
Vino masuk ke kamarnya sambil membanting pintu. Perasaannya campur aduk, masih ada kemarahan di hati nya dan juga dia memikirkan setiap ucapan dari Arindah saat di cafe tadi. Marah karena dia gagal memisahkan Rana dan Vitto, dan ucapan Arindah yang memintanya untuk mengikhlaskan Rana serta membiarkan Rana berbahagia dengan jalannya sekarang. Vino bingung, bagaimana bisa dia harus merelakan Rana bersama dengan Vitto. Sementara Vino masih menginginkan Rana bisa kembali kepadanya lagi. Vitto akan menjadi suami Rana itu sangat tidak bisa Vino Terima begitu saja.
Saat ini hubungannya dengan Vitto tidak baik, Vino bahkan tidak pernah lagi berbicara dengan Vitto setelah kejadian tempo hari. Dimana Vino menghajar Vitto karena marah dan merasa di bohongi selama ini juga di permainkan. Bagi Vino apa yang di lakukan Vitto sangatlah egois. Vitto menyembunyikan Rana dan Vitto ternyata juga menjalin hubungan dengan Rana bahkan mereka akan menikah. Bagi Vino, Vitto tak ubahnya seorang yang munafik dan tidak memiliki hati. Apapun alasannya, Vitto seharusnya memberitahunya jika sedang berhubungan dengan Rana dan justru sekarang akan menikah dengan Rana.
Vino juga kecewa atas sikap Papa nya yang selalu mengajak tirikan dirinya selama ini. Papa nya mengetahui segala nya tentang Vitto dan Rana, tetapi memilih diam dan ikut-ikutan membohonginya. Kemarahan Vino, membuat Vino enggan untuk berbicara dengan Papa nya. Dia lebih memilih menghindar dan tidak mau berbicara meskipun di kantor satu ruangan dengan Papa nya. Kecewa, kesal, marah semuanya menjadi satu.
★★★
Beberapa hari kemudian......
Rana duduk manatap wajahnya di cermin. Dia baru saja selesai di make up. Wajahnya terlihat cantik. Rambutnya di ikat biasa dengan oenjepit rambut berwarna senada dengan baju pengantinnya, tetapi kesan elegan serta natural tetap membuat Rana semakin cantik. DI atas tempat tidur ada baju pengantinnya berwarna putih dengan di hiasi payet cantik yang terlihat berkilauan. Inilah pernikahan yang di impikan oleh Rana selama ini, dan Rana merasa nervous sekali. Sebentar lagi, akad nikah akan di mulai. Rana berharap semua berjalan dengan lancar.
"Silakan berganti pakaian...!" Ucap seorang perempuan pada Rana.
"Iya..!" Jawab Rana sambil menarik napasnya dalam-dalam. Dia benar-benar nervous sekali.
"Hei....!!" Jeany muncul dari belakang membuat Rana sedikit terkejut. "Cantik sekali Rana ku ini.... Ya Tuhan....!" Puji Jeany.
"Ih apa sih Jean...!" Rana memukul baju Jeany.
"Iya, kau ini sebenarnya cantik, hanya saja kau jarang sekali memakai make up tebal, sekalinya memakai make up, bikin pangling...!" Ucap Jeany.
"Apa sih, lebay deh... Aku ganti pakaian dulu...!" Rana berdiri dan mengambil baju pengantinnya.
Butuh beberapa menit dan Rana akhirnya kembali menghampiri Jeany setelah memakai gaun pengantin nya. Jeany ternganga melihat Rana yang semakin terlihat cantik dengan gaun itu. Rana semakin anggun dan manis. "Astaga Rana.... Kau benar-benar cantik.... Vitto pasti tidak akan berhenti memujimu...!" Ujar Jeany.
"Apasih Jean, kau sejak tadi terlalu berlebihan memujimu...!"
"Memang benar kau cantik sekali...!"
"Aku nervous sekali...!" Ucap Rana.
__ADS_1
"Jangan nervous, karena yang seharusnya nervous itu Vitto, dia harus mengucapkan ijab kabul dalam satu tarikan nafas supaya sah...!"
