
"Kau serius akan menikahinya???" Tanya Vitto.
"Tentu saja, aku sudah menunggu ini sejak lama, aku akan mulai mempersiapkan semuanya, aku benar-benar bahagia sekali Vit, aku akan memberitahu Papa setelah ini...! Sudah dulu ya...!" Vino menutup teleponnya.
Vitto meletakkan ponselnya di meja. Semua orang masih terdiam, dan Rana menatap kosong ke depan tanpa ekspresi. Dan sedetik kemudian Rana berdiri dari tempat duduknya lalu meninggalkan ruang makan begitu saja. Vitto tahu perasaan Rana saat ini pastilah terpukul terlebih lagi Rana sedang hamil anak Vino. Ada penyesalan dihati Vitto, seharusnya tadi dia tidak mengaktifkan speaker ponselnya sehingga obrolan Vino tidak di dengar oleh Rana. Vitto memundurkan kursinya dan meminta Tania agar memberekas meja makan sementara dia akan melihat kondisi Rana.
Vitto menyusul Rana ke kamarnya, pintu kamar itu tidak di kunci. Vitto membukanya pelan dan menemukan Rana duduk di kursi kayu yang ada di sebelah jendela dengan menekuk kedua kakinya sambil memeluknya dengan kedua tangannya. Rana terlihat terisak dan Vitto mendekatinya dengan menyentuh pundaknya.
"Are you okay???" Tanya Vitto kemudian lelaki itu menarik kursi di depan meja rias, duduk menatap Rana yang ada di depannya. Perempuan itu dengan cepat menyeka airmatanya dan menggeleng mencoba tersenyum pada Vitto meskipun jelas terlihat bahwa senyumnya dipaksakan.
"Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja....!" Gumam Vitto.
Lelaki itu meraih jemari Rana, memandanganya dalam-dalam dan melempar senyumnya. "Apa kau sedih karena Vino akan menikah dengan Angel??? Jika iya, apa kau ingin aku mengatakan keadaanmu sekarang pada Vino agar dia bisa memikirkan ulang rencananya untuk menikah??? Aku bisa mengatakan semuanya jika kau mau!"
Rana menggeleng dengan cepat, kemudian melarang Vitto untuk melakukan hal itu.
"Jika kau tidak ingin aku memberi tahu Vino, lalu kenapa kau bersedih...??? Kau bilang bahwa kau akan menjaga dan merawat bayimu dengan baik, kau juga berkata padaku bahwa tidak ada yang bisa diharapkan lagi dari Vino, dia tidak pernah mencintaimu, akan percuma saja jika kau dan dia memutuskan kembali bersama, bukankah itu yang semlat kau katakan padaku, lalu kenapa sekarang kau menangis??" Tanya Vitto.
"Maafkan Aku...!" Ucapp Rana. "Aku tidak tahu kenapa aku bisa seperti ini... Aku ... Maafkan aku...!" Rana terisak dengan sedih, melihat itu Vitto langsung memeluknya.
"Ssshhhhh.... Menangislah jika itu bisa membuatmu lebih baik, aku tahu kau pasti sakit sekali, ini pasti berat untukmu tetapi apa yang bisa kau lakukan sekarang...??? Kau sudah mengambil keputusan besar untukmu dan calon bayimu jadi kau harus membesarkan hatimu untuk hal yang seperti ini....!" Ujar Vitto menenangkan.
"Tadi itu terjadi begitu saja....! Aku lupa jika aku tidak akan pernah menjadi berguna lagi dimata Vino....! Aku senang bisa bebas darinya....!" Rana terisak.
Vitto mengusap-usap punggung Rana. "Kau sudah memutuskan untuk memulai semuanya lagi, jadi jangan pernah kau merasa sendiri, karena aku akan selalu bersamamu, mendukungmu dan sebisa mungkin juga menjagamu...! Aku yakin kau bisa melewati semua ini, jangan pernah merasa sendiri..." Vitto berdiri dan memeluk Rana yang sedang menangis.
"Aku akan membesarkan dan merawat bayiku dengan baik tanpa ayahnya, biarkan saja dia bahagia, aku ingin dan harus mendapatkan kebahagiaanku sendiri... Terima kasih Vit, kau selalu mendukungku selama ini, maafkan sikapku tadi...!"
"Tidak masalah...! Aku mengerti..!" Gumam Vitto.
