
Rana langsung tersadar dan langsung berusaha berdiri, tadi dia dan Vitto saling berpandangan dalam diam. Vitto juga menyadarinya, kemudian dia membantu Rana, menggendongnya menuju kursi roda yang tadi sempat mundur. Vitto mendudukkan Rana di kursi rodanya.
"Apa yang kau lakukan tadi?? Bagaimana jika kau jatuh ke lantai? Kau pasti akan sembuh lebih lama lagi....!" Ujar Vitto memarahi Rana.
"Aku tadi ingin mengambil cream itu, tetapi tidak sampai...!"
"Kenapa tidak memanggilku atau menungguku....! Jangan lakukan ini lagi atau kau akan bertambah sakit....!" Protes Vitto.
"Sorry, tadi kau terlihat kesal dan aku tidak ingin mengganggumu...!" Sahut Rana.
"Jangan lakukan lagi, biar aku yang meneruskan ini, kau duduk diam dan pandu aku, oke....?"
Rana tersenyum kemudian mengangguk. Vitto mengambil cream yang ingin diambil oleh Rana tadi dan meminta Rana mengarahkannya lalu melanjutkan mendekor kue itu yang sudah 80%.
Di apartemen ini hanya ada mereka berdua karena Art yang tadi pagi datang sudah kembali ke rumah Vitto lagi. Ya, itu adalah Art yang ada di rumah Vitto, dan Vitto sengaja memanggilnya untuk membantu Rana dan membersihkan apartemen lalu dia akan kembali lagi. Vitto tidak khawatir karena Art nya itu sudah lama bekerja dengan orangtuanya bahkan ketika dia masih kecil dulu. Dan sebelumnya juga tinggal dirumah Vino atau dulu rumah keluarga besar Prakarsa. Sayangnya karena dia tidak menyukai sikap Vino yang mulai berubah tidak seperti dulu, Art itu memutuskan untuk mengundurkan diri tetapi Vitto yang akhirnya membujuk dan mengajaknya untuk bekerja di rumahnya saja.
Akhirnya cheesecake buatan Vitto dan dibimbing oleh Rana itupun siap. Kue itu terlihat cantik dan rasanya sepertinya enak. Senyumlebar dan perasaan bangga menghiasi wajah tampan Vitto. Dia tidak sabar sekali untuk mencoba kue itu. Vitto mengambil pisau roti dan memotongnya. Mereka berdua menikmati cheesecake itu dengan perasaan bahagia.
__ADS_1
"Kau serius tidak ingin kembali syuting untuk film mu itu?" Tanya Rana pada Vitto membuka pembicaraan mengenai obrolan Vitto tadi dengan seseorang di telepon.
"Tidak....! Aku sudah muak harus bekerja dengan mereka...!" Vitto menyuapkan cheesecake itu ke mulutnya.
"Bagaimana dengan penggemarmu??" Tanya Rana.
"Mereka akan mengerti, dan aku pasti akan dapat lagi kontrak baru untuk film yang baru juga...! Aku sekarang hanya ingin beristirahat dan menikmati hariku disini, persetan dengan aktifitas syuting dan orang-orang itu....!"
Rana hanya bisa tersenyum melihat sikap acuh Vitto. Lelaki ini seperti tidak peduli dengan apapun jika dia sudah dikecewakan. Vitto juga terlihat seperti tidak memiliki beban atau ketakutan.
Vitto menghentikan kunyahannya dan menatap Rana. "Tidak...! Aku tidak mau kau seperti tadi lagi hampir terjatuh karena memaksakan diri, padahal kau tidak mampu untuk melakukannya...!"
Rana tersenyum. "Kan ada kau disini yang akan membantuku???" Rana kemudian terkekeh.
"Owh jadi kau akan menjadikanku asistenmu? Aku terbiasa menyuruh orang dan sekarang ada irang yang berani menyuruhku, berani sekali kau....!?"
Rana dan Vitto kemudian tertawa terbahak-bahak. Vitto tentu tidak masalah, dia terbiasa tinggal sendiri dan sekarang ada Rana disini yang sepertinya akan menjadi temannya mengobrol. Vitto juga senang melihat tawa lepas Rana. Vitto yakin bahwa ketika ada di Villa itu Rana pasti tidak bisa tertawa dan mengisi harinya dengan kesakitan serta tangisan. Jangankan tertawa, mungkin untuk tersenyum saja Rana tidak bisa. Dan saat ini perempuan didepannya itu terlihat bahagia, seperti segala beban di pundaknya sudah dilepaskan satu persatu, meskipun belum sepenuhnya. Dan Vitto akan berusaha mengembalikan kebahagiaan Rana yang sudah dihancurkan oleh Vino.
