
Vitto terkekeh. "Papa tahu darimana Vitto suka Rana???"
"Kau itu anak Papa, meskipun bertahun-tahun tidak tinggal bersama, Papa sangat hafal watakmu Vit, kau sangat berbeda dalam memperlakukan Rana, yah... Memang semua orang akan simpati kepada Rana jika tahu apa yang di alaminya tetapi tidak denganmu, Papa sering memergokimu memandangi Rana dalam senyuman yang hanya kau saja yang mengerti artinya tetapi senyuman itu adalah senyuman mengagumi, Papa juga pernah muda...!"
Vitto tersenyum dan merasa malu, ternyata Papanya menyadari apa yang diam-diam dilakukannya. "Aku memang tidak pernah busa menyembunyikan apapun dari Papa...! Bagaimana menurut Papa???" Tanya Vitto.
"Rana sudah melewati banyak kesulitan di hidupnya, bukan perkara mudah untuk melupakan semua yang terjadi...! Selain meyakinkannya kau juga harus menerima segala kekurangannya dengan baik, jangan seperti adikmu yang sudah banyak meninggalkan kesakitan untuk Rana...!"
Vitto mengangguk. Dia memang sudah siap dengan segala yang ada di diri Rana. Kekurangan dan kelebihan Rana dia akan menerima semuanya karena cinta yang dimilikinya untuk Rana benar-benar tulus. Saat ini yang dibutuhkan adalah membuat Rana yakin kepadanya bahwa dia bisa membahagiakan perempuan itu.
"Papa lupa mengatakan sesuatu padamu...!"
Vitto menoleh ke arah Papanya. "Lupa??? Lupa mengatakan apa???" Tanya Vitto.
Ternyata setelah diberitahu oleh Vino jika Angel sudah kembali dari Singapura, Papa Vitto langsung mengirim 2 orang untuk mengawasi pergerakan Angel kemanapun perempuan itu pergi. Mereka mengikuti Vino saat Vino pergi menjemput Angel di Bandara. Dan sejak hari itu, mereka bergantian mengawasi Angel. Bahkan kedua orang itu diam-diam saat ini juga sedang mengikuti Vino serta Angel ke luar negeri. Itu dilakukan untuk bisa mencari bukti dari setiap pergerakan Angel. Dan apakah Angel akan menemui Jason lagi atau tidak.
Disaat Papanya menjelaskan itu, Vitto juga akhirmya mengaku jika dia juga sudah mengirim seseorang untuk mengawasi pergerakan Mamanya. Tujuan Vitto melakukan itu sebenarnya berharap jika Jason juga datang kesini dan bertemu dengan Mamanya, atau bisa jadi ada kesempatan Jason bertemu dengan Angel juga. Semua itu akan semakin lengkap dijadikan sebagai bukti nanti. Vitto benar-benar berharap Jason akan kembali kesini suatu hari nanti, meskipun kemungkinanya cukup kecil.
Sampai juga mereka di kediaman Vitto. Senyum melebar di wajah Papa Vitto akhirnya untuk pertama kalinya dia datang kesini. Vitto turub membuka bagasi dan mengambil kursi roda Papanya. Sementara Papanya membuka pintu mobil dan keluar. Sebenarnya Papa Vitto bisa berdiri dan berjalan tetapi tidak bisa terlalu lama, tidak bisa lebih dari lima menit karena tubuhnya nanti akan lemas.
Vitto membuka lipatan kursi roda Papanya dan lekas mendorongnya menuju sang Papa, agar tidak terlalu lama berdiri. "Ayo Pa, duduklah...!!" Ucap Vitto kemudian membantu Papanya dan mendorongnya masuk.
Saat masuk, Vitto dan Papanya langsung disambut oleh Asisten Rumah tangga Vitto yang sudah lama memang bekerja di keluarga mereka seja dulu. Wanita yang usianya hampir 50 tahun itu menundukkan kepalanya dan menyapa majikannya. "Selamat sore tuan besar??? Saya senang sekali bisa bertemu dengan tuan setelah sekian lama, semoga tuan sehat selalu...!"
Papa Vitto tersenyum. "Sore Bi, saya juga senang bisa bertemu dengan Bibi dan Bibi masih setia merawat anak-anak sampai sekarang...!"
"Keluarga ini sudah jadi bagian dari hidup saya selama ini, oh iya kamar tuan besar sudah saya siapkan...!"
