
Vitto meringis karena pukulan yang di terimanya dari Vino. Dia lekas bangkit di bantu oleh Edward. Vitto ingin membalas pukulan Vino tetapi Edward dan Jeany menahannya.
"Vino....! Berhentilah bersikap ke kanak-kanakan, jika kau tidak bisa menahan dirimu lebih baik pergi dari tempat ini, Rana sedang dalam keadaan buruk dan kau malah memperburuk keadaan....!" Geram Papanya.
"Tapi dia .!" Vino mencoba membantah tetapi langsung di sela oleh sang Papa lagi.
"Ini kecelakaan, dan kita juga belum tahu apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana Rana bisa mengkonsumsi sesuatu yang berbahaya, apa kau pikir Vitto sengaja melakukan itu pada Rana? Sekarang duduk dan diamlah, yang lebih penting adalah keselamatan Rana untuk saat ini...!"
Vino terdiam dan dia duduk melakukan apa yang di suruh oleh Papanya, sedangkan Jeany tampak mencari tisu dan mengusap darah yang keluar dari hidung Vitto. Wajah Vitto sendiri terlihat kesal, marah sekaligus sedih, semuanya campur aduk menjadi satu. Dia masih tidak tahu bagaimana hal seperti itu bisa terjadi, yang dia tahu semua makanan yang ada di rumah dalam keadaan baik dan tidak ada yang kadaluarsa. Begitu juga dengan obat dan vitamin yang di konsumsi Rana, semua sama seperti sebelumnya, dan tidak kadaluarsa juga.
Saat semua sedang terdiam, pintu ruang UGD terbuka, dan semua orang berdiri karena ternyata itu adalah Rana yang akan di bawa ke ruang operasi. Rana masih dalam posisi terbaring dan tidak sadarkan diri. Tadi di dalam Vitto juga sudah sempat melihatnya sebentar. Wajah Rana pucat dan bibirnya juga membiru, Vitto sangat mengkhawatirkannya. Air matanya menetes ketika melihat Rana seperti itu, Vitto tadi juga mencium keningnya dan membisikkan sesuatu di telinga Rana dengan mengatakan bahwa Rana akan baik-baik saja dan harus bertahan.
Rana sudah di bawa ke ruang operasi, semua duduk terdiam dan berdoa agar semua berjalan dengan lancar. Vitto juga masih menunggu bodyguardnya yang masih mengambil sample makanan di rumah. Setidaknya nanti dia bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Rana, juga ketika Rana sudah sadarkan diri dia akan menanyakan kenapa Rana bisa memakan makanan yang salah dan berbahaya.
Sementara itu, Vino memandangi Vitto dalam diam. Masih banyak sekali pertanyaan yang menggelayutinya sejak tadi. Vitto seolah menjadikan dirinya sebagai pahlawan Rana, Vitto sepertinya mengatur segalanya untuk kehidupan Rana. Bahkan Rana juga mendapatkan 2 bodyguard, entah itu dari Vitto atau Papa nya, mungkin Vino harus mendapatkan semua jawaban dari pertanyaannya, termasuk dimana selama ini Rana tinggal. Hanya saja Vino tidak mau Papa nya marah lagi jika menanyakan semua itu sekarang, mungkin nanti saja ketika mereka pulang.
Panik membuat Vitto lupa jika malam nanti dia harus pergi ke luar kota, dan keadaannya justru seperti ini, tidak mungkin dia meninggalkan Rana sendiri, apalagi jika sampai Rana siuman dan tidak menemukannya, kemudian Rana histeris karena kehilangan bayinya. Itu pasti akan jadi momen menyedihkan. Vitto harus tetap disini untuk menjaga Rana dan memeluk perempuan itu ketika sedang bersedih. Hal seperti ini tidak pernah sama sekali ada di pemikiran mereka. Dia dan Rana sudah begitu bahagia mendapati bahwa bayi itu berjenis kelamin perempuan.
Vitto mengambil ponsrlnya dari saku dan menghubungi managernya untuk membatalkan keberangkatannya. Jika mereka ingin mencari yang lain itu tidak masalah, dan Vitto siap untuk mengembalikan uang yang sudah di terimanya. Tetapi jika mereka mau memberi waktu, Vitto juga senang hati akan melakukannya ketika keadaan sudav membaik, karena dia tidak bisa meninggalkan Rana sendirian untuk saat ini. Vitto juga meminta kepada managernya agar menyampaikan permohonan maaf karena hal ini, Vitto meminta alasan bahwa keluarganya sedang sakit dan dia tidak bisa pergi.
Setelah berbicara dengan managernya, Vitto kembali duduk disebelah Jeany. Dalam hatinya dia tidak berhenti berdoa untuk Rana. Segala yang terbaik dia panjatkan untuk perempuan yang sangat di cintainya itu.
Tiba-tiba ponsel Vino berdering. Lelaki itu meraihnya dari dalam saku jas nya dan ada nama Angel disana. Vino lupa jika dia saat ini sedang ada janji bertemu dengan perempuan itu, karena Rana dia melupakan janjinya. Vino diam cukup lama menatap layar ponselnya, dia enggan mengangkat panggilan itu. Angel sudah sangat jahat kepadanya, membohongi dan mempermainkannya selama ini. Vino marah sekali dan dia sangat ingin mengakhiri hubungannya dengan Angel lalu menyeret peerempuan itu ke penjara bersama dengan Jason dan juga Mamanya.