__ADS_1
Ditengah menikmati makan cheesecake bersama Rana, ponsel Vitto kembali berdering dan kali ini yang menghubunginya adalah orang suruhannya untuk menyelidiki keluarga Rana. Vitto memundurkan kursi makannya dan mengucap permisi kepada Rana. Vitto melangkah menuju ruang tamu lalh mengangkatnya.
"Katakan ada perkembangan apa dengan tugas yang aku berikan padamu...??" Tanya Vitto dengan suara merendah takut Rana mendengarnya.
Vitto diam dan mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan orang itu kepadanya. Ternyata benar dugaannya bahwa Rana ternyata adalah anak dari supir taksi itu, supir taksi yang sempat dijadikan tersangka atas meninggalnya Vania. Dan Vino ternyata sudah sekitar satu tahun mengintai dan mengawasi segala aktifitas Rana. Bahkan Vino sengaja mengirim seorang perempuan untuk bekerja di Bakery milik Rana hanya untuk memata-matai Rana. Dan perempuan itu juga yang ternyata sudah melakukan sesuatu untuk membakar Bakery itu atas perintah dari Vino.
Vino sengaja menjebak Rana dalam sebuah pernikahan hanya untuk membalaskan dendamnya. Dan itu dilakukan Vino bersama dengan Angel. Angel juga yang mengatur semuanya bahkan mengontrol Vino untuk menyakiti Rana. Untuk Rumah Rana memang saat ini sedang di tempati oleh seorang penyewa, dan itu juga atas ide dari Vino dengan tujuan Rana tidak bisa kembali pulang ke rumahnya.
"Dan satu hal lagi bos yang cukup membuat saya terkejut adalah tentang sahabat dari nona Rana, yaitu nona Jeany, dia sudah mengetahui segalanya tentang tuan Vino dan memberi tahu nona Rana perihal kebohonga tuan Vino, sayangnya Nona Rana saat itu tidak mempercayainya dan lebih memlercayai tuan Vino, dihari yang sama ketika nona Rana mengusir dan memutuskan hubungan dengan Nona Jeany dalam perjalann pulang nona Jeany mengalami kecelakaan yang sangat fatal, mobilnya terguling dan jatuh dari flyover...!"
"Apa....!!!" Seru Vitto terkwjut.
"Ya bos, kecelakaan itu sangat parah dan nona Jeany mengalami luka parah dibagian kepalanya tetapi dia selamat hanya saja mengalami koma dan oleh keluarganya dibawah ke luar negeri untuk pengobatan, sampai saat ini mereka masih ada di luar negeri, tetapi tidak ada informasi apapun lagi terkait hal itu dan kemana mereka pergi...!" Jelas orang itu lagi pada Vitto. "Dan hasil penyelidikanku, kecelakaan jtu diakibatkan oleh kabel rem yang diam-diam sengaja di potong oleg seseorang, jangan tanya siapa lagi dalangnya, karena sudah jelas tuan Vino ada dibalik itu semua dan dia ingin memberi pelajaran pada Nona Jeany agar tidak ikut campur dengan urusannya juga Rana...!"
Mendenfar itu, Vitto hanya bisa mengernyit. Adiknya memang sudah kehilangan akal sehatnya, adiknya sudah dibutakan oleh dendam yang membara sehingga melupakan semua rasa kemanusiaannya. Bahkan sepertinya Vino tidak memiliki ketakutan untuk menghilangkan nyawa seseorang. Vitto masih tidak menyangka jika Vino tega melakukan kejahatanyang begitu berat seperti itu kepada orang-orang yang tidak bersalah.
Mengenai Jeany, Vitto harus menyampaikan kabar itu pada Rana, karena dia sudah berjanji pada Rana bahwa dia akan membantu Rana bertemu dengan Jeany untuk meminta maaf. Tetapi apakah saat ini waktunya tepat atau tidak untuk mengatakan semuanya. Rana sedang dalam keadaan baik hari ini, akan tetapi jika mendengar ini, Rana pasti akan shock dan kembali menyalahkan dirinya sendiri. Vitto menutup teleponnya dan menyuruh agar orang itu untuk melanjutkan pekerjaannya lagi untuk menggali informasi lebih dalam perihal Jeany.
__ADS_1