Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 301


__ADS_3

Vino masih terlihat bingung, dan dia tidak tahu harus berkata apa tentang apa yang tadi di ucapkan oleh Arindah dan juga apa yang baru saja di lakukan Arindah kepada nya. Sedangkan Arindah hanya melempar senyum, tahu bahwa Vino mungkin meragu atau cukup speechless, sehingga Arindah pun menoleh ke sudut kanan tempat tidur, mencari sesuatu. Lalu senyumnya semakin melebar ketika mendapati ada Champagne di sudut tempat tidur. Mungkin obrolan ini terlalu mengejutkan, dan daripada saling canggung, Arindah memutuskan untuk mengambil Champagne itu dan dia akan mengajak Vino untuk minum sambil mengobrol kan berbagai hal untuk mencairkan suasana yang sedikit tegang ini.


Arindah beranjak dan berjalan menuju sisi kanan tempat tidur, Vino memperhatikan dalam diam dan masih bingung sebenarnya. Arindah mengambil Champagne dan gelas yang ada di sana dan tersenyum cantik. "Ini seperti nya sangat enak, bagaimana kalau kita cicipi... Wajahmu begitu tegang, yang ada kita nanti jadi canggung... Kita minum ya???" Tanya Arindah sambil mengangkat keranjang berisi Champagne dan gelas ke atas meja makan yang ada di dekat jendela kamar dan langsung membuka tutup botol Champagne itu kemudian menuang Champagne nya ke dua gelas yang di sediakan.


"Kok bengong...??? Tidak mau minum denganku???? Kita minum disini sambil melihat pemandangan di luar.." Ucap Arindah lagi.


"Ahhh... Ya, tentu saja...." Vino bangun dari duduknya sambil tersenyum dan menghampiri Arindah yang ada di dekat meja dan kursi makan.


Vino menarik kursi dan duduk di dekat jendela kaca lebar yang di luarnya bisa melihat pemandangan kelapa kerlip lampu kota yang begitu cantik. Arindah menyodorkan gelas berisi cairan berwarna bening keemasan itu pada Vino, dan duduk berhadapan dengan lelaki itu. Arindah menyesap minuman itu, dan Vino hanya menatapnya dalam diam.


Vino masih mencoba memahami setiap ucapan Arindah tadi, tetapi kemudian dia menyadari bahwa Arindah memang mengatakan itu. Arindah juga terlihat serius mengatakan semua itu yang menandakan bahwa Arindah benar-benar sudah mempersiapkan diri untuk menjadi istrinya. Dan apa yang di katakan Arindah juga ada benarnya, bahwa jika hubungan mereka ingin lebih dekat lagi tentu berbeda kamar bukanlah hal yang baik, dan jika ingin lebih mengenal satu dengan yang lain tentu segala sesuatu nya juga harus di mulai lebih awal. Vino benar-benar tidak menyangka jika Arindah akan mengatakan semua nya saat ini, sebelumnya Vino sama sekali tidak pernah berani membayangkan rumah tangga seperti apa yang akan dia jalani dengan Arindah dan dia sangat takut sekali akan membuat Arindah merasa tidak nyaman karena mereka menikah tanpa memiliki perasaan apapun. Bahkan untuk membayangkan hal sejauh itu saja, Vino benar-benar tidak berani dan hanya memiliki keyakinan untuk bisa menerima Arindah sebagai istrinya, hanya sekedar itu saja. Tetapi ternyata Arindah justru sudah memikirkan dengan baik tugasnya sebagai seorang istri, apa saja yang harus di jalankan, dan Arindah juga membuka diri untuk menerima nya sebagai suami dan tahu bahwa dosa besar jika tidak menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.


Vino tersenyum dan ikut menyesap Champagne nya. Rasa nya begitu nikmat, pas dan membuat Vino merasa lebih baik.


"Astaga... Nikmat sekali.. Aku sudah lama tidak meminum Champagne, apalagi saat hamil sampai melahirkan Naufal, aku menghindari nya, dan sulit juga mencari waktu untuk bisa bersantai dan menikmati nya, harus sembunyi-sembunyi serta tidak berani menyimpannya di rumah hehehehe... Dan ini rasanya luar biasa, tidak terlalu pekat, manisnya pas, ya karena inj Champagne mahal...." Ujar Arindah mencoba membuka pembicaraan dan mencairkan suasana hening.


"Kau bisa menghabiskannya jika kau mau..." Timpal Vino.


Arindah menggelengkan kepala nya. "Tidak... Tidak.... Bisa mabuk aku jika menghabiskan sebanyak ini... Aku tidak biasa minum banyak, dan hanya seperlu nya saja untuk menghormati tuan rumah biasa nya..."


Vino kembali tersenyum. "Kau tidak pernah banyak minum, dan menghindari hal itu karena kau seorang dokter kan???"

