
Setelah membersihkan ddiri dan sudah bersiap deengan berganti pakaiaan, Rana mendorong kursi rodanya keluar kamar dan mendapati vitto suddah ada di kursi makan sedang sibuk degan ponselnya. Melihat ada Rana, Vitto tersenyum dan langsung berdiri membantu Rana. "Kenapa kau kesini sendirian, harusnya kauemanggilku...! Sarapan sudah siap jadi kita sarapan bersama...!"
Vitto mendorong kursi roda Rana lalu menyiapkan piring dan mengambilkan Rana nasi goreng yang ada di mangkuk. Setelah itu Vitto kembali duduk ke kursinya. "Bagaimana tidurmu???" Tanya Vitto pada Rana.
"Nyenyak sekali.... Ditambah dengan efek obat jadi aku lebih baik...!" Jawab Rana.
Vitto tersenyum. "Syukurlah, aku harap kau betah disini...! Setelah kau pulih nanti kau bisa memasak dan melakukan apapun yang kau inginkan disini, oh iya aku ada hadiah untukmu...!"
Vitto mengeluarkan sebuah kotak dan memberikannya pada Rana.
"Apa ini???" Tanya Rana.
"Hadiah kecil untukmu, ku harap kau menyukainya...!" Rana kemudian membukanya dan ternyata itu adalah sebuah ponsel. Rana tersenyum. "Kenapa kau memberiku ponsel ini??" Tanya Rana lagi.
"Agar kau bisa dengan mudah menghubungiku, kau sangat memerlukan itu kan??? Aku membelinya untukmu..!!"
"kau kenapa melakukan semua ini Vitto... Aku tidak begitu perlu dengan ini...!"
"Kau memerlukannya, agar ketikaa aku diluar dan kau butuh sesuatu kau bisa langsung menghubungiku.... Jangan menolaak dan gunakan ponsel itu dengn baik....!"
Rana tersenyum. "Thanks ya....!" Ucapnya .
"Iya sama-sama, ayo habiskan sarapanmu...!"
Vitto dan Rana sarapan bersama dan mereka juga mengobrol lagi. Vitto sangat senang melihat Rana tersenyum laagi, kaarena itu adalah hal yang sangat ingin dilihatnya. Vitto berharap Ranaaaaa mmmmeeraaasssssaaaaa betaaaaahh tinnggaaalll dissssini dddaaaaaann diiiiaaaaaa juagaaaaaa aaaaakkaaaaana punnnyaaaaaa ttemmman mmmeengobrrrool yaaaaangg aaaaassssiikk..
"oohhhh iiyaaaaa kaaaaauu bbilaaaang kaauu iingin bbberteemu sahabatmu, dimana dia tinggal??? Aku akan menyuruh ornag mengeceknya dulu..."
"Temanku itu bernama Jeany dia memiliki restoran di dekat kantor Vino, restoran Chinese food"
"Oke... aku akan mengirim orangku kesana dan memastikaannya, kau jangan dulu berhubungan dengan orang lain selaain amaku, aku takut Vino tahu pergerakan mu dari orang lain"
"Iya aku tahu...!""
Vitto tersenyum. "Kau tunggu saja nanti aku akan mengabarimu jika ada informasi tentang sahabatmu itu...."
Rana mengangguk dia menatap Vitto dengan senyuman. dan sekali lagi Rana mengagumi kebaikan dari Vitto. Rana berharap Vitto akan menjadi teman yang baik untuknya dan tidak menyakitinya seperti Vino.
Vitto juga tersenyum dan diam-diam mencuri pandang ke arah Rana yang sedang menyantap nasi goreng. Rana terlihat sangat manis ketika tersenyum. Dan Vitto akan memastikan senyum Nah itu tidak akan pernah hilang dari wajahnya. Dia akan berusaha dengan keras untuk mengembalikan senyum Rana dan tidak akan membiarkan perempuan itu tersakiti lagi.
