
"Rana sayang....! Aku pulang....!" Vitto masuk ke dalam rumah, dan Rana menengok ke belakang.
Perempuan itu sedang sibuk merapikan buku-buku juga beberapa vas serta hiasan di rak dan meja yang ada dilorong. "Kau sudah pulang... Bagaimana harimu???" Tanya Rana.
Vitto tersenyum menghampirinya dan mengecup dahi Rana. "Membosankan.....!" Jawab Vitto.
"Membosankan???? Bagaimana bsa membosankan??? Bukankah ini hari pertamamu bertemu dengan sekretaris barumu??? Dia cantik, cerdas, intelektual dan luar biasa??? Itu yang dikatakan Vino kemarin.. Lalau kenapa kau malah bilang membosankan??? Bohong ya???"
Rana berlalu dan berjalan menuju dapur, membuka kulkas menuang air putih untuk Vitto. Sedangkan laki-laki itu mengikutinya di belakang. "Itu kan Vino yang bilang, bukan aku.. Lagipula itu tidak sesuai dengan bayanganku...!" Gumam Vitto sambil menarik kursi dan duduk lalu meminum air dari Rana.
"Tidak sesuai bayanganmu??? Oh....! Apa dia tidak cantik atau kurang cantik???"
Vitto terkekeh. "Kenapa ekspresimu seperti itu???? Hahaha bukan tidak cantik atau bagaimana, semua yang dikatakan oleh Vino itu memang benar, hanya saja aku tidak menyukai pilihan Adikku itu...!"
"Kenapa???" Tanya Rana penasaran.
"Aku tidak menyukainya, kau pasti tahu kan jika di kesan pertama aku tidak menyukai seseorang maka aku akan sulit untuk beradaptasi dengannya...!"
"Ya kenapa tidak menyukainya? Pasti ada alasannya, tidak mungkin tiba-tiba kau tidak menyukai orang itu... Apa dia genit???"
Mendengar pertanyaan Rana itu Vitto tertawa terbahak-bahak. Vitto mengerti, insting perempuan itu kuat, dan dia tidak akan bisa berhenti bertanya jika tidak diberikan jawaban yang pasti.
Vitto menghela napasnya kemudian tersenyum. "Alasan kenapa aku tidak menyukainya adalah karena sikapnya dulu tidak baik, jadi dulu aku pernah mengenalnya...!"
"Kau mengenalnya???"
__ADS_1
Vitto mengangguk. Kemudian dia menjelaskan semuanya kepada Rana siapakah Devica itu dan apa hubungannya dulu dengan perempuan itu. Serta alasan kenapa dia tidak menyukai Devica dan kesal karena harus berhadapan lagi dengan orang seperti Devica. Vitto menganggap bahwa Devica itu tidak jauh beda dengan Angel, menyebalkan, seperti ular juga selalu melihat apapun dari materi. Vitto berharap juga Rana nantinya tidak salah paham. Vitto tidak bisa menolak keputusan dari Vino dan dia juga akan mencoba menerima Devica untuk sementara.
"Apa kau sekarang tidak menyukainya karena masih menyimpan dendam???" Tanya Rana lagi.
"Tidak sayang...! Aku bukan tipikal orang yang pendendam, tetapi aku memang tidak menyukainya saja...!"
"Kau sekarang sudah berbeda dari dulu, kau juga tidak boleh suudzon terhadap dia, manusia kan bisa berubah...!"
Vitto tersenyum, memegang kedua tangan Rana dan mengecupnya. "Ya aku akan melihatnya nanti...! Aku mandi dulu ya???"
Rana mengangguk. "Iya, pergi mandi dan aku akan siapkan cemilan! Oh iya kau akan makan malam disini atau makan malam di rumah???"
"Aku sebenarnya ingin makan malam denganmu dan menghabiskan waktu denganmu karena besok aku harus pergi, tetapi dirumah, Vino pasti akan menghujaniku dengan banyak pertanyaan, jadi aku akan pulang....!" Jawab Vitto pelan.
"Vitto pergi kemana, kenapa dia tidak oernah langsung pulang ke rumah...!" Gerutu Vino saat memasuki rumah Vitto. Dia baru saja pulang bersama Papanya tetapi tidak menemukan mobil Vitto ada di rumah padahal tadi Vitto pulang lebih dulu.
Vitto selalu pulang malam dan entah apa yang sebenarnya di kerjakan oleh kakaknya itu.
"Kakakmu juga punya pekerjaan lain Vin, mungkin dia ada urusan dengan manajemennya atau bertemu dengan managernya... Biarkan saja... Jangan terlalu ikut campur dengan urusannya, biarkan saja...!"
"Aku tidak ikut campur Pa, tetapi setidaknya dia menggunakan waktunya untuk beristirahat, selalu saja begitu...! Kenapa dia tidak menyayangi tubuhnya dengan baik, ke gunung lah, travelling lah, ya boleh-boleh saja tetapi dia tidak pernah pergi liburan untuk menenangkan dirinya malah naik gunung, malah bikin capek...!"
