
Vino menyelonong masuk begitu saja, dan memutar pandangannya melihat villa itu. Dan menyadari bahwa villa ini memang sangat bagus, dan juga sepertinya nyaman. Vino meletakkan ranselnya begitu saja di atas sofa, dan semakin berjalan masuk ke dalam villa.
"Vino....!" Teriak Vitto sambil mengejar adiknya yang sepertinya tidak mengindahkan larangannya.
Vino terus berjalan menuju area belakang villa, dan semakin terpesona karena pemandangan di belakang villa jauh lebih baik. Vino jelas melihat persiapan acara Vitto disana. dimana kursi dan meja sudah di tata dengan sangat rapi. Bunga serta pernak-pernik pernikahan juga sudah sangat rapi.
"Vino....!" Vitto menarik bahu Vino dengan kasar, membuat Adiknya itu langsung berbalik badan menatapnya tidak peduli. Vino justru terus tersenyum berganti-ganti seolah dia ingin mengejek Vitto.
"Villa nya bagus, kau memang tidak main-main ketika memilih tempat untuk pesta mu..!" Ujar Vino.
"Berhentilah mengalihkan pembicaraan... Dan pergilah dari tempat ini.. Jangan sampai aku benar-benar marah padamu..!"
"Kok pergi??? Aku kan ingin menghadiri acara resepsi pernikahanmu?? Malah menyuruhku pergi..."
"Acara jam empat, ini jam baru jam dua, lebih baik kau ke hotel, aku sudah menyiapkan kamar suite untukmu, pergilah..!"
"Eleh tinggal dua jam doang.. Aku akan disini saja, ini lebih dari kamar suite... Btw berapa kau menyewa villa ini untuk kau gunakan seperti ini???"
"Apa perlu aku menjawabnya??? Atau kau ingin membayar semua tagihannya?? Ah sudahlah, kau lebih baik pergi dan jangan mengganggu acara ku...!" Vitto mulai terlihat tidak nyaman dengan kehadiran Vino disini. Entah kenapa dia takut jika Vino justru akan mengacau.
Vino tersenyum mengejek lagi. "Sensitif sekali, pengantin baru sih ya jadi rada sensi.... Mana istrimu??? Aku tidak melihatnya...!??"
Vitto menatap tajam Vino, tidak langsung menjawab pertanyaan adiknya. "Kenapa mencari istriku?" Tanya Vitto kemudian.
"Aku hanya ingin mengucapkan selamat saja padanya..!" Jawab Vino asal-asalan. Dia sebenarnya ingin melihatRa na, melihat ekspresi perempuan itu, bahagia dengan semua ini atau biasa saja.
Vitto tersenyum tipis. "Kau cukup memberi selamat padaku saja, aku akan menyampaikan itu padanya...! Lagipula Rana juga tidak ada disini, dia ada di hotel, aku kesini sendirian karena aku ingin mengecek persiapan terakhirnya.."
"Di hotel??? Sedang apa dia disana???" Tanya Vino lagi.
__ADS_1
"Istirahatlah.... Kau pikir sedang apa??? Dia lelah karena sejak subuh harus berdandan dan acara tadi juga padat, dia berdiri terlalu lama dengan sepatu heels nya, tentu dia merasa lelah dan aku meminta nya untuk istirahat di hotel saja...!" Jawab Vitto berbohong. Dia ingin melihat apa reaksi Vino, apakah adiknya itu akan memilih tetap disini atau ke hotel.
"Tetapi resepsi nya ada disini kan?? Kenapa tidak mengajaknya langsung kesini??"
Vitto terkekeh. "Vino... Vino...! Jarak hotel dengan villa ini hanya 5 sampai 10 menit saja dari hotel, dia akan berdandan disana dan nanti aku juga akan kembali kesana, lagipula harusnya kau mengerti, di hotel juga ada kamar pengantin untuk kami, tentu sebelum kami honeymoon disini, kamar pengantin di hotel harus di acak-acak dulu sebelum di tinggalkan oleh kami berdua, jadi tentu saja sebelum kesini untuk mengecek persiapan, aku dan Rana.........????" Vitto berkedip nakal lalu mengangkat alisnya bergantian sambil menyentuh kan jari telunjuk kanan dan kiri nya berulang seolah memberi Vino kode bahwa dia dan Rana tadi sudah melakukan tugas mereka sebagai suami istri. Vitto sengaja melakukannya untuk memanas-manasi Vino. "Jadinya??? Rana semakin lelah deh....!" Ujar Vitto lagi.
Tiba-tiba saja wajah Vino memerah, mengerti dengan apa yang di maksud oleh Vitto. "Kurang Ajar" Gumam Vino dalam hati. Vino berpikir bahwa Vitto pasti sengaja mengatakan hal itu untuk membuatnya merasa panas. Kakaknya ini memang sangat breengsek.
Vino terdiam tetapi dari ekspresinya terlihat sangat kesal sekali, dan hal itu membuat Vitto ingin sekali menertawakan adiknya. "Aku lapar...! Tadi tidak sempat makan siang, disini pasti tidak ada makanan, aku akan ke hotel saja.. Jika disana aku bertemu Rana, aku akan mengucapkan selamat juga kepada nya...!" Vino langsung melengos meninggalkan area belakang villa dengan wajah masam.
