
★★★
Sidang kedua perceraian antara Vino dan Rana sudah digelar, kali ini Vino memilih untuk tidak datang tetapi mengirim pengacara untuk mewakili dirinya. Vino sudah menjelaskan detailnya dan meminta pengacaranya agar menjelaskan bahwa dia akan menerima perceraian itu dan membebaskan Rana dalam ikatan pernikahan.
Sebenarnya alasan utama Vino tidak hadir adalah dia merasa malu untuk bertemu dengan Rana, juga mungkin dengan itu perceraian mereka akan berjalan lebih cepat. Sayangnya kali ini hakim masih memberi kesempatan kepada Vino agar bisa hadir di sidang minggu depan, jika Vino masih menolak untuk hadir maka putusan akan diambil oleh hakim, kemudian dia dan Rana akan benar-benar bercerai. Dan itulah yang ditunggu oleh Vino, sidang berikutnya dia tidak akan hadir lagi. Lebih cepat lepas dari Rana itu akan lebih baik.
Sementara itu, Vitto akhirnya kembali ke apartemennya, proses syutingnya sudah selesai, dan dia akan beristirahat untuk beberapa minggu ke depan sebelum nanti dia akan disibukkan dengan kegiatan lain. Selain itu, Vitto juga ingin menyampaikan beberapa hal kepada Ranayaitu tentang Jeany juga tentang rumah Rana yang sebelumnya disewakan. Beberapa informasi itu tentu dari orang-orang yang Vitto bayar untuk menyelidikinya. Kabar gembira sekaligus kabar yang tidak mengenakan.
"Bagaimana? Semua berjalan lancar???" Vitto menarik kursi makan dan menuang air di gelas.
"Vino tidak datang...! Tetapi dia mengirim pengacara...!"
"Itu tandanya dia akan melepaskanmu, Papa sudah menjelaskan semuanya kepadanya, dan dia akan memberikan perceraian yang kau inginkan, dia bilang tidak ada lagi yang perlu dioertahankan diantara kalian, kau pasti tahu alasannya? Vino hanya mengunginkan Angel, itu sudah terjadi sejak lama... Aku harap kau tidak terlalu sakit hati dengan hal itu...!"
Rana tersenyum meskipun di dalam hatinya terasa sakit sekali ketika mengingat bahwa cintanya pada Vino begitu dalam tetapi lelaki itu sejak awal memang tidak pernah mencintainya. Vino memang hanya milik Angel, itulah kenyataan pahit yang harus Rana terima. Sedalam dan sekeji apapun perlakuan orang yang dicintai itu masih tidak ada apa-apanya dengan sakit hati yang dirasakan oleh Rana menyadari bahwa Vino mencintai Angel. "Aku mengerti itu...!" Gumam Rana pelan.
Dari ekspresi yang ditunjukkan oleh Rana, Vitto tahu bahwa perempuan itu sepertinya sedang tidak dalam keadaan baik. "Apa kau baik-baik saja???" Tanya Vitto.
Rana hanya menggeleng sambil menundukkan kepala.
"Rana....!!!" Vitto memanggil Rana membuat Rana mengangkat kepalanya dan tersenyum. "Kau masih mencintai Vino kan??? Itu terlihat jelas sekali di wajahmu....! Jika kau masih berharap kepadanya, aku akan memintanya untuk membatalkan persidangan ini....!"
"Tidak....!!!" Jawab Rana dengan cepat. "Mencintainya? Aku memang masih mencintainya, tetapi untuk kembali aku tidak bisa, aku sudah sejauh ini dan aku tidak mau juga hidup dengan terus berharap kasih sayangny, hatinya, dirinya bahkan pikirannya bukan untuk aku miliki.... Dia hanya mencintai perempuan lain dan itu bukan diriku...! Cintaku akan hilang seiring berjalannya waktu, aku akan mengingat kebenciannya kepadaku jika aku tiba-tiba teringat dan merindukannya, kurasa itu cara terbaik untuk menghilangkannya...!" Ujar Rana. Hatinya memang hancur sekali, apa yang diharapkannya tidak sesuai dengan ekspektasinya, menambah luka itu semakin dalam lagi.
"Aku bisa mengerti perasaanmu, aku hanya berharap kau bisa melakukan apa yang harus kau lakukan, kuat dan tegarlah....!.Oke kita lupakan Vino, aku punya kabar baik untukmu, managerku sudah menghubungi Edward dan dia mengatur janji untuk bertemu denganku dengan alasan akan memotretku tetapi tentu itu hanya alasan untuk menjebaknya, maksudku bukan aku yang akan menemuinya, tetapi kau juga akan ikut, besok kita pergi menemuinya di salah satu tempat yang sudah disiapkan oleh managerku!"
