Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 102


__ADS_3

Vitto menyuruh supirnya agar lebih mempercepat laju mobilnya.


"Apa semuanya baik-baik saja???" Tanya Rana pada Vitto yang ada disebelahnya.


"Everything okay...!" Jawab Vitto sambil tersenyum. "Besok aku akan menemui Papa dan juga Vino, kau stay di apartemen saja, siangnya kau baru ku antar untuk periksa kandunganmu ke rumah sakit...!"


"Iya....!" Jawab Rana sambil menguap. Setelah itu dia menyandarkan kepalanya di bahu Vitto dan dia langsung tertidur.


Vitto menatap lurus ke depan. Benar dugaannya bahwa Mamanya berniat untuk mengikutinya untungnya Mario bisa mengatasi keadaan itu dengan segera menghalau taksi yang dinaiki oleh Mamanya. Vitto tau sang Mama pasti tidak berani untuk kembali ke rumah, tetapi ada kemungkinan juga suatu hari Mamanya akan pulang untuk menemui Vino. Itu sebabnya tadi dia lekas memberi tahu Vino agar bersiap dan menjaga situasi rumah dengan baik. Persoalan Jason dan Angel belum selesai dan masalah baru kembali datang. Tetapi kecurigaan Vitto semakin kuat bahwa pasti telah terjadi sesuatu antara Mamanya dan Jason. Mengingat mereka tidak bersama dan justru berpisah beda negara. Entahlah, tetapi Vitto akan mencoba mencari tahu mengenai hal itu.


Selama perjalanan Rana tertidur dengan pulasnya di bahu Vitto. Hingga akhirnya mereka sampai di apartemen. Vitto tidak membangunkan Rana, dan menyuruh supir serta Tania untuk membawa kopernya. Vitto dengan hati-hati mengangkat kepala Rana dan menyandarkannya di kursi penumpang setelah itu dia keluar mobil dan berlali ke sisi lain dan membuka pintu mobil untuk mengangkat Rana dan membawanya masuk ke apartemen.


Sampai di unit miliknya, Vitto membawa Rana ke kamarnya lalu membaringkan perempuan itu disana. Vitto melepaskan sepatu yang di pakai Rana lalu menyelimutinya. Vitto menatap Rana yang terbaring, dan senyumnya melebar. Hatinya selalu saja berbunga-bunga ketika berada di dekat perempuan itu, rasanya dia selalu ingin merengkuh Rana dalam pelukannya lalu mengatakan "Hai Rana.... Aku mencintaimu...!". Tetapi dua harus menaha diri dan memberi Rana waktu untuk bisa memulihkan hatinya yang masih terluka. Vitto kemudian membungkuk mencium kening Rana lalu mematikan lampu dan pergi keluar dari kamar Rana, menutup pintunya.


Setelah pintu di tutup oleh Vitto, Rana membuka matanya dan menatap nyalang ke langit-langit kamarnya. Rana masih bisa merasakan hangatnya ciuman Vitto di keningnya. Rupanya dia tadi babgun tetapi matanya tetap dia pejamkan ketika Vitto mengangkatnya dari mobil dan membawanya masuk ke apartemen. Rana melakukan itu karena tidak mau jika anatara dirinya dan Vitto ada kecanggungan. Tidak etis jika saat Vitto menggendongnya, dia justru membuka mata, Vitto pasti akan merasa tidak enak, itu sebabnya dia tetap menutup mata dan berpura-pura tidur. Rana saat ini bisa benar-benar merasakan ketulusan dmyang dimiliki oleh Vitto padanya. Selain baik, Vitto juga sangat perhatian dan juga penuh kelembutan. Hanya saja Rana tidak ingin terlalu berharap lebih, karena Vitto melakukan ini pasti karena kasihan kepadanya saja juga kepada bayi yang ada di kandungannya.


★★★


Keesokan harinya, Rana terbangun dengan perut mual luar biasa. Dia turun dari ranjangnya dan setengah berlari menuju kamar mandi. Disana Rana langsung muntah-muntah, itu cukup parah sekali, dan ini pasti akan terus berlangsung diawal kehamilannya. Disaat bersamaan, Vitto mengetuk pintu kamar Rana tetapi tidak ada jawaban dari dalam. Perlahan Vitto membuka dan masuk tetapi dia tidak melihat ada Rana di tempat tidurnya. Vitto tersenyum dan berpikir mungkin Rana sudah bangun dan berada di kamar mandi, dia pun berniat untuk keluar. Tetapi baru sampai di depan pintu, Vitto mendengar suara orang yang sepertinya sedang muntah. Tersadar bahwa itu Rana, Vitto bergegas menyusulnya. Dan benar saja, Rana terlihat sedang membungkuk di depan wastafel sambil muntah.