"Sudah sudah...! Kau ini menggerutu saja...!"
Vino membawa Papanya ke kamarnya. Dia sebenarnya perlu mengobrol dengan Vitto mengenai keberangkatan mereka besok serta persiapan semuanya tetapi Vitto seharian ini tidak menemuinya selain tadi pagi menolak sekretaris baru yang diberikannya. Vitto keluar ruangannya dengan wajah kesal. Kakaknya itu memang aneh, dan sama sekali tidak bisa ditebak, juga selalu bersikao sesuka hati. Entah kapan Vitto bisa berubah dan tidak terus bersikap kekanak-kanakan.
__ADS_1
★★★★
Selesai mandi, Vitto kembali memakai pakaiannya yang tadi dia gunakan ke kantor. Itu yang dilakukannya sejak beberapa hari kemarin. Vitto harus terlihat seperti sebelumnya dan jika dia mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa yang ada Vino menjadi curiga. Vitto menuruni tangga menuju halaman belakang yang terhubung dengan ruang keluarga dimana Rana berada disana.
Sampai di ruang keluarga, Vitto duduk di sofa disebelah Rana. "Sedang membaca buku apa??? Serius sekali???" Tanya Vitto.
Rana meletakkan bukunya di atas kedua pahanya dan tersenyum menoleh kearah Vitto. "Ini buku yang kita beli kemarin, tadi sudah datang! Kau akan pulang sekarang???"
"Tidak, nanti saja, aku masih ingin bersamamu...!" Vitto merangkul Rana dengan gemas.
"Kau pasti butuh persiapan untuk berangkat besok, harusnya kau pulang sekarang saja...!"
"Penerbang besok siang sayang, aku masih ada waktu, lagipula hanya 2 hari satu malam kok.... Jangan kemana-mana dan dirumah saja selama aku pergi, jangan terima tamu sembarangan, aku sudah menyuruh Tania agar tidak pulang dan menemanimu disini, suruh dia tidur di kamar tamu!" Ujar Vitto.
Vitto memang harus memastikan semua keamanan Rana sebelum dia pergi. Walaupun berat meninggalkan Rana tetapi ini demi bisa memulai rencana penjebakkannya pada Angel. Dan pertemuan serta kerja sama itu akan berdampak besar nantinya jika berhasil. Vitto pun meminta Rana mendoakannya dan Papa serta Vino agar semuanya lancar dan sesuai harapan.
"Tentu saja, aku akan mendoakan kalian, setiap niat baik pasti akan berjalan baik juga...!" Gumam Rana.
"Aminn....!"
Vitto tersenyum bahagia, di tatapnya Rana dalam-dalam. Binar kebahagian terlihat jelas di wajahnya. Rana yang sangat dicintainya kini sudah mengikat hatinya dan Rana menerimanya meskipun Rana bekum membalas cintanya tetapi Vitto tetap merasa bahagia dan akan menunggu jawaban dan pernyataan balasan cinta dari perempuan itu.
Vitto memegang kedua bahu Rana, menghadapkan ke arahnya kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Rana lalu mengecup dahi Rana, detik itu juga Rana memejamkan matanya menikmati kecupan hangat dari bibir Vitto. Bibir Vitto kemudian beralih mengecup pipi Rana, mengecup bibir perempuan itu dengan kecupan ringan yang lembut. Turun ke leher Rana dan kembali naik lagi ke Pipi, Bibir, hidung dan ke dahi lagi. Vitto melakukannya berulang-ulang dan mereka berdua menikmatinya hingga akhirnya Vitto mengecup lagi bibir Rana, menggigitnya lembut menunggu balasan dari Rana. Seolah mengerti, Rana akhirnya membalas ciuman Vitto.
Dengan pelan Vitto mendorong tubuh Rana ke belakang hingga Rana berbaringi diatas sofa, dan kembali berciuman panas. Saling mencecap rasa hangat di bibir satu sama lain. Vitto tetap berusaha menahan tubuhnya agar tidak menjadi pemberat di atas tubuh Rana, mengingat Rana saat ini sedang hamil. Mereka hanyut dalam ciuman yang panas itu cukup lama sekali sampai kemudian Vitto mengangkat kepalanya dengan napas terengah. Vitto tidak boleh lepas kendali, dan harus menjaga batasannya. Dia tidak mau Rana menganggapnya tidak sopan atau merasa direndahkan, meskipun sebagai laki-laki normal dia merasa ada yang mulai mengganjal di dirinya. Rana harus merasa nyaman dengan hubungan ini. Dan Vitto harus benar-benar bisa menahan diri, kecuali jika nanti Rana sendiri yang memintanya atau memberinya ijin melakukannya, tetapi tentu itu tidak akan pernah terjadi sebelum mereka terikat dalam suatu pernikahan. Vitto hanya perlu bersabar untuk bisa meyakinkan Rana bahwa cinta yang dimilikknya sangat besar, sehingga Rana todak merasa ragu dan tidak merasa di jebak.
__ADS_1