"Benarkah????"
__ADS_1
Vitto mengangguk. "Ya...! Besok kita akan menemuinya dan kau bisa bertanya tentang Jeany, setelah persidanganmu berakhir, kita akan pergi untuk menjenguk Jeany sesuai janjiku padamu kemarin...!"
"Tapi apa kau yakin Edward tahu tentang Jeany???" Rana bertanya karena meragu.
"Ya, seseorang terdekat Edward memberi tahu jika Edward beberapa kali pergi ke luar negeri untuk menjenguk temannya yang mengalami kecelakaan, itu pasti Jeany...!"
Rana langsung memeluk Vitto sebagai ungkapan kebahagiaannya dan dia mengucapkan terima kasih berkali-kali pada lelaki itu. Vitto selalu membantunya dan bantuannya selalu sesuai dengan apa yang diinginkan. Rana tdak sabar untuk bertemu dengan Edward dan mencari tahu tentang kondiai dan keberadaan Jeany.
Vitto kemudian melanjutkan memberitahu Rana perihal rumahnya yang saat ini sedang disewakan. SRana sempat mengatakan bahwa rumah itu disewakan hanya 5 bulan saja, nyatanya rumah itu disewakan selama 55 bulan atau sekitar 4,5 tahun. Tentu halnitu membuat Rana sangat terkejut, karena dia masih mengingat dengan jelas di surat perjanjian itu bahwa hanya tertulis 5 bulan saja.
Vitto kemudian memberikan salinan dokumen surat perjanjian itu yang didapatkannya dari orang suruhannya. Rana membaca dan dia terlonjak ternyata itu benar tertulis 55 bulan. Vitto pun kembali bertanya pada Rana apakah saat itu Rana salah membaca surat pernjanjiannya sehingga dia hanya melihat sebuah angka 5 bukan 55. Tetapi Rana kembali meyakinkan bahwa itu dulu tertulis 5 bulan. Vitto terkekeh, tidak salah lagi Vino lah yang bertanggung jawab dengan hal ini, dia pasti sudah menyembunyikan satu angka di kertas itu saat memberikannya pada Rana, sehingga Rana mengira bahwa rumahnya hanya disewakan selama 5 bulan saja.
"Tapi bagaimana itu bisa dilakukan? Ini jelas tanda tanganku...!" Ujar rana yang masih terlihat bingung.
"Sangat sederhana sekali melakukan ini, itu memang tanda tanganmu dan tidak ada pemalsuan, dan surat itu sejak awal memang dibuat seperti ini hanya saja sebelum mencetaknya, Vino mengganti warna angka 5 disebelahnya dengan warna putih, jadilah surat itu hanya ada satu angka 5 lalu kau disuruh untuk tanda tangan, mungkin kau tidak terlalu memperhatikan ada ruang renggang di sebelah angka ini, setelah kau tanda tangan, Vino memasukkan surat itu ke printer lagi dan kali ini Vino mengganti seluruh huruf dan angka di monitornya dengan warna putih dan hanya meninggalkan satu angka 5 yang sebelumnya dia ganti putih menjadi hitam, sehingga yang terprint hanya angka 5 itu saja, itu adalah sesuatu yang cukup cerdas ku pikir tetapi sekali lagi kau di bodohi oleh adikku...."
Mendengar penjelasan itu, Rana langsung lemas. Dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Vino ternyata masih meninggalkan kesakitan untuknya bahkan dengan tega menipunya. Rana tahu betul isi perjanjian itu bahwa dia tidak boleh menempati rumah itu sampai batas masa tinggal penyewanya habis, meskipun semisal si penyewa itu sudah pergi dari rumah itu sebelum jatuh tempo. Dan Rana juga tidak bisa mengembalikan uang si penyewa dengan alasan apapun, karena semua sesuai dengan kesepakatan bersama di awal. Yang artinya Rana harus menunggu selama 4,5 tahun untuk bisa kembali lagi ke rumahnya.
"Dia memang keterlaluan sekali.....!! Tapi jangan khawatir Rana, kau bisa tetap tinggal disini sampai kau bisa mendapatkan rumahmu kembali, anggap saja ini adalah kompensasi dari kejahatan yang dilakukan Vino padamu!"