"Terima kasih Bi, oh iya Rana mana???" Tanya Vitto.
"Tadi ada di belakang, saya akan panggilkan...!"
"Ah tidak perlu biar aku sendiri nanti yang memanggilnya, Bibi tolong buatkan jus delima tanpa gula untuk Papa, aku akan membawanya ke kamar...!"
Vitto kembali mendorong kursi roda Papanya ke kamar. Sampai disana Vitto membantu Papanya dan Papanya ingin langsung mandi. Vitto sudah menyiapkan segalanya dengan meletakkan sebuah kursi di dalam kamar mandi agar Papanya tidak perlu berdiri terlalu lama.
*****
"Rana....!!!" Vitto menggoyangkan tubuh Rana yang sedang berbaring dan tidur di kursi santai yang ada di tepian kolam renang. "Rana, ini sudah sore, bangunlah....!!!" Panggil Vitto lagi.
Rana perlahan membuka matanya, dia mengerjapkannya dan menyadari bahwa dia tertidur di halaman belakang. "Ah ya Tuhan aku tertidur disini....!" Gumamnya.
__ADS_1
"Bukannya aku ingin mengganggumu, tetapi ini sudah hampir senja... Ayo masuk....!"
Rana menguap. "Hoammmssss....!!! Iya...! Papamu sudah datang???"
"Sudah, Papa sedang ada di kamarnya, aku membantunya sebelum mandi dan menyiapkan pakaiannya tadi... Ayo...!"
Vitto memegang tangan Rana dan mengajak perempuan itu masuk ke dalam rumah lagi. Rana senang sekali berada di halaman belakang rumah Vitto yang asri itu, terlalu menikmati hingga dia tidak sadar dan tertidur.
Rana dan Vitto memilih duduk di ruang tengah untuk mengobrol karena Vitto tidak ingin mengganggu waktu santai Papanya di kamar. Papanya tadi ingin membaca buku, dan Vitto tahu bahwa Papanya tidak suka di ganggu ketika melakukan itu.
Rana bercerita kepada Vitto bahwa tadi dia berbicara dengan Jeany juga orang tuanya. Kondisi Jeany semakin membaik setiap harinya, dan akan dalam proses pemulihan. Jeany akan pulang dalam beberapa minggu lagi. Dan sekarang Edward juga sedang berada disana untuk menjenguk Jeany. Mengenai kedekatan Edward dan Jeany, Rana tidak tahu, dan dia berpikir mungkin Edward sering kesana adalah karena lelaki itu merasa bersalah pada Jeany karena dulu berbohong kepadanya.
"Bagaimana? Kau suka dengan rumah ini???" Tanya Vitto pada Rana.
"Suka... Nyaman, asri dan bagus...! Semua terlihat jantan..." Jawab Rana.
"Hahaha.... Wajar saja, aku laki-laki tidak beristri dan tinggal sendiri, ya beginilah semua menjadi seleraku saja....! Kalau kau mau jadi istriku kau bisa merubah semuanya hahha... Bagaimana tertarik tidak jadi istriku???"
"Ini rumahmu, kau bebas melakukan apa saja...! Jika aku jadi istrimu apa aku harus merubahnya? Ku rasa tidak juga, ini terlihat keren...!" Puji Rana.
"Kau pandai sekali memuji... Oh iya, aku ingin meminta pendapatmu tentang sesuatu...!" Gumam Vitto.
Vitto menceritakan tentang keinginan Papanya mengenai bergabung di Perusahaan. Dia sudah kesekian kalinya dan tak terhitung lagi berapa kali sudah menolak tawaran itu. Kali ini Papanya kembali meminta itu padanya dengan alasan bahwa dia harus mulai memikirkan tentang masa depan dan karirnya sebagai seorang aktor. Vitto sebenarnya sering berpikir hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Papanya tentang karir entertainnya tetapi dia sama sekali tidak pernah berpikir untuk menjadi seperti Vino. Vitto berpikir tentang bisnis yang lain seperti membuka usaha atau lainnya, bukan mengurus perusahaan besar milik keluarganya. Sebenarnya saat ini dia juga sudah memiliki beberapa usaha tetapi usaha itu adalah usaha gabungan dengan beberapa temannya dan dia menanam saham disana. Vitto ingin memiliki usaha sendiri tetapi belum menemukan apa yang sekiranya cocok untuknya.
