
"Rana.....!!!" Vitto akhirnya kembali ke apartemennya setelah dari kantor Vino.
Pembahasan mengenai perceraian Papa dan Mamanya akan segera diurus setelah segala kelengkapannya siap. Banyak sekali yang terjadi hari ini, membuat Vitto merasa kepalanya ingin pecah. Belum selesai permasalahan Jason dan Angel, sekarang dia justru harus menghadapi kedatangan Mamanya yang merusak moodnya. Mengenai kehamilan Rana dia tidak terlalu pusing karena Rana saat ini sedang dalam keadaan baik.
Ada hal yang sejak tadi mengusik di pikirannya yaitu mengenai Angel karena segala sumber permasalahan ini adalah perempuan itu. Dia menjadi dalang dari segalanya. Siapa Angel sebenarnya dan siap keluarganya yang selama ini dia tutupi dengan baik, dan juga apa motif dibalik semua yang terjadi ini. Entah kenapa Vitto merasa ini bukan hanya masalah uang saja tetapi pasti ada masalah lain yang melatar belakanginya. Dia harus berpikir keras untuk mendapatkan informasi lebih mendalam tentang Angel dan juga Jason. Karena hanya itu satu-satunya cara mengetahui segalanya.
Ini seperti sebuah puzzle yang perlahan, satu persatu mulai terkuak. Selain menyiapkan penjebakkan untuk membongkar kedok Angel kepada Vino, hal terpenting juga adalah mengetahui latar belakang keluarga Angel.
"Ran....!!!" Panggil Vitto lagi karena tidak ada jawaban dari Rana.
Vitto melihat sekeliling dan tidak menemukan Rana. Vitto masuk ke ruang tengah, ternyata Rana sedang berbaring dan tertidur di atas sofa dengan televisi yang masih menyala. Vitto tersenyum tetapi dia tidak ingin mengganggu istirahat Rana. Vitto menuju kamarnya untuk mandi, berganti pakaian dan istirahat sebentar sambil menunggu kabar dari temannya yang bekerja sebagai seorang dokter kandungan disebuah rumah sakit. Vitto ingin mengatur janji dengannya untuk mengantar Rana berkosultasi nanti.
Vitto duduk di sofa untuk melepaskan sepatunya. Ketika dia membungkuk untuk melepaskannya, ponselnya berdering. Vitto melihat ada nama temannya yang menjadi dokter kandungan itu. Vitto tersenyum dan langsung menyapanya. "Hai Ndah...!" Sapa Vitto.
"Hai Vit, sorry sorry baru baca pesanmu, tadi aku masih sibuk praktek, ada apa kau ingin bertemu denganku???" Tanya Arindah.
__ADS_1
"Sudah ku duga pasti kau sibuk, begini Ndah, aku ingin meminta waktu khusus untuk bertemu denganmu di rumah sakit...! Jadi kemarin temanku baru kembali dari luar negeri dan saat disana dia ternyata hamil, lalu dokter disana mengijinkannya pulang dengan pesawat tetapi saat sampai disini temanku itu harus dibawa lagi ke dokter untuk diperiksa apakah keadaannya baik-baik saja, ya ku pikir aku akan membawanya ke rumah sakit tempatmu praktek hanya saja aku meragu jika langsung kesana akan ada orang yang mengenaliku, aku butuh privasi Ndah???" Ujar Vitto.
"Temanmu hamil? Kenapa kau yang membawanya kesini? Memang suaminya kemana???" Tanya Arindah lagi tetapi dia menaruh kecurigaan pada Vitto. "Hmmmm apa jangan-jangan itu adalah teman istimewamu dan kau adalah ayah dari bayi yang di kandungnya ya??? Astaga Vitto......!!!"
"Shiiittt.... Aku memang bukan ayah dari bayi itu, sembarangan....! Dia memang temanku...!"
"Hahaha... Ya sudah biarkan dia datang dengan suaminya, kenapa kau repot-repot mengantarnya???"
"Aku harus menjaganya, memastikan keamanannya, ya daripda kau terus bertanya dan mencurigaiku aku sepertinya harus menceritakan kepadamu tentang dia...!" Gumam Vitto.
"What????? Kok bisa???"