Melihat ponsel Vino berdering dan berkedip kemudian menyadari bahwa itu adalah panggilan dati Angel, Papa Vino pun langsung menyentuh pundak putranya, membuat Vino menoleh.
"Vino...!" Panggil sang Papa.
Semua orang menoleh ke arah Vino termasuk Vitto.
"Angkat saja panggilan dari Angel, tetapi jangan katakan apapun mengenai apa yang sudah kau ketahui tentangnya, jawab seperti biasa....!" Gumam Papa Vino.
"Kenapa???" Tanya Vino.
"Jika kau mengatakan semua perbuatannya selama ini kepadamu, maka Angel bisa saja kabur dan menghilang seperti halnya Mamanya, kita akan sulit menemukannya nanti, jawab seperti biasanya, selanjutnya kita akan mencari cara untuk menangkap basah perbuatannya, sekarang bukan waktu yang tepat untuk memperkeruh keadaan, fokus kkta semua adalah Rana...!"
Seolah mengerti, Vino pun menganggukkan kepalanya dan menjawab telepon itu. "Ya sayang... Maaf maaf...!" Ucao Vino pada Angel.
"Lama sekali... Kau sudah sampai dimana? ini sudah hampir 2 jam loh...!"
"Aku tidak jadi kesana, tiba-tiba ada klien menelepon meminta untuk bertemu jadi kita batal untuk pegi, sorry!!" Ucap Vino berbohong.
"Kau ini kenapa tidak dari tadi, aku sudah bersiap, ya sudah...!" Gerutu Angel.
Vino menutup teleponnya. Sementara pandangan Vitto tidak beralih sama sekali kepada adiknya. "Jadi kau sudah tahu???" Tanya Vitto kepada Vino.
Mendengar itu, Vino menoleh ke arah Vitto. "Ya... Aku tahu bahwa kau memiliki video s*x kekasihku dan lelaki lain, kau mengoleksinya, kau memang brengs*k dan tidak memiliki otak, bisa-bisanha kau melakukan hal seperti itu, kau akan berurusan dengan hukum jika video itu menyebar...!"
"Darimana kau tahu tentang hal itu???" Tanya Vitto.
"Aku tadi melihatnya di kamarmu, sampai kapan kau akan menyembunyikan itu dariku??? Kenapa sejak awal kau tidak memberitahuku...!?"
"Baiklah kalau kau sudah tahu... Lagipula aku sama sekali tidak tertarik melihatnya.... Membuatku mual saja..!" Gumam Vitto.
Vino mengernyit. Vitto memang brengs*k dan selalu menyebalkan setiap waktu. Bahkan bisa-bisanya Vitto punya ide gila seperti itu. Ya, Vino menyadari bahwa tanpa hal seperti itu, dia pun pasti akan meragukan apa yang selama ini di lakukan oleh Angel. Dia memang tidak bisa mudah mempercayai sesuatu tanpa sebuah bukti kuat dan apa yang di dapatkan oleh Vitto itu sangat baik dan dia percaya bahwa Angel memang sudah mengkhianatinya sejak awal.
★★★★
"Vino... Ayo kita pulang...!" Ucap Papa Vino. Sudah sekitar 2 jam Rana di dalam ruang operasi dan belum juga keluar. Hari sudah gelap.
"Kok pulang, Rana kan belum keluar dari ruang operasi Pa???"
"Ada Vitto disini, kita bisa datang besok lagi, Papa ingin istirahat, kau tau kan bahwa seharian ini Papa duduk saja di kantor, Papa juga harus minum obat, supir tadi sudah Papa suruh untuk pulang....!"
Vino melirik jam tangannya, dan memang sudah waktunya Papanya meminum obat. Tetapi dia juga khawatir dengan keadaan Rana. "Tapi Pa?? Rana???" Gumam Vino meragu.
"Ada Vitto, Jeany dan Edward disini, kau bisa kembali lagi kesini nanti, tapi antar Papa dulu...! Kalau ada apa-apa mereka pasti akan menghubungi kita...!" Ujar Papa Vino lagi.
"Baiklah...! Aku akan kesini lagi nanti...! Vit kabari aku jika Rana sudah selesai ...!" Pinta Vino tetapi tidak mendapat tanggapan apapun dari Vitto.
Bersamaan dengan itu, Marco kembali lagi ke rumah sakit, dia sudah membawa beberapa makanan yang sepertinya hari ini di konsumsi oleh Rana, seperti nasi, sayur, lauk, buah, bahkan air dan juga jus, serta obat-obatan milik Rana juga. Tadi Tania juga memberi Marco potongan Pie Susu yang ada di ruang keluarga dimana Tania siang tadi melihat Rana memakan itu juga. Marco memberikannya pada Vitto, dan Vitto nanti akan menyerahkan ini kepada dokter jika operasi Rana sudah selesai sehingga sample makanan itu bisa di bawa ke lab untuk di periksa.
"Marco.. Terima kasih sudah membawa ini, kau sudah pastikan bahwa tidak ada yang terlupa kan???" Tanya Vitto lagi.
"Iya pak...! Tadi saya memeriksa tempat sampah di dapur, ada beberapa bungkus snack, saya juga melihat ada kulit buah apel, pisang serta anggur di atas piring yang belum di buang oleh Nona Rana dan saya mengambil itu juga. Saat turun dari dapur, Tania menyuruh saya juga membawa sample pie susu yang ada di meja ruang keluarga, itu yang tadi juga di nikmati Nona Rana...!"
