
Sidang ketiga perceraian Rana dan Vino sudah diputuskan. Rana saat ini sudah menyandang status sebagai seorang janda. Status yang cukup berat tetapi Rana harus terima dengan hal itu. Vino juga tidak menghadiri sidang untuk kedua kalinya sehingga memang sudah tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Keputusan itu akhirnya selesai juga.
Perasaan lega dirasakan oleh Rana, tetapi semalam dia menangis karena teringat dengan nasibnya yang tidak pernah beruntung. Cintanya bertepuk sebelah tangan, kehilangan seluruh yang dimilikinya, dan dia sendirian. Hal itu yang menjadi pukulan terberat yang Rana harus hadapi. Dia tidak memiliki siapapun lagi untuk berkeluh kesah, dan hidupnya pun harus bergantung pada bantuan orang lain. Hanya saja Rana tidak berhenti bersyukur dipertemukan dengan orang baik seperti Vitto dan Papanya. Mereka mau menanggung dengan baik seluruh perbuatan Vino. Mereka juga selalu mensupport dirinya, dan meskipun dia tidak lagi bertemu dengan Papa Vitto dan Vino, tetapi setiap hari Rana menerima pesan sederhana dari Papa Vitto yang selalu memintanya agar menjaga kesehatan dengan baik dan selalu berpikir positif.
Vitto juga selalu ada bersama Rana dan lelaki itu selalu saja punya bahan obrolan yang menyenangkan. Vitto seolah mengajak Rana untuk bangkit dan tidak terlalu memikirkan hal yang membebani pikirannya. Mereka berdua menghabiskan waktu bersama dengan menonton film di rumah, memasak, mengobrol hingga bermain ps. Beban Rana memang sedikit berkurang dan dia melewati harinya bersama Vitto dengan bahagia.
Mengenai Vino, sesekali Rana menanyakan hal itu pada Vitto dan jawaban Vitto adalah bahwa Vino baik-baik saja dan menjalani harinya seperti biasa. Bekerja di kantor mengurus bisnis, dan hubunganna dengan Angel ya seperti itu saja. Sejak dulu tidak ada halangan diantara Vino dan juga Angel, dimana mereka menjalin hubungan yang bebas layaknya suami dan istri, mungkin itu sebabnya mereka berdua tidak pernah ada pembicaraan ke arah pernikahan, karena tanpa menikah pun hubungan mereka sudah seperti itu. Jika salah satu dari mereka sedang membutuhkan maka yang satunya akan selalu siap untuk memberikan. Rahasia dari hubungan mereka juga di ungkap Vitto, yaitu mereka bisa melakukan hal itu dimana saja tanpa harus di kamar. Mereka bisa melakukannya di mobil, ditempat yang menurut mereka nyaman dan tidak dilihat oleh orang bahkan Vino melarang siapapun mengganggunya dikantor ketika ada Angel di ruangannya, dan siapapun juga tidak boleh masuk. Lalu apa yang akan dilakukan oleh seorang laki-laki dan perempuan di dalam ruangan yang sudah disterilkan seperti itu.
Dan saat ini mungkin mereka tidak akan menggunakan ruangan Vini dikantor karena ada Papanya disana. Tetapi tidak menutup kemungkinan Vino dan Angel melakukannya di tempat lain. Mendengar itu tentu Rana juga menjadi teringat dengan apa yang dilakukan kedua orang itu di depannya. Seolah rasa malu mereka sudah tidak ada. Hubungan mereka begitu bebas dan tidak ada keraguan dari keduanya untuk melakukannya. Membuat Rana skeptis jika pernikahannya dan Vino dipertahankan. Vitto benar bahwa Vino dan Angel seperti tidak bisa di pisahkan. Yang harus dilakukan Rana saat ini adalah perlahan melupakan semua tentang Vino. Cinta yang sempat di tumbuh dihatinya harus segera di matikan perlahan.
