
"Tentu saja...! Aku akan segera menikah jadi aku butuh tambahan banyak uang untuk acara pernikahanku, dan setelah menikah sepertinya aku akan menolak tawaran bermain film atau serial yang romantis-romantis seperti biasanya, jadi aku pasti butuh pendapatan dari hal lain... Kau selalu mencelaku karena aku tidak membantumu disini, jadi karena sekarang ku pikir ini waktu yang tepat untuk melakukannya... Biaya melahirkan juga mahal nanti, aku harus mengumpulkan banyak tabungan juga...!" Ucap Vitto.
Vino terkekeh kemudian membuang muka. "Cih.....!!! Perempuan mana yang mau denganmu??? Pandai sekali kau berbohong...!"
"Jangan banyak bertanya, nanti kau juga tahu siapa yang akan menjadi istriku, sekarang katakan aku diterima atau tidak??? Dan posisi apa yang akan kau berikan padaku?? Kau akan beruntung sekali menerimaku disini, semua staff mu pasti akan mengerubungiku seperti semut mengerubungi gula...!"
"Kau disini ingin bekerja atau hanya ingin di kerubungi wanita, jika hanya ingin dikerubungi wanita, tidak perlu ada disini..." Cela Vino.
"Sudahlah... Kalian ini malah ribut...! Vino, Kakakmu sudah mengambil keputusan untuk bergabung, setidaknya berikan jawabanmu atas pertanyaannya tadi...!" Sela Papa Mereka.
"Oke oke.... Kau diterima, tapi jangan membuat kegaduhan disini, mengerti..?? Bersikap profesional dan tidak sibuk berselfie atau memberi tanda tangan sembarangan pada para staff...!"
Vitto tertawa. "No problem....! Tapi aku tidak akan setiap hari ada disini, ya karena kau tahu sendiri aku punya jadwal lain seperti pemotretan dan syuting, kau pasti tahu itu kan...!"
"Ya ya ya terserah kau saja...! Ketika disini jangan bawa label aktormu... Sekarang kau bisa pulang...!" Ujar Vino.
Vitto mengernyit. "Pulang??? Kau bilang kau menerimaku.??"
"Kembalilah besok, untuk saat ini tidak ada ruangan untukmu, nanti aku akan menyuruh orang untuk mempersiapkan ruangan untukmu....!"
__ADS_1
"Oh shiiitt... Aku sudah berdandan habis-habisan dan kau malah menyuruhku bekerja besok saja...!" Vitto menggerutu.
"Kau mau tidak??? Kalau yidak mau ya sudah ku kembalikan surat lamaranmu ini...!"
"Ya ya ya... Ya pak CEO aku akan bekerja mulai besok, kalau begitu terima kasih....!"
Vitto memundurkan kursi berdiri menyalami Vino sambil tersenyum, kemudian berpamitan pada Papanya baru meninggalkan ruangan itu. Setelahnkepergian Vitto, Vino menghubungi sekretarisnya agar menyuruh orang untuk mempersiapkan ruangan agar besok bisa digunakan oleh Vitto.
Vino menatap ke Papanya sambil tersenyum menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh Vitto tadi pasti adalah karena sang Papa. "Papa kan yang membujuknya???" Tanya Vino.
"Papa hanya membuatnya menyadari bahwa ada hal penting yang bisa dia lakukan saat ini...!"
"Biarkan kakakmu menikmatinya dulu, jangan terlalu membebankan segalanya yang justru membuatnya stres" Ujar Papa Vino.
Vino mengangguk dan dia tahu apa yang harus dilakukan agar Vitto betah dan bisa menikmati pekerjaan barunya. Vino tidak ada masalah jika Vitto nanti masih menyibukkan diri dengan pekerjaannya sebagai aktor ataupun model. Itu keahliannya dan itu juga yang sejak awal diinginkan oleh Vitto.
Mengetahui Vitto sudah mau bergabung itu sudah cukup membuat Vino senang dan bangga. Setidaknya kakaknya yang selalu menjalani hidupnya dengan bebas dan suka-suka mau mengambil keputusan besar untuk hal yang sedikit serius seperti bekerja di perusahaan keluarga mereka. Semoga kali ini Vitto bisa merasa betah dan tidak akan berhenti di tengah jalan.