"Bagus...! Sekarang aku minta padamu untuk ke TPU, mengurus keperluan penguburan dari bayi Rana, mungkin setelah operasi aku akan langsung kesana, urus semuanya dengan baik, sehingga nanti tidak perlu untuk menunggu terlalu lama...! Aku akan kirimkan nama TPU nya padamu, dan juga nama orang tua Rana yang di makamkan disana, aku tidak tahu di blok berapa tetapi kau bisa meminta datanya pada petugas TPU!" Ucap Vitto.
"Baik pak saya akan tanyakan nanti....! Saya permisi...!"
Vitto mengguk dan Marco langsung keluar lagi bersama dengan Vino dan Papanya. Tadi Vitto juga sudah membahas mengenai pemakaman untuk bayi Rana dengan Papanya juga Vino. Sebelumnya Rana pernah membahas mengenai makam kedua orang tuanya, dan ingin sekali kesana tetapi belum kesampaian karena Rana tidak bisa keluar rumah, jadi keputusan yang Vitto ambil adalah memakamkan bayi Rana di sebelah makan kedua orang tua Rana sehingga Rana bisa mudah ketika ingin mengunjunginya.
****
"Papa... Besok aku harus mengungkap semua kebusukan Angel selama ini...!" Gumam Vino. Saat ini mereka sedang di dalam mobil, perjalanan pulang setelah dari rumah sakit.
Sebenarnya Papa Vino juga memiliki alasan lain kenapa mengajak Vino untuk pulang sekarang. Selain menghindari konfrontasi dengan Vitto, dia juga ingin membahas masalah Angel dengan Vino. Serta ingin memberitahu Vino agar tidak terlalu membuat ulah saat Rana siuman nanti. Jika ingin meminta maaf ya minta maaf saja tanpa perlu membuat Rana merasa tidak.nyaman walaupun nanti pastinya, Rana tetap akan merasakan hal itu ketika melihat Vino.
"Besok???"
"Iya...!"
__ADS_1
"Tetapi kau akan membongkarnya dengan cara apa Vin???" Tanya Papanya.
"Ya, aku akan katakan saja semuanya lalu membawanya ke kantor polisi...!" Ucap Vino.
"Vino... Lanjutkan saja pertunanganmu dengannya, itu tinggal beberapa hari saja kan???"
Vino menoleh ke arah Papanya, wajahnya tampak bingung. "Melanjutkan pertunanganku??? Yang benar saja Pa..! Papa ini bagaimana???"
Papa Vino tersenyum. "Lanjutkan saja dan bersikaplah biasa saja, seolah kau tidak mengetahui apapun, Papa sebenarnya punya ide bagus untuk membongkar kedok Angel selama ini!"
"Ide??? Papa punya ide apa???" Tanya Vino.
"Apa aku harus melakukan itu???" Tanya Vino pada Papanya ketika tadi Papanya memberitahunya untuk menjalankan rencananya menjebak Angel.
"Ya, meskipun saat ini kita hanya akan menangkap Angel saja, tidak Jason juga Mama mereka...!" Ujar sang papa.
"Tetapi apakah Papa ataupun Vitto tidak tahu dimana Shabella saat ini??? Maksudku apakah tidak ada petunjuk sama sekali tentang Shabella....!"
Papa Vino menghela napasnya. "Sebenarnya ada satu hal lagi yang mungkin tidak kau ketahui...!"
Vino melirik Papanya. "Apa lagi itu???" Tanya Vino.
"Vitto, mengirim orang untuk mengikuti Jason, setelah masalah yang di buat oleh Mama mu kemarin dan masalah itu bergulir, Jason yang sebelumnya tinggal bersama Mama mu, memilih keluar dari rumah, kemudian orang-orang Vitto mengikuti kemana perginya, Jason bukan kembali ke luar negeri melainkan pergi ke sebuah pulau, dan disana ternyata Shabella menyusulnya...!"
"Whaatttt???? Dia datang menyusul Jason???"
Papa Vino mengangguk, dan menceritakan semuanya mengenai Shabella dan Jason ketika mereka ada disana. Mereka bukan lagi seperti layaknya ibu dan anak melainkan seperti sepasang kekasih. Selain itu, alasannya dan Vitto tidak memberi tahu Vino lebih dulu mengenai hal ini adalah karena mereka ingin mengumpulkan semua bukti yang nantinya bisa benar-benar membuat Vino yakin bahwa Angel sudah membohonginya. Hal bagusnya adalah Vino sekarang sudah mengetahui semuanya, padahal seharusnya Vitto juga ingin memberitahu hal itu malam ini.
Vino terdiam. Hatinya saat ini benar-benar hancur sekali, banyak fakta yang terungkap hari ini, selain Angel, dia juga terlmabat mengetahui bahwa Rana hamil. Faktanya lagi adalah Rana mengalami keguguran dan mereka kehilangan bayi mereka. Vino sendiri tidak tahu apa yang akan dia lakukan seandainya dia tahu dari awal bahwa Rana hamil, mungkin akan meninggalkan Angel atau mungkin semakin terpengaruh dengan segala kebohonan Angel selama ini. Sebenarnya Vino sendiri menyadari bahwa mungkin akan banyak terjadi sesuatu jika dia mengetahu tentang keadaan Rana. Dia terlalu membenci perempuan itu hingga melupakan akal sehatnya hanya untuk sesuatu yang tidak pernah Rana lakukan.