Hari ini Rana berada sendirian di apartemen, dan dia memilih untuk membaca buku saja. Vitto tadi berpamitan padanya untuk pergi sebentar menemui temannya. Entah apa yang akan dibahas oleh Vitto dengan temannya itu karena Vitto hanya mengatakan bahwa pembahasan itu penting sekali. Vitto akan memberitahunya nanto setelah kembali. Tidak mau ikut campur urusan laki-laki, Rana pun membiarkan Vitto untuk pergi.
★★★★★
Sebuah ketukan pintu diruangan kerjanya, membuat sang pemilik yang sedang sibuk dengan layar monitornya mengalihkan pandangannya dan meminta si pengetuk untuk masuk. Tahu bahwa itu adalah sekretarisnya.
"Masuk May....!" Sahut Aditya dari dalam.
Maysa masuk dengan tersenyum sambil membungkukkan badannya. "Maaf pak Aditya, diluar ada pak Vitto yang ingin bertemu dengan anda...!"
Aditya mengernyit. "Vitto??? Vitto Prakarsa?"
"Ya...! Pak Vitto Prakarsa aktor film itu, teman pak Aditya...!"
Aditya terkekeh kemudian meminta sekretarisnya itu agar mempersilahkan Vitto untuk masuk. Juga menyuruh agar Maysa mengambil camilan di pantry, sementara untuk minum sudah tersedia di ruangannya. Aditya beranjak dari kursi kerjanya untuk menyambut Vitto. Dan tidak lama Vitto masuk dengan senyum diwajahnya.
"Hai Vit....! Kau akan datang dan tidak mengabariku? Apa kabar???" Aditya menyapa dan langsung menyalami serta memeluk temannya itu.
"Jika aku mengabarimu kau pasti akan mempersiapkan pesta penyambutan untukku!! Hahaha...!"
"Itu wajib sekali, duduklah...! Kau ingin duduk di sofa atau di mini bar?" Tanya Aditya.
"Disana saja, aku tidak ingin terlalu formal...!" Vitto menunjuk ke mini bar yang ada di ruangan Aditya.
Vitto duduk sementara Aditya langsung mengambil champagne dan menuangnya di dua gelas. Satu untuknya dan satu lagi untuk Vitto. Mereka duduk bersama dan mulai mengobrol tentang kesibukannya. Obrolan itu terdengar seru, mereka berdua saling bercerita tentang kesibukkan masing-masing, hingga akhirnya Vitto pun mulai membahas tentang tujuannya datang kesini menemui Aditya.
__ADS_1
"Sebenarnya aku datang untuk merepotkanmu lagi haha ku harap kau tidak keberatan...!" Ujar Vitto.
Aditya tertawa. "Hahaha katakan saja, hal apa yang akan merepotkanku itu....!"
"Aku butuh pesawat lagi untuk ke Singapura, ku harap kau mau mengijinkanku membawa pesawatmu, tetapi kali ini aku tidak mau yang gratisan lagi, cukup yang kemarin saja, jangan menolak ini atau aku tidak lagi akan mau menjadi temanmu....!
"Hahahaha ancaman yang menakutkan... Tidak masalah, aku dan keluargaku sedang tidak ingin pergi kemanapun, katakan kapan kau akan pergi dan berapa lama??"
"Dalam minggu ini, ya sekitar 2 hari atau 3 hari saja, terserah hari apa yang penting pilotnya siap, aku mengikut saja...!"
Aditya mengangguk dan dia langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang. Yang ternyata itu adalah pilot yang biasa mengemudikan pesawatnya. Aditya mengobrol dan meminta kesiapan pilot itu karena temannya ingin ke Singapura. Hari pun sudah disepakati dan Vitto setuju.
"Kenapa mendadak? Apa ada sesuatu terjadi??? Dan dalam rangka apa kau kesana?" Tanya Aditya.
"Adikku membuat ulah yang menyebabkan seseorang kecelakaan, cukup parah, mengalami patah tulang dan cidera kepala sehingga dia harus dirawat di rumah sakit di Singapura, aku dan temanku berencana menjenguk kesana...!"
"Di rumah sakit mana???" Tanya Aditya lagi.
