
Vino membuka amplop itu untuk di baca isi nya, karena di bagian depan amplop tertulis dari pengadilan negeri untuk Arindah. Vino meyakini bahwa isi surat ini pastilah sangat penting. Di bukalah isi amplop itu lalu Vino mulai membaca nya.
"Sialll.....!!!" Vino mengumpat setelah membaca surat itu.
"Vin....!!!" Panggil Mama Arindah yang menggendong Naufal dan di belakangnya ada suami nya atau Papa Arindah.
"Eh Ma, Pa....!" Vino berdiri dan mengalami kedua mertua nya.
"Kenapa tidak bilang kalau kau akan kesini, tahu seperti itu Mama tadi akan masak untukmu sehingga kau bisa anak-anaknya siang disini.... Kau suka apa biar Mama pesan dari luar ya???"
"Ah tidak perlu Ma, tadi Vino sudah membeli makan siang untuk Naufal juga Mama Papa, sedang disiapkan oleh Mbak nya tadi... "
"Malh jadi merepotkan mu... Duduklah... "
Vino duduk dan Naufal yang tadi di gendong oleh oma nya pun langsung berlari ke arah Vino. "Surat ini kapan di kirim Ma???" Tanya Vino seraya menunjukkan surat itu pada Mertua nya,
"Tadi Pagi Vin....! Mama yang menerima nya... "
"Mama sudah beritahu Arindah???" Tanya Vino lagi.
Mama Arindah menggelengkan kepala nya. "Mama sudah berniat memberitahu nya tadi, tetapi Mama urungkan karena takut malah mengganggu pikiran Arindah dan dia jadi tidak berkonsentrasi bekerja... " Jawab Mama Arindah.
"Syukurlah.... Aku tadi juga berpikir seperti itu takut Mama sudah memberitahu nya...."
__ADS_1
"Vin....!!! Papa sangat mengkhawatirkan istrimu mengenai hal ini.... Reino sangat kurang ajar dan dia tidak pernah sekalipun membiarkan Arindah hidup dengan bebas, selalu saja melakukan sesuatu yang membuat Arindah sedih... Papa khawatir sekali dan tidak bisa membayangkan bagaimana jika Naufal meninggalkan kita semua..."
"Papa dan Mama jangan khawatir, Vino tidak akan membiarkan si brengsek itu menguasai Naufal... Kita hadapi ini bersama-sama. .. Vino akan menghubungi pengacara untuk bisa membantu kita menghadapi masalah ini, jadi jangan khawatir.... Reino tidak akan mendapatkan yang dia inginkan, Naufal akan tetap bersama dengan kita.... " Ucap Vino pada mertua nya dengan penuh keyakinan.
Asisten rumah tangga menghampiri Vino, dan kedua orang tua Arindah. "Permisi pak, bu, makanan sudah siap... Silakan di nikmati... "
Mama Arindah pun mengajak Vino untuk ke ruang makan, dan makan siang makanan yang tadi di bawa oleh Vino. Makan siang pertama Vino dengan mertua nya tanpa Arindah. Meski begitu, Vino tidak masalah karena ini justru akan membuat hubungannya dengan kedua orang tua Arindah lebih dekat lagi. Vino juga membahas tentang rencana nya membuatkan kamar sendiri untuk Naufal, dan hari ini dia akan bertemu dengan dekorator nya lalu akan membiarkan Naufal memilih ingin kamar yang seperti apa. Karena Vino sudah menjelaskan tema yang di inginkan nya untuk Naufal, sehingga nanti mereka sudah membawa beberapa contoh gambar dari kamarnya dengan tema itu.
Setelah makan siang, Vino memilih untuk duduk di ruang tamu dan bermain dengan Naufal sambil menunggu orang-orang decorator datang. Sedangkan Papa Arindah sedang menerima telepon. Naufal bermain mobil-mobilan. Vino terdiam, pikirannya masih terganggu oleh surat dari pengadilan itu. Dia tidak bisa membiarkan Reino mengambil hak asuh Naufal, karena tentu jelas sekali yang sangat berhak untuk merawat Naufal adah Arindah sebagai ibu nya, karena sejak bayi Naufal sudah bersama Arindah. Selain itu Naufal masih di bawah umur, jadi masih menjadi tanggung jawab Arindah sepenuhnya.
