto tidak meluapkan kemarahannya.
"Sudah tidak apa-apa..! " Gumam Rana.
Rana meminta Art Vitto untuk pergi dan melanjutkan pekerjaannya lagi. Sementara itu, Rana mencoba menenangkan Vitto agar tidak semakin meluap-luap emosinya. Semua sudah terjadi dan tidak bisa di ulang lagi, mungkin ini memang sudah waktunya untuk Vino mengetahui segala nya. Rana pun mengambil handuk dan mulai Mengompres lebam di wajah Vitto.
__ADS_1
Vitto hanya diam ketika Rana Mengompres wajahnya, dan sedikit nyeri. Vitto diam dan tampak memikirkan sesuatu. Dia memikirkan mengenai ancaman Vino kepadanya. Vitto tidak takut dengan ancaman itu, hanya saja dia khawatir pada Rana. Ancaman Vino kepadanya itu mungkin bisa dia atasi tetapi dia tidak ingin jika Rana juga ikut terkena dampaknya. Vitto harus melakukan sesuatu untuk menghindari keributan yang bisa saja di lakukan oleh Vino seperti ancaman nya tadi.