Entah kenapa permintaan Papanya kali ini itu membuat Vitto seperti tidak bisa menolaknya. Ada makna dalam yang tersirat dari ucapan dan permintaan Papanya. Vitto sebenarnya sejak tadi berpikir keras mengenai hal itu meskipun dia coba mengabaikannya dengan membahas hal lain. Masa depan, memiliki istri dan anak semua itu sama sekali belum pernah Vitto pikirkan, dia hanya berpikir bahwa dia akan menikah dan punya anak karena uang yang dimilikinya lebih dari cukup untuk membiayai kehidupannya dan keluarganya nanti.
Rana melempar senyumnya pada Vitto setelah laki-laki itu bercerita menganai permasalahannya.
"Itulah yang ingin ku jelaskan sejak lama saat kau bercerita tentang bagaimana kau selalu menolak keinginan Papamu atau Vino agar kau bisa bergabung di perusahaan milik kalian.. Kau tidak mungkin akan seperti ini terus dan kau butuh kemajuan untuk hidupmu dan masa depanmu.. Kau pasti ingin kelak anak-anakmu mendapat pendidikan terbaik dan mewujudkan ompian mereka, biaya sekolah juga semakin mahal, kau memang punya uang dan itu mencukupi untuk kehidupanmu tetapi apa kau bisa menjamin juga untuk kehidupan dan pendidikan anak-anakmu??? Well, jika kita memiliki peluang bagus kenapa kita harus menolaknya Vit? Keluargamu sangat berharap banyak padamu, dan mereka pasti punya pertimbangan yang mungkin tidak pernah terpikirkan olehmu...!"
"Jadi kau juga ingin aku menuruti keinginan Papa???"
"Kalau kau menuruti tetapi hatimu masih menolak dan tidak benar-benar menginginkannya ya percuma saja, selamanya kau tidak akan bisa menikmati hidupmu dengan baik, setiap melakukan sesuatu itu harus dari hati serta niat yang kuat agar hasilnya baik.. Pikirkan dulu dengan baik, pikirkan sisi positif dan negatifnya juga, dan pikirkan untuk apa kau melakukan itu, jika semua sudab kau temukan jawabannya dan menurutmu itu baik, tidak ada salahnya mencoba...!" Ujar Rana lagi.
"Aku akan memikirkannya...!" Gumam Vitto.
★★★★★
Satu Minggu Kemudian.....
Rana sudah bersiap sejak kemarin untuk mengemasi pakaiannya dan kembali lagi ke apartemen Vitto, karena Vino sudah kembali dari liburannya dan takut tiba-tiba Vino datang kesini. Selama di rumah ini, Rana mmbanyak menghabiskan waktunya di halaman belakang dengan hanya duduk diam atau sekedar memetik bunga yang ada disana. Rana juga sudah bisa berenang, karena Vitto setiap hari mengajarinya dan tidak pernah terlewat.
__ADS_1
2 hari yang lalu Vitto pulang dengan membawa seseorang yang ternyata orang itu adalah seorang arsitek yang akan mendesain rumah baru untuknya. Saat itu Rana tentu saja terkejut dan tidak menyangka Vitto akan melakukan itu. Sempat ada penolakan dari Rana, dia tidak ingin rumah baru dan akan menunggu saja rumah lamanya sampai habis masa kontraknya, tetapi Vitto terus memaksa agar Rana tidak menolak dan menerima saja. Vitto mengatakan jika rumah itu adalah hadiah dari Papanya untuk Rana dan calon cucu Papanya yang saat ini ada di perut Rana. Rana masih berusaha menolak tetapi itu sama sekali tidak berguna karena Vitto tetap melakukannya.
Dalam diskusi itu, Vitto mengajak Rana untuk bersama-sama menuangkan ide mengenai rumah itu. Rana di bebaskan untuk memilih seperti apa rumah yang diinginkannya. Ternyata keinginan Rana tidak jauh beda dengan Vitto, yaitu ingin memiliki halaman luas di sekitar rumahnya sehingga tidak akan pernah merasa bisan untuk dipandangi setiap hari juga di tinggali. Dan Vitto masih menginginkan ada sebuah kolam renang, dan kolam itu ditengahnya nantinya akan di beri lingkaran yang tidak bisa di masuki air dan lingkaran itu akan di jadikan tempat santai di tengah-tengah kolam. Rana hanya menurut saja mengenai desain kolam renang itu. Dan Vitto juga sudah menemukan tempat yang pas untuk rumah itu.