Vitto pun menyebutkan nama rumah sakit itu, dan mendengar itu, Aditya jadi teringat bahwa dia juga pernah dirawat disana setelah mengalami kecelakaan satu tahun yang lalu. Dia mengatakan pada Vitto bahwa rumah sakit itu cukup bagus dalam menangani hal semacam itu dan dia bisa sembuh lebih cepat dari perkiraan dokter. "Kau menggunakan pesawat pribadi, apa kau sedang ingin pergi bersama seseorang yang istimewa dan kau takut ada penggemar yang melihatmu???" Aditya menelisik.
Vitto pun menceritakan semuanya kepada Aditya mengenai dendam yang dimiliki Vino kepada seseorang. Dan orang itu yang nanti akan bersamanya untuk pergi ke singapura. Vitto juga bercerita mengenai permaslahan yang saat ini dihadapi oleh perempuan yang dijebak oleh Vino untuk dinikahi dengan alasan balas dendam itu. Semuanya Vitto ceritakan, penyiksaan dan kegilaan Vino. Perempuan itu mengalami banyak penderitaan selama di pernimahan itu dan kemarin akhirnya mereka diputus cerai oleh pengadilan. Sedangkan yang sedang sakit saat ini adalah teman dari perempuan itu, dia mengalami kecelakaan karena Vino. Saat itu Vino tidak terima jika Jeany ikut campur dalam urusannya dengan Rana. Dan sudah hampir satu bulan dia menyembunyikan Rana dari Vino, untuk menghindari kejahatan Vino yang lebih parah lagi terhadap Rana.
"Oh wow... Tidak ku sangka adikmu bersikap seperti itu, dia terlihat baik dan sangat luar biasa, aku bahkan jadi salah satu pengagum nya dalam hal bisnis karena dia terkenal hebat... Tetapi yang namanya kesalahpahaman itu juga hal yang wajar, mungkin Vino terlalu menyayangi Vania sehingga dia lupa dengan kebaikan yang ada didirinya dan memilih menyakiti orang lain, tidak dibenarkan memang tetapi syukurlah jika semua sudah diperjelas dan Vino mengerti bahwa dia salah...!"
"Kau benar Dit, Vino memang terlalu menyayangi Vania sehingga rasa sayang itu menutup hati dan pikirannya, saat ini aku dan Papa sedang berfokus pada Rana, kami berusaha mengembalikan semua yang sudah hilang dari Rana. Yupz mengenai kerugian materi ku pikir itu hal yang mudah untuk kami selesaikan tetapi psikis dan trauma yang Rana alami itu sangat sulit, kami harus meyakinkannya dan mengembalikan senyumnya....! Sekarang kami sedang berusaha untuk itu...!" Ujar Vitto.
"Itu bagus Vit, kau dan Papamu menunjukkan tanggung jawab yang besar pada Rana, dan mendengar ceritamu bahwa kau menyembunyikan istri adikmu, aku juga jadi teringat sesuatu, aku dan istriku juga pernah menyembunyikan istri sahabat kami, ya saat itu posisinya mereka sudah bercerai dan perempuan itu hamil, dia sahabat istriku jadi istriku memintaku agar membantunya, aku mengasingkannya di salah satu tempatku, dan dia bekerja juga dikantorku yang ada disana sampai melahirkan anaknya...!" Gumam Aditya sambil tersenyum mengingat kejadian itu.
"Serius??? Kau juga pernah melakukan itu???" Vitto heran dan tidak percaya.
"Ya, aku dan istriku melakukannya, membantu dia melewati hari sulitnya setelah bercerai, dan mantan suaminya itu tidak tahu jika istri yang diceraikannya dalam keadaan hamil, mereka bercerai karena si sahabatku ini selingkuh, bayangkan betapa hancurnya hati perempuan itu, dan keputusan besar akhirnya diambil yaitu diam-diam aku memperkerjakannya di tempatku, tetapi ada masa dimana sahabatku ini mengetahui jika mantan strinya hamil, dia seperti orang gila untuk mencarinya, dan aku serta istriku hanya bisa menertawakannya dari belakang, istriku tidak berhenti mengumpat serta mengejeknya, mengatakan bahwa Karma sedang menimpa sahabatku itu karena ulahnya sendiri...! Hahaha...!"