Rana masih terisak dalam pelukan Vitto, ini mungkin adalah awal dari kesakitan yang harus dilewatinya selama kehamilannya. Tiba-tiba saja hatinya merasa begitu sakit mendengar Vino akan menikahi Angel, baginya mungkin ini terlalu cepat untuk dia dengar karena Vino baru saja berpisah dengannya belum lama ini. Tetapi laki-laki memang tidak memiliki batasan untuk bisa menikah lagi setelah bercerai, berbeda dengan perempuan. Vino dan Angel saling mencintai, mereka sudah bersama selama bertahun-tahun jika mereka memutuskan untuk menikah itu adalah hak mereka.
Sebenarnya perasaan Rana pada Vino perlahan sudah memudar hanya saja belum sepenuhnya hilang. Ada kesakitan tersendiri di diri Rana mendengar kenyataan ini. Dia menjadi kembali teringat bagaimana Vino sudah memeprlakukannya dengan begitu buruk, menikahinya sampai menodainya dengan cara yang tidak manusiawi hingga sekrang dia hamil. Kenyataan hidupnya begitu pahit. Tuhan benar-benar mengujinya begitu berat, tetapi Rana harus bersabar dan kuat untuk menghasapi semua ini. Dibalik kesedihannya masih ada orang-orang yang tulus ingin membantunya, dan selalu memberinya dukungan. Vitto adalah orang yang sangat baik yang selalu ada bersamanya. Yang diharapkan Rana hanyalah Vitto benar-benar tulus dan tidak mempermainkannya seperti Vino.
★★★★★★
Keesokan harinya....
__ADS_1
Rana mengetuk kamar Vitto untuk membangunkannya, tetapi tidak ada jawaban dari laki-laki itu. Perlahan Rana membuka pintunya dan masuk, Vitto ternyata tidak ada di tempat tidurnya tetapi ada suara di kamar mandi. Rana tersenyum. Laki-laki itu ternyata sudah bangun dan sedang mandi. Ini adalah hari pertamanya untuk bekerja di kantor, sesuatu yang spesial harus Rana siapkan untuknya. Seharian kemarin Vitto sudah menemaninya dan membuatnya merasa lebih baik, Rana ingin balas budi dengan hal kecil yang bisa dilakukannya.
Rana membuka lemari Vitto, mengambil kemeja, setelan jas dan sebuah dasi. Semua berwarna hitam dan itu akan terlihat cocok sekali dengan Vitto, kemarin dia sudah terlihat tampan dengan setelan berwarna putih. Rana kemudian meletakkannya diatas tempat tidur, juga mengambil sepatu serta kaus kaki sehingga Vitto bisa langsung memakainya nanti. Setelah siap, Rana keluar dan dia akan membuat sarapan untuk Vitto dan untuknya sendiri tentunya. Tidak ada yang spesial untuk sarapan kali ini karena kulkas masih kosong dan siang nanti Rana baru akan pergi berbelanja. Rana hanya menemukan telur, dia pun akan membhat omelete saja dicampur dengan sosis yang masih tinggal 2 buah saja di freezer. Setidaknya itu cukup untuk membuatnya dan Vitto kenyang.
Baru memulai memecah telur, Rana merasakan mual di perutnya, morning sicknessnya dimulai lagi. Rana meletakkan telur itu di mangkuk dan lekas mengambil gelas yang diisi air hangat dan mengambil daun mint di kulkas meletakkannya di dalam gelas. Tak lama setelah itu Rana bergegas ke wastafel dan mulai muntah-muntah lagi. Ini sebenarnya sesuatu yang dibenci Rana, setiap pagi moodnya yang sudah baik menjadi sedikit berantakan karena hal ini. Tetapi dia tahu bahwa setiap ibu hamil pasti mengalami ini, dan dia harus mulai terbiasa.
Sementara itu, berbalut handuk, Vitto keluar dari kamar mandi dan dia dikejutkan dengan pakaian yang sudah tertata rapi diatas tempat tidurnya. Vitto tersenyum dan menyadari bahwa Rana pasti sudah menyiapkan semua ini. Vitto membayangkan jika setiap hari Rana melakukan ini maka dia akan melewatinya dengan baik. Seperti seorang suami yang dilayani dengan baik oleh istrinya dan ini adalah impian semua laki-laki di dunia ini. Harapan Vitto adalah dia bisa meluluhkan hati Rana dan menjadikan permpuan itu sebagai istrinya kelak. Dia akan menjadikan Rana perempuan yang paling bahagia, dan tidak akan pernah menyakitinya, sudah cukup penderitaaannya selama ini, dan itu tidak boleh lagi terjadi.