__ADS_1


Arindah pun terkekeh. "Kau benar... Aku tidak mau merasakan pengar di keesokan hari nya yang justru akan mengganggu aktifitasku.. Bila-bila pasien ku kabur dan tidak mau kembali lagi berobat padaku... Hahahaha"


Melihat tawa Arindah, Vino pun ikut tertawa. Ternyata Arindah tidak berubah, dan tetap jadi orang yang menyenangkan dan banyak tertawa juga tersenyum. "Ngomong-ngomong, jika boleh tahu, apa saja yang di sukain oleh Naufal, dan apa yang tidak di sukai nya???? Mungkin seperti makanan, mainan atau hal lainnya... Aku bertanya seperti ini karena aku ingin bisa lebih dekat lagi dengannya, dan supaya dia bisa menerimaku sebagai Ayahnya... Jika kau berkenan, beritahu aku segala nya tentang Naufal..." Tanya Vino.


Arindah tersenyum. "Bukan hal yang sulit untuk merebut hatinya, dia juga bukan tipe anak yang rewel dan riweuh... Dia menyukai segala nya. dan tidak ada makanan yang tidak dia sukai... Jika kau ingin memberikan sesuatu, berikan saja dan aku jamin dia akan menyukai nya.." Jawab Arindah.


"Baguslah jika seperti itu....! Dia memang terlihat sangat menyenangkan dan tidak rewel.. Aku berharap dia mau bersahabat denganku... Aku juga sudah menyiapkan banyak mainan di rumah, supaya nanti dia betah dan tidak meminta pulang hehehehe..."


"Kau membeli banyak mainan???" Tanya Arindah.


"Ya..." Jawab Vino sambil menganggukkan kepala nya. "Beberapa hari yang lalu aku melewati sebuah toko mainan, entah kenapa aku langsung berhenti dan masuk kesana lalu aku membeli banyak sekali mainan karena teringat Naufal..."


"Ahhhh manis sekali.... Terima kasih kau sudah begitu perhatian terhadap Naufal, dia pasti akan sangat menyukaimu nanti..." Ujar Arindah.


Arindah menatap ke arah jendela, melihat kerlap-kerlip lampu di gedung-gedung dan jalanan yang ada di bawahnya. Sangat cantik dan memanjakan mata, sambil memegang gelas yang masih menyisahkan Champagne seperempat gelas, tadi dia mengisi nya setengah gelas lebih, tetapi tidak sampai penuh.


Sementara itu, Diam-diam melirik ke arah Arindah yang ada di sampingnya sekaligus di depannya. Perempuan itu terlihat sangat cantik dan sekarang sudah menjadi istrinya. Arindah sejak dulu adalah pribadi yang baik hati dan selalu tulus dalam berbagai hal, serta tidak pernah pilih-pilih ketika berteman. Ada rasa penyesalan di hati Vino saat ini, ketika pada akhirnya dia mengetahui jika dulu Arindah pernah menyukai nya, lalu dia justru mengabaikannya dan memilih Angel, sejak saat itu hubungannya dengan Arindah juga semakin memburuk dan rusak ketika dia menolak menghadiri pesta ulang tahun Arindah saat itu, sudah pasti kekecewaan yang mendalam di rasakan oleh Arindah. Dan sejauh yang Vino tahu, seburuk apapun orang yang pernah berbuat salah pada Arindah, perempuan itu adalah tipe pemaaf dan tidak akan ambil pusing. Akan tetapi mungkin karena terlalu kecewa padanya sehingga Arindah memilih untuk tidak lagi berteman dengannya, padahal Arindah sudah mengundangnya dengan datang langsung ke rumah, lalu pada akhirnya dia justru tidak menepati janji nya dan memilih pergi bersama Angel ketika itu. Kekecewaan Arindah itulah yang membuat perempuan itu marah dan memilih menjauh. Padahal Arindah adalah orang yang sangat baik. Ya, seperti kata orang, bahwa sabar itu pasti ada batasnya. Dan Arindah dulu mungkin terlalu bersabar dan berharap banyak tetapi dia pada akhirnya tetap di kecewakan, lalu memutuskan untuk mundur dan menjauh.


Sungguh, Vino sampai saat ini masih merasa tidak enak dan sangat menyesal sekali, karena kebaikan Arindah saat ini justru kembali membuatnya tersadar bahwa Arindah benar-benar perempuan yang luar biasa. Dan entah kenapa Vino semakin yakin bahwa Arindah memang perempuan yang sangat tepat untuk mendampingi nya, dan pasti akan jadi istri yang luar biasa untuknya.


