
Keesokan harinya. Rana terbangun dengan rasa yang mendera luka bakarnya. Luka itu semakin berwarna merah pudar dan membentuk segitiga seperti bentuk ujung dari setrika. Jika kemarin dia tidak langsung menyiramnya dengan air, Rana yakin bahwa luka itu bisa saja menggembung. Beruntungnya dia sigap dan langsung melakukannya. Wajahnya juga terdapat beberapa bekas memerah mengingat kemarin dia juga disiram kuah panas oleh Vino.
Sambil mendesis karena kesakitan yang durasakannya, Rana kembali menangis dan terisak. Rana tidak tahu apa lagi yang akan dilakukan Vino hari ini kepadanya. Rana takut sekali dan yang diinginkannya saat ini hanyalah bisa keluar dari tempat ini, tetapi Rana tidak tahu apa yang harus dia lakukan, mengingat ruangan ini sangat tertutup, yang bisa dilihatnya dari jenela hanyalah tembok tinggi menjulang dengan kawat berduri diatasnya. Rumah ini juga sangat luas, tetapi Rana sendiri belum tahu ke arah mana jika semisal ada kesempatan untuknya akan pergi.
Rana menyeka airmatanya dengan kasar lalu beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Rana menggosok giginya dan menatap wajahnya dicermin lalu kembali menangis. Rana teringat dengan Ibunya yang dulu penuh dengan kasih sayang dan selalu mendoakan kebahagiaannya agar kelak mendapatkan suami yang mencintainya dengan sepenuh hati dan melimpahkan kebahagiaan untuknya tetapi sekarang dia justru bernasib seperti ini.
Rana kembali menyeka airmatanya lalu mandi. Rana berhati-hati ketika mandi dan menghindarkan tangannya yang terluka dari air.
Ketika selesai mandi, Rana berganti pakaian di dalam kamar mandi juga mengingat sangat tidak mungkin dia mengganti pakaiannya di kamar itu. Ketika keluar dari kamar mandi, ternyata ada pelayan yang sedang berada di kamar itu. Pelayan yang sama yang setiap hari mengantar makanan untuknya dan saat ini pelayan itu sedang membersihkan kamar itu, dan juga ada lipatan sprei serta bed cover baru. Rana tahu bahwa pelayan itu pasti juga akan mengganti sprei nya.
Rana memilih acuh dan tidak mengatakan apapun karena tahu bahwa pelayan itu sangatlah ketus, dan dia masuk kesini pasti karena suruhan dari Vino. Rana memilih duduk di depan meja rias dan menyisir rambutnya.
"Saay tidak membawa makanan kesini marena Tuan Vino menunggu anda di ruang makan, jadi silakan turun!" Ucap Pelayan itu pada Rana.
Rana terhenyuk, Vino menunggunya untuk sarapan. Rana sangat takut untuk menemui lelaki itu. "Tidak bisakah kau membawa sarapanku kesini saja, aku ingin sarapan disini saja...!" Jawab Rana. Dia hanya ingin menghindari bertemu dengan Vino, takut hal buruk terjadi lagi.
"Ketika Tuan Vino meminta sesuatu lebih baik turuti saja, dan jangan pernah menolaknya. Jangan membuatnya lebih marah lagi kepadamu, atau dia akan semakin murka dan penderitaanmu akan datang lagi....!" Ucap pelayan itu dengan suara yang ketus seperti biasanya.
Benar juga.
Itulah yang muncul di pikiran Rana saat ini. Dia ingin sekali menghindari Vino tetapi bukan hal yang bagus juga untuk tidak menuruti keinginan lelaki itu. Meskipun takut dan meragu, Rana pun beranjak dari depan meja riasnya dan perlahan melangkah keluar dari kamar itu untuk menemui Vino di bawah. Ini kesempatan yang bagus untuk Rana melihat-lihat suasana rumah ini, dan berharap bisa menemukan jalan untuk kabur dari tempat ini.
Rana kemudian menuruni tangga dan dia bisa melihat Vino sedang duduk di ruang makan sendirian dan sedang memainkan ponselnya. Rana mulai berkeringat dingin karena takut dan dalam hatinya dia tidak berhenti berdoa agar Vino tidak lagi memperlakukannya dengan buruk seperti kemarin. Rana juga bersyukur tadi dia belum sempat menggunakan krim di luka bakarnya.
__ADS_1
Ketika Rana mendekat, Vino meletakkan ponselnya dan melempar senyum ke arah istrinya itu kemudian mempersilahkannya untuk duduk. Rana diam tetapi dia menuruti apa yang Vino katakan. Dia menarik kursi makan dan duduk tetapi matanya enggan menatap Vino.
"Bagaimana lukamu???" Tanya Vino sambil terkekeh. Pertanyaan itu seolah mengejek Rana.
"Aku tidak tahu harus menjawab apa, karena tidak ada yang memeriksa lukaku...!" Jawab Rana.