"Tidak Vitto... Aku akan mengurus ke bank mengenai uang tabunganku, dan aku akan menggunakannya untuk mencari tempat tinggal baru sementara..."
"Oh Cmon Rana, uang itu lebih baik kau gunakan untuk membuat tempat usaha baru, mau bilang kau ingin punya cafe bakery kan??? Wujudkan itu, dan Papa juga sudah menyiapkan ganti rugi atas hilangnya tempat usahamu itu, kau tidak bisa menolaknya karena itu memang hak mu dan itu adalah uang ganti rugi, kami akan membantumu dengan baik, tinggallah disini, jangan merasa tidak enak, aku ingin membantumu, aku tidak akan menuntut bayaran, lebih baik disini gratis toh aku punya rumah dan beberapa apartemen lainnya, jadi aku tidak akan mengusirmu...!"
★★★★★
Keesokan harinya, seperti janjinya, Vitto mengajak Rana pergi keluar untuk menemui Edward, si fotografer teman dari Jeany. Vitto dan Rana sampai di apartemen milik manager Vitto, dan ternyata Edward sudah menunggu disana. Vitto masih ingin menjaga Rana dari orang luar, dia tidak mau mengambil resiko baru yang akan membuat Rana tidak nyaman meskipun saat ini Vino sudah memutuskan untuk melepaskan Rana. Bukan Vino yang jadi ke khawatiran Vitto, tetapi wartawan atau orang lain yang bisa saja mengambil potret diam-diam dirinya dan Rana. Jadi untuk mengjindari itu, Vitto tetap mengajak Rana untuk melakukan penyamaran sederhana.
__ADS_1
Vitto masuk lebih dulu ke apartemen milik managernya dan disana memang Edward sudah ada dan sedang duduk bersama managernya. Dengan sopan Vitto menyapa dan menyalaminya. "Sudah lama kita tidak bertemu, terakhir satu tahun yang lalu ya???" Ucap Vitto.
Edward tersenyum. "Ya sekitar satu tahun yang lalu, pemotretan untuk promo film terbarumu...!"
"Hahaha kau masih ingat ternyata, oh iya aku datang dengan temanku, dia sebenarnya yang sengaja meminta kepadaku agar aku bertemu denganmu dan tentu saja dia juga ingin menemuimu...! Ran, masuklah...!" Panggil Vitto.
Pintu terbuka dari luar dan Rana masuk ke apartemen itu. Melihat kedatangan Rana, Edward tentu saja terkejut.Perempuan yang sama, perempuan yang dulu sudah dia bohongi, dia Rana sahabat dari Jeany. Saat itu juga perasaan bersalah Edward pada Rana langsung muncul. Selama ini dia dihantui rasa bersalah karena membohongi Jeany, melukai hati perempuan itu, mengkhianati pertemanan yang sudah lama mereka jalani, dan sekarang dia kembali dihadapkan dengan Rana, perempuan yang juga sudah dia bohongi. Edward tidak tahu apa yang akan dilakukan Rana kepadanya sekarang, entah Rana akan meminta dia mengungkapkan kebenarannya atau bisa saja Rana sudah mengetahui kebohongannha dan akan marah kepadanya.
Rana mendekat dan menyalami Edward. "Hai kita bertemu lagi, apa kabarmu???" Tanya Rana.
"Aku baik....! Senang bisa bertemu lagi denganmu...!"
Vitto kemudian menyuruh Rana dan Edward duduk, dan Rana bisa memulai pembicaraannya dengan Edward.
"Ed... Aku tahu kau sudah membohongiku, kau juga sudah menipu temanmu sendiri, aku mengerti kenapa kau melakukan itu, satu hal yang perlu kau ketahui, karena ucapanmu saat itu aku membuat dua keputusan yang sangat besar yang akan aku sesali selama hidupku...! Yang pertama adalah aku mengakhiri persahabatanku dengan Jeany, dan aku tidak tahu setelah itu dia mengalami kecelakaan, yang kedua aku mengambil keputusan menikah dengan laki-laki yang salah, dan penderitaanku dimulai sejak saat itu... Semua adalah karena dirimu....!" Ucap Rana.
