
"Sebenarnya apa???" Tanya Vitto.
"Arindah melarangku untuk berbeda kamar, karena itu justru akan membuat hubungan kami tidak bisa dekat, jika ingin saling mengenal, maka lebih baik kami tinggal bersama... Itu saja..." Jawab Vino.
"Dan kau akan tidur di sofa????" Tanya Vitto lagi.
Vino tersenyum lalu menggelengkan kepala nya. "Tidak... Aku tidak akan tidur di sofa..." Jawab Vino malu.
"Lalu?????"
"Kenapa kau terlihat kepo sekali..." Protes Vino.
"Aku hanya bertanya saja... Kalau kau tidak tidur di sofa, apa Arindah menyuruhmu tidur di kamar mandi???"
"Bodoh...!! Tentu saja tidak... Apa kau pikir Arindah seburuk itu...??"
"Lalu???" Tanya Vitto lagi dan terus menelisik untuk memastikan apa telah terjadi sesuatu dengan adiknya dan juga Arindah. Karena Vitto merasa ada sesuatu yang di sembunyikan Adiknya itu, dan sikap Vino juga seperti malu-malu.
"Tentu saja aku tidur di ranjang... Kau pikir apa memangnya???"
"Tidur seranjang dengan Arindah????" Seru Vitto.
"Memangnya kenapa??? Dia sudah jadi istriku kan???" Vino terlihat mulai kesal. Terlihat Vitto pun terkekeh mendengar jawaban nya.
"Owwwhhhh tidur seranjang???? Bau-bau nya kalian sekarang seperti nya sudah benar-benar jadi suami istri yang sesungguhnya... Apa semalam kalian sudah melakukannya???" Tanya Vitto sambil mengedipkan sebelah matanya dengan nakal.
"Diamlah.....!!!" Seru Vino dengan wajah kesal sekaligus malu.
__ADS_1
Melihat itu, tentu saja Vitto menyimpulkan bahwa memang Vino dan Arindah benar-benar sudah memulai hubungan mereka. Dan Vitto sangat senang mendengarnya meskipun Vino tidak mengatakan secara gamblan, tetapi raut berbinar di wajah Vino sejak tadi, mengindikasikan bahwa Vino berhasil memenuhi tugasnya sebagai seorang suami.
"Sepertinya aku sudah bisa menebak apa yang terjadi tadi malam, jadi kau tidak perlu memberitahuku lagi... Aku senang jika kalian berdua benar-benar jadi suami istri... Well, ku pikir kau harus mulai menyiapkan waktu luang untuk bisa menghabiskan waktumu bersama Arindah... Jangan terus sibuk dengan urusan kantor, menghabiskan waktu bersama adalah hal yang wajib, jadi lebih baik mulai persiapkan waktu yang tepat untuk berduaan..."
"Persiapkan waktu...??? Kau tidak tahu saja sekarang justru sedang sibuk-sibuknya, jika saja tidak, untuk apa aku harus mengajak Arindah langsung pulang... Aku bisa saja menahannya di hotel dan bersenang-senang dengannya... " Ujar Vino yang langsung mengundang gelak tawa Vitto.
"Hahahaha pada akhirnya kau mengakui nya padahal Aku hanya memancingmu.... Hahahaha... "
"Diamlah dan berhenti mengejekku... Kembali lah ke kantor, lalu bantulah Aku dan juga Papa... Setidaknya itu bisa membuat pekerjaan lebih cepat selesai sehingga Aku bisa pergi untuk berbulan madu dengan istriku..."
"Kau yang memecat ku dan kau sendiri yang memintaku kembali... But okay... I will be back, but not now.. Karena Aku dan Rana harus menyelesaikan tour perjalanan bulan madu kami ke Swiss dan akan berangkat lusa... Selain ke pernikahanmu, kami pulang juga untuk menghadiri sidang besok..."
"Lebih baik kau jangan buru-buru pulang, pengacara sore nanti akan kesini dan kita harus membahas persiapan sidang besok... " Gumam Vino.
"Baiklah... Aku akan disini, lagipula Aku dan Rana sedang tidak ada rencana apapun...!"
Vitto pun teringat tentang tadi pagi, dan menceritakan pada Vino jika Mama mereka tadi menghubungi nya. Dan mengatakan jika besok juga di minta datang untuk menjadi saksi, terutama saksi dari Jason. Vita juga terdengar sedih saat membahas pernikahan, karena sebagai seorang ibu dia tidak di beritahu atau di undang ke pernikahan anak-anaknya. Dan sebagai seorang anak, Vitto sebenarnya merasa kasihan dan sedih, tetapi dia harus melakukan semua itu karena untuk menghindari sesuatu yang tidak di inginkan, mengingat tabiat Mama nya yang tidak pernah bisa di duga.
Vitto melempar senyum. "Ya semoga saja Mama sadar dan membantu kita dengan baik... Kita tidak boleh mengampuni mereka... Bagaimanapun mereka sudah banyak menghancurkan keluarga kita..."Ujar Vitto.
Di tengah obrolan itu, Papa mereka datang begitu juga pelayan memberitahu mereka bahwa makan siang sudah siap. Vino pun mengajak Vitto dan Papa nya untuk ke ruang makan, lalu menyuruh pelayan agar memanggil Rana, Arindah dan juga Naufal untuk ikut bergabung.
******
Keesokan hari nya......
