
Tepat sekali ketika Vitto sampai di kantor, Papanya sudah bersiap untuk pulang karena memang sudah jam 4 sore. Vitto mendorong kursi roda sang Papa untuk mengajaknya keluar dan pulang. Saat keluar, 2 pengawal Papa Vitto pun mengikuti dari belakang, itu adalah pengawal suruhan dari Vino, Vitto harus menghentikannya jika tidak mungkin mereka akan mengikuti sampai rumahnya.
Vitto menoleh ke belakang menatap keduanya. "Kalian berdua pulang saja, jam kerja kalian sudah berakhir, aku yang akan mengurus Papa, dia akan tinggal di rumahku jadi kalian tidak perlu mengikutinya sampai rumahku, disana Papa akan ada dalam pengawasanku, pulanglah dan besok pagi kembalilah kesini langsung, aku akan mengantar Papa ke kantor dan menjemputnya....!" Ucap Vitto.
Kedua pengawal itu saling berpandangan, meragu dengan perintah Vitto. Papa Vitto tersenyum kepada keduanya. "Kalian pulang saja, aku akan baik-baik saja dalam pengawasan putraku, pulanglah....! Rumahnya juga akan aman....!" Gumam Papa Vitto kepada kedua pengawalnya. Dia mengerti jika saat ini Vitto butuh privasi dan sedang bersama dengan Rana.
Kedua pengawal itu pun mengangguk dan berpamitan untuk pulang. Vitto kembali mendorong kursi roda Papanya.
"Kau ingin Papa tinggal di rumahmu saja saat adikmu pergi???" Tanya Papanya.
"Memangnya kenapa??? Papa tidak mau tinggal bersamaku???"
"Tidak... Bukan begitu....!"
"Bukannya apa-apa, Vitto tidak mau sesuatu terjadi pada Papa, kita tidak bisa menjamin Mama tidak akan kembali lagi untuk menemui Papa atau Vino, di rumah Vitto, Papa akan aman karena tidak sembarang orang bisa masuk tanpa ijinku... Pakaian Papa sudah di kemas dan diantar kesana, aku sudah menyuruh Roy untuk mengambilnya di rumah...!" Ujar Vitto menjelaskan.
"Bagaimana liburanmu???"
Vitto tersenyum kemudian memencet tombol lift. "Sangat menyenangkan, Aditya memiliki villa yang bagus dan dia serta istrinya sangat welcome ..!"
"Temanmu itu sangat baik sekali....! Kapan-kapan kita harus ke rumahnya, Papa juga sudah lama tidak bersua dengan tuan Harry....!"
"Kita pasti akan kesana Pa....! Kita cari waktu nanti...!"
__ADS_1
Pintu lift terbuka, Vitto dan Papanya masuk.
***
Dalam perjalanan pulang, sambil berfokus mengendarai mobil, Vitto kembali membahas rencana untuk menjebak Angel dengan Papanya. Ternyata langkah pertama sudah di ambil sang Papa yaitu persiapan menjalin kerja sama dengan pria yang di pergoki Vitto sedang bersama Angel kemarin di Singapura. Papa Vitto sudah memiliki ide akan melakukan rencana kerja sama apa yang cocok tetapi tentu itu baru pemikirannya dan niatnya saja, dia harus menunggu Vino untuk persetujuannya. Karena ini harus berjalan dengan baik dan secara formal yang menghasilkan keuntungan dari kedua perusahaan, meskipun ada niat lain dibalik itu semua. Pria itu terlibat, Vino terlibat dan keduanya akan menjadi umpan untuk menjerat Angel.
Dan untuk melakukan penawaran kerjasama itu, harus ada yang datang ke Singapura tepatnya di perusahaan yang di pimpin oleh pria itu. Semua persiapan harus dilakukan saat Vino sudah kembali.