"Are you okay???" Tanya Vitto.


"Perutku.... mu..al.. seka..li...!!" Jawab Rana dan dia kembali muntah tetapi tidak ada yang keluar dari mulutnya selain ludah.


"Aku akan memijit tengkuk lehermu...!" Ucap Vitto


Lelaki itu memijat tengkuk leher Rana. Sampai akhirnya Rana mulai merasa lebih baik dan dia membasuh wajahnya dengan air dan mengusapnya dengan handuk.

__ADS_1


"Bagaimana perasaanmu???" Tanya Vitto.


"Sudah lumayan.... Thanks Vit...!" Ucap Rana.


Vitto mengangguk. "Kau mandi dulu, aku akan menyiapkan sarapan...!" Vitto kemudian meninggalkan Rana.


Vitto duduk di kursi makan, Vitto sibuk dengan ponselnya mencari informasi di internet mengenai morning sickness. Dia ingin membantu Rana menangani hal itu. Vitto tahu bahwa itu tidak hanya akan terjadi sekali atau 2 kali, melainkan akan terjadi di minggu minggu pertama kehamilan. Vitto terlihat serius hingga beberapa menit kemudian dia berdiri dan setengah berlari menuju ke kulkas dan membukanya. Vitto melihat dari atas ke bawah dan dia tersenyum menemukan yang dicarinya. Vitto kemudian membuka lemari gantung dapurnya, dan wajahnya kecewa karena yang dicarinya tidak ada. Vitto lekas pergi ke depan dan meminta bodyguardnya untuk pergi ke minimarket terdekat membeli biskuit asin.


Vitto memberi 3 lembar uang 100 ribu. "Belikan biskuit asin 3 atau 4 bungkus, ambil kembaliannya, dan cepat kembali...! Jangan lama-lama...!" Perintah Vitto.


Vitto masuk dan kembali ke dapurnya lalu mengambil cangkir dan juga daun mint yang ada di kulkas. Dia mengambil sekitar 3 daun dan meletakkannya ke dalam cangkir kemudian menyeduhnya dengan air panas. Teh daun mint sangat cocok untuk mengatasi morning sickness Rana. Vitto berharap Rana bisa merasa lebih baik setelah meminumnya dan juga memakan biskuit asin. Vitto tidak menyiapkan apapun untuk sarapan selain buah-buahan dan juga roti, dia takut Rana tidak mau sarapan seperti biasanya selain buah. Yang Vitto tahu, itulah kebanyakan yang terjadi pada ibu hamil. Atua mungkin Rana ingin memakan sesuatu sehingga Vitto bisa membuatkannya langsung sesuai dengan permintaan Rana.


"Ah beruntungnya masih ada beberapa buah-buahan, tetapi sepertinya aku harus membelinya lagi, jangan sampai menunggu ini habis...." Gumam Vitto, dia kemudian melanjutkan menyiapkan meja makan sambil menunggu biskuit Asinnya datang juga Rana yang selesai mandi.


Vitto menunggu kedatangan Mario yang dia suruh untuk membeli biskuit asin. Sekitar 15 menit akhirnya pria bertubuh kekar itu kembali membawa pesanan snag majikan. Mario menekan interkom dan tak lama Vitto membukanya. Mario memberikan kantong plastik itu pada Vitto, dan Vittoengucaokan terima kasih kemudian kembali masuk.


"Pagi Ran....! Duduklah.. Kau ingin sarapan apa biar aku buatkan? Katakan saja, kau ingin nasi goreng, roti bakar atau yang lainnya aku akan membelikannya atau menyuruh Mario...!"


Rana tersenyum. "Tidak... Aku sedang tidak berselera makan, aku ingin makan buah saja, yang segar-segar sepertinya membuatku merasa lebih baik....!"


"Baiklah aku akan mengupaskan apel, jeruk untukmu, tapi minumlah teh mint buatanku, juga ada biskuit asin, itu bisa membantumu merasa lebih baik....!"


"Kau harusnya tidak perlu repot-repot seperti ini Vitto... Aku bisa membuatnya sendiri....! Tapi terima kasih, oh iya memangnya Mario sudah ada disini? Aku pikir kau memintanya untuk terus mengawasi Mamamu!"


"Dia kembali semalam setelah memastikan Mama masuk ke hotel" Ucap Vitto sambil mengupaskan apel untuk Rana.