Hal lain yang masih menjadi pertanyaan Vino adalah apa yang selama ini di lakukan oleh Rana selama persembunyiannya, dan kenapa Vitto sepertinya begitu dekat dengan Rana, bahkan Jeany juga. Perempuan itu yang dulu sudah Vino celakai juga sekarang sudah sembuh bahkan sepertinya Papanya juga yang turut berperan untuk perawatan Jeany. Vino ingin mengetahui semua itu. Dan dia pun menanyakan ke Papanya tentang apa saja yang terjadi selama ini, tentang Rana dan Jeany, juga apa sebenarnya yang di lakukan oleh Papanya dan juga Vitto bisa membantu kedua perempuan itu.
"Jeany... Dia sudah di rawat di rumah sakit yang ada di Singapura, sudah sebulan lebih setelah kecelakaan itu, Rana, dia meminta bantuan Papa dan Vitto agar bisa menemukan Jeany, karena kita semua tidak tahu dimana Jeany di rawat, butuh usaha keras dan Vitto harus berusaha keras untuk mencari informasi sekecil apapun tentang Jeany meskipun sulit, sampai akhirnya seseorang memberitahu Vitto tentang Edward yang sering pulang pergi ke Singapura untuk menjengyk temannya, karena sebelumnya Edward punya kedekatan dengan Jeany jadi Vitto menjebaknya dan Edward mau buka mulut...!" Ujar Papa Vitto.
"Menjebak Edward??? Maksudnya?? Kenapa tidak langsung menanyakannya saja?" Tanya Vino bingung.
Papa Vino kemudian menjelaskan pada putranya itu, bahwa apa yang Vino lakukan pada Jeany itulah yang membuat orang tua Jeany harus menjaga agar perawatan Jeany berjalan dengan baik, mereka tahu bahwa kecelakaan Jeany adalah sebuah rencana jahat dari seseorang, tetapi mereka masih belum tahu jika Vinl ada di balik itu semua. Sehingga mereka tidak mau sesuatu buruk terjadi pada Jeany lagi, itulah kenapa mereka memilih menyembunyikan Jeany, hal yang sama juga di lakukan oleh Edward. Dan itu juga yang membuat Vitto merencanakan menjebak Edward dengan berpura-pura menghubungi Edward bahwa dia akan melakukan pemotretan di apartemennya. Edward akhirnya datang dan Vitto mempertemukan Edward dengan Rana.
Rana saat itu memohon agar Edward bisa memberitahu tentang keberadaan Jeany karena dia ingin meminta maaf kepada Jeany. Baru setelah Rana memohon, Edward akhirnya mau buka suara dan memberitahu keberadaan Jeany. Setelah kondisi Jeany membaik serta sudah sadar, dan juga setelah Vitto serta Rana mendapat ijin keluarga Jeany, Vitto baru mengajaknya pergi bertemu dengan Jeany.
"Kau hampir saja menghancurkan kehidupan dua orang yang tidak bersalah hanya untuk ambisimu yang konyol itu...!" Gumam Papa Vino.
"Iya Vino memang bersalah...! Lalu Rana pergi ke Singapura bersama Vitto???" Tanya Vino.
"Ya, mereka pergi kesana, dan bertemu dengan Orang tua Jeany serta Jeany yang masih tebaring lemah, baru beberapa hari setelah dia tersadar dari komanya...! Dan itu juga menjadi awal dari kebohongan Angel terbongkar, Vitto dan Rana menginap di Marina bay S*ns, tidak sengaja mereka melihat Angel dan Pak Sony, dengan gerak cepat Vitto mengabadikan moment itu, setelah itu Vitto juga mendalati Angel bertemu dengan Jason, ya seperti foto dan video yang kau lihat tadi...!"
"Lalu????" Tanya Vino lagi.
"Jadi semua itu terjadi karena hal ini???"
Papa Vino mengangguk. "Ya.... Dan usaha penjebakan itu berhasil, Angel memang datang ke hotel itu, ini pure kesalahan Angel, dan dia memang sering melakukan itu kepadamu, Papa berharap ini hanya menjadi rahasia kita saja, jangan sampai berpengaruh juga pada kerja sama yang terjalin dengan perusahaan pak Sony Angel bekerja untuknya karena di bayar....!"
Vino mengernyit. Terlalu banyak fakta yang harus di ketahuinya saat ini. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi, marah, kecewa dan penyesalan semua bergulat menjadi satu. Vino patah hati, seluruh kepercayaannya, ketulusannya di hancurkan oleh satu orang yang selama ini dia percayai dan sangat dia cintai. Ingin rasanya dia memaki Angel, dan melampiaskan segala kemarahannya kepada perempuan penipu itu, tetapi itu tidak akan merubah keadaan karena yang ada Angel justru akan mencari cara lain untuk melakukan sesuatu lagi. Vino menyesal sekali sudah mengorbankan segala waktu, tenaga, materi dan segalanya hanya untuk Angel, tetapi perempuan itu justru melakukan pengkhianatan besar.
"Kau akan mengakhiri hubunganmu dengan Angel, setelah itu???? Apa yang ingin kau lakukan???" Tanya Papanya.