Vitto keluar dari lift dan berjalan cepat menuju lobi dan ke area parkir. Banyak mata yang tertuju pada Vitto terutama para staff perempuan. Mereka sudah sering melihat Vitto wara-wiri di kantor ini karena Vitto memang putra dari pendiri perusahaan tetapi Vitto biasanya tampil santai dengan Tshirt dan celana pendek atau jeans dengan kaca mata hitamnya, hanya saja kali ini Vitto tampak berbeda dan semakin tampan. Berbeda dengan Vino yang selalu tampil dingin dan cuek, Vitto sangat ramah dan bahkan membalas senyum beberapa dari perempuan itu, juga membalas sapaan mereka.
__ADS_1
Vitto masuk ke mobilnya dan menghubungi Rana untuk memberitahu jika dia akan segera pulang dan meminta Rana agar menunggu dan jangan buru-buru untuk ke apartemen lebih dulu. Setelah berbicara dengan Rana, Vitto bergegas mengemudikan mobilnya untuk pulang.
Sementara itu, Vino dan Papanya kembali sibuk dengan pekerjaan mereka. Vino tersenyum ketika membuka berkas lamaran milik Vitto. Kakaknya itu memang konyol karena seharusnya datang dan memberitahunya saja apa keinginannya, dan tidak perlu repot-repot membawa cv. Itu justru membuat Vino tidak berhenti untuk tidak tertawa.
Ponsel Vino berdering, sebuah pesan masuk. Vino meraihnya dan membaca pesan itu. Ternyata itu adalah pengacara keluarganya yang kemarin dia minta untuk mengurus perceraiaan Papa dan Mamanya. Semuanya ternyata sudah siap dan besok tinggal di bawa ke pengadilan Agama. Vino kemudian menyampaikan hal itu kepada Papanya dan nanti juga akan menyampaikannya pada Vitto. Semakin cepat ini dilakukan akan semakin baik pula nantinya. Jika terus dibiarkan dan tidak segera di akhiri, Mamanya tidak akan permah mau menyerah dan pasti berusaha melakukan hal lain lagi untuk mendapat simpati darinya ataupun Vitto.
"Kau masih dijalan???" Tanya Vino pada Vitto di telepon ketika Vitto mengangkatnya.
"Ya... Ada apa??? Apa kau mau menyuruhku kembali ke kantor lagi???"
"Tidak...! Baru saja pak Handika menghubungiku, dia bilang berkas perceraian Papa dan Mama sudah beres dan besok tinggal membawanya ke pengadilan, lalu bagaimana tentang keberadaan Mama, anak buahmu masih memantaunya?!??" Tanya Vino lagi.
"Ya masih... Sekarang Mama mengontrak sebuah rumah dan tinggal disana..!" Jawab Vitto.
"Bagus...! Itu artinya kita bisa menggunakan alamat tempat tinggalnya untuk mengirim surat panggilan nanti...!"
"Ya kirim kesana saja, aku nanti akan menghubungi anak buahku lagi agar terus melihat pergerakan Mama...!"
Vino menutup panggilannya. Sementara Vitto kembali fokus ke jalanan untuk segera sampai di rumah karena Rana sudah menunggunya. Bertemu dengan Rana setiap hari membuat Vitto merasa sangat senang. Selalu ada hal yang bisa mereka obrolkan, juga selalu ada hal seru yang bisa mereka lakukan, membuat Vitto sama sekali tidak pernah mersa bosan. Kocaknya adalah setiap hari dia dan Rana selalu menggunakan meteran baju untuk melihat pertumbuhan perut Rana, dan itu selalu membuat mereka tertawa karena masih belum ada pertumbuhan yang signifikan. Hari-hari Vitto dan Rana dipenuhi dengan kebahagiaan layaknya sepasang suami istri, meskipun keduanya hanya bersahabat saja. Ketika sedang pergi keluar dia ingin cepat-cepat segera pulang dan bertemu Rana.
__ADS_1
Seperti seorang ayah yang menantikan si bayi segera lahir, Vitto sangat antusias dengan kehadiran calon keponakannya. Saat ini dia hanya ingin berfokus menemani dan menjaga Rana. Mengenai bagaimana nanti jika akhirnya Vino mengetahui segalanya, Vitto tidak mau terlalu memikirkannya untuk saat ini. Yang terpenting Rana merasa nyaman berada di dekatnya.