
Ketika Rana sudah sampai di titik akan kehilangan kesadarannya, terdengar ceburan lain di kolam.
Tak lama kemudian, sebuah lengan yang kuat merengkuhnya dan mengangkat tubuhnya, lalu membawanya ke permukaan. Tubuh lemas Rana dibaringkan di lantai di pinggiran kolam, lalu dia merasakan perutnya di tekan dengan ahli hingga aliran air yang tertelan keluar.
Rana memuntahkan banyak air dan terbatuk-batuk kesakitan. Paru-parunya masih terasa begitu sakit dan nyeri Siapakah penolongnya? Apakah dia memang belum diizinkan mati? Tangan kuat itu terus menekan hingga seluruh cairan terpompa keluar dari perut Rana. Mata Rana mulai buram, kesadarannya semakin hilang, ketika suara itu terdengar tenang di atasnya,
“Sadarlah....!!" Ucap Vitto sambil menepuk-nepuk pipi Rana.
Ya, Vitto tiba-tiba saja datang ke villa milik keluarganya ini untuk berlibur dan menikmati suasana tenang disini. Sayangnya saat masuk Vitto dikejutkan dengan tembok beton tinggi yang menutupi villa ini karena sebelumnya ini tidak ada. Dan villa ini juga terlihat tidak menarik lagi. Vitto langsung menyadari jika Vino berada disini mengingat di halaman depan ada mobil adiknya itu. Tetapi baru saja dia masuk ke dalam, tiba-tiba dari area belakang terdengar suara teriakan dan seorang perempuan jatuh dari atas yang langsung tercebur ke kolam renang. Vitto langsung berlari dan ikut menceburkan diri ke kolam renang menyelamat perempuan itu.
Dengan sigap Vitto membawanya ke tepi kolam renang Vitto mengernyit ketika menyadari siapa perempuan ini, karena Vitto sebelumnya seperti pernah melihatnya tetapi dia masih belum begitu ingat dimana dia pernah melihat Rana.
Rana masih tidak sadarkan diri, Vitto akhirnya memberi napas buatan agar Rana lekas membuka matanya. Vitto tidak sengaja melihat ke arah tangan Rana yang ada luka bakar. Dari bentuknya Vitto langsung tahu itu luka bakar akibat dari setrika.
"Bagaimana bisa dia meletakkan setrika di tangannya...!" Gumam Vitto.
Vitto mencoba menepuk-nepuk pipi Rana sampai akhirnya Rana membuka matanya dan terbatuk-batuk. Rana merasa dada nya sangat sakit sekali, dia terlalu banyak menelan air. Rana menatap Vitto dalam diam, dan mencoba untuk menenangkan dirinya.
"Bagaimana kau bisa terjatuh dari atas?? Apa kau tidak berhati-hati??? Bersyukurlah kau jatuh dikolam renang, kalau kau jatuh di tanah sudah habis pasti...!" Ucap Vitto.
Rana ingin menjawab tetapi dia masih tidak sanggup melakukannya. Dada nya sangat sakit sekali.
"Dada mu pasti sakit, kita ke dokter ya???"
"Tidak perlu....!" Sahut Vino dari belakang.
__ADS_1
Vitto langsung menoleh dan mendapati adiknya berjalan ke arahnya, dan di belakang Vino ada Angel. Ternyata Angel baru saja sampai di tempat ini, dan dia sangat terkejut ketika akan masuk dan memanggil Vino, dia malah mendapati ada Vitto yang duduk berjongkok di tepi kolam renang. Angel dan Vino tidak tahu jika ternyata Vitto ada disini, mereka sebenarnya panik takut Rana mengatakan semuanya tetapi mencoba bersikap tenang.
"Aku dan Angel sedang bermain-main tadi, dan Rana kalah jadi dia harus menceburkan dirinya dari atas ke kolam renang sebagai hukumannya...!" Ungkap Vino dengan santainya, tetapi mata Vino mengarah ke Rana menatapnya dengan penuh ancaman. "Benarkan Rana??? Tadi kita hanya bermain-main???" Tanya Vino.
Vitto melirik ke arah Rana dan perempuan itu langsung mengangguk, tetapi tentu saja Vitto merasa ada yang tidak beres disini. Vino kemudian menyuruh Angel agar membawa Rana ke kamar sebagai antisipasinya untuk menghindari kecurigaan Vitto.
"Dia menelan banyak air, dan dia harus diperiksa oleh dokter, bagaimana bisa kau melarangku membawanya...!"
Vino mendekat ke Rana dan mencoba memeriksa wajah Rana sambil terus menatap Rana dengan tajam penuh ancaman. "Ah iya sepertinya memang harus dibawa ke dokter... Angel kau bawa Rana ke klinik di dekat sini, Vitto pasti lelah, aku akan menyambutnya disini....!"
Angel tersenyum dan mengangguk, kemudian Vino menyuruh Rana berdiri. Angel pun membawa Rana pergi dari halaman belakang dan keluar dari villa. Sementara Vino mengajak Vitto untuk kembali masuk dan mengobrol di ruang tamu.
Angel membawa Rana masuk ke dalam mobilnya. Rana terlihat cukup lemah. Angel kemudian mengajak seorang penjaga untuk mengemudikan mobilnya dan mengajak Rana keluar dari villa itu. Mobil belum juga keluar dari halaman depan, Rana sudah kembali pingsan. Angel merasa ini sebeuah keberuntungan karena jika Rana tidak sadarkan diri itu akan membuat Rana tidak tahu dia sedang berada dimana, tetapi tidak ingin kecolongan, Angel mengambil scarfnya dari dalam tasnya dan menutup mata Rana dengan itu. Mobilnya pun meninggalkan villa Vino.