Rana menatap dirinya di depan cermin. Dan benar, dia memang terlihat lebih cantik dari biasanya. Meskipun ini pernikahan kedua nya tetapi entah kenapa kali ini Rana merasa benar-benar nervous bercampur terharu. Di pernikahan pertama nya dia tidak merasa seperti ini, mungkin karena dulu pernikahannya lebih cepat dari rencana awal dan seperti di kejar oleh waktu sehingga semuanya din persiapkan secepat kilat. Dan Rana tidak turut serta dalam persiapan itu karena semua sudah di atur oleh Vino. Sedangkan kali ini Vitto memberinya kebebasan untuk mengatur konsep seperti apa yang diinginkan oleh Rana. Dari tema hingga gaun pernikahan, semuanya Rana yang mengaturnya. Sehingga ada keistimewaan yang Rana rasakan. Vitto juga tidak mengintimidasi seperti Vino, sehingga Rana benar-benar merasa nyaman sekali.
Tiba-tiba saja Rana menjadi teringat dengan kedua orang tua nya. Dia merasa rindu sekali, dan sebelum datang kesini untuk pernikahannya dengan Vitto. Rana memilih mengunjungi makam bayi nya dan kedua orang tua nya bersama Vitto, meminta ijin dan restu mereka. Rana berpikir seandainya mereka masih ada sekarang, tentu ini akan janji hari yang lebih membahagiakan lagi baginya. Tetapi sayangnya Tuhan lebih mencintai mereka sehingga mengambil mereka lebih dulu di bandingkan Rana.
Jeany memegang bahu Rana. "Hei.... Kenapa??? Kau mau menangis ya??? Jangan menangis dong, nanti make up nya jelek Na... Kenapa sedih seperti itu???" Tanya Jeany.
Rana memeluk Jeany. "Aku merindukan Mama dan juga Ayah... Seandainya mereka ada disini Jean, pasti mereka akan senang sekali...!"
Jeany mengusap punggung Rana. "Mereka disana juga pasti bahagia Na, kau akan menikah dan akan ada laki-laki yang menggantikan mereka untuk menjaga mu... Kau sekarang juga tidak sendiri, ada aku, ada mama papa, ada keluarga dari orang tua mu juga ada disini, ada teman-tenan n g juga menyayangimu dan tentu nya ada Vitto yang sangat mencintaimu... Jadi jangan merasa sendirian...!"
Cahya mengetuk pintu dan masuk ke kamar. "Hei.. Kok malah menangis?? Kenapa Ran???" Tanya Cahya ketika mendapati Rana menangis di pelukan Jeany.
Jeany melepas pelukannya. "Ini Ca, Rana sedang merindukan kedua orang tua nya... Dia merasa sedih karena di pernikahannya tidak ada orang tua nya..! " Ujar Jeany.
Cahya mendekati Rana dan tersenyum pada sahabatnya itu. "Kau jangan menangis Ran, percayalah bahwa orang tua mu saat ini juga ikut berbahagia seperti yang kamu rasakan ketika melihatmu akan menikah dengan pria yang kau cintai.. Aku dulu juga sedih saat aku menikah, Ayahku tidak ada bersamaku, tetapi ada banyak orang yang menyayangiku yang hadir, dan sekarang kami semua yang ada disini juga sangat menyayangimu, kau tidak sendirian..!"
Rana pun tertawa dan memukul lengan Jeany. "Kau ini menyebalkan sekali...!" Ucap Rana.
"Kau duduk lagi Ran, biar make up nya di perbaiki, sebentar lagi akad akan di mulai...!" Ujar Cahya kemudian meminta perias agar memperbaiki make up Rana yang sedikit berantakan.
***
Rana di apit oleh Cahya dan Jeany. Mereka berjalan beriringan menuju tempat akad pernikahan. Dimana disana Rana sudah di tunggu oleh Vitto dan penghulu serta tamu yang hanya terdiri dari keluarga inti serta sahabat terdekat Rana dan Vitto. Rana terlihat anggun dan cantik sekali dengan gaun pernikahannya berwarna putih. Rambutnya hanya di ikat ke belakang. Sedangkan Vitto juga memakai jas berwarna putih, duduk sambil menengok ke belakang melihat kedatangan Rana. Senyum Vitto tidak terlepas dari wajah tampannya, dia memuji Rana dalam hati. Perempuan itu sangat cantik sekali, pengantinnya dan juga sebentar lagi menjadi istrinya.
