
Tatapan Vitto begitu dalam, wajah Vitto semakin mendekat membuat Rana berdebar dan dia menelan ludahnya. "Rana....!" Bisik Vitto.
"Apa yang ingin kau katakan???" Tanya Rana.
"Aku......!!!! Aku me.....!" Suara Vitto tersenggal dan wajahnya semakin mendekat ke wajah Rana.
Rana kembali menelan ludahnya dan memandang Vitto penasaran.
"Aku.... Me..... Melihat ada ulat di atas rambutmu.....!"
"Apa....!???" Seru Rana tetapi sedetik kemudian dia menyadari ucapan Vitto dan berteriak ketakutan sambil menangis. "Aaaarrrggghhhh...... Dimana....??? Vitto.... Cepat ambil.... Aku takut sekali....!!!"
Rana sangat panik dan terus berteriak sementara Vitto tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi ketakutan Rana. "Rana, tenanglah....! Aku bercanda... Tidak ada apapun di rambutmu... Hahaha...!"
Mendengar itu, Rana pun terdiam dan sedetik kemudian dia memukuli dada Vitto. Lelaki itu hanya tertawa, membuat Rana semakin kesal. Rana takut setengah mati, tetapi Vitto malah bercanda dengan mengerjainya.
Karena marah, Rana pun berbalik arah dan naik ke atas untuk meninggalkan Vitto. sampai di tepi kolam renang, Rana mempercepat langkahnya untuk masuk ke dalam villa. Melihat Rana marah, Vitto panik dan dia juga langsung ikut naik menyusul perempuan itu.
"Rana.....!!!! Aku cuma bercanda... Jangan marah...!" Teriak Vitto.
Rana tidak memperdulikan teriakan Vitto dan meraih lagi handuknya yang tersampir di kursi santai. Vitto masih terus memanggilnya hingga ketika dia sampai di pintu masuk, Vitto berhasil meraih tangannya dan menghentikannya. Tarikan Vitto yang kuat membuat Rana berbalik arah dan hampir tersungkur tetapi Vitto lekas memegang kedua bahunya. Mereka berdua kembali berhadapan dan saling menatap dalam diam.
"Aku bilang aku hanya bercanda, kenapa kau marah??? Please Rana, aku minta maaf padamu...!" Ucap Vitto sambil menjewer kedua telinganya dengan wajah memelas penuh penyesalan.
__ADS_1
Rana tidak menggubris permintaan Vitto dan kembali berbalik badan lalu melenggang pergi meninggalkan lelaki itu. Vitto terus mengejar Rana tetapi Rana terlihat marah sekali hingga tidak mau berucap apapun. Rana naik tangga menuju kamarnya dan langsung menutup pintu untuk menghentikan Vitto yang terus mengejarnya.
Vitto mengacak-acak rambutnya dengan kasar dan mengumpat dirinya sendiri karena kekonyolannya dia sekarang justru harus dihadapkan dengan kemarahan Rana. Sebenarnya tadi dia ingin mengungkapkan perasaannya pada Rana tetapi entah kenapa dia justru melakukan humor bodoh seperti itu. Seharusnya dia diam saja dan tidak melanjutkan niatnya mengungkapkan perasaannya pada Rana daripada harus menggantinya dengan hal seperti itu, candaan yang membuat Rana sekarang marah.
Dengan langkah gontai Vitto meninggalkan Kamar Rana menuju kamarnya untuk berganti pakaian, dan nanti akan membujuk Rana lagi sekaligus meminta maaf.
★★★★
Setelah mandi dan berganti pakaian, Vitto keluar kamarnya dan berjalan menuju kamar Rana. Pintu kamar itu masih tertutup, Vitto yakin Rana masih berada di dalam. Lelaki itu mengetuk pintu kamar Rana. "Rana.... Please Ran buka pintunya...! Aku minta maaf Ran....! Please jangan seperti ini, aku tidak bisa melihatmu marah... Please please please....!"
Vitto masih berdiri didepan pintu kamar Rana. Cukup lama dia berdiri sambil terus meminta Rana agar membuka pintunya. Sampai akhirnya Rana keluar juga. Vitto kembali memasang wajah memelas penuh penyesalan di depan Rana. Sedangkan Rana hanya menatap Vitto dalam diam dari atas sampai bawah.
Hingga beberapa saat kemudian, Rana tertawa terbahak-bahak di depan Vitto. Tawanya begitu lepas karena dia berhasil membalas candaan Vitto kepadanya tadi. Rana tertawa sambil menutup mulutnya dan matanya sampai berkaca-kaca. "Hahahha lihatlah wajahmu... Astaga.... Kau begitu panik dan ketakutan hanya karena aku marah padamu hahahaha.... Satu satu.... Kita imbang.... Hahahha" Ucao Rana sambil diselingi gelak tawanya.
"Berani-beraninya kau mengerjaiku....!!! Rasakan pembalasanku....!" Gumam Vitto sambil menggelitiki tubuh Rana.
"Ampun.... Ampun..... Kau sendiri yang bersalah jadi wajar jika aku membalasmu....!"