Vino juga merasa bingung, alasan Reino menggugat hak asuh Naufal padahal Arindah tidak melakukan kesalahan apapun selama ini dalam mengasuh dan merawat Naufal. Karena seseorang yang mengajukan hak asuh anak yang sedang di rawat ibu nya, biasanya karena ibu nya melakukan kesalahan fatal atau telah melakukan kejahatan sehingga seorang Ayah bisa mengajukan perpindahan hak asuh anak. Akan tetapi kondisi nya saat ini Arindah tidak melakukan kesalahan atau kejahatan apapun. Dalam segi ekonomi untuk merawat Naufal, Arindah juga berkecukupan selain itu seharusnya Reino juga memberikan nafkah untuk Naufal. Tidak ada masalah sama sekali sebenarnya tetapi kenapa Reino memaksakan kehendaknya untuk merebut Naufal dari Arindah. Vino tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Vino mengambil ponselnya, mencari kontak seseorang lalu menghubungi nya. Ya, Vino menghubungi pengacara keluarga nya untuk membantu nya dalam mengatasi masalah gugatan Reino. "Selamat siang Pak...???" Sapa Vino.
Vino tersenyum. "Tidak pak... Ini bukan masalah Angel... Eh jika bapak ada waktu, apa hari ini bapak bisa menemui saya???" Tanya Vino.
Pengacara terdiam sesaat. "Kira-kira jam berapa mas??? Soalnya sekarang saya ada urusan...!"
"Oh sibuk ya...??? Eh sebisa nya bapak saja??? Nanti malam juga boleh, bapak bisa datang ke rumah, sekaligus kia bisa membahas langkah kita selanjutnya di masalah Angel... Ada hal yang mendesak dan penting untuk saya diskusi kan, dan ini mengenai istri saya... Jika bisa nanti malam itu lebih bagus, karena istri saya sudah kembali dari rumah sakit... "
"Oh bisa-bisa, nanti malam saya akan datang ke rumah..."
"Oke baiklah jika begitu, Terima kasih, dan saya akan menunggu bapak di rumah.... Bisa enak juga jika mengobrol nya ada istri saya... Saya tunggu nanti malam... "
__ADS_1
"Baik Pak Vino.... malam nanti jam 7 atau jam 8 saya akan datang ke rumah... "
"Oke kalau begitu, Terima kasih dan selamat siang... " Vino menutup panggilannya. Berkonsultasi dengan pengacara di saat seperti ini sangat bagus, dan persiapan juga harus di mulai. Vino akan memberitahu mengenai surat itu pada Arindah nanti saja saat istrinya itu sudah pulang. Karena jika memberitahu sekarang tentu bisa saja mengganggu konsentrasi Arindah.
Vino tidak berhenti mengumpat Reino yang sudah berani merusak keteketentranan Arindah dan keluarga nya. Sebenarnya ini juga yang membuat Vino khawatir, suatu saat Reino akan mencari cara untuk merusak hubungan Arindah. Dan benar saja, Reino berani melakukan hal serendah ini, entah untuk tujuan apa.
"Pap... Pa.... Main... " Naufal menggoyang lutut Vino membuat Vino terbuyarkan dari lamunannya.
Vino melempar senyum dan mencium kening Naufal. "Kau ingin mengajak Papa bermain??? Papa pikir Naufal akan memilih bermain sendiri..."
Naufal menggelengkan kepala nya. "Dengan.. Pap... Pa... "
"Oke... Naufal ingin bermain apa???" Tanya Vino.
"Ke... Le... Ta.. " Naufal mengangkat sebuah mainan kereta api, menuntukkannya pada Vino.
"Oke kita bermain kereta.. Tetapi berikan pada Papa, karena Papa akan menyambungkan gerbongnya... "
Naufal menyodorkan mainannya pada Vino dan Vino meminta Naufal agar mencari potongan dari mainan itu sehingga bisa di sambung dengan baik. Naufal sangat penurut, sehingga langsung melakukan apa yang di arahkan oleh Vino.
Vino kembali terdiam menatap Naufal yang sedang mencari mainannya. Vino kembali memikirkan Arindah. Membayangkan betapa terkejutnya Arindah melihat surat itu. Vino merasa murka sekali karena ulah Reino, sehingga hal itu juga pasti akan membuat Arindah sangat sedih.
"Reino.... Aku pasti tidak akan melepaskanmu jika kau benar-benar berani menyakiti istriku... Aku akan langsung menghabisi mu dengan tanganku sendiri... " Ucap Vino dalam hati.
__ADS_1