
Beberapa minggu kemudian.........
"Kanan atau kiri????" Tanya Vino pada Arindah yang ada di sebelah nya. Mereka saat ini sedang dalam perjalanan ke rumah Vitto dan Rana. Karena Vino belum tahu tempat tinggal kedua nya saat ini, dan Arindah lah yang tahu dimana tempat nya. Sebelumnya Arindah sudah pernah datang kesana. Mereka baru saja kembali dari Swiss lusa kemarin, dan baru ada kesempatan untuk menemui Vitto dan Rana.
Vino sudah selesai mengurus ijin tinggal Papa nya disana sementara waktu sekaligus menjalani pengobatan disana. Dan saat ini Papa nya kembali di urus oleh tante nya yang adalah adik Papa nya. Vino juga menyewakan apartemen untuk di tinggalin mereka tidak jauh dari rumah sakit yang menjadi tujuan Vino untuk melanjutkan pengobatan Papa nya. Vino dan Arindah memang harus kembali pulang, dan Vino tidak bisa terlalu lama meninggalkan pekerjaan di kantor, meskipun sudah di urus Vitto, tetapi tetap saja Vitto tidak bisa menangani sendiri dan butuh bantuan, apalagi Vitto juga di sibukkan dengan hal lain di luar pekerjaannya mengurus kantor.
"Kanan sayang... Lurus saja sampai nanti ada gapura tulisan perumahan nya Supernova Residens, kita masuk, tapi aku hubungi Rana dulu Rana, supaya kita dapat akses masuk.. "
"Ya...!" Vino melempar senyum ke arah Arindah. Sejak ungkapan cinta nya pada perempuan itu, dia merasa kehidupan rumah tangga nya semakin terasa luar biasa. Bahagia, penuh cinta dan semakin saling melengkapi. Perasaan hangat selalu Vino rasakan bahkan setiap hari dia semakin jatuh cinta pada Arindah. Dia semakin tidak bisa jauh dan selalu ingin di dekat istrinya. Arindah juga terlihat semakin bahagia, dan beban serta ketakutan terhadap penolakan Vino, seolah hilang seketika ketika laki-laki itu mengungkapkan rasa cinta nya.
Hubungan itu semakin terasa luar biasa saat mereka berada di Swiss. Setiap hari mereka seluruh bertemu dan bersama setiap waktu. Meninggalkan hiruk pikuk kesibukan masing-masing. Membuat semakin dekat untuk mengenal satu sama lain. Dan Vino benar-benar bertekad kuat untuk merubah dirinya menjadi lebih baik lagi setiap harinya. Menyingkirkan semua ego yang selama ini menjadi salah satu sikap buruknya. Dia ingin menjadi suami yang bertanggung jawab untuk istri dan anaknya.
Dan mengenai gugatan hak asuh Naufal, sidang itu sudah di mulai minggu kemarin sebenarnya, tetapi Vino menyerahkan hal itu pada pengacara nya karena Arindah tidak bisa hadir, dan akan hadir pada minggu depan lagi sehingga persidangan itu di tunda selama satu minggu. Arindah masih ada waktu untuk menyiapkan segala nya menghadapi Reino. Dan Vino merasa senang, karena Vitto juga sudah berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, memberi Angel dan Reino peringatan. Sejauh ini mereka tidak lagi terpantau bertemu. Reino seperti nya merasa takut akan ancaman Vitto mengenai rekaman itu. Meski begitu, Vino dan Vitto sepakat untuk tidak membawa Papa mereka kembali kesini. Mereka berdua merasa Papa mereka lebih aman tinggal di luar negeri. Karena Vitto dan Vino tidak mau ambil resiko terjadi sesuatu pada Papa mereka jika berada disini.
"Ini ya????" Tanya Vino sambil menghentikan mobilnya di depan gapura masuk sebuah perumahan yang cukup besar.
"Iya.. Ayo masuk... Aku sudah memberitahu Rana, dan dia akan menghubungi bagian keamanan..."
__ADS_1
Vino membelokkan mobilnya dan masuk ke gerbang itu. Seorang petugas keamanan keluar. Vino membuka jendela mobilnya dan terjadi percakapan, setelah itu portal di buka dan Vino di ijinkan masuk. Vino mengemudikan mobilnya dan Arindah mengarahkannya untuk terus lurus karena tempat tinggal Vitto dan Rana ada di bagian ujun tetapi tidak di ujung pas.
Hingga akhirnya Arindah meminta Suami nya berhenti, dan membawa mobil masuk. Di depan garasi ada dua bodyguard yang berjaga. Tak lama Rana dan Vitto keluar dari dalam rumah. Mereka turun dan menghampiri Arindah dan Vino juga Naufal. Ini hari minggu, Vitto tidak bekerja dan Rana sengaja tidak ke bakery nya karena tahu Arindah dan Vino akan datang.