Setelah menitipkan Naufal di rumah orang tua Arindah, Vino langsung mengemudikan mobilnya menuju pengadilan untuk menghadiri sidang penipuan yang dilakukan Angel, Mamanya dan juga Jason. Tetapi sebelum mengantar Naufal, Vino mengajak istri dan anaknya itu ke kantor, karena dia ada jadwal meeting yang harus di selesaikan baru setelah itu mengantar Naufal dan pergi ke pengadilan. Saat meeting, Vino meminta Arindah dan Naufal menunggu di ruangannya.
__ADS_1
Vino memegang jemari Arindah dan sejak tadi di melepaskannya. Vino tidak bisa mengungkapkan kebahagiaannya. Berada di dekat Arindah membuat dirinya merasa nyaman dan juga Arindah banyak membawa tawa dua hari ini.
Tadi malam, adalah malam kedua bagi Vino dan Arindah berada dalam satu kamar, hanya saja tadi malam ada Naufal bersama mereka. Vino dan Arindah tentu harus memutar otak jika ingin melakukan hubungan seperti malam sebelumnya dimana mereka bisa merasa lebih leluasa. Dimana mereka harus menunggu sampai Naufal benar-benar tertidur dengan pulas. Dan juga tidak bisa melakukannya di atas tempat tidur karena takut mengganggu tidur Naufal. Sehingga Vino memutuskan untuk melakukannya di ruang walk in closet nya, dimana disana juga ada sofa panjang dan juga beberapa spot untuk melakukan berbagai gaya, sehingga membuat percintaannya dengan Arindah semakin menarik dan juga semakin panas.
"Bagaimana tadi malam????" Tanya Arindah tiba-tiba.
Vino menoleh, tampaknya bingung dengan pertanyaan istrinya. "Tadi malam??? Maksudnya???" Tanya balik Vino.
"Kita harus sembunyi-sembunyi melakukannya agar tidak mengganggu tidur Naufal..."
Vino terkekeh. "Justru akan sangat menarik jika kita melakukannya di tempat yang tidak biasa... Itu luar biasa, hanya saja kekurangannya adalah kita harus sama-sama menahan suara kita, padahal aku sangat menyukai suara desaahanmu yang begitu menggoda dan semakin membuatku bersemangat untuk memuaskanmu... Tetapi tadi malam pelan... Itu saja yang kurang..."
"Sama.... Aku juga sangat menyukai suaramu... Karena itu menandakan bahwa kau sangatlah menikmati nya... Apa kita perlu membuatkan Naufal kamar sendiri???" Tanya Arindah.
"Membuatkan kamar sendiri??? Hahaha tidak perlu sepertinya, karena sudah jadi konsekuensi kita sebagai orang tua, lagipula Naufal masih kecil dan kita masih butuh untuk mendampingi nya... Kau juga terbiasa tidur bersama nya kan???"
"Sebenarnya Aku sudah membuatkan kamar sendiri untuk Naufal, hanya saja kamar itu tidak pernah di tinggalin oleh Naufal, bukan karena dia tidak mau, tetapi akulah yang justru tidak tega membiarkannya tidur sendirian... Dan dia juga sangat ingin tidur di kamarnya karena banyak mainan disana dan juga di dekorasi sangat bagus sesuai dengan kartun yang jadi favoritnya..."
"Jadi permasalahannya jelas ada pada dirimu sendiri.. Hahaha kau lucu sekali... Kau sebelumnya melarangnya tidur di kamar yang kau buat untuknya, lalu sekarang kau ingin dia tidur sendiri.. Kenapa???? Apa kau sekarang akan mengalihkan sikap posesif padaku, dan tidak memberiku ijin untuk berbeda kamar denganmu???"
"Bukan begitu..." Wahah Arindah memerah karena malu. "Karena Aku pikir sudah waktunya Naufal belajar mandiri..."
Vino terkekeh. "Sebelum mengambil keputusan sebaiknya kita juga harus melibatkan anaknya secara langsung, kita harus bertanya dan mendengar keinginannya, dia setuju atau tidak... jika setuju ya kita akan membuatkan kamar untuknya, jika dia tidak mau ya tidak masalah dia tidur bersama kita, karena Aku tidak mau nanti nya dia akan merasa di abaikan oleh kita berdua... Jadinya itu akan tidak bagus juga untuk perkembangannya.. Sebagai orang tua kita juga tidak boleh egois... Masih banyak hal yang bisa kita lakukan saat ingin bercinta tanpa mengganggu istirahat anak kita..."
Arindah tersenyum karena Vino begitu bijaksana dan benar-benar menempatkan diri dengan baik sebagai seorang suami dan Ayah, meskipun bukan Ayah kandung dari Naufal. Vino terlihat mulai merubah dirinya dengan baik dan meredam keegoisannya yang selama ini terkenal begitu menyebalkan. "Yaa... Kita akan menanyakqnnya nanti, dia mau atau tidak... Btw apa tidak apa-apa Aku ikut ke dalam ruang sidang nanti dan menonton...???"
"Ya tidak apa-apa... Memangnya kenapa??? Kau tidak mau??? Rana juga ikut kok..." Ujar Vino.
__ADS_1
"Ya Aku tahu, tetapi entah kenapa Aku merasa tidak enak saja, nanti Angel akan melihatku..."
Vino tersenyum masam. "Kenapa kalau dia melihatmu??? Apa peduli nya.. Dia sudah tidak ada hubungan apapun denganku, dan kau adalah istriku jadi harus mendampingiku, hal itu juga tidak akan merubah keadaan... Persetan dengan dia..." Ucap Vino.