Akan tetapi Rana kemudian mengatakan bahwa itu sudah berlalu dan dia tidak ingin menuntut apapun dari Edward hanya saja dia menyayangkan sikap Edward lalu mencoba memakluminya. Edward pun mengucapkan permintaan maafnya pada Rana berkali-kali dan selalu menyesali hal itu. Terlebih lagi sesaat setelah dia membohongi Jeany dan Rana, dia mendengar kabar bahwa Jeany mengalami kecelakaan yang sangat fatal sekali. Tetapi kabar tentang kecelakaan Jeany dia baru mendengarnya setelah beberapa hari. Saat itu Edward langsung menuju rumah sakit dan bertemu dengan kedua orang tua Jeany yang terlihat sangat sedih melihat kondisi Jeany yang tidak kunjung membaik. Perasaan bersalah dan kekhawatiran juga Edward rasakan, apakah kecelakaan ini ada hubungannya dengan dia yang sudah mengkhianati kepercayaan Jeany yang ingin meminta bantuannya. Rasa bersalah itu terus mengganggu pikiran Edward, setiap hari dia datang ke rumah sakit untuk menjenguk Jeany, hingga akhirnya Jeany dibawa pergi ke luar negeri oleh orangtuanya untuk pengobatan dan perawatan yang lebih intensif disana.
Rana kemudian mulai bertanya kepada Edward tentang kondisi Jeany sekarang, dan dimana sebenarnya Jeany dirawat. Edward pun menyebutkan nama rumah sakit tempat Jeany dirawat, sedangkan untuk kondisi Jeany masih lemah tetapi dia sudah sadar dari komanya 5 hari yang lalu. Edward berkata bahwa ketika dia mendapat kabar Jeany sudah sadar dia tanpa pikir panjang untuk terbang kesana. Sayangnya dia tidak diijinkan untuk bicara dengan Jeany yang masih dalam kondisi lemah serta masih dalam pengawasan dokter. Jeany mengalami luka serius dibagian kepala, beberapa tulangnya patah dan kmcidera kaki kananya juga tidak kalah seriusnya.
"Lalu bagaimana kondisinya sekarang???" Tanya Rana lagi.
"Dia sedikit lebih baik, walaupun masih dibantu oleh beberapa alat yang dipasang ditubuhnya, aku juga masih belum bisa berbicara dengannya atau menjenguknya dalam 2 minggu ke depan, karena banyak pekerjaan yang menungguku disini, jika aku kesana mungkin yang pertama aku lakukan adalah meminta maaf padanya..."
Rana saling berpandangan dengan Vitto. Mereka juga melihat ada kesedihan di mata Edward, kesedihan bercampur penyesalan. Tetapi Vitto juga menemukan hal lain di Rana, dimana Rana saat ini juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Edward.
"Edward...! Rana sangatlah khawatir tentang Jenay ketika dia mendengar kecelakaan itu, dia tidak biaa tenang dan meminta bantuanku agar mencari informasi tentang Jeany, dan kau sudah menjelaskan segalanya sekarang, lalu bolehkah jika Rana datang kesana untuk menjenguk Jeany? Dia juga akan meminta maaf kepada sahabatnya itu...!" Ucap Vitto.
__ADS_1
Edward pun langsung menjawab bahwa bisa saja Rana datang kesana tetapi itu harus mendapat ijin dari kedua orangtua Jeany. Vitto pun kemudian meminta kontak dari orang tua Jenay pada Edward. Tentu hal itu akan dia dan Rana lakukan sebelum datang kesana. Vitto juga meminta kepada Edward agar pertemuan ini tidak di katakan keoada siapapun, Vitto menjelaskan perihal keadaan Rana saat ini yang sedang bermasalah dengan Vino, dan hal itu biaa mempengaruhi keamanan Rana. Edward mengerti dan dia tidak akan mengatakan kepada orang luar mengenai pertemuan ini, dan dia tidak akan mengkhianati Rana untuk kedua kalinya karena yang pertama saja sudah banyak menimbulkan masalah besar. Vitto dan Rana pun mengucapkan terima kasih kepada Edward dan mereka kemudian berpamitan.
Dalam perjalanan kembalii ke apartemen, Rana mulai bertanya pada Vitto kapan mereka akan menjenguk Jeany. Vitto berjanji bahwa minggu depan setelah sidang putusan Rana dan Vino keluar. Dan dia akan langsung mengajak Rana kesana, tetapj tentu tidak bisa sembarangan pergi karena beberapa hal harus Vitto siapkan. Rana mengerti maksud Vitto. Rana kemudian menghubungi orang tua Jeany. Meminta maaf karena dia baru tahu tentang hal itu dan juga meminta ijin bahwa dia akan datang kesana nanti.