
"Siapa dia Vin???" Tanya Edward.
"Dia mantan suami Arindah, dia tadi sedikit membuat keributan dengan Arindah dan ingin merebut Naufal, itulah kenapa aku marah padanya.."
"Merebut Naufal??? Kok bisa???" Tanya Jeany.
"Naufal tidur di gendongan ku, dan karena dia merebutnya, bocah itu terbangun dan menangis histeris karena terkejut..!"
"Lalu dimana Arindah???" Tanya Jeany lagi.
"Dia ada di kamarnya, aku temui dia dulu ya??? Takutnya Naufal masih menangis..!"
Jeany dan Edward mengangguk, dan membiarkan Vino pergi. Mereka saling bertatapan bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, tetapi berharap Naufal sudah berhenti menangis dan Arindah tidak apa-apa. Jeany pun pergi ke kamarnya begitu juga dengan Edward. Kamar mereka berhadap-hadapan.
Vino mengetuk pintu kamar Arindah tak lama perempuan itu membuka nya dan tersenyum pada Vino, mempersilahkan Vino untuk masuk. "Mana Naufal???" Tanya Vino.
"Dia sudah kembali tidur..." Jawab Arindah.
Vino berjalan menuju tempat tidur dan Naufal sudah berbaring disana, tidur dengan lelapnya. Vino membungkuk dan dengan lembut mengusap kepala bocah itu.
"Thanks Vin...!" Ucap Arindah tiba-tiba.
Vino menoleh ke belakang dan berbalik badan mendapati Arindah berdiri di belakangnya. "Thanks????" Vino mengernyit. "Terima kasih untuk apa???" Tanya Vino.
"Terima kasih untuk yang tadi, kau menyelamatkanku, dan aku minta maaf karena aku harus membawamu dalam masalahku dan Reino..!"
Vino tersenyum dan mendekat ke Arindah. "Kenapa harus minta maaf??? Aku hanya harus melakukan tanggung jawabku... Aku tahu kau membutuhkan bantuan ku, itulah kenapa aku memilih diam saja saat kau mengatakan jika aku adalah calon suamimu, kau pasti melakukan itu karena kau ingin menghindari Reino dan tidak mau kembali kepada nya??? It's okay... Aku sangat mengerti..!" Ujar Vino.
__ADS_1
"Sekali lagi maaf ya Vin...??? Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana menghadapi Reino? Dia keras kepala dan selalu memaksa kan kehendaknya, padahal seringkali aku sudah menolaknya... Aku tidak pernah berbuat untuk membencinya, akan tetapi aku hanya muak dengan sikapnya yang seperti itu, pemaksaan dan tidak pernah mau memahami orang lain.. Membuatku semakin muak saja kepada nya..." Arindah terlihat kesal dan memilih duduk di sofa untuk menenangkan diri.
Vino menghampiri Arindah dan duduk di sampingnya. "Kau sering bertemu dengannya???" Tanya Vino.
"Dia sering datang menemuiku di rumah sakit, menunggu ku di area parkir dan selalu seperti itu, memaksaku untuk mau kembali dengannya, dan dia juga pernah membuat keributan di rumah, itulah yang membuat aku sangat tidak menyukai sikapnya, jika dia ingin bertemu Naufal, aku tidak pernah menghalangi nya, tetapi sikapnya itu yang membuatku benar-benar sangat membenci nya...!" Air mata Arindah pun mulai membasahi pipi cantiknya.
Sambil terisak, Arindah menceritakan kepada Vino mengenai sikap Reino selama pernikahan dulu hingga saat in. Bukannya semakin membaik tetapi justru semakin keras kepala dan keegoisannya semakin bertambah. Selain itu setiap ucapan Reino selalu mengancam dan mengancam membuat Arindah semakin tidak nyaman. Dan terkadang itu membuat Arindah ketakutan. "Aku ingin sekali di hargai dan di hormati sebagai Ibunya Naufal, tetapi dia sama sekali tidak pernah mau menghargaiku, dan sering menghinaku... Aku sangat bingung harus berbuat bagaimana agar dia mau pergi dari hidupku... Aku sangat terganggu..! Aku berbohong tadi padanya mengenai akan menikah denganmu, aku harap dengan hal itu, dia bisa menyerah dan tidak menggangguku, maaf ya Vin.??"
"Its okay Ndah... Tetapi aku rasa dia belum mau menyerah karena dia tadi mengancamku.!!"
"Mengancam??? Mengancam apa!!!??" Tanya Arindah.
"Dia mengancam ku bahwa aku tidak akan bisa bersamamu, dan dia akan membawamu dan Naufal kembali lagi padanya..!"
Arindah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Mengusap kasar seolah dia frustasi, dan tiba-tiba saja dia menangis sesesunggakkan. Tanpa di duga Vino merengkuh Arindah dalam pelukannya.