Vino terdiam. Apa yang akan dia lakukan setelah ini, tentu saja dia harus meminta maaf kepada Rana. Tiba-tiba saja dia teringat bahwa Rana dulu sangatlah mencintainya, tetapi dia sama sekali mengabaikan semua itu, tentu karena hanya Angel yang ada di hatinya. Perasaan Rana begitu tulus dan juga Rana adalah perempuan baik serta tidak pernah sekalipun meminta sesuatu yang berlebihan kepadanya, Rana yang apa adanya. Jelas berbeda dengan Angel, dia selalu meminta banyak hal dari Vino. Dan Vino selalu memberikannya tanpa banyak berpikir.
Kesalahan yang sudah di perbuatnya kepada Rana sungguh sangat buruk. Vino berharap dengan dia meminta maaf Rana mau kembali lagi dengannya. Vino akan berjanji untuk memperlakukan Rana dengan baik dan tidak akan seperti dulu. Vino tahu Rana mungkin masih mencintainya. Rana menghindar darinya kemarin pasti hanya karena takut di perlakukan buruk lagi olehnya karena dia masih bersama Angel.
"Aku akan meminta maaf kepada Rana Pa...! Dia pasti sudah menghadapi semuanya dengan penuh kesulitan karena diriku, aku berharap maaf darinya, mungkin ini adalah karma ku karena sudah mengkhianatinya, menyiksanya dan mengabaikannya padahal dia sangat mencintaiku...!" Jawab Vino.
"Baguslah...! Kalau kau menyadari kesalahanmu, tetapi lakukan itu dengan tulus dan jangan pernah memaksakan kehendakmu jika mungkin Rana belum menerima maafmu... Itu adalah hal sulit baginya tetapi memberinya ruang adalah hal yang tepat...!"
Vino tersenyum. "Aku berharap, Rana mau memaafkanku dan menerimaku lagi, dia sangat mencintaiku dulu dan aku mengabaikannya, rasa itu pasti sampai sekarang masih ada di hatinya, aku ingin memperbaiki semuanya, dan akan berusaha agar Rana mau kembali lagi denganku..! Papa pasti setuju kan???" Tanya Vino.
Papa Vino menoleh ke arah putranya itu. "Minta maaflah dulu, jangan berandai yang terlalu jauh, apa yang sudah kau berikan pada Rana kemarin sangat melukai hatinya, bukan hal mudah baginya untuk menerimamu lagi, biarkan dia menjalani kehidupannya dengan baik, jangan ganggu dan usik dia lagi. Yang terjadi saat ini adalah hal yang akan mengguncang hatinya, kehadiran kita semua berperan penting untuk melewati masa sulitnya, jadi jangan lakukan apaoun yang membuatnya semakin tertekan, Papa sangat berharap padamu Vin...!"
Vino mengangguk, dia mengerti sekali maksud Papanya, dan dia akan memberi Rana ruang untuk saat ini, tetapi ketika waktunya sudah membaik, dia pasti akan bisa merebut hati Rana lagi, dan akan memberikan seluruh cintanya kepada Rana, agar Rana mau kembali lagi kepadanya. Dan dia akan hidup bahagia bersama Rana nantinya.
Setelah mengantar Papanya pulang, Vino kembali lagi ke rumah sakit dan disaat bersamaan, ternyata Vitto hendak pergi dari rumah sakit. Operasi Rana sudah berhasil dan Rana juga sudah di bawa ke ruang perawatan tinggal menunggu dia sadar. Dan dokter mengatakan mungkin Rana akan sadar malam nanti atau esok hari. Vino menghentikan Vitto dan bertanya kemana kah kakaknya itu akan pergi dengan Edward. Vitto pun menjelaskan jika dia akan menguburkan janin Rana malam ini juga, sementara Jeany yang akan menjaga Rana di rumah sakit. Tanpa banyak bekata, Vino langsung ikut, dan mengatakan kepada Vitto bahwa sebagai ayah dari janin itu, dia yang harus menguburkannya. Dan Vitto tidak ada hak apapun untuk melakukannya. Vino bersyukur dia datang tepat waktu dan janin Rana belum di bawa pergi oleh Vitto. Tidak ingin berdebat panjang dengan Vino, Vitto pun memilih diam dan membiarkan adiknya itu ikut bersamanya dan Edward.
Edward mengendarai mobilnya, duduk disampingnya adalah Vitto sedangkan Vino duduk di belakang sambil menggendong janin Rana yang sudah di bungkus oleh kain putih. Dalam perjalanan itu sangatlah hening. Sesekali Edward dan Vitto mengobrolkan sesuatu. Sedangkan Vitto dan Vino tidak ada obrolan di antara mereka. Vitto sendiri merasa malas berbicara dengan Vino saat ini. Sikap yang di tunuukkan Vino tadi sangatlah tidak baik, dan terkesan ingin menang sendiri. Vitto juga masih bingung dengan keadaan saat ini, terlebih lagi Vino sudah mengetahui segalanya tentang Angel, kemudian Vino sekarang merasa seolah dia lah yang berhak atas segalanya dari Rana dan bayinya. Menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Rana, padahal selama ini dialah yang jadi pelindung Rana dan selalu memastikan segala sesuatu yang ada pada Rana dengan baik. Tetapi keegoisan Vino, membuat Vitto kesal sekali. Vino seolah lupa dengan apa yang sudah ditinggalkannya pada Rana, hingga sampai saat ini pun Rana masih merasa trauma dengan kesakitan yang di berikan oleh Vino.
