
Rana memutus panggilannya, untuk memastikan lagi apakah itu memang berasal dari ponsel Jeany yang ada di dalam tas. Sementara itu Jeany mengambilnya tasnya dan benar saja disana ada ponselnya. Jeany bingung sekali kenapa pomselnya bisa ada disana padahal semalam Vino telah mengambilnya. Rana mencoba menghubungi lagi dan benar saja, ponsel Jeany memang berdering.
"Itu ponselmu kan Jean??? Kenapa tadi kau bilang bahwa ponselmu diambil oleh Vino???" Tanya Rana.
"Kau pasti sudah mengembalikannya tadi...!" Jeany menatap Vino penuh dengan kecurigaan.
"Tadi kau bilang aku mengambil ponselmu, padahal jelas ponselmu ada di tasmu, dan sekarang kau menuduhku lagi.... Jadi apa yang sebenarnya kau inginkan sih Jean???" Tanya Vino dengan terus memasang wajah bingung.
"Rana...! Dia berbohong lagi.... Dia sedang mempermainkan kita Na... Jangan percaya padanya...!"
Rana hanya menatap Jeany dan Vino secara bergantian. Rana tidak tahu harus berkata apa lagi, faktanya Jeany sudah mengirim pesan kepada Vino dan menjelek-jelekkan dirinya dengan ucapan kasar sekali. Sementara itu Jeany membuka galeri ponselnya untuk mencari foto yang kemarin diambilnya dari kantor Edward, sayangnya foto itu ternyata sudah tidak ada.
"Sudah aku duga, kau pasti sudah menghapus foto itu....!" Ujar Jeany kesal pada Vino.
"Please Na.... Akhiri hubungan kalian ini dia manusia jahat Na.." Jeany memegang bahu Rana berharap sahabatnya itu mau mendengarkannya.
"Sayang... Aku berani bersumpah aku tidak membohongimu, aku sangat mencintaimu, dan semua yang djtuduhkan oleh Jeany itu tidak benar....! Please sayang percayalah padaku??? Jeany mengatakan ini karena aku menolak cintanya dan dia ingin memisahkan kita berdua...!" Ucap Vino berusaha meyakinkan Rana dengan duduk bersimpuh dan memeluk kedua kaki Rana, berharap perempuan itu mau mempercayainya.
__ADS_1
Sedangkan Jeany memalingkan wajahnya, mengernyit karena menyadari bahwa Vino benar-benar penuh dengan drama.
Vino terus berusaha meyakinkan Rana yang terlihat bimbang. Vino terus mengatakan bahwa dia tidak pernah sekalipun membohongi Rana selama ini, dan itu hanya fitnah dari Jeany saja. Sayangnya Rana terus memilih diam, membuat Vino menjadi ketar-ketir, takut Rana akan lebih mempercayai Jeany daripada dirinya. Sambil terus memohon, Vino pun mencoba memikirkan sesuatu.
Seolah tidak mau kalah dengan Vino, Jeany pun juga mencoba meyakinkan Rana agar mempercayainya. Karena semua itu Jeany lakukan untuk kebaikan Rana. Jeany tidak ingin hal buruk terjadi pada sahabatnya itu, mengingat Rana sebatang kara, dan tidak memiliki keluarga lagi saat ini. Jeany ingin sekali kebahagiaan untuk Rana yang selama ini sudah melewati banyak kesulitan di dalam kehidupannya. Jeany sendiri masih tidak tahu apa motif dari Vino sebenarnya. Kenapa Vino melakukan kebohongan seperti ini kepada Rana, dan apa untungnya itu untuk Vino, Jeany masih tidak mengerti sama sekali.
Vino akhirnya menemukan cara, dia pun berdiri dan menatap Rana dalam-dalam. "Aku tahu bahwa kau pasti akan lebih mempercayai sahabatmu dibandingkan denganku, aku juga tidak punya bukti untuk meyakinkanmu...! Tapi entahlah jika Jeany punya bukti atau tidak, kau pasti tetap akan mempercayainya dibandingkan denganku....!" Ujar Vino.
Dengan langkah pelan dan wajah penuh kekecewaan, Vino melangkah masuk ke kamar Rana untuk mengambil kopernya lalu pergi dari rumah Rana. Setelah mengambil kopernya, Vino keluar lagi dan mengucap permisi pada Rana dan juga Jeany. Vino sudah hampir keluar dari pintu rumah Rana.