__ADS_1
adiknya itu memang sungguh kejam,, menyiksa seorang perempuan yang tidak berdosa hanya untuk melakukan balas dendam yang tidak ada artinya dan tidak berguna sama sekali. Vino terlalu berlebihan dalam mengungkapkan kasih sayangnya terhadap Vania dan melupakan Sisi kemanusiaannya. bukannya mendoakan Vania, Vino justru melakukan hal yang sangat keji terhadap seseorang yang tidak bersalah. padahal Rana adala orang yang sangatlah baik. dan seharusnya Vino sangat bersyukur bisa menikah dengan Rana.
Vitto sangat bisa melihat dimata Rana bawah perempuan itu sangatlah mencintai vino adiknya. Sebenarnya hal yang membuat Vitto sedih adalah kenyataan bahwa Rana mencintai Vino dan mereka menikah. Padahal sejak pertemuannya dengan ranah di pesta yang ada di rumah Vino, itu sebenarnya sudah jatuh hati kepada Rana tetapi saat itu dia tidak tahu siapa Rana dan di mana dia tinggal dan
siappa namanya. Vitto tidak tahu apakah nanti Rana akan kembali kepada Vino lagi ataukah bagaimana dia tidak tahu tetapi untuk saat ini Vitto hanya ingin menjaga Rana memastikan keamanan perempuan itu.
Jika saja Rana tidak menikah dengan Vino, mungkin Vitto akan berusaha untuk mendapatkan hati perempuan itu. Vitto melihat bahwa Rana adalah perempuan yang luar biasa, kesederhanaannya juga kebaikan hatinya, bisa dengan cepat merebut hatinya. Dan kalaupun nanti Rana berpisah dengan Vino, Vitto memiliki keraguan bahwa perempuan itu akan dengan mudah mau membuka hati untuk laki-laki lain. Trauma yang dialami Rana begitu berat sehingga perempuan itu akan mengalami kesulitan mengahadpi hari-harinya nanti. Trauma itu tentu tidak akan mudah untuk dihilangkan bahkan akan membekas selamanya di hati Rana.
"Aku ingin cepat sembuh dan aku bisa melakukan aktivitas kesukaanku lagi seperti dulu" Gumam Rana.
Vitto meltakkan sendoknya dan menatap Rana. Vitto tersenyum.
Memangnya Apa yang ingin kau lakukan tanya Vitto pada Rana. Rana kemudian menjawab bahwa dia ingin kembali memasak membuat kue sama seperti dulu lagi. Vitto itu tersenyum kemudian ia mengatakan kepada Rana bahwa nanti ketika Rana sembuh ia akan membeli bahan untuk membuat kue dan meminta Rana untuk mengajarinya karena dia juga ingin bisa membuat kue.
Rana tertawa tetapi ia berjanji akan mengajari Vitto membuat kue yang paling enak.
"Kue apa yang ingin kau buat Vitto??" tanya Rana.
"aku sangat menyukai cheese cake buatan Papa tetapi di sini tidak ada cheese cake yang seenak buatan Papa, sayangnya ketika aku di Perancis Papa tidak bisa membuatkanku itu lagi, dia mengajariku dan memberitahu takarannya tetapi aku gagal membuatnya... konyol sekali dan aku sangat malu hahah...!" Vitto tertawa begitu juga dengan Rana. "Kue apa yang menjadi idola di bakerymu???" Tanya Vitto.
"Banyak sekali, dan aku akan membuatkanmu sesuatu yang menjadi kesukaan banyak orang di bakeryku...."
"Aku bisa membuatkannya sekarang, tergantung apakah ada bahannya atau tidak disini...!" Ucap Rana.
Vitto menggeleng kemudian dia meminta Rana agar menulis bahannya dan dia akan berangkat belanja saat ini juga sehingga dia bisa segera menikmati kue buatan Rana. Sudah lama sekali dia tidak mencoba kue buatan orang tersekatnya, dan itu pasti akan menyenangkan sekali.