Tetapi saat ini yang harus jadi fokus Vitto adalah kesehatan Rana, dia harus membuat Rana mengerti dengan keadaan saat ini. Karena Vitto yakin bahwa Rana pasti aman sedih sekali mengetahui apa yang terjadi dengan kehamilannya. Saat ini yang harus di lakukannya adalah selalu memberi kekuatan untuk Rana dan agar Rana bersabar serta menerima takdir yang sudah di gariskan oleh Tuhan saat ini kepadanya.
Vitto terlonjak dari lamunannya ketika ponselnya berbunyi. Vitto melihatnya dan nama Cahya ada disana. Vitto langsung menjawabnya, mungkin Cahya tadi menghubungi Rana dan tidak di angkat karena ponsel Rana ada di rumah sehingga Cahya memilih untuk menghubunginya.
"Hallo Ca....!" Jawab Vitto.
"Hallo Vit.... Aku tadi di hubungi oleh Ibuku, dia bilang kalau dia melihat Tania pulang tetapi pakaiannya penuh darah, dan Tania bilang bahwa Rana di bawa ke rumah sakit??? Rana kenapa bisa seperti itu??? Aku benar-benar khawatir, rumah sakit mana, aku akan kesana...!"
"Benar Ca, Rana ada di rumah sakit, ada insiden yang membuatnya harus di larikan ke rumah sakit, kalau kau ingin kesana lebih baik besok saja, Rana sekarang masih dalam pengaruh obat bius...!"
"Ya Tuhan.... Tapi dia dan bayi nya baik-baik saja kan???" Tanya Cahya khawatir.
"Besok aku akan ceritakan semuanya, sekarang aku sedang berada di mobil, ada urusan yang harus aku selesaikan, kau datang besok saja, besok aku ceritakan dan aku harap kau juga bisa membantu Rana...!" Ucap Vitto.
"Oh oke oke... Kau kirimkan saja alamat rumah sakitnya, besok aku akan kesana....!" Cahya kemudian menutup teleponnya.
"Siapa Vit....!" Tanya Vino tiba-tiba.
__ADS_1
"Cahya.. Dia istri temanku dan dia juga berteman baik dengan Rana!" Jawab Vitto datar.
"Owh...!!! Eh tapi ngomong-ngomong, dimana selama ini kau menyembunyikan Rana??? Dimana tempat tinggalnya?" Tanya Vino lagi.
"Kau tidak perlu tahu, dan aku juga tidak akan memberitahumu...!" Jawab Vitto ketus.
Vino terkekeh mendengar jawaban Vitto. "Ciiihhh..... Apalagi yang berusaha kau sembunyikan dariku.... Sekarang sudah tidak ada gunanya lagi... Kalau kau tidak mau memberitahu ya sudah, aku bukan orang bodoh yang bisa kau bohongi, jika mulutmu bungkam tidak masalah, aku yakin aku bisa mengetahuinya hanya kurang dari satu jam...!"
"Kau bilang kau tidak bodoh.... Tetapi yang aku lihat justru berbeda, kau adalah orang paling bodoh yang pernah aku temui, selama bertahun-tahun kau di perbudak oleh perempuan licik seperti Angel, dan kau tidak pernah menyadarinya, apa yang bisa di katakan oleh orang lain jika mengetahui itu, mereka akan menertawakanmu dan menganggapmu bodoh...!" Cela Vitto kemudian dia terkekeh.
"Berengseek kau....!!!" Geram Vino, ingin sekali rasanya dia menghajar Vitto lagi agar kakaknya itu tidak terus mencelanya.
"Aku atau kau yang sebenarnya berengseek???? Jika kau tidak mengetahui kebusukan kekasih payahmu itu, apa kau akan masih bersikap seperti ini??? Kau pasti tetap akan tergila-gila dengan perempuan licik yang di penuhi oleh drama itu, membayangkan meniduuri perempuan yang sudah tidur dengan banyak lelaki saja membuatku sangat muak, dan bodohnya itu kau lakukan selama ini, kau juga menghabiskan setengah dari hartamu hanya untuk perempuan gila seperti Angel, oh astaga..... Itu adalah kebodohan yang hakiki yang di lakukan oleh pria lulusan MBA summa-cumlaude dari Harvard, pemilik kerajaan bisnis Prakarsa Corp. predikat CEO muda yang berpengaruh, semua itu seolah luntur tidak berguna sama sekali, hanya karena dia di buat bodoh oleh seorang perempuan yang justru memiliki kecerdikan lebih darinya...! So funny...!" Vitto mengejek lagi Vino.
Wajah Vino memerah dan dia marah sekali kepada kakaknya itu. "Vitto.... Diamlah dan jangan kau terus mengejekku...! Jika aku tidak sedang bersama dengan bayiku, aku pasti akan menghajarmu dan tidak akan pernah mengampunimu....!"
Vitto hanya terkekeh dan tidak mengatakan apapun lagi pada Vino. Hal yang sama juga di lakukan Edward, dia tidak mau mencampuri permasalahan dari dua bersaudara itu. Meskipun Edward tahu bahwa semua yang di katakan oleh Vitto itu benar adanya. Mungkin jika Vino tidak mengetahui kebusukan Angel, Vino pasti tidak akan seperti saat ini, tidak akan bersikap baik seperti ini dan pasti akan mengacuhkan segala yang sedang di alami oleh Rana.
