
Mereka duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Rana bergegas mengambil minuman untuk mereka. "Rana... Dimana kamar mandi nya??? aku harus mengganti diapers Naufal... " Ucap Arindah.
"Ah ayo ikut aku ke dalam, pakai saja kamar mandi di kamar... Bawa juga kopermu, nanti kita tidur di kamar yang sama, hanya ada dua kamar disini, kamar tamu biar di gunakan Papa, sedangkan Vitto dan Vino nanti bisa tidur di ruang tengah... "
Arindah tersenyum. "Ya...!"
"Sini, biar aku yang mengajak Naufal..." Rana pun menggandeng Naufal dan Arindah mengambil koper berisi perlengkapan anak nya. Mereka kemudian masuk dan Rana mengajak ke kamar sehingga Arindah bisa mengganti diapers Naufal dan.
"Aku ke dapur, membuatkan mereka minum.. "
"Oke.. Thanks ya... "
Rana kemudian keluar dari kamar dan langsung ke dapur. Dia menuang jus jeruk membawa nya ke ruang tamu. Rana meletakkan jus itu di meja dan mempersilahkan Papa mertua nya, suami nya juga Vino untuk meminum nya. Dia akan ke dapur lagi menyiapkan makan siang.
"Papa... Lebih baik Papa istirahat di kamar, Papa pasti lelah sekali, sambil menunggu Rana menyiapkan makan siang kita.. Tapi minum dulu jus nya, itu bisa membuat Papa merasa lebih baik...." Pinta Vitto.
"Iya Vit... " Papa Vitto kemudian meminum jus nya. Vino juga meminum jus nya. Memang jus itu membuat mereka merasa lebih baik setelah melakukan perjalanan jauh.
Dan Vitto kemudian mengantar Papa nya ke kamar, sedangkan Vino membawa koper milik Papa nya.
***
Arindah keluar dari kamar bersama Naufal. Dia langsung mendaoati Rana sedang sibuk membawa makanan dari meja dapur ke meja makan. Arindah pun bergegas membantu Rana. "Kedatangan kami justru merepotkan mu... " Ucap Arindah.
"Ah tidak juga... Aku justru senang kalian semua bisa datang..."
"Tempat yang sangat indah dan nyaman, pantas saja kau dan Vitto belum ingin pulang... "
Rana tertawa. "Meski begitu, tetap saja pada akhirnya kami harus pulang... Bagaimana dengan perjalananmu kesini???" Tanya Rana.
"Melelahkan tetapi terbayar karena selama di jalan menuju rumah ini, suasana begitu tenang, cantik dan Naufal tidak berhenti berceloteh mengenai apa yang di lihatnya, hingga Vino lelah menjawabnya, tetapi dia tetap berusaha menjelaskan dengan baik... Manis sekali... Dan aku memilih untuk tidur... "
"Hahaha lucu sekali... Aku akan memanggil para lelaki, agar bisa langsung makan, kalian pasti lapar sekali... " Rana pergi ke depan untuk memanggil Vitto, Vino dan Papa nya. Makanan sudah dia siapkan sejak tadi saat Vitto pergi, dan ketika mereka datang, dia tinggal menyiapkan di meja makan.
Tak lama Rana kembali bersama Vitto dan Vino. "Loh Papa mana???" Tanya Arindah.
__ADS_1
"Papa seperti nya lelah sekali, dia istirahat di kamar dan langsung tidur.. " Jawab Vino.
"Oh..."
"Kita makan dulu, aku lapar sekali... " Ucap Vino.
"Ya sudah.. Silakan duduk... Aku harap kalian menikmati nya..."
Mereka berempat duduk dan makan siang bersama. Arindah menyuapi Naufal dan mereka makan sambil diseoingi obrolan ringan seoutar perjalanan mereka kesini.
****
Setelah selesai makan siang, Arindah membantu Rana membereskan meja makan, sementara Vino mengajak Naufal bermain di belakang rumah dan Vitto mengikuti nya. Bocah itu berlari kesana kemari, di halaman belakang dan wajahnya merasa sangat senang sekali. Suasana sangat jauh berbeda saat ada di Jakarta dan berada disini, sehingga hal itu mungkin membuat Naufal merasa senang.
"Sekarang katakan??? Apa yang sebenarnya terjadi..???" Tanya Vitto. Mereka saat ini duduk di bangku yang ada di belakang rumah yang tersedia untuk menikmati suasana di belakang.
"Aku sebelumnya minta maaf padamu, karena aku sudah membohongimu..."
Vitto tampak mengernyit. "Membohongi ku??? Tentang apa???" Tanya nya heran.
"Apa....!!!!!???"
Vino mengangguk. "Ya, dia bertemu Angel disana... Mereka berbicara dan membahas sesuatu yang akhir nya membuatku memilih membawa Papa pergi... "
"Apa yang mereka bahas????" Tanya Vitto.
"Tunggu sebentar, dan awasi Naufal.. Aku harus mengambil sesuatu... " Vino beranjak dan pergi masuk ke dalam rumah.