Vino menghentikan langkahnya dan menoleh sedih ke arah Rana. Sementara itu Rana terlihat memandangi Jeany dengan wajah datar. "Jean...! Jujur aku sangat sedih setelah membaca apa yang ada di ponsel Vino, dari yang ku baca dan ku lihat itu memang seperti caramu mengirim pesan selama ini. Aku tidak tahu mana diantara kalian yang berbohong, tetapi aku ingin kalian berdua memberiku bukti jika kalian berdua merasa benar dengan segala ucapan kalian...! Jika kalian bisa memberi bukti yang meyakinkan, aku pasti akan memutuskan hubunganku dengan kalian, mana yang harus ku lanjutkan dan mana yang harus ku akhiri...! Kalian tahu kan jika aku sangat membenci sebuah pengkhianatan...! Jadi berikanlah bukti padaku...!" Pinta Rana dengan sambil terisak.
Rana benar-benar sedih hal seperti ini harus terjadi dan dia berada di pilihan yang sangat sulit saat ini. Kedua orang didepannya saat ini adalah orang yang sangat dia cintai dan sangat dia percaya, tetapi kenapa keduanya justru menempatkannya dalam pilihan yang sulit. Rana bingung siapa yang harus di percayainya. Vino dengan penuh keyakinan mengatakan bahwa dia tidak melakukan apa yang dituduhkan oleh Jeany. Sementara Jeany tetap teguh dengan pendiriannya bahwa Vino sudah melakukan kebohongan besar, tetapi tanpa diduga ucapan Jeany itu justru berbanding terbalik dengan fakta yang ada dimana Jeany menuduh Vino mengambil ponselnya semalam dan nyatanya ponsel itu ada di tas Jeany. Sedangkan Vino yang merasa dirinya tidak bersalah juga memberi pembuktian yang mengejutkan dimana Jeany semalam yang justru mengiriminya pesan dan mengungkapkan perasaannya. Tetapi karena Vino menolak, Jeany menjadi marah dan mengatakan semua hal buruk tentang Rana.
Vino pun lekas mengambil ponsel yang ada disakunya dan menunjukkan sebuah tangkapan layar dari boarding pass nya kemana dia kemarin pergi. Ran melihatnya dan membacanya, itu memang sebuah boarding pass milik Vino kemarin, dan jelas tertulis disana ada nama Vino juga asal dan tujuannya kemana pergi.
Jeany mengernyit, dia bingung harus memberi bukti apa, sementara foto yang diambilnya kemarin sudah dihapus, entah oleh Vino atau perempuan itu. Cukup lama Jeany terdiam dan dia bingung harus memberi bukti apa. Tiba-tiba saja dia teringat dengan Edward. Ya, Edward adalah saksi kunci bahwa kemarin Vino dan Angel benar-benar melakukan pemotretan di studionya. Jeany mencari kontak Edward dan langsung menghubungi lelaki itu.
__ADS_1
Di tempat lain, Edward sedang sibuk dengan kameranya. Dia tampak sedang mengelap kameranya. Ponsel yang ada di depannya pun berbunyi, dan dia tersenyum melihat nama Jeany. Perempuan itu menghubunginya pasti untuk meminta maaf karena semalam sudah pergi begitu saja tanpa berpamitan dengannya. "Ya Jean....! Astaga.... Kenapa semalam kau pergi begitu saja tanpa menungguku???" Protes Edward.
"Hai Ed.... Im so sorry untuk yang semalam...! Aku ada urusan urgent jadi aku harus pergi, oh iya bisakah kau datang dan menolongku???" Tanya Jeany.
"Menolong??? Kau kenapa??? Apa terjadi sesuatu denganmu???" Tanya Edward khawatir.
"Ah tidak-tidak...! Aku hanya sedikit butuh bantuanmu, ini urgent, bisakah kau datang menemuiku sekarang juga???" Tanya Jeany lagi.
"Bisa...! Dimana aku harus menemuimu???"
Jeany pun memberikan alamat rumah Rana pada Edward san Edward akan sampai sekitar 30 sampai 45 menit. Jeany pun mengucapkan terima kasih dan menutup panggilannya.
"Temanku akan datang Na, dia adalah saksi bahwa kemarin Vino dan Veronica alias Angel itu sedang melakukan pemotretan dengannya, temanku itu yang memotretnya...!" Ucap Jeany penuh dengan keyakinan.
Vino memejamkan matanya dan sedikit mengernyit. Vino mengumpat dalam hati tetapi dia langsung kembali berpura-pura biasa saja.
"Baiklah kita tunggu temanmu itu...!" Ucap Rana.
__ADS_1