Vitto mencoba menahan tawa nya melihat reaksi Vino, tetapi dia mengejar dan menyusul Vino. Saat lewat di depan kamar tamu, Vitto sudah tidak melihat Tania, mungkin Tania kembali ke depan dan sudah memberitahu Rana agar tidak keluar. Vitto terus mengikuti Vino keluar, dan Vino mengambil ranselnya yang dia letakkan di atas sofa, kemudian berjalan keluar. Vitto hanya bisa tersenyum melihatnya sambil terus mengikuti. Dan Vino memang memilih keluar dari villa.
"Vino.... Kau mau kemana???" Tanya Vitto.
"Aku bilang aku lapar dan akan ke hotel saja, kau bilang kau sudah menyiapkan kamar untukku kan???" Suara Vino terdengar ketus.
"Ya.. Tapi biarkan Mario mengantarmu ke hotel.." Ucap Vitto kemudian memberi kode bodyguardnya agar mengantar Vino ke hotel. Vino pun mengikuti Mario dari belakang.
Vitto kemudian menghubungi pihak hotel untuk memberitahu jika ada adiknya yang akan datang kemudian menyuruh agar nanti di berikan kamar suite yang ada di lantai paling atas. Vitto sebenarnya sudah membooking setengah kamar yang ada di hotel itu untuk para tamu nya menginap. Dan memberikan beberapa kamar VIP hingga suite untuk keluarga nya.
★★★★★
Vino akhirnya sampai di hotel. Wajahnya masih kesal, dan dia langsung masuk menuju resepsionist untuk menanyakan kamarnya. Karena sudah di hubungi oleh Vitto, resepsionist itu memberikan kunci kamar Vino dan menunjukkan letak kamar itu yang berada di pantai paling atas hotel ini. Vino mengucapkan Terima kasih dan langsung berjalan menuju lift.
Vino merasa kesal sekali Vitto, dia ingin mengerjai Vitto dan Rana dengan memilih datang untuk menginap di villa itu. Tetapi Vitto malah membuatnya kesal dan juga ternyata Rana tidak berada di villa melainkan di hotel ini. Vino benar-benar ingin bertemu Rana, dia sangat merindukan perempuan itu, tidak peduli jika Rana sudah menjadi istri Vitto. Bagaimanapun ini kesempatan Vino untuk bisa bertemu Rana dan berbicara dengan perempuan itu.
Pintu lift terbuka, Vino keluar dan dia berjalan untuk mencari kamarnya. Saat melihat kanan kiri, Vino justru menemukan Arindah menggandeng anak laki-laki, mereka baru saja keluar dari sebuah kamar. "Arindah...!" Panggil Vino.
Arindah menengok mendapati Vino berjalan ke arahnya sambil tersenyum. "Hai Vin.. Kau ada disini???"
__ADS_1
"Ya, aku baru saja sampai, ini anakmu???"
"Iya... Ini anakku..!"
Vino tersenyum melihat anak Arindah yang begitu menggemaskan. Dia membungkuk mengajak bocah laki-laki itu berkenalan. "Siapa namamu??" Tanya Vino.
"Naufal..!" Jawab anak itu dengan suara khas anak kecil.
"Bagus sekali nama mu..." Vino menggendong Naufal dan mencium pipi gembul anak Arindah yang menggemaskan itu.
"Oh iya Vino, kau dapat kamar nomor berapa???" Tanya Arindah. Vino kemudian menunjukkan access card kamarnya, dan ternyata ada di sebelah kamar Arindah.
"Kau dan Naufal mau kemana???" Tanya Vino.
Arindah tersenyum. "Aku ingin mengajaknya ke bawah, ada restoran tepi pantai, aku ingin duduk dan sekedar menikmati suasana disini...! Minum yang dingin-dingin sepertinya enak.."
"Wah bareng yuk... Aku belum makan dan lapar, tapi aku harus menyimpan ransel dulu di kamar, kau tidak keberatan kan???" Tanya Vino.
"Oh tidak masalah Vin.." ujar Arindah.
Vino kemudian mengajak Arindah dan Naufal ke kamarnya sebentar untuk menyimpan ranselnya. Vino membawa masuk Naufal ke kamarnya, dan menurunkannya sebentar, lalu melepas ranselnya dan meletakkan ranselnya di ats sofa. Vino kembali menggendong Naufal dan keluar kamarnya untuk ke restoran.
Vino tidak berhenti menatap wajah Naufal yang ada di gendongannya. Anak ini begitu lucu, dan sangat tampan. Wajahnya mirip Arindah versi kecil. Dan Naufal juga terlihat nyaman di gendongannya. Vino bahkan sempat berpikir berapa bahagia nya jika memiliki anak selucu dan se menggemaskan ini, andai saja dulu dia tidak menyia-nyiakan Rana pasti saat ini sedang berbahagia dengan perut Rana yang membuncit. Sayangnya penyesalan itu selalu ada di belakang, dan sudah tidak ada guna nya lagi menyesal untuk saat ini.
"Naufal, apa kau sudah makan?" Tanya Vino.
"Sudah.." Jawab Naufal singkat.
"Kalau begitu nanti kita makan es krim saja ya di bawah, kau suka es krim???"
__ADS_1
"Ya.. Vanilla. "
Vino terkekeh. "Oh kau suka es krim vanilla ya?? Baiklah kita nanti makan es krim vanilla" Ucap Vino, dan sekali lagi dia mencium pipi Naufal dengan gemas. Vino tidak habis pikir kenapa suami Arindah justru tega meninggalkan Arindah dan Naufal. Padahal Arindah sangat cantik, dan Naufal juga anak yang lucu, tampan serta menggemaskan. Seharusnya itulah yang di namakan keluarga yang sempurna. Bukan malah meninggalkan mereka.