"Sebaiknya mulai sekarang kau berhentilah mengurus Rana, kbiarkan aku saja yang mengurusnya, setelah dari rumah sakit, aku akan membawanya pulang ke rumahku, aku akan pastikan semua kebutuhan hidupnya terpenuhi, dan dia tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi dariku, karena aku tidak akan bersikap buruk lagi kepadanya....! Bahkan jika dia mau meaafkanku, aku akan mengajaknya rujuk dan kali ini aku akan benar-benar menjadikannya sebagai istriku, serta akan melimpahinya dengan kasih sayang....!" Ucap Vino.
"Dan apa kau pikir dia akan mau kembali kepadamu???" Tanya Vitto.
"Kenapa tidak??? Rana itu sangat pemaaf dan lemah lembut, dia pasti akan memaafkanku...!"
"Memaafkan itu adalah tugas dan kewajiban manusian kepada manusia lainnya, benar dia akan memaafkanmu, tetapi tidak jika harus kembali padamu... Cinta dan hatinya sudah bukan milikmu lagi...! Jadi jangan terlalu berharap banyak kepadanya...!"
Vino terkekeh. "Kenapa kau bisa bilang seperti itu? Hati manusia siapa yang tahu Vit??? Rana dulu sangat mencintaiku dan aku sangat yakin dia masih memiliki perasaan itu meskipun aku sudah memperlakukannya buruk, tetapi perasaan seseorang yang mendalam akan sulit di hilangankan, butuh waktu dan aku yakin bahwa Rana masih mencintaiku meskipun tidak seperti dulu, perasaan itu pasti masih tersisa, aku akan membuat kepercayaannya kembali lagi kepadaku apalagi setelah aku mengakhiri hubunganku dengan Angel..!"
Vitto tersenyum. "Sekarang ternyata kau menjadi terobsesi dengan Rana, hal yang sama juga kau lakukan terhadap Angel, kau menjadi terlalu terobsesi hingga akal sehatmu tidak kau gunakan, menutup mata, hati dan pikiranmu, lalu kau sekrang akan melakukan hal yang sama lagi pada Rana.. Ya, tidak masalah.. Berharap dan bermimpilah setinggi mungkin, jika jatuh, aku harap kau tidak merasa kesakitan....!"
"Kau menantangku????" Tanya Vino.
Vitto masih tersenyum dan menggelengkan kepala nya. "Aku tidak menantangmu, aku hanya ingin melihat sejauh apa kau bisa memenuhi obsesi gila mu itu....!" Gumam Vitto.
"Kau seperti tahu saja luar dalamnya Rana....!" Ujar Vino.
Vitto kali ini memilih diam. Beradu argumen dengan adiknya itu sama saja dan tidak akan memberikan dampak apapun. Ingin sekali sebenarnya Vitto mengatakan kepada Vino bahwa Rana sekarang sudah menjadi miliknya, tetapi Vitto menahan diri, dia tidak mau hal itu justru membuat Vino menjadikan Rana sebagai taruhan. Karena Vitto tahu betul sifat dari adiknya itu yang ingin menang sendiri, serta sulit untuk mengalah.
Edward hanya bisa menggelengkan kepala mendengar perdebatan dan juga rasa percaya diri yang begitu tinggi dari Vino. Vino begitu mudahnya mengatakan banyak hal tentang rencana nya terhadap Rana, dan lupa dengan semua penderitaan yang di rasakan oleh Rana kemarin. Serta bagaimana Rana harus menghadapi hari-harinya setiap detik dengan kesakitan. Disaat Rana harus menjauh dari orang banyak, hanya Vitto yang selalu jadi teman baik serta pelipur lara nya selama ini. Vitto selalu berusaha menjaga Rana dengan baik, memastikan bahwa keamanan Rana itu di atas segalanya. Bagi Edward, yang pantas untuk membahagiakan Rana hanyalah Vitto. Benar kata Vitto tadi, bahwa Rana mungkin bisa memaafkan Vino karena Rana memiliki hati yang luas, tetapi untuk kembali dan melupakan yang pernah terjadi itu sangatlah sulit sekali. Memaafkan adalah tugas manusia kepada manusia lainnya, dan ingatan buruk akan selalu terkenang di hati dan pikiran orang itu meskipun dia sudah berusaha melupakannya selama bertahun-tahun. Sulit dan tidak akan pernah bisa di lupakan.
Mereka akhirnya sampai di pemakaman. Ternyata semua sudah siap. Vino melarang Vitto untuk ikut campur selama pemakaman bayinya. Dan dia sendiri yang akan melakukan tugasnya. Tidak ingin berdebat panjang, Vitto pun membiarkan saja adiknya, kemudian hanya meminta Vino agar membiarkan nisan itu kosong. Lalu nanti mereka bisa menanyakan kepada Rana, akan di beri nama siapa batu nisan itu.
Setelah selesai, mereka bertiga kembali lagi ke rumah sakit. Kali ininyang harus Vitto lakukan adalah menguatkan Rana, agar perempuan itu tidak larut dalam kesedihan. Rana butuh support dan keberadaan orang-orang yang peduli kepadanya, karena itu hal baik yang bisa membuat Rana merasa tenang. Ini sudah menjadi takdir dari Tuhan yang harus di jalani oleh Rana. Takdir yang tidak bisa untuk di hindari. Dan mungkin suatu hari nanti ada kebahagiaan yang sedang menunggu Rana.