"Dia juga pernah mengancam ku akan merebut Naufal dariku jika aku terus menolak ajakannya untuk kembali, dia akan menjauhkanku dari Naufal dan aku tidak akan pernah bisa bertemu Naufal untuk selamanya... Aku sangat takut dia melakukan hal itu, Naufal adalah kekuatan ku selama ini, bagaimana bisa dia ingin memisahkan aku dari anakku... Aku juga tidak mau kembali padanya, bagiku sekali saja seorang pria berani berselingkuh, dia pasti akan melakukannya lagi dan lagi, satu di banding seratus yang mau berubah dan tidak melakukannya lagi, aku merasa aku sudah cukup menderita melihat suamiku mengkhianatiku dan tidak ingin itu terulang, aku benar-benar trauma.." Isakan Arindah pecah di pelukan Vino.
"Aku hanya takut dia benar-benar akan merebut Naufal dariku..."
"Tidak akan bisa, yakinlah... Karena kau yang selama ini merawat dan membesarkan Naufal tanpa bantuannya... Jadi Naufal juga akan tetap memilih denganmu.. Sekarang tenanglah...! Tenang dan beristirahatlah karena kau pasti lelah sekali, besok kita harus check out kan???"
"Thanks ya Vin....??"
"Berhentilah mengucapkan Terima kasih, aku tidak membantumu banyak...! Ganti pakaianmu, aku harus kembali ke kamarku.. Jangan menangis lagi...!" Vino melepaskan pelukannya dan menyeka air mata Arindah sambil tersenyum. Vino yakin Arindah adalah perempuan yang sangat kuat, selama ini sudah berjuang untuk membesarkan anaknya sendirian. "Aku kembali ke kamarku, kau jangan menangis lagi.. Oke???"
Arindah tersenyum. "Iya... Sekali lagi Terima kasih...!"
__ADS_1
Vino mengangguk lalu berdiri dan berjalan ke tempat tidur. Dengan lembut Vino mencium Naufal yang sedang tertidur kemudian pergi untuk meninggalkan kamar Arindah. Vino lelah dan ingin beristirahat juga. Arindah ingin mengantar Vino sampai di luar tetapi Vino melarangnya dan menyuruh Arindah untuk beristirahat saja. Vino pun berjalan menuju pintu.
Vino membuka pintu kamar Arindah untuk keluar, tetapi terkejut ketika di depan pintu itu berdiri 3 orang laki-laki salah satu nya adalah Reino, dan juga seorang perempuan. Ketiga orang yang bersama Reino ternyata adalah polisi.
"Ini dia pak orangnya... Dia satu kamar dengan seorang perempuan yang bukan istrinya.. Tangkap saja dia..!" Ucap Reino pada polisi.
Sontak mendengar itu Vino sangat terkejut dan tidak mengertia apa yang di maksud oleh Reino. "Apa maksudmu???" Tanya Vino.
"Tangkap saja dia pak..." Reino setengah berteriak.
"Selamat malam Pak, kami dari kepolisian dan mendapat laporan jika ada laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri berada dalam kamar hotel, dan perempuan itu adalah istri bapak ini.."
Mendengar suara di depan, Arindah yang hendak ke kamar mandi dan berganti pakaian pun berjalan ke depan. Dimana ternyata Vino masih berdiri di depan pintu, dan ada beberapa orang sedang berbicara dengan Vino. Arindah lekas menghampiri nya. "Vin ada apa???" Tanya Arindah.
"Nah itu dia Pak perempuannya, tolong tangkap mereka Pak...!" Ucap Reino lagi.
"Ehhh tunggu... Apa maksudmu???" Tanya Vino. "Aku tidak melakukan apapun dengan Arindah...!"
"Mana ada maling yang mau mengaku. sudah Pak tangkap saja mereka berdua...!" Sela Reino dengan cepat.
"Bapak bisa menunjukkan data diri dan kartu nikah bapak???" Tanya Polisi itu pada Vino.
"Aku tidak memiliki buku atau kartu nikah, aku belum menikah, lagipula aku dan Arindah tidak melakukan apapun disini... Ini fitnah...!" Ucap Vino.
"Kalau begitu Mari bapak dan ibu... Ikut kami ke kantor polisi..! Nanti anda bisa menjelaskan semua nya disana...!"
"Eh tidak bisa dong Pak... Aku dan Arindah tidak melakukan apapun..!" Bantah Vino.
__ADS_1
"Jelaskan saja nanti di kantor...!" Polisi laki-laki itu menyuruh teman polisi perempuannya membawa Arindah. Terlihat kebingungan di wajah Arindah. Vino berusaha menghalangi polisi masuk untuk membawanya dan Arindah.
"Pak... Ini tidak benar... Kalian tidak bisa membawa ku dan Arindah...!" Teriak Vino lagi, tetapi polisi itu tetap memaksa Vino dan Arindah ikut mereka ke kantor polisi.