Aditya kemudian melanjutkan ceritanya, dimana selama persembunyian dari sahabat istrinya itu, ada seorang laki-lakinyang juga bekerja di tempatnya. Laki-laki itu sangat baik dan selalu membantu si perempuan hamil ini. Mereka berteman dan sering menghabiskan waktu bersama. Bahkan setelah melahirkan, kaki-laki itu juga yang mengumandangkan adzan untuk bayi perempuan ini, seolah menggantikan posisi sang ayah. Tak lama setelah bayi itu lahir, si laki-laki ini menikah dengan perempuan itu. Kemudian hal yang sangat menarik dari kisah itu adalah bahwa ternyata laki-laki ini adalah kakak dari mantan suami perempuan itu.
"What....??? Kakaknya??" Seru Vitto terkejut.
__ADS_1
"Ya kakaknya, kakak satu ayah tetapi beda ibu" Jelas Aditya.
"Wohooo.... Bisa begitu ya???"
"Takdir Tuhan siapa yang tahu... Maybe mungkin kalau kau terus bersama Rana, kau lama-lama jadi mencintainya kemudian menikahinya hahahahha....!" Tawa Aditya terdengar begitu renyah dan Vitto juga ikut tertawa.
"Hahhaha bangkee lu Dit... Hahaha kalau sahabat istrimu itu hamil tapi kalau Rana akan beda cerita hahaha....!"
Ditengah tawa kedua teman itu, sekretaris Aditya kembali mengetuk pintu dan memberitahu Aditya jika istri dan kedua anaknya datang. Aditya meminta sekretarisnya agar mempersilahkan istri dan anaknya masuk. Seorang perempuan cantik, berambut panjang dan berpostur tinggi masuk dengan menggandeng seorang balita laki-laki, sedangkan tangan lainnya menggendong balita perempuan yang keduanya terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
"Vit, kenalkan ini Cahya istriku dan ini kedua anakku..! Sayang... ini Vitto teman kulaihku di Oxford..!"
Vitto mengulurkan tangannya, sementara Cahya berdiri terpaku dan melihat Vitto dari atas sampai bawah. Didepannya itu adalah laki-laki yang sering dilihatnya di layar televisi juga layar lebar. Aktor yang terkenal dan banyak penggemarnya, termasuk Cahya sendiri juga menjadi penggemarnya.
"Vitto....!" Ucap Vitto kemudian, Cahya terlonjak lalu dia lekas membalas uluran tangan Vitto.
"Cahya...!" Jawab Cahya kemudian. "Tidak ku sangka aku bisa bertemu denganmu secara langsung, aku biasa melihatmu di televisi...!" Gumam Cahya.
Vitto terkekeh. "Terima kasih... Senang juga bisa bertemu dengan anda, Adit sering membahas anda..." Vitto kemudian mentoel pipi balita perempuan yang ada di gendongan Cahya.
"Dia manis sekali....! Siapa namamu sayang???"
"Siapa namamu??? Om ini bertanya???" Gumam Aditya.
"Kyra...!" Jawab balita itu dengan suara polos nan menggemaskan.
"Ah nama yang manis sepertimu!" Puji Vitto, kemudian dia menggendong si balita laki-laki yang tampan itu. "Dan pangeran kecil siapa namamu....???" Tanyanya lagi.
"Kyros...!" Jawab si kecil itu membuat Vitto mendaratkan ciuman di pipi tembemnya.
"Nama yang bagus, sesuai dengan wajah tampanmu!!" Puji Vitto lagi.
"Cepatlah menikah Vit, hidupmu akan lebih menyenangkan jika kau memiliki anak yang super menggemaskan...!" Gumam Aditya.
"Aku sedang mencari, doakan saja dan jangan terus mengejekku...!"
__ADS_1
Aditya kemudian kembali mempersilahkan Vitto duduk, begitu juga dengan Cahya. Sementara si kembar langsung berlari dan mengambil mainan mereka yang ada di pojok ruangan kerja Ayahnya. Aditya, Cahya dan Vitto pun mengobrol bersama.