Ketika sudah selesai dengan masalah mual dan muntahnya, Rana mengatur napasnya, duduk sebentar dan meminum teh mint yang tadi di buatnya. Selepas itu dia kembali melanjutkan membuat sarapannya untuk Vitto, lelaki itu pasti sekarang sudah bersiap-siap.
Hingga akhirnya semuanya sudah siap, Rana membawanya ke meja makan, tidak lama Vitto juga keluar dari kamarnya. Dan laki-laki terlihat sangat tampan dengan setelan yang di pakainya. Vitto terlihat merapikan kerah kemejanya dan tersenyum menghampiri Rana.
"Thanks kau sudah menyiapkan semua ini....! Apa aku terlihat tampan???" Tanya Vitto sambil senyum-senyum.
"Perfect....! Kau sangat tampan seperti biasanya..." Jawab Rana.
"Seperti biasanya??? Jadi diam-diam kau selalu memujiku ya???"
Rana tergelak dan menyuruh Vitto untuk duduk dan menghabiskan sarapannya. "Kau boleh menganggapnya seperti itu....!" Gumam Rana sambil menuang air ke gelas dan menyodorkannya ke Vitto.
"Oke, tapi bayarannya aku meminta yang tinggi..."
"No problem...!" Sahut Vitto dan keduanya tertawa.
"Kau akan berangkat belanja jam berapa???" Tanya Vitto.
"Aku akan berangkat jam 10an saja, itu pasti belum terlalu ramai, tetapi aku akan mencatat apa saja yang kita butuhkan...!" Jawab Rana.
"Belilah banyak buah dan sayuran, sekaligus agar kau tidak perlu lagi bolak-balik membelinya...!" Vitto merogoh sakunya dan mengambil dompetnya kemudian menyerahkan sebuah kartu dan memberikannya pada Rana. "Pakai ini, kau bisa membeli apa saja yang kau butuhkan!" Ucap Vitto.
Vitto menyodorkan sebuah kartu berwarna hitam dengan logo bank ternama kepada Rana, membuat Rana terkejut karena Vitto memberikannya kepaadanya., Rana tahu kartu itu hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja. "Tidak perlu, kau sudah sering berbelanja dengan uangmu, kali ini aku akan memakai uangku saja...!"
"Pakai ini saja, simpan uangmu untuk urusan Bakery mu saja, ambil dan gunakan ini, kau bisa membeli mobil juga jika kau mau...!" Vitto mengediokan matanya.
"Untuk apa membeli mobil kalau tidak bisa ku gunakan...!"
__ADS_1
Vitto terkekeh. "Ya sudah beli saja yang lainnya yang bisa kau gunakan...!" Vitto menyuapkan omelette ke mulutnya.
Mereka berdua menikmati sarapan sederhana itu dengan obrolan ringan dan sesekali Vitto juga menggoda Rana dengan celotehnya yang membuat wajah Rana memerah. Itu memang setiap hari sering dilakukan keduanya sehingga membuat hubungan keduanya menjadi semakin akrab.
****
Sampai di kantor, Vitto menemui Vino dan Papanya dulu di ruangan mereka. Saat masuk dengan senyum sumringah Vino menyambut kakaknya itu dengan sangat senang dan bahagia. Vino memeluk Vitto dan mengucaokan terima kasih karena kakaknya itu sekarang bersedia membantunya di perusahaan. Meskipun selama ini dia selalu terlihat tidak akur tetapi Vino sangat menghormati Vitto dan menaruh banyak harapan pada kakaknya itu di perusahaan.
"Ini hari pertamamu, penampilanmu sangat luar biasa membuatku ingin segera mengantarmu ke ruangan yang secara khusus aku sediakan untukmu... Ayo...!" Ucap Vino.
Bersama Papanya, dia mengantar Vitto ke sebuah ruangan yang terletak berdampingan dengan ruangan Vino. Ketika masuk, Vitto melihat sekelilingnya, meskipun tidak seluas ruangan Vino. "Dalam sehari kau menyiapkan ini untukku tetapi kenapa tidak dengan Papa, beliau masih seruangan denganmu...!" Tanya Vitto.