Vitto pun menhelaskan segalanya kepada Arindah, tentang semua yang terjadi pada Rana selama pernikahannya. Hingga kenapa Rana harus bersikap seperti ini. Vitto juga memberitahu Arindah jika mantan suami Rana adalah Vino adiknya. Dan saat ini dia sedang membantu Rana melewati segala kesulitan yang diakibatkan oleh Vino. Arindah pun mengerti sekali keadaan Rana saat ini dan dia tidak menyangka jika Vino bisa melakukan hal sekejam itu.
Arindah kemudian menyuruh Vitto agar datang ke rumah sakit di jam terakhir prakteknya agar tidak harus menunggu lama dan bertemu dengan orang banyak. Arindah akan menunggunya disana. Arindah mengerti kenapa Vitto meminta bantuannya dan waktu khusus untuk bertemu dengannya, itu pasti karena ingin menghindari orang-orang mengenalinya dan justru terjadi masalah baru jika sampai melihatnya datang bersama perempuan ke rumah sakit apalagi bertemu dengan dokter kandungan.
__ADS_1
"Datanglah di jam itu, aku akan menunggu kalian disini....!" Ucap Arindah.
"Oke thanks Ndah...! See you...!" Vitto menutup teleponnya dan beranjak dari sofa untuk mandi dan beristirahat. Sore nanti dia dan Rana akan ke rumah sakit menemui Arindah.
★★★★
Vino mengajak Papanya untuk makan siang di salah satu restorannyang ada di dekat kantornya setelah bertemu dengan pengacara dan menjelaskan segalanya mengenai perceraian Papanya. Tadi sebenarnya dia sudah menawari Vitto untuk ikut bergabung, sayangnya Vitto menolak karena dia sudah ada janji lain dengan temannya. Ya, akhirnya Vino hanya pergi dengan sang Papa. Vino bisa menyadari jika suasana hati Papanya saat ini pastilah tidak dalam keadaan yang baik. Kehadiran Mamanya membuatnya sendiri merasa kesal, dan moodnya yang awalnya baik menjadi rusak. Sebenarnya sejak semalam ketika Vitto memberitahunya tentang pertemuannya dengan sang Mama di airport, Vino sudah tidam bisa tidur dan memiliki ketakutan Mamanya akan berulah lagi. Dia mencoba untuk tenang dan berpikir positif tetapi kemudian fakta bahwa Mamanya adalah alasan dibalik kenekatan Vania untuk mengakhiri hidupnya semakin membuat Vino geram sekali.
Kebetulan yang bagus karena Mamanya justru datang diwaktu yang tepat ketika dia ingin meluapkan kemarahannya yang tidak terbendung lagi. Kemarahan yang di pendam Vino selama ini harus dia ungkapkan di depan Sang Mama agar wanita yang melahirkannya itu mengerti betapa menderitanya keluarga ini setelah kepergiannya yang begitu menyakitkan. Memiliki seorang ibu seperti itu, tidak pernah Vink bayangkan sebelumnya. Dulu dia dan Vitto sendiri harus menahan rasa malu ketika orang lain mengetahui bahwa Mamanya lari dengan laki-laki lain dan meninggalkan keluarganya. Sesekali dia dan Vitto juga mendapat cibiran serta jadi bahan tertawaan oleh mereka-mereka tentang apa yang sudah dilakukan oleh Mamanya. Hanya saja Papanya selalu mengatakan bahwa dia dan Vitto harus kuat menghadapi cibiran orang dan fokus saja dengan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Jika terus mengingat apa yang dilakukan Mamanya hanya akan meninggalkan luka yang semakin dalam saja.
Hal itu menjadi satu alasan kenapa Vino sangat marah, benci dan ingin sekali mendamprat Mamanya. Meluapkan segalanya yang selama ini di pendamnya. Seorang ibu seharusnya menjadi tempat terbaik meluapkan keluh kesah putra putrinya, tetapi Mamanya justru menjadi bom atom di rumah sendiri. Menghancurkan segala cinta serta kebahagiaan dari anak-anak dan suaminya.
"Papa, are you okay???" Tanya Vino pada Papanya yang duduk di depannya. Mereka baru saja memesan makan siangnya.
"Papa baik-baik saja... Jangan khawatirkan apapun...!"
__ADS_1
"Apa Papa marah kepadaku dan Vitto atas cara kami meluapkan kemarahan kami pada Mama???" Tanya Vino lagi.