Rana memeluk Arindah, mereka cipika-cipiki, sementara Vino membuka pintu mobilnya dan membantu Naufal turun dari mobil. Setelah Naufal turun, Vino membuka bagasi dan mengeluarkan beberapa barang yang memang di pesan oleh Vitto dan Rana.
"Eh masuk yuk, kita ke ruang keluarga saja, suasana lebih enak... " Ajak Rana. Vitto meminta agar pintu garasi di buka, agar mereka langsung bisa ke belakang tanpa perlu melalui ruang tamu yang nanti justru naik turun. Jika lewat garasi akan langsung sampai ke ruang keluarga di bagian belakang rumah. "Aku sudah membeli apa yang kau pesan.. " Ucap Arindah.
Rana tertawa. "Thanks sudah membuatmu repot..."
Vino menggendong Naufal. "Bagus juga tempat ini...!! Dan super ketat, bahkan keamanannya lebih ketat di banding perumahan kita.. " Ucap Vino.
"Ini di kelola oleh perusahaan Ariel, dia juga tinggal disini, rumahnya ada di paling ujung... Elea juga tinggal disini begitu juga Mertua Aditya, dan rumahnya tepat di depanku.. "
"Oh ya??? Wow.... Tapi wajar sih karena keamanan super duper ketat, padahal ini hanya kompleks cluster..."
"Ya... Itulah kenapa aku memilih untuk tinggal disini sementara ini.. Oh iya bagaimana Papa saat kau tinggal pulang???" tanya Vitto. Mereka sudah sampai di dalam ruang keluarga. Vitto mempersilahkan Vino untuk duduk. Melihat kolam renang, Naufal langsung meminta turun dan berlari ke Arindah mengajak Mama nya untuk berenang.
__ADS_1
"Papa baik-baik saja... Dan merasa nyaman berada disana... Aku berharap semakin membaik lagi kondisi nya. Dan tidak di pusingkan dengan apapun, dan berfokus pada kesehatannya saja... " Jawab Vino.
"Kita harus sering menengok nya, bergantian.... Bagaimanapun kita tetap harus memperhatikan Papa dengan baik... Walau berat, tetapi kita harus memintanya hidup jauh dari kita.. "
"Ya, Beruntungnya Papa mengerti sekali kondisi disini... Bagaimana dengan Mama???? Rana bercerita pada Arindah, jika dia sempat berbicara dengan Mama, dan kau sendiri menangis di depan Mama??? Kenapa melakukan itu??? Apa kalian pikir itu akan merubah keadaan yang ada??? Kau sudah tahu bahwa Mama tidak pernah bisa berubah... Untuk apa sampai perlu menangis dan mengajaknya bicara dari hati ke hati???"
"Aku hanya merasa lelah saja menghadapi sikap Mama, dan tidak habis pikir dia ingin mencelakai Rana, walaupun pada akhirnya dia urungkan niat itu, tetapi tetap saja merencanakan sesuatu untuk menghilangkan nyawa seseorang tidak lah di benarkan.. Dan aku tidak tahu jika Rana menemui Mama, baru setelah itu aku di beritahu oleh Mario... Jika sebelumnya tahu aku pasti melarang Rana melakukan itu... Dan Rana beralasan jika dia ingin sendiri mencoba berbicara dengan Mama dan berharap Mama bisa menjadi lebih baik.. Rana bilang tidak ada salahnya mencoba, kalaupun gagal ya dia sudah berusaha... " Ujar Vitto.
"Lalu hasilnya apa???" Tanya Vino dan Vitto menggelengkan kepala nya. Vino pun tersenyum. "Tidak ada gunanya nya kan??? Mama tetap sama dan selalu sama.... Sudahkah kita biarkan saja, terserah dia ingin seperti apa, jika dia tidak mau mengerti kita, untuk apa kita mengerti tentang nya... Hanya buang waktu dan tenaga saja... "
"Jujur aku benar-benar lelah Vino, dan sejak saat itu aku sudah bertekad untuk tidak lagi akan peduli dengan Mama.. Semua nya sudah keterlaluan..." Gumam Vitto.
Sementara itu, Rana mengajak Arindah dan Naufal ke kamarnya, berganti pakaian karena Naufal terus merengek ingin berenang. Padahal tadi pagi sudah berenang dengan Vino di rumah. Rana akan meminjami baju renang untuk Arindah. Arindah berganti pakaian di kamar mandi, sedangkan Rana melepaskan pakaian Naufal. Saat melepaskan baju Naufal, mata Rana tertuju pada tanda lahir yang ada di antara ibu jari dan jari telunjuk Naufal. Tanda itu berwarna cokelat muda dan bentuknya punya ciri khas. Rana sudah melihat ini beberapa kali sebelumnya. Tanda itu justru tampak istimewa. "Oh iya, Aunty baru saja membeli burung flamingo karet yang bisa mengapung di air, apa Naufal ingin menaiki nya???" Tanya Rana.
"Ya... Mana?" Tanya Naufal.
"Ada di bawah, nanti aunty ambilkan, kita tunggu Mama dulu."
__ADS_1