Vino mempersilahkan Vitto duduk dan menyuruh pelayan untuk membuatkan minuman. Sementara itu Vitto seperti tidak peduli dengan kebaikan yang coba ditunjukkan oleh adiknya, dia masih merasa ada hal yang tidak benar sedang terjadi.
"Aku sudah menunggumu dirumahmu beberapa hari tapi kau tidak pulang kesana...! Dan ternyata kau disini...! Sedang apa kau disini...!" Tanya Vitto.
"Aku sedang berlibur disini!"
"Kau berlibur disini atau di luar pulau???"
Vino terkekeh. "Aku memang kemarin berlibur di luar pulau, dan aku memutuskan untuk melanjutkannya disini....!"
"Siapa gadis itu?? Kenapa kau membiarkannya jatuh ke kolam renang? Apa kau tidak berpikir bahwa dia memiliki nyawa, dan dia juga tidak bisa berenang....!" Vitto langsung menghujani Vino dengan banyak pertanyaan mengenai Rana, karena dia masih tidak bisa berhenti berpikir bagaimana bisa Rana terjatuh dari lantai dua yang sangat tinggi.
__ADS_1
"Dia Rana, temanku dan temannya Angel... Aku sudah mengatakan tadi bahwa kami sedang bercanda dan bermain, Rana melakukannya atas keinginanya sendiri, aku pikir dia sepertinya berpura-pura saja tidak bisa berenang padahal sebenarnya dia bisa berenang kok...!" Timpal Vino.
Vitto tidak merespon apapun. Dia kemudian teringat dengan Rana, gadis itu adalah gadis yang dulu pernah dia lihat saat di pesta yang diadakan oleh Vino. Gadis yang tidak sengaja dia tabrak juga Vitto masih mengingat dengan jelas bahwa Rana mengembalikan barang pemberian dari Vino. Ya, itu adalah gadis yang sama. Vitto semakin menaruh kecurigaan pada adiknya itu. Vino terlihat jelas sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Luka apa ditangannya itu? Bukankah itu luka terkena setrika yang panas? Bagaimana bisa dia mendapatkan luka itu?" Tanya Vitto lagi, mencoba menelisik untuk menemukan sesuatu dari adiknya.
Vino mengernyit, sadar bahwa kakaknya sedang mencoba memancingnya, dia harus berhati-hati dengan jawaban yang akan dia berikan karena Vitto sangat pandai dan tidak mudah untuk dibodohi. Vitto pasti saat ini curiga kepadanya setelah melihat Rana tenggelam. Vino benar-benar tidak menyangka jika Vitto bisa datang dan masuk dengan mudahnya di villa ini padahal penjaga sudah ada di depan. Vino akan memberi pelajaran kepada para penjaga di depan karena sudah teledor membiarkan Vitto masuk tanpa memberitahunya lebih dulu.
"Aku tidak tahu, dia bercerita kalau dia sedang menyetrika baju, dan setrikanya sudah dia berdirikan tiba-tiba saja setrika itu jatuh tepat di atas punggung tangannya...!"
"Kenapa kau membuat villa ini menjadi seperti rumah tahanan, tembok beton mengelilinginya membuat sirkulasi udara menjadi tidak baik....! Kau tahu kan bahwa villa ini di fungsikan untuk menikmati hawa sejuk serta pemandangan alam, tetapi kenapa kau merubahnya menjadi seperti ini? Apa yang ada di pikiranmu???" Tanya Vitto lagi. "Kau sadar tidak dengan apa yang kau lakukan ini?"
"Aku hanya ingin privasi saja...!" Jawab Vino.
"Privasi apa yang kau bicarakan? Villa ini sudah memiliki semua itu, dan ini tempat ternyaman yang dimiliki keluarga kita, dan kau seenaknya saja merubahnya menjadi seperti ini tanpa bertanya padaku atau kepada Papa...!"
"Sudahlah Vit, jangan menghujaniku dengan pertanyaan tidak berguna itu.... Lagipula apa pentingnya aku meminta ijinmu atau ijin Papa, kalian juga tidak pernah ada disini setiap waktu...!"
Vitto nenar-benar tidak puas dengan seluruh jawaban dari adiknya. Vitto harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan jawaban yang benar tentang apa yang saat ini tengah coba disembunyikan oleh Vino.
Pelayan datang membawa nampan berisi minuman. Vitto kemudian menyuruh pelayan itu agar mengambil kopermya yang ada di bagasi mobil serta menyuruh untuk menyiapkan kamar untuknya.
Mendengar itu Vino terperanjat. "Kau ingin menginap disini???"
"Iya, memangnya kenapa??? Tidak boleh? Bukankah ini milik kita berdua? Dan kenapa ekspresimu terkejut sekali... Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu yang besar disini sehingga kau seperti ingin menolakku...!"
__ADS_1
Vino langsung tersenyum. "Ah tidak.... Tidak... Bukan begitu, kau tentu saja boleh tinggal disini ini milikmu juga..."
Vino kemudian menyuruh pelayannya untuk segera naik dan menyiapkan kamar untuk Vitto. Vino tidak ingin Vitto semakin curiga padanya jika dia menolak keinginan kakaknya itu, tetapi Vino sebenarnya bingung dan takut sekali bahwa Vitto akan mengetahui kedoknya bahwa dia menyekap Rana disini. Vino juga takut Rana akan mengatakan semuanya kepada Vitto dan itu akan merusak segalanya. Inilah ketakutan Vino selama ini, takut Vitto akan merusak segalanya jika kakaknya itu kembali pulang mengingat Vitto adalah orang yang menentang keras seluruh rencananya untuk balas dendam. Vino yakin jika Vitto mengetahui semua ini, Vitto pasti akan marah besar kepadanya dan mungkin Vitto akan menghajarnya.