"Kau harus membuatkannya atau mengajariku aku juga ingin bisasak sebenarnya, jangan hanyaasak mie instan saja, itu biasa aku lakukan saat di gunung, selain itu aku tidak bisa hahah..." Tawa Vityo kembali menggema.
Rana hanya bisa menggeleng karena Vityo ternyata adalah orang yang ramah dan banyak senyum serta tertawa. "Baiklah aku akanengajarimu, kapan kau mau aku ajari"
"Jika sekarang bisa kenapa aku harus menunghu besok... Hahah!" Vitto tertawa lagi.
Rana kemudian meminta Vitto agar mencatat semua bahan di ponselnya saja dan kelaki itu bisa membelinya. Rana sendiri merasa senang sekali jika dia bisa kembali melakukan hal yang sangat disukainya, itu juga akan membantunya melupakam segala beban yang ada di pundaknya. Kesakitan yang ditinggalkan Vino membuatnya mengalami trauma berat sekali dan Rana ingin melupakan itu dengan menyibukkan diri.
Vitto mengambil ponselnya dan mengetik satu persatu bahan yang diucaokan Rana. Setelah selesai Vitto bergegas keluar apartemen untuk berbelanja meninggalka Rana yang hanya tersenyum mihat lelaku itu begitu antusias.
Entah kenapa Rana merasa sangat nyaman sekali berada di dekat Vitto, lelaki itu murah senyum dan banyak tertawa. Rana yakin bahwa Vitto akan menjadi teman yang baik untuknya selain Jeany. Rana sangat merindukan Jeany saat ini, tetapi dia harusmenahan diri sampai situasi membaik. Dan berharap Jeany mau memaafkannya. Rana masih belum tahu jika sampai sekarang Jeany masih menjalani perawatan intensif diluar negeri setelah kecelakaan yang dialaminya akibat ulah Vino.
Kondisi Jeany masih belum membaik hingga saat ini. Terlalu parah sehingga butuh perawatan yang intensif juga akan butuh waktu lama untuk pulih. Orang tua Jeany sudah mencoba menghubungi Rana dan ingin memberitahu keadaan Jeany tetapi Rana sama sekali tidak bisa dihubungi. Mereka tahu bahwa Jeany sangat dekat dengan Rana, dan mereka juga yakin jika Jeany akan kuat bertahan jika Rana ada didekatnya, sayangnya usaha mereka gagal dan tidak bisa terhubung dengan Rana yang tiba-tiba menghilang bahkan sampai saat ini Rana tidak pernah menghubungiereka untuk sekedar menayakan kaba
__ADS_1
****
sementara itu, Vino baru membuka matanya dan Angel memeluknya diaamlingnya, mereka tidak mengenakan apapun dibalik selimut setelah penyatuan panas mereka semalam. Menentuh kulit lembut Angel membuat Vino menegang dan dia menginkan Angel lagi. Pagi ini harus diawalri dengan lenyatuan lagi agar moodnya membaik dan tidak terus memikirkan Rana.
Vino mengecup dahi Angel membuat perwmpuan itu langsung berkerut dan perlahan membuka matanya.
Angel tersenyum melihat Vino menatapnya. "Aku ingin mengawali pagiku denganmu, aku yakin kau selalu siap... Rasakanlah disana dia sudah menegang dan siap untikmu..." Vino memeluk Angel.
Sedangkan Angel merasakan apa yang menyentuh dirienya. Hangat, keras dan lembut. Jemari Angel langsung meraih milik Vino, mengusapnya lembut, bergera naik turun membuat Vino mejamkan matanya merasakan kelembutan akibat gerakan Angel.
"terus sayang.... jangan berhenti...! Hhmmmppp...."
Angel tersenyum menatap Vino, dan lelaki tu membalas senyum nya, lalu dengan lembut menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Angel lembut. Angel membalas kecupan itu. Membiarkan Vino merasakan kelembutan bibirnya. Lelaki itu lalu melepas ciumannya dan mereka bertatapan. Senyum Vino tidak akan pernah Angel upakan, senyum itu begitu lembut, begitu penuh haru, dan entah kenapa membuat dada Angel sesak oleh suatu perasaan yang tidak dapat digambarkannya.