Vino tiba-tiba kembali teringat dengan apa yang tadi di katakan oleh Arindah, bahwa Arindah akan menjadi istri yang baik untuknya dan memenuhi segala tanggung jawabnya. Vino sendiri bingung dia harus merasa senang atau tidak dengan hal itu. Jika dia merasa senang, dia takut dia akan di anggap sebagai laki-laki yang memanfaatkan keadaan, apalagi hubungannya dengan Arindah juga bisa di katakan belum seratus persen, dalam artian mereka belum saling mencintai. Disisi lain, jika dia tidak merasa senang dengan hal itu, dia akan terkesan tidak menghargai Arindah yang ingin berusaha membangun hubungan dan menjadi istri yang baik. Vino benar-benar tidak tahu harus merasa bagaimana, saat ini perasaannya campur aduk. Harus bagaimana dia bersikap dan juga harus seperti apa rumah tangga ini di jalankan. Dan mungkin lebih baik sekarang dia harus benar-benar membicarakan hal itu dengan Arindah secara terbuka agar mereka berdua tidak ada yang merasa di paksa atau agar tidak ada yang merasa di rugikan. Vino menarik napasnya dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara dari hati ke hati dengan Arindah. Kemudian dia menghela napasnya panjang sambil memejamkan mata untuk beberapa saat, dan membuka nya.

__ADS_1


"Arindah....!!" Panggil Vino dengan suara lirih tetapi mampu membuat Arindah mengalihkan pandangan ke arahnya.


"Ya...???" Jawab Arindah.


"Aku minta maaf atas sikapku tadi, aku benar-benar tidak menyangka kau akan mengatakan hal itu secepat ini.." Gumam Vino.


Arindah tersenyum. "Aku tahu, kau pasti terkejut sekali... Tetapi aku hanya ingin memaparkan apa yang sudah menjadi keputusanku... Aku sebenarnya sudah memikirkan itu sejak awal setelah aku mengatakan iya untuk menikahimu, hanya saja aku tidak punya nyali untuk langsung memberitahumu, dan ku pikir setelah kita menikah aku baru akan mengatakannya padamu... Aku sudah menduga bahwa kau pasti akan terkejut dengan apa yang aku katakan pada mu... Tetapi aku sungguh tidak menyangka jika kau benar-benar menyiapkan kamar lain untuk aku tempati sendiri... Padahal aku tidak pernah merasa aku meminta itu padamu sebelumnya, tetapi kau justru parno sendiri... Kau sangat lucu Vino..." Ujar Arindah sambil terkekeh.


"Aku hanya tidak ingin mau menganggapku memanfaatkan keadaan... Aku sungguh ingin membuatmu merasa nyaman.."


"Terima kasih, aku tidak menyangka kau begitu baik dan sangat menghormatiku..! Tetapi aku tidak bisa begitu mengabaikan tugasku sebagai seorang istri, salah satunya yang sangat wajib adalah aku harus melakukan tugasku untuk memenuhi kebutuhan biologis suamiku jika dia menginginkannya..."


Vino menunduk tetapi kemudian kembali mengangkat kepala nya dan memandang Arindah. "Keyakinan apa yang membuatmu memikirkan hal itu??? Maksudku kita belum saling mencintai, dan hubungan ini terjadi sangat cepat...!"


"Kau pasti menganggapku agresif ya karena aku mengatakan hal semacam itu lebih dulu????" Tanya Arindah.


"Ahhh tidak... Tidak... Bukan begitu maksudku, aku hanya ingin tahu saja kenapa bisa kau mengambil keputusan seperti itu.?? Maksudku, kau pasti tahu kan bagaimana masalalu ku kemarin, apa kau tidak ada ketakutan padaku bahwa mungkin aku akan melakukan sesuatu padamu, atau apalah misalnya..?"


"Kau sebelumnya sudah berjanji bahwa kau akan berubah, dan kau juga ingin memulai hubungan baru dan akan belajar mencintaiku karena aku dulu pernah mencintaimu.. Jadi aku memegang janjimu itu karena aku juga ingin melakukan hal yang sama, lalu kenapa aku harus meragukanmu??? Aku sering mendengar cerita dari beberapa pasien ku jika dia dan suaminya juga memutuskan untuk menikah padahal mereka belum saling mengenal, tetapi mereka meyakini bahwa menikah adalah sebuah ibadah, dan cinta itu bisa di tumbuhkan dan di ciptakan oleh waktu dan kebiasaan." Ucap Arindah sambil menatap ke arah luar jendela.


"seperti pepatah bilang, dari mata turun ke hati, dengan bertemu setiap hari. melakukan tugas dan tanggung jawab sebagai pasangan suami istri, maka lambat laun bukan mata yang bermain tetapi akan berpindah ke hati dan menjadi cinta.. Aku juga berpikir seperti itu, mungkin aku dan kau juga bisa melakukan itu, menumbuhkan rasa cinta itu mudah jika kedua nya bisa memulainya dari kebiasaan... Kita hanya perlu melakukan dan menjalani rumah tangga ini dengan sebaik mungkin, masalah cinta dan hati, itu tugas dari Tuhan dan juga waktu, mereka yang tahu kapan hal itu akan terjadi.. Jadi serahkan pada Tuhan dan Tuhan yang akan menentukan kapan waktunya tiba lalu kita benar-benar bisa saling mencintai..." Lanjut Arindah lagi.

__ADS_1


"Lalu apa yang kau sukai saat berhubungan bad*n??" Tanya Vino.


Arindah terlonjak. "Apa....????" Serunya terkejut dengan pertanyaan Vino.


__ADS_2