"Kau sudah berhasil melakukannya dan kau terlihat sangat pyas sekali.... Dasar...!" Vitto melepaskan pelukannya pada Rana.
"Aku ingin bermain di sungai yang ada di bawah, kau mau menemaniku kan???" Tanya Rana.
Vitto menggelengkan kepalanya. "Tidak... Kau pergi saja sendiri...!" Gumamnya sambil membuang muka berpura-pura kesal terhadap Rana.
__ADS_1
Melibat ekspresi Vitto, Rana tahu bahwa laki-laki itu sedang bercanda dan pasti akan membalasnya balik. "Oke kalau kau tidak mau, tidak apa, aku bisa pergi sendiri....!" Rana pun berlalu dan meninggalkan Vitto.
Rana perlahan menuruni tangga dan melirik melihat bayangan Vitto apakah lelaki itu mengikutinya dari belakang atau tidak.
"Eh tidak..... Tidak... Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian di sungai, bagaimana kalau ada buaya atau ular...!" Teriak Vitto sambil mengejar Rana yang sedang turun.
Rana terkekeh. Dia tahu bahwa Vitto tidak akan mungkin membiarkannya untuk pergi keluar sendirian. Mereka kemudian menuju bagian belakang villa lagi, dan Vitto turun ke beberapa anak tangga yang terhubung ke aliran sungai yang ada di bawah, kemudian dia mengulurkan tangannya membantu Rana agar turun dengan berpegangan padanya.
Sampai di tepi sungai, Rana memilih duduk dan menenggelamkan kakinya. Air sungai itu begitu jernih dan tidak terlalu dalam. Banyak bebatuan disana menambah keindahan tersendiri. Pemandangan alam di sekitarnya tidak kalah bagus, dengan warna hijau dari aneka tumbuhan yang ada. Suasana alam yang begitu cantik, natural, nyaman dan sempurna, siapapun yang ada disini pasti alan benar-benar menikmatinya. Aditya sangat pandai memilih tempat ini untuk villanya. Vitto berjalan menuju batu yang cukup besar, naik kesana dan duduk berselonjor menikmati pemandangan di depannya.
Rana tersenyum melirik ke arah Vitto. Lelaki itu sudah banyak membantunya tetapi sampai saat ini Rana belum bisa membalas kebaikan Vitto. Terkadang selalu muncul perasaan tidak enak dihati Rana ketika bersama dengan Vitto.
Dengan suara lirih, Rana memberanikan diri memanggil Vitto. Lelaki itu menoleh dengan senyumnya yang manis yang semakin menambahan aura ketampanannya. "Ya...!" Jawab Vitto.
Rana kemudian mengungkaokan apa yang ada di dalam hatinya mengenai rasa tidak enaknya karena selalu membebani Vitto selama ini. Vitto memberinya tempat tinggal yang bagus, nyaman dan juga memberinya keamanan yang ekstra. Vitto juga selalu memberikan perhatian serta kenyamanan selama ini hingga Rana tidak tahu lagi sudah berapa banyak kebaikan yang dilakukan Vitto untuknya.
"Sampai kapan aku harus hidup berfantung padamu Vit??? Aku benar-benar tidak nyaman dengan hal itu, kau sudah terlalu banyak membantuku selama ini....! Aku ingin hiduo mandiri dan tidak terus bergantung padamu, aku ingin membuka lagi usahaku" Ujar Rana.
"Rana....! Aku tahu apa yang sedang kau rasakan saat ini, mengenai tempat usahamu, aku sudah membicarakannya dengan Ariel, dia akan mengirim arsitek terbaiknya untuk mendesain tempat barumu, dalam beberapa hari ke depan dia akan datang dan mengajakmu berdiskusi akan seperti apa yang kau inginkan dari tempat itu, setelah desain siap, barulah pihak kontraktor akan turun tangan membangun lagi tempat usahamu, setelah kau melahirkan, kau bisa langsung membukanya dan memulai semuanya seperti awal....!" Ujar Vitto dan dia turun dari batu besar yang didudukinya untuk mendekat ke Rana.
Vitto duduk di sebelah Rana dan merangkul bahu perempuan itu. "Aku sudah memikirkan segalanya dan keinginanmu sebelumnya mengenai tempat itu, kau bisa menggunakan tabunganmh untuk merenovasinya dan sisanya adalah tanggung jawab Papa, jadi jangan khawatirkan mengenai biatmya, bangunlah semjanya sesuai dengan impian dan keinginanmu mengenai tempat usaha itu.. Kenapa aku memintamu memulai segalanya setelah kau melahirkan adalah demi keamananmu, bukankah kau sendiri yang ingin menghindari Vino??? Jadi trust me, aku tidak oernah sama sekali merasa di repotkan olehmu...!"
Rana membalas pelukan Vitto. "Thanks ya Vit....! Kau adalah sahabatku yang terbaik...!"
__ADS_1
Vitto melepaskan oelukannya. "Just best friend?????" Tanya Vitto. "Bagaimana kalau aku meminta lebih dari itu padamu? Misalnya aku kau jadikan kekasihmu??? Bagaimana??? Apa kau mau???"