Vitto setuju-setuju saja dan menyerahkan segalanya kepada Papanya, hanya saja Vitto meminta kepada Papanya agar sementara ini berfokus dulu pada perceraiannya dengan sang Mama. Itu bisa diurus setelahnya karena akan lebih baik jika urusan Mamanya segera di akhiri. Minggu depan pendaftaran gugatan cerai itu akan diurus oleh pengacara dan tinggal menunggu untuk jadwal sidangnya saja.
Papa Vitto kemudian membahas tentang rencana Vitto mengenai pembangunan rumah untuk Rana. Vitto menjelaskan jika lusa dia akan bertemu lagi dengan Ariel untuk melihat beberapa lokasi, juga akan bertemu dengan arsitek yang dipercaya oleh ariel. Lokasi cocok, dia akan langsung menjelaskan entang konsep rumah yang diinginkannya pada arsitek itu. Jika semua sudah beres tentu Vitto tidak ingin menunggu terlalu lama lagi untuk pembangunanya, sehingga bisa di tempati Rana sebelum melahirkan.
Papa Vitto pun memuji sikap dan keputusan yang diambil oleh Vitto, putranya bergerak cepat untuk mengatasi permasalahan yang ada, yang disebabkan oleh Vino. Vitto memilih orang yang tepat untuk membantunya. Dimana perusahaan Ariel memang ahli dibidang itu dan orang-orang yang bekerja disana sangatlah profesional dan berpengalaman sehingga tidak perlu di ragukan lagi kemampuannya.
"Vitto...! Apa kau akan memiliki kesibukkan setelah syuting film mu berakhir kemarin???" Tanya sang Papa.
"Pemotretan tidak akan memakan waktu banyak kan???" Tanya Papanya lagi.
Vitto tersenyum. "Tidak Pa, untuk satu brand paling lama 2 hari itupun tergantung tema dan kondisi yang diinginkan, serta hal lainnya, memangnya kenapa???"
"Kau ada niatan untuk mendaki gunung dalam waktu dekat???"
Vitto menggeleng, dia saat ini ingin fokus menjaga Rana selama hamil sampai melahirkan, sehingga niatnya untuk travelling dan mendaki gunung itu dia undur sampai waktu yang tidak ditentukan. Mengingat Vitto masih bisa melakukannya kapan-kapan lagi. "Papa dari tadi tidak menjawabku dan terus saja bertanya, memangnya ada apa???" Tanya Vitto lagi.
__ADS_1
"Jika kau tidak terlalu sibuk, bantulah Papa di kantor, kita bisa kerja sama untuk melakukan rencana itu, Vino juga pasti senang kalau kau bersedia bergabung di perusahaan.. Ini perusahaan keluarga kita, kau bisa membantu saat waktumu luang, dan kau bisa libur ketika kau sibuk dengan kegiatan entertainmu...!"
Vitto langsung terdiam mendengar usulan Papanya. Sejak dulu dia sangat tidak menyukai permintaan seperti ini. Ya, Vitto memang pernah mengambil kuliah jurusan manajemen dan bisnis saat di London dulu, tetapi dia berhenti di semester oertama dan memilih jurusan lain. Vitto melakukan itu atas permintaan Papanya kala itu, hatinya tidak benar-benar menyukainya meskipun pada akhirnya dia berhenti di tengah jalan dan memilih jurusan lainnya. Sedikit-sedikit sebenarnya dia tahu tetapi tidak tertarik sama sekali.
"Vit....! Papa tahu kau punya banyak uang dari pekerjaanmu dan juga uang hasil pembagian aset antara kau dan Vino, uang itu lebih dari cukup untuk menghidupimu seumur hidup tetapi, perna kah kau berpikir bahwa kelak kau juga akan memiliki istri serta anak? Kau pasti ingin anakmu menempuh pendidikan yang terbaik, dan itu juga biaya, dunia entertain tidak selamanya akan menjadi milikmu, kau juga harus punya bisnis diluar semua itu...!" Ujar Papa Vitto tetapi Vitto hanya diam saja.