Vino tertawa. "Karena aku butuh Papa untuk ku ajak diskusi sekaligus agar aku bisa membantu Papa jika dia menginginkan sesuatu... Jangan khawatirkan itu, karena papa juga menolak ketika aku ingin menyiapkan ruangannya... Well untuk hari pertamamu, aku tidak akan memberimu tugas berat, ada beberapa dokumen disana yang bisa kau pelajari lebih dulu, kau bisa meamnandainya jika kau tidak mengerti, lalu tanyakan padaku.. Oh iya aku juga sudah menyuruh sekretarisku agar membuka lowongan oekerjaan untuk calon sekretarismu nanti, dalam seminggu kau akan memiliki sekretaris juga untuk membantumu..."
"Sekretaris??? Apa aku memerlukannya???" Tanya Vitto.
"Tentu saja, kau juga nanti akan ku kenallkan dengan dewan dereksi sebagai...????" Vino tidak melanjutkan lagi ucapannya dan menyuruh Vitto duduk, mempelajari berkas-berkas yang sudah diatas meja, dan akan memberitahu Vitto nanti tentang jabatannya di perusahaan ini setelah Vitto sudah cukup menguasai berbagai hal dan proyek yang ada di perusahaan ini. Vitto sekarang hanya harus fokus saja mempelajari berkas-berkas itu.
"Well, pelajari dengan baik, aku dan Papa harus kembali bekerja, goodluck brother...! Ku harap kau betah berada disini, ku pastikan yang terbaik untukmu..." Ucao Vino sambil menepuk bahu Vitto, kemudian dia mendorong kursi roda Papanya dan keluar dari ruangan Vitto.
Vitto menyandarkan kepalanya di kursi, melihat sekelilingmya. Dia sudah mengambil keputusan untuk bergabung disini, dan dia melihat dengan jelas wajah bahagia dari adik dan Papanya. Mereka berdua seperti meletakkan haraoan mereka kepada Vitto dan berharap yang terbaik. Hal itu membuat Vitto berjanji bahwa dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyenangkan mereka.
★★★★
Di kawal oleh 2 bodyguardnya, Rana mulai berbelanja. Tania si bodygyard perempuan yang mendorong trolli belanjaan sedangkan Rana mengambil barang-barang yang dibutuhkannya, sementara Mario mengikuti mereka dari belakang. Rana memulainya dengan mengambil barang-barang kering seperti tepung dan lainnya. Dia sesekali mengobrol dengan Tania dan menikmati sekali moment ini, karena sudah lama dia tidak berbelanja seperti ini karena Vitto yang biasa melakukannya juga terkadang Tania sendirian yang berbelanja. Rana hanya terima beres saja. Untungnya Vitto kali ini mengijinkannya untuk keluar dan menikmati sedikit waktu untuk bersibuk-sibuk ria memilih belanjaan, sayur, daging, buah dan baahan lainnya. Sampai akhirnya trolli belanjaan itu hampir penuh padahal Rana belum membeli buah-buahan juga sayuran. Bergegas Tania mengambil trolli lagi untuk tempat buah dan sayuran karena Rana ingin membeli banyak buah-buahan, takut jika memakai keranjang tidak cukup tempat.
Tania kembali menghampiri Rana dengan trolli kosong. Rana kemudian mengajaknya untuk membeli Buah-buahan lebih dulu setelah itu ke temlat sayur dan daging.
"Hai sayang... Ada apa kau menelepon, aku sedang ada di Supermarket saat ini..." Ucap Angel menjawab oanggilan telepon dari Vino.
"Oh kau di supermarket???"
"Iya, aku baru akan masuk, kita pergi selama satu minggu, dan isi kulkasku habis, aku hanya akan membeli buah dan sayur saja, kau tahu kan aku sedang memulai dietku lagi...!"
"Oke baiklah, siang nanti kita makan siang di tempat biasa oke?"
"Oke.... Aku mencintaimu...!"
__ADS_1
"Aku juga, selamat berbelanja...!" Ucap Vino kemudian mematikan panggilannya.
Angel mengernyit dan ekspresi jijik di wajahnya langsung terlihat. Dia memasukkan ponselnya dan langsung masuk ke supermarket. Dia mengambil trolli belanjaan dan langsung menuju area buah-buahan.