Beberapa saat kemudian, Vino kembali ke belakang, dan dia melihat Arindah dan Rana sudah bersama Naufal dan sedan bermain dengan bocah itu. Vino kembali duduk berhadapan dengan Vitto, lalu menyodorkan alat perekam beserta alat pendengarnya. Vino pun menyalakan alat itu, membiarkan Kakak nya mendengar isi dari rekaman di alat perekam itu.
Vitto terdiam mendengarkan semuannya. Sesekali dia mendesis menatap Vino, tetapi Vino hanya tersenyum padanya. Karena Vino tahu beberapa hal yang di dengar Vitto akan membuat kakak nya itu marah besar.
Vitto akhirnya melepaskan alat pendengar nya, dia sudah selesai mendengar semua yang ada disana. "breengsseekkk.. Berani sekali mereka membahas rencana konyol seperti itu pada keluarga kita.... "
"Sebenarnya hal itu tidak membuatku takut atau khawatir, kau pasti tahu, aku tidak takut dengan ancaman siapapun... Hanya saja ada hal lain yang membuatku memutuskan untuk membawa Papa pergi dari rumah... "
__ADS_1
"Apa mereka sudah mulai melakukan rencana mereka???" Tanya Vitto.
Vino tersenyum. "Belum di laksanakan, akan tetapi mereka akan meminta bantuan orang lain.. Geng pembunuh bayaran..." Jawab Vino.
"Apa......!!!!???? Pembunuh bayaran????"
"Ya... Reino mendatangi markas pembunuh bayaran, dia melakukan tawar menawar harga, sebelum beraksi.... Dan setelah itu dia memberitahu Angel mengenai biaya yang harus di keluarkan, Angel menyanggupi nya karena dia masih punya aset rahasia yang belum terbaca oleh kita... Aku rasa itu besar sekali, karena Angel mampu menyanggupi untuk membayar sebesar 750 juta... "
"Ciiiihhhh.... Brengssekkk...." Gerutu Vitto.
"Pembunuh bayaran yang sangat terkenal dengan cara kerja mereka yang bersih.... Dan itu akan di buat sebagai kematian alami, mereka bisa melakukan apapun secara halus, bahkan bisa bekerja sama dengan orang-orang di sekitar kita, itulah kenapa, aku saat ini sedang tidak mempercayai siapapun.... Aku hanya ingin Papa vmvmberada di tempat yang aman.. "
"Oh ya Ampun......!!!"
"Aku juga sedang berusaha menelusuri aset yang di sembunyikan Angel, aku ingin membekukan nya lagi, sehingga dia tidak akan bisa memberi Reino uang untuk membayar mereka, tetapi tentu pekerjaan itu tidak bisa dengan cepat di lakukan, banyak investigasi yang harus di lakukan, dan itulah kenapa aku ingin segera membawa Papa pergi.... "
"Siaaallll...... Permainan macam apa ini... Aku tidak akan mengampuni mereka berdua....!!!" Geram Vitto. "Lalu bagaimana jika mereka menyadari bahwa Papa sudah tidak ada disana??? Dan Angel berhasil mengambil uang nya, pasti para pembunuh bayaran akan melakukan tugasnya dan akan berusaha keras menemukan keberadaan Papa... "
"Aku juga mengkhawatirkan itu Vit..."
Vitto mendengus kesal. "Paris???? Adalah tempat dimana Papa sebelum nya tinggal, dan Angel tahu mengenai hal itu, apa kau yakin mereka akan kesulitan menemukan Papa??? Aku rasa tidak Vin...!! Akan sangat mudah sekali menemukan Papa.... "
"Ohh sshiiittt ... Kau benar juga... Aku tidak berpikir sampai kesana.. "
"Paris bukan tempat yang bagus... Maksudku Angel pasti akan mudah menemukan tempat tinggal Papa disana... Aku rasa Negara yang aman untuk Papa tinggali adalah negara ini.. Swiss adalah salah satu negara teraman di dunia, aku rasa lebih baik Papa disini... "
"Tapi bersebelahan dengan Perancis... Apa beda nya Vit???"
Vitto tersenyum. "Sementara disini saja dulu, sebelum pulang, aku akan menemui Tante Anne di Paris, aku akan menjelaskan segala nya, dan aku akan mengirimnya kesini, langkah selanjutnya akan aku pikirkan.... Keamanan Papa dan segala nya.... aku akan pulang dan menbereskan mereka berdua... "
"Bagaimana dengan Rana??? Mereka juga mengincarnya???" Tanya Reino.
"Selama ada aku, istriku akan aman, aku juga tidak bisa meninggalkannya, karena dia juga harus mengurus bakery nya, tidak bisa di tunda peresmiaannya, dia harus tetap pulang... Jangan khawatirkan apapun, jaga Papa disini, sisa nya aku akan mengurus kedua makhluk toIoI itu, pekerjaan di kantor juga akan aku urus, sementara kau disini saja bersama Papa, serta anak dan istrimu... "
"Baiklah...."
__ADS_1
"Mereka pikir mereka siapa berani sekali merencanakan pembunuhan terhadap Papa... " Gumam Vitto.