"Oh....! Lalu kau jadi menemui Vino???" Tanya Rana.

__ADS_1


"Jadi, aku akan ke kantornya dan bicara dengannya juga Papa, tapi aku akan langsung pulang dan mengantarmu ke rumah sakit, kau tunggu saja....!"


"Kau akan menemui Papamu di kantor Vino, lalu bagaimana dengan masalah Angel dan juga Jason? Kau tidak mungkin membahas itu di depan Vino kan???" Tanya Rana lagi.


"Aku juga memikirkan itu sebenarnya tetapi menurutku lebih baik membahas masalah Mama lebih dulu, dan jika ada kesempatan tidak ada Vino aku akan mulai membahas Angel dan Jason, ya aku akan mencoba mengajak Papa kelar sebentar!" Vitto kemudian menyodorkan piring berisi potongan Apel kepada Rana.


Vitto kemudian mengambil 2 lembar roti dan mengolesinya dengan selai nanas. Rana memakan buah yang sudah di kupaskan oleh Vitto, seperti jeruk, apel, dan juga semangka yang sudah di potong kotak-kotak kecil. Vitto sepertinya sudah memotong buah semangka itu sejak tadi karena Rana sudah melihatnya di atas piring.


Sekali lagi Rana memuji kebaikan dan perhatian Vitto kepadanya. Andaikan saja ini dilakukan oleh Vino, mungkin ceritanya akan berbeda. Membayangkan dimanja oleh suami ketika sedang hamil adalah dambaan setiap wanita, dulu Rana sempat membayangkan itu di hari-hari sebelum pernikahannya tetapi kenyataannya tidak pernah sesuai dengan ekspektasinya. Bukan suami atau ayah dari jabang bayinya yang mengurusnya sekarang, melainkan seorang sahabat yang begitu baik, perhatian dan juga sangat peduli kepadanya.


Semalam Rana tidak bisa tidur memikirkan makna dan arti dari kecupan Vitto di keningnya. Rana juga masih bisa merasakan hangatnya bibir Vitto. Tetapi memikirkan maksud dari itu hanya membuat Rana semakin bingung, apakah itu hanya ungkapan selamat malam dan selamat tidur saja, ataukah ada maksud lain seperti Vitto menyukainya. Tetapi mengenai pemikiran yang itu, Rana berusaha menampiknya. Tidak mungkin Vitto menyukainya. Kehidupan Vitto di kelilingi oleh perempuan-perempuan cantik selama ini, dan setiap Vitto membintangi sebuah film atau serial, dia selalu digosipkan memiliki kedekatan dengan lawan mainnya.


Sesekali Rana melirik ke arah ponsel Vitto yang berdering, atau tidak sengaja ponsel itu berada di depannya, lelaki iti sering sekali menerima panggilan dari beberapa perempuan, dari fotonya sangat cantik. Serta beberapa kali juga Rana melihat panggilan dari aktris yang pernah menjadi lawan main Vitto, tetapi sekalipun Vitto tidak pernah mau mengangkat panggilan itu ketika di depannya. Rana tidak tahu apa alasannya, hanya ketika dia bertanya kenala tidak di angkat, Vitto menjawabnya dengan jawaban yang sama bahwa itu bukan panggilan yang penting jadi dia memilih untuk mengabaikannya atau menonaktifkan ponselnya. Rana berpikir mungkin Vitto canggung menerima telepon itu di depannya, dan mungkin ketika Vitto berada di kamarnya Vitto menghubungi balik perempuan-perempuan itu. Sudah pasti Vitto tidak mungkin memiliki perasaan lebih terhadapnya, karena Vitto dikelilingi oleh perempuan-perempuan cantik dan berkelas. Semua yang sudah dilakukan Vitto kepadanya pasti hanyalah sebuah ungkapan pertanggung jawaban seorang kakak terhadap kesalahan yang dibuat oleh adiknya.


★★★★


Di tempat lain, Mama Vitto dan Vino sejak tadi berjalan mondar-mandir di samping tempat tidur. Dia terlihat bingung sekali dan sibuk memikirkan sesuatu. Semalam dia sangat bahagia sekali ketika tidak sengaja dia bertemu dengan Vitto di bandara. Sejak awal dia ingin sekali bertemu dengan kedua putranya dan meminta belas kasihan keduanya, supaya mereka bisa kembali memberinya uang. Semalam seharusnya kesempatan yang bagus untuknya meyakinkan Vitto, sayangnya dia belum sempat meminta maaf kepada Vitto tetapi putra pertamanya itu justru mengabaikannya dan pergi begitu saja meninggalkannya. Dia bisa melihat dengan jelas kemarahan dari Vitto, itu sebabnya dia berusaha membujuknya lebih dulu sebelum nanti minta maaf, tetapi ternyata strateginya itu gagal. Seharusnya meminta maaf dan mengakui kesalahan itu hal yang pertama kali harus dia lakukan sehingga Vitto bisa menerimanya kembali.