Rana duduk di sebelah Vitto dan senyumnya tidak hilang dari wajah cantiknya. Rana berharap senyumnya bisa mengurangi rasa nervous nya.
Sementara itu Cahya dan Jeany duduk di kursi masing-masing. Cahya menyuruh Kyros untuk turun dari kursi dan dia akan memangku putranya itu. Cahya datang bersama Aditya dan si kembar untuk ke akad nikah saat ini, sementara keluarganya yang lain akan datang di acara resepsi sore nanti. Karena memang acara akad kali ini hanya di peruntukan untuk keluarga inti Rana dan Vitto saja.
"Oke, apa bisa kita mulai sekarang???" Tanya penghulu pada Vitto, dan Vitto mengangguk.
__ADS_1
Penghulu mengulurkan tangannya dan di Terima oleh Vitto. Sejenak Vitto memejamkan matanya dan mengucapkan doa agar Tuhan melancarkan acaranya hari ini serta agar rasa nervous nya hilang sehingga bisa lancar mengucapkan ijab kabul. Dan di depannya ada penghulu serta paman Rana yang menjadi wali Rana.
"Saudara Vittorio Prakarsa, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan saudari Kirana Aurellie binti almarhum Fauzi Pradana dengan mas kawin uang senilai 61.002.200 rupiah dan seperangkat perhiasan emas di bayar tunai...!"
Vitto menarik napas. "Saya Terima nikah dan kawinnya Kirana Aurellie binti almarhum Fauzi Pradana dengan mas kawin tersebut, di bayar tunai....!" Ucap Vitto dengan mantap.
"Sahabat..???" Tanya Penghulu dan semua yang hadir menjawab sah.
Penghulu langsung mengucapkan syukur di lanjutkan doa untuk Rana dan Vitto. Semua orang menadahkan tangannya untuk mengaminkan doa yang di tujukan untuk kedua mempelai. Vitto merasa lega sekali karena berjalan dengan lancar. Rana memejamkan matanya tidak berhenti mengucapkan rasa syukur, akhirnya dia sudah sah menjadi istri Vitto dan akan memulai kehidupan barunya bersama lelaki itu. Vitto kemudian menyematkan cincin pernikahan di jari manis Rana, begitu juga sebaliknya.
Setelah selesai mengucap ijab kabul. Para tamu pun memberikan ucapan selamat kepada Vitto dan juga Rana. Tidak nampak Vino hadir di acara itu. Vitto tidak mempermasalahkannya, daripada Vino datang yang mungkin bisa saja akan merusak acara yang sakral ini.
Aditya menggendong Kyros, sedangkan Cahya menggandeng Kyra. Mereka kompak mengenakan baju dengan warna senada yaitu warna hijau. Aditya menyalami Vitto dan memeluk sahabatnya itu. "Congrats bro... Akhirnya pecah telur juga... Semoga kau dan Rana bahagia selalu..!" Ucap Aditya.
"Thanks Dit, kau sudah banyak membantuku untuk pernikahan kami...!"
"Its okay.... Enjoy dan nikmati dengan baik masa pengantin mu...!" Aditya kemudian menyuruh Kyros agar mengucapkan selamat pada Vitto. "Ky... Beri uncle Vitto ucapan selamat..!" Pintar Aditya pada putra nya.
"Uncle... Celamat ya??" Ucap Kyros dengan suara gemas khas anak kecil.
Vitto tersenyum dan mencubit pipi Kyros. "Terima kasih Ky sayang... kau sangat tampan sekali dengan pakaian ini...!" Vitto mendaratkan ciuman di pipi gembul Kyros.
Aditya kemudian beralih memberi selamat kepada Rana, dan Cahya memberi ucapan pada Vitto. Setelah itu bergantian dengan tamu yang lainnya. Wajah sumringah tentu menghiasi Vitto dan Rana. Sangat terasa sekali kebahagiaan mereka. Semua orang yang datang memberikan doa terbaik mereka untuk pasangan itu.
__ADS_1