Mendengar jawaban Rana, Vino tertawa. "Aku sudah bilang bahwa jangan mencoba menentangku, itulah akibat yang akan kau dapatkan"
Vino kemudian melemparkan sesuatu kepada Rana. 2 kotak salep atau krim untuk mengobati luka bakar Rana. "Obati lukamu dengan itu agar lekas sembuh..!" Ujar Vino dengan entengnya.
Mendapatkan itu, Rana mengernyit didalam hatinya. Vino yang membuat luka itu dan lelaki itu sendiri yang justru memberinya obat. Ingin sekali Rana mencela Vino, tetapi Rana tentu tidak ingin menambah lagi masalahnya dengan ellaki itu.
"Terima kasih!" Ucap Rana kemudian.
Rana sebenarnya tidak berselera makan, dan dia sedikit khawatir dengan sikap tenang Vino. Rana khawatir juga Vino kembali merencanakan sesuatu, tetapi Rana tidak mau membuat masalah lagi, dia pun mencoba menikmati sarapannya dengan Vino.
Vino menatap Rana yang sedang menikmati sarapan dalam diam. Vino tersenyum-senyum sendiri. "Aku tidak akan lagi mengurungmu dikamar itu, dan aku akan membebaskanmu beraktifitas di dalam rumah ini....!" Gumam Vino.
Rana langsung mengangkat kepalanya dan memandang Vino. Dia mencoba mencari kebenaran pada ucapan laki-laki itu. Tetapi Rana tidak langsung merasa senang karena dia takut ada hal besar yang sedang disiapkan oleh Vino untuknya yang justru akan lebih melukainya. Rana bersikap biasa saja dan tidak menanggapi apapun, dia melanjutkan sarapannya tanpa mempedulikan ucapan Vino.
"Kau diam saja, apa kau tidak suka aku memberimu kabar baik seperti ini??? Kau senang ya di dalam kamar itu???" Tanya Vino.
"Terima kasih....!" Jawab Rana singkat.
__ADS_1
"Kau bisa bebas melakukan apapun disini, aku tifak akan mengurungmu lagi tetapi ingatlag satu hal, jangan lernah kau mencoba mencari jalan untuk kavur dari tempat ini, karena itu percuma saja....! Ada oenjaga diberbagai sudut yang akan mengawasimu, dan tembok beton disini terlalu tinggi untuk bisa kau lewati hahaha...!"
Rana sudah menduganya sejak awal bahwa pasti tidaklah mudah ntuk menembus rumah ini. Vino pasti tidak akan membiarkannya melenggang dengan mudah. Tetapi Rana bisa sedikit bernapas lega jika Vino sudah memberinya kebebasan di rumah ini, itu artinya Rana bisa sedikit mempelajari tentang rumah dan keamanan disini. Tetapi kemudian Rana teringat dengat Bakerynya, tempat usahanya selama ini.
"Aku ingin bertanya sesuatu, dan ku harap kau tidak marah kepadaku....!" Tanya Rana pada Vino.
"Tergantung pertanyaanmu, kalau pertanyaan itu berhubungan dengan perceraian atau tentang pernikahan ini, aku sudah pasti akan marah dan lansung menghukummu...!" Jawab Vino.
Mendengar itu Rana menelan makanannya dengan seret dan ketakutan sekali lagi melingkupinya. Rana menggelengkan kepalanya dan mengatakan tidak jadi bertanya. Vino justru kembali tertawa dan meminta Rana agar segera mengatakan apa yang ingin dia katakan.
"Kau sangat tahu bahwa aku memiliki bisnis, jika kau terus mengurungku disini lalu bagaimana dengan hisnisku itu????" Tanya Rana.
"Lupakan bisnismu itu, uangku cukup banyak untuk bisa menghidupi istri bodoh sepertimu, jadi kau tidak perlu repot-repot dengan bisnis ecek-ecek yang tidak menghasilkan apapun itu....!" Cela Vino.
"Terserah kau mau mengatakan apapun hal buruk tentang bisnisku tetapi itu bisnis peninggalan keluargaku yang harus aku jaga....! Kumohon setidaknya mengertilah tentang hal itu...!"
Vino tersenyum dan melemparkan sebuah koran tepat di wajah Rana. " Bisnis apa yang sedang kau bicarakan sejak tadi??? Apa bisnis milikmu yang sekarang jadi headline di koran itu??" Ucap Vino.
Rana mengernyit dan Vino menyuruhnya untuk membaca koran itu.
"CHERRY'S BAKERY di Ujung Jalan Veteran Terbakar hebat semalam"
Begitulah judul dari sebuah berita yang ada di kiran itu. Membaca itu Rana langsung shick karena dari fotonya itu adalah bakery miliknya. Dan tidak lagi menyisakan apapun disana.
__ADS_1
Rana ternganga dan terkejut sekali membaca berita itu. Semuanya benar-benar habis tidak bersisa. Tempat usaha warisan Ibunya sudah tidak lagi berbentuk. Ditengah ketegangan Rana, Vino justru tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Rana. Rencana Vino kali ini berhasil lagi yaitu menghancurkan bisnis Rana, Vino sangat puas sekali dengan hal ini.