Dan gara-gara bodyguard Vitto menghalangi jalannya, dia harus menelan pil pahit karena kehilangan jejak Vitto. Dia sama sekali tidak tahu dimana rumah Vitto yang dulu pernah dilihatnya di sebuah tayangan. Rumah Vitto begitu bagus dan sangat mewah meskipun tidak seluas rumah yang dulu pernah mereka tinggali. Tetapi rumah itu terlihat nyaman dan banyak barang mahal yang terpampang. Akan sangat bagus baginya jika tinggal disana untuk sementara sebelum meminta dan mendapatkan uang dari Vitto ataupun Vino.


Dia dan Jason sangat membutuhkan uang. Simpanan yang mereka miliki sudah habis, dan Jason menyarankan agar dia kembali menemui kedua putranya, meminta maaf kepada mereka sehingga bisa mendapatkan uang dari mereka. Dia harus bersikap baik, penuh cinta serta penyesalan untuk dapat simpati. Itu sebabnya dia kembali kesini dan membiarkan Jason masih disana. Ya, selama ini dia dan Jason tinggal di Arizona Amerika. Membeli sebuah rumah disana, dan setiap hari hanya mereka habiskan untuk bersenang-senang seperti minum-minum, pesta, bercinta dan membeli kebutuhan pangan. Baik dia ataupun Jason tidak bekerja, karena uang yang dulu didapatnya sangatlah besar hingga bisa menghidupinya selama bertahun-tahun.


Jason masih muda seumuran dengan Vino, dan laki-laki itu memang luar biasa dalam hal bercinta. Dia selalu dibuat puas oleh Jason, dan Jason tidak pernah mengecewakannya. Pertemuan pertamanya dulu dengan Jason adalah ketika Vania mengajaknya makan siang dan mengenalkan Jason padanya. Sayangnya pertemuan pertama itu justru membuatnya tergila-gila dengan Jason, selain tampan, kekasih putrinya itu juga sangat luar biasa. Diam-diam dia mengambil nomor pknsel Jason dari ponsel Vania, lalu menghubunginya.


Kebahagiaannya bertambah ketika Jason meresponnya dengan baik, dan setiap hari mereka selalu berkomunikasi hingga akhirnya memutuskan bermain di belakang Vania dan suaminya sendiri. Hubungan itu terus berlanjut dan mereka selalu bertemu di hotel dan berakhir bercinta. Itu selalu jadi hal luar biasa untuknya sampai akhirnya semua sedikit berubah ketika Vania memergoki mereka lalau Vania kecelakaan. Selama Vania sakit, dia menahan diri dan ketakutan jika Vania sembuh lalu mengungkapkan semuanya kepada keluarganya, tetapi takdir sepertinya berpihak kepadanya, Vania akhirnya meninggal dan dia kembali menjalin hubungan dengan Jason. Terlalu cinta dengan laki-laki itu membuatnya nekat mengambil uang serta surat berharga dari perusahaan suaminya, lalu menjuak beberapa aset perusahaan dan uangnya dia gunakan kabur bersama Jason hingga saat ini uang itu habis. Dan dia harus memutar otak lagi untuk mendapatkan uang


Sekarang tidak ada pilihan lain selain menemui Vino dan menangis memelas meminta belas kasihan kepada putra keduanya itu. Mengingat dia sama sekali tidak tahu tempat tinggal Vitto. Yang dia tahu saat ini suaminya sedang sakit dan tinggal di Perancis untuk berobat disana, itu artinya hanya ada anak-anaknya yang tinggal disini. Maka akan bagus sekali bisa memanfaatkan mereka berdua. Pilihannya hanya satu yaitu segera menemui Vino, tetapi ini sudah jam 8 lebih, menemui Vino di rumah pasti tidak akan bisa. Putranya itu tidak mungkin di jam segini berada di rumah. Vino pasti berada di kantor.

__ADS_1


"Ya, sepertinya aku harus datang ke kantor dan menemui Vino, aku harus menyiapkan aktingku dengan baik agar putraku yang tampan itu mau memaafkanku dan menerimaku lagi...!" Gumam Vita sambil tersenyum jahat.


__ADS_2