Kemarin Papa Vitto sudah pulang ke rumahnya untuk menghindari Vino menjemputnya sehingga dia meminta Vitto agar segera mengantarnya pulang.
Vitto sekarang sedang berdiri di depan walk-in closet miliknya yang cukup besar dimana ada koleksi pakaian, sepatu serta beberapa accesories mahal miliknya. Vitto terlihat bingung akan memilih pakaian mana yang akan dia gunakan hari ini. Hari pertama untuk memulai sesuatu yang baru, dan Vitto harus terlihat sempurna. Vitto berjalan pelan memilih baju yang akan dikenakannya. Kemeja, celana, jas dan sepatu juga jam tangan yang cocok dipakai dengan semua itu.
Cukup lama Vitto mondar mandir sampai akhirnya dia sudah memutuskan akan mengenakan yang mana. Kemeja putih, setelan jas putih dan sepatu. Vitto masuk ke ruang ganti yang dikelilingi cermin di ketiga sisisnya. Vitto memakai satu persatu pakaian itu di depan cermin yanv mengelilinginya dan dia terlihat sangat tampan dan gagah.
Setelah siap, Vitto akhirmya keluar dari kamarnya dan menghampiri Rana yang ternyata sudah ada di ruang makan. Melihat Vitto tampil rapi, Rana pun berdecak kagum dibuatnya. Vitto menghampiri Rana sambil tersenyum dan bertanya bagaiamana oenampilannya saat ini pada Rana.
"Kau mau kemana dengan penampilan rapi seperti itu.??? Apa kau akan ada photoshoot atau janji dengan klien???" Tanya Rana.
"Tidak keduanya.... Hari ini aku akan mulai bekerja di Prakarsa's Corporate, jadi aku harus terlihat rapi di hari pertamaku kerja...! Bagus tidak penampilanku???" Tanya Vitto lagi.
Rana mengangguk. "Kau tampan sejak lahir jadi mau bagaiamanapun penampilanmu, kau tetap akan terlihat tampan...! Dan kali ini sempurna....!" Ouji Rana sambil melingkarkan jari telunjuk dan ibu jarinya memuji Vitto.
"Thanks...! Oh iya kau tidak apa-apa kan pulang bersama Mario dan Tania??? Aku harus ke kantor dan menemui Vino... Dia hari ini juga akan langsung kerja...!"
"Tidak apa, kau pergi saja bekerja dan aku akan pulang bersama Mario dan Tania... Aku cuma ingin bilang... Good luck untukmu hari ini.... Aku bangga padamu karena kay mengambil lelutusan yang sangat baik...!"
"Kau harus memberiku makanan yang enak setelah aku kembalj nanti...!"
Rana hormat. "Siap bosss.....! Sekarang cepat saraoan dan jangan sampai terlambat...!"
★★★★
Sampai di kantor, Vitto langsung masuk lift menunu ruangan Vitto dan Papanya. Dia sengaja tidak memberitahu mereka jika hari ini dia akan ke kantor dan meminta pekerjaan pada mereka. Vitto ingin membuat kejutan untuk Adik dan Papanya.
Vitto keluar lift dan kangsung menuju ruangan Vino dan Papanya. Kedatangan Vitto yang berbeda dari biasanya itu membuat sekretaris Vino terkejut dan tidak bisa berhenti mengagumi ketampanan Vitto dari dalam hati. Dia lekas sadar dan beranjak dari kursinya untuk mengetuk ointu ruangan Vino.
"Masuklah...!" Teriak Vino dari dalam
Pintu dibuka dari luar, dan Vitto masuk sambil tersenyum pada Papa dan Adiknya. Vitto menghampiri meja Vino dan menyerahkan sebuah berkas pada adiknya itu lalu menarik duduk di depan meja Vino.
"Ini surat lamaran pekerjaanku, aku ingin melamar dan bergabung dinperusahaan ini...!" Ucap Viito.
Vini langsung terbelalak matanya, terkejut dan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya dari mulut Vitto. "Kaaa...uuuu ingin beker...ja disinii??????""" Tanya Vino dengan suara terbata.
__ADS_1