Tidak ingin menyerah untuk membuka cara berpikir putranya, Papa Vitto pun kembali bergumam dan menjelaskan pada Vitto bahwa nanti ketika Vitto sudah menikah dan memiliki anak, dunia Vitto akan berubah sekali. Vitto tidak akan ada waktu lagi untuk memikirkan bersenang-senang atau travelling karena fokusnya akan beralih ke anaknya. Papa Vitto juga bertanya apakah setelah menikah dan memiliki anak, Vitto akan tetap menerima tawaran bermain film atau serial yang romantis dengan lawan mainnya, dan mengabaikan perasaan istrinya nanti.
Pertanyaan itu tidak mendapat jawaban dari Vitto, karena Vitto hanya diam saja, meskipun dia mendengarkan seluruh ucapan Papanya.
"Vit.. Papa tidak memaksamu untuk menuruti Papa, tetapi setidaknya berpikirlah untuk masa depanmu nanti...!"
Vitto akhirnya menoleh dan melempar senyum ke Papanya. "Papa, Vitto mengerti maksud Papa, tetapi Papa tahu sendiri bahwa aku sudah menerima bagianku, lalu jika aku masuk ke perusahaan, Vino pasti akan marah dan merasa bahwa aku tidak perlu melakukan itu karena aku sudah mendapatkannya sebelumnya....!"
"Apakah kau berpikir adikmu bisa bersikap seperti itu??? Jika memang dia berpikir mengenai itu, meskipun keras hati, keras kepala, sikapnya dingin dan cuek, adikmu tetap menghormatimu selama ini meskipun dia bodoh karena cinta dan sering berbohong kepada kita mengenai kelakuan konyolnya, dia tetap menaruh hormat kepadamu juga kepada Papa, dia selalu mengutamakan keluarga, dia pasti akan sangat senang jika kau mau membantunya mengurus perusahaan ini..."
Papa Vitto meneluk paha Vitto dan menatap putranya yang sedang fokus mengendarai mobil. "Vit... Jika tidak bisa sekarang, Papa harap suatu hari nanti kau mau datang dan bersedia membantu Vino di kantor, ya kau pasti harus sadar diri sebelum melakukan itu bahwa kau tidak bisa merebut posisi Vino disini, dia punya hak yang lebuh tinggi daripada dirimu, bahkan Papa juga termasuk bawahan Vino, tetapi Vino pasti akan sangat menghargai keputusanmu nanti, bantulah sebisamu, itu sudah cukup...!"
"Aku akan memikirkannya Pa..." Gumam Vitto pelan.
"Pikirkan setiap perkataan Papa, dan ambil keputusan yang terbaik....! Rana pasti menginginkan suami yang pandai berbisnis mengingat dia juga pebisnis di bidang kuliner...! Kau harus pandai berbisnis dan jadi pria kantoran yang baik dan sempurna agar bisa meluluhkan hati Rana, seperti bagaimana cara adikmu mendapatkan Rana kemarin...!" Ujar Papa Vitto yang langsung mendapat pelototoan bingung dari Vitto.
"Apa maksud Papa berbicara seperti itu???"
__ADS_1
Papa Vitto terkekeh kemudian menjelaskan jika dia tahu bahwa Vitto menaruh hati pada Rana selama ini setelah melihat gelagat Vitto dan bagaimana Vitto memperlakukan Rana. Papa Vitto tidak masalah jika Vitto nanti berhubungan dengan Rana mengingat perempuan itu sangat baik. Hanya saja dia berpesan agar jika Vitto benar-benar suka dan cinta pada Rana, Vitto harus memperlamukan perempuan malang itu dengan baik, menghormatinya, menyayangi dengan tulus dan tidak mengkhianatinya seperti Vino. Rana butuh sosok yang baik, penyayang dan bertanggung jawab untuk mendampingi hidupnya. Untuk itu dia mengingatkan Vitto agar mulai saat ini harus berusaha memperbaiki diri agar pantas untuk Rana.
★★★★