Vitto juga masih menunggu hasil dari test makanan itu, dan berharap bisa segera terungkap. Apa itu murni kecelakaan atau ada hal lain yang membuat itu bisa terjadi.
★★★★★
Keesokan harinya....
Suasana begitu hening, Vitto tertidur di sebuah bed yang ada di kamar perawatan Rana, sedangkan Vino yang awalnya tertidur di sofa semalam pindah ke kursi yang ada di sebelah ranjang tempat Rana berbaring. Vino duduk, kepalanya tertunduk di sebelah tangan Rana sambil memegang jemari perempuan itu. Sementara semalam Edward mengajak Jeany untuk pulang dan beristirahat di rumah, karena posisi Jeany sendiri masih belum pulih sepenuhnya, sehingga Jeany juga harus beristirahat dengan nyaman. Tetapi Jeany berjanji akan datang lagi hari ini.
Perlahan Rana membuka matanya. Rana melirik ke kanan dan ke kiri, asing baginya ruangan ini. Dia mencoba mengumpulkan ingatannya. Rana mengernyit karena dia hanya mengingat ketika berada di rumah tetapi kenapa dia berada disini. Kemudian dia menyadari bahwa ada infus yang ada di sebelahnya. Rana kembali mengingat apa yang kemarin terjadi. Beberapa saat dia terdiam karena pada akhirnya dia mengingatnya. Dia kemarin terhuyung dan jatuh di lantai.
"Vitto.....!!!" Teriak Rana tiba-tiba membuat Vino teterlonjak dan bangun dari tidurnya.
"Rana...!!! Ada apa??? Kau kenapa???" Tanya Vino yang langsung berdiri kemudian membungkuk menatap wajah Rana.
Melihat Vino, Rana benar-benar terkejut dan refleks dia memundurkan tubuhnya lalu mengernyit merasakan sakit di bagian perutnya. "Auuuwhhhh....!!!!"
"Kenapa??? Mana yang sakit???" Tanya Vino panik.
Rana mengernyit. "Jangan mendekat....!!! Auuwwwhh....!!" Ucap Rana.
Mendengar keributan, Vitto yang tadinya masih tertidur pun langsung bangun. Dia melihat Vino sedang berdiri disamping ranjang perawatan Rana. Dengan cepat Vitto beranjak dari tempat tidur dan langsung menarik Vino dengan kasar karena dia melihat wajah ketakutan Rana.
"Rana... Kau tidak apa-apa???" Tanya Vitto.
"Auwhhh sakit..... Kenapa ada Vino disini??? Dia pasti ingin membawaku, aku tidak mau Vitto....!!" Ucap Rana.
Vitto membantu Rana agar berbaring lagi dan tidak banyak bergerak karena itu akan membuat Rana semakin kesakitan. "Ayo berbaring lagi....!"
Vino yang tadi hampir jatuh karena tarikan Vitto pun mendekat lagi ke Rana. Wajah Rana semakin ketakutan ketika melihat Vino. Vitto langsung menyadarinya kemudian berbalik badan menatap Adiknya, menghalangi agar tidak mendekat ke arah Rana. "Keluarlah... Jangan memperkeruh keadaan...!" Ucap Vitto sambil menahan Vino.
"Kenapa aku harus keluar??? Aku juga ingin menemani Rana disini....!" Ujar Vino.
"Jangan mengajakku berdebat, ala kau tidak melihat ketakutannya??? Setidaknya beri dia ruang sebentar saja... Rana baru saja menjalani operasi, dia butuh kenyamanan untuk beristirahat agar segera pulih, keluar dan tunggu lah disana... Beri dia waktu, jangan semakin membuatnya tidak nyaman yang justru akan mempengaruhi keadaannya....!" Vitto menatap tajam Vino.
"Tapi Vit...." Vino belum selesai berbicara, tetapi dia mendapati Vitto menangkupkan kedua tangannya.
"Aku minta padamu untuk keluar, bisa kan??? Tidak masalah kau tidak menghargaiku tetapi kau pasti bisa menghargai Rana yang sedang sakit.... Keluarlah dari ruangan ini, aku yang akan menjelaskan segalanya kepadanya...!"
"Tidak....!!!" Ucap Vino dengan suara sedikit meninggi. "Aku yang berhak melakukannya... Dia ibu dari bayiku....!"
"Vino...!!! Kenapa kau keras kepala sekali....!! Apa kau tidak melihat ketakutannya padamu....! Setidaknya dengarkan aku untuk saat ini saja.. Pergilah, atau aku akan memanggil dokter atau perawat untuk mengusirmu...!" Pinta Vitto lagi.
"Aku tidak mau dia membawaku pulang bersamanya... Aku akan membesarkan bayiku sendiri....!!" Ucap Rana sambil terisak. Rana sepertinya masih belum menyadari apa yang terjadi dengan dirinya dan bayinya.
"Vino....! Pergilah dari ruangan ini...!" Pinta Vitto lagi.
Bukannya pergi, Vino justru menatap tajam Vitto. "Aku akan membuat perhitungan denganmu nanti...!" Ancam Vino.
__ADS_1