Jemari Angel terus bergerak dibawah sana dan jemari satunya menyentuh pipi Vino lelaki itu menempelkan pipinya di sana dan memejamkan matanya, jarinya meraih tangan Angel dan mengarahkannya ke bibirnya. Vino lalu mengecup telapak tangan Angel dengan lembut. Mereka bertatapan dengan tatapan yang hanya bisa dimengerti oleh satu sama lain, dan kemudian bibir mereka menyatu dalam sebuah ciuman lembut.
Kali ini ada yang berbeda. Kali ini ada rasa sayang dalam ciuman ini. Ada perasaan lembut yang mengembang dalam pagutan bibir mereka. Vino melahal bibir Angel, mencecap seluruh rasa bibirnya, seakan tidak pernah puas. Tangannya menyentuh pinggul Angel dan dengan gerakan ahli .
"Naik ke atasku, sayang." Suara Vino bagaikan perintah mistis yang membuat tubuh Angel dibanjiri oleh dorongan yang aneh. Dengan hati-hati Angel naik ke pangkuan Vino. Lelaki itu membimbingnya untuk menyatukan tubuh mereka perlahan, mereka berdua menghela napas pendek-pendek, begitupun angel.
Tangan Vino yang kuat merangkum pinggulnya dengan lembut dan membimbingnya untuk bergerak, "Bergeraklah sayang, puaskan dirimu dengan tubuhku..." bisik Vino parau.
Dan Angel bergerak, senang mendapati bahwa setiap gerakannya membuat Vino menggeram penuh gairah. Dia bergerak dengan sensual, didorong oleh gairah alaminya sebagai seorang perempuan, dengan bantuan Vino.
Mereka becinta sambil berhadapan, dengan posisi setengah duduk. Percintaan itu begitu intens karena mereka bisa menatap mata masing-masing. Melihat betapa nikmatnya gerakan mereka bagi satu sama lain. Ketika tubuh angel lelah, Vino menopangnya, meletakkan kepala Angel di pundaknya dan mengelus punggungnya dengan lembut.
Dengan gerakan mulus, Vino mendorong tubuh Angel berbaring di karpet yang lembut tanpa melepaskan tubuh mereka yang bertaut penuh gairah. Ditindihnya Angel dengan pelan tetapi sensual, diciumnya bibir Angel lembut. Tubuhnya bergerak dan menggoda Angel untuk mengikutinya terjun ke jurang kenikmatan yang dalam.
"Lingkarkan kakimu di pinggangku." Bisik Vino serak.
"Rasakan aku lebih dalam... ah sayang, kau mencengkeramku dengan begitu kuat...."
Lelaki itu mendorong masuk semakin dalam, menggoda Ang ketika melakukan gerakan seakan ingin melepaskan diri, tetapi kemudian mendorong lagi makin dalam. Mereka larut dalam pusaran gairah, sampai kemudian Angel melambung tinggi ketika mencapai puncaknyaa. pencapaian yang luar biasa, sambil mendongakkan kepala menatap langit-langit kamar dalam pelukan kekasihnha yang luar biasa tampan. Vino menyusul puncaknnya, dengan erangan tertahan dan semburan hangat di dalam sana.
Dengan lembut Vino menarik diri, lalu menempatkan dirinya dengan nyaman di sebelah Angel dan menarik tubuh Angel terbaring di lengannya, memeluknya lembut dari belakang. Kepala Angel ada di lekukan lengan dan lehernya. Vino menundukkan kepalanya, dan membisikkan napas panasnya pelan, di telinga Angel.
"Aku mencintaimu Angel sayang..." Suara Vino serak dan penuh perasaan. "Aku mencintaimu."
"Aku juga"
__ADS_1
Mereka berdua kemudian berpelukan danelanjutkan lagi sesi percontaan.mereka di kamar mandi seolah tidak ada habisnya.