
Beberapa hari kemudian....
Vitto menekan tombol remote control untuk membuka atap otomatis villa yang ada di di atasnya. Setelah itu Vitto berbaring di samping Rana yang sudah berbaring lebih dulu. Perlahan atap terbuka, dan pemandangan langit malam yang di hiasi bintang-bintang pun terpampang di atas mereka. Vitto membuka lengan kanannya dan Rana langsung mengerti maksud dari hal itu. Rana pun mendekat ke Vitto dan menggunakan lengan suaminya itu sebagai bantal. Mereka berpelukan dan menatap langit malam dengan senyum penuh kebahagiaan.
"Ini malam terakhir kita disini, bagaimana perasaanmu???" Tanya Vitto.
"Sedih sebenarnya, tetapi kita memang harus pulang, karena ini bukan rumah kita... Ini seperti dunia Baru, dan setiap detik setiap waktu wajahmu lagi wajahmu lagi... Hahaha..."
"Apa kau mulai bosan melihatku???" Tanya Vitto lagi.
"Tidak.. Bukan begitu, aku sama sekali tidak merasa bosan melihatmu... Aku senang sekali kau membawaku ke tempat indah seperti ini, aku dulu berangan bisa datang ke tempat seperti ini, tetapi tidak percaya dan tidak mau berharap karena bukan hal yang mudah mewujudkannya... Lihatlah betapa banyak uang yang kau habiskan untuk kita tinggal disini selama dua minggu???? Lebih dari 600 juta Sayang...?? Uang yang tidak sedikit, padahal aku sudah memintaku untuk jangan berlama-lama.." Gumama Rana.
"Aku tidak akan takut miskin jika bisa menyenangkan istriku dan diriku sendiri... Jadi uang sebesar itu tidak cukup untuk membayar kebahagiaanku bisa bersamamu..." Vitto mempererat pelukannya pada Rana dan mencium pipi Rana.
"Kau ini, bisa saja beralasan..."
Vitto tiba-tiba melepaskan pelukannya pada Rana dan menindiih tubuh Rana lalu kembali mencium kening perempuan yang sangat di cintai nya itu.
Ciuman itu berganti ke bawah, ke hidung, lalu bibir Rana dan dia membuka bibirnya memberi jalan untuk suaminya masuk, sambil berciuman dan memainkan lidah, mereka menikmati moment itu semakin dalam dan semakin dalan seolah sama-sama sedang mencari kepuassan.
__ADS_1
Vitto melepaskan gaun putih yang dipakai Rana dan begitu sebaliknya, tangan Rana mencoba mengeluarkan sesuatu yang tersembunyi dibalik celana suaminya. Ketika sama-sama mendapatkan apa yang mereka cari, Vitto mulai memainkan senjatanya, menggesek-gesekkannya diarea V milik Rana, gerakan itu membuat sang istri menggeliat merasakan sensasi luar biasa, perlahan tapi pasti gerakannya semakin lembut sampai akhirnya membuat tubuh Rana menegang, melihat itu Vitto langsung membenamkannya, membuat keduanya menghela nafas pendek karena nikmat.
"Aaahhhh..... "
Vitto bergerak pelan seolah menikmati setiap inci dari tubuh istrinya, dia menopang badannya dengan kedua lengannya agar Rana tidak terbebani oleh badannya, gerakan lembut itu membuat keduanya tidak bisa menghentikan suara mereka karena nikmat yang mereka rasakan.
Rana mengangkat sedikit kepalanya dan membisikkan sesuatu di telinga Vitto dengan suara parau, " Lebih cepat lagi gerakanmu sayang....!!" pintar Rana.
Mendengar itu, Vitto mempercepat gerakannya membuat keduanya semakin terbuai dan tidak bisa mengontrol diri. Vitto kemudian melepaskan diri dan meminta Rana agar tengkuraap tetapi kedua kakinya berpijak di lantai. Vitto ingin mencoba dari belakang karena biasa nya perempuan menyukai gaaya yang seperti itu. Rana pun menuruti perintah suaminya dan dia sebenarnya sangat menyukai nya, rasanya begitu intens dan luar biasa menyenangkan dan nikmaat.
"Slow or fast....???" Tanya Vitto.
"Oke..." Vitto menggessek miliknya lalu perlahan menenggelamkan dirinya dan bergerak dengan cepat sesuai dengan yang Rana inginkan. Rana terus meracau tidak karuan karena gerakan Vitto dan milik Vitto yang memenuhi dirinya. Begitu luar biasa dan Rana tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata, selain hanya bisa berteriak karena kenikmatan yang dia rasakan.
Sampai akhirnya keduanya mengeluarkan erangan kecil dan semburan hangat terasa didalam diri Rana bersamaan dengan itu, nafas Vitto juga tersenggal dan berbisik dengan suara parau, " Rana, Aku mencintaimu, sangat mencintaimu". Vitto lemas tetapi berusaha mengontrol dirinya.
★★★★★
Di tempat lain.... Vino mengemudikan mobilnya untuk mengantar Arindah pulang. Setelah Arindah menyelesaikan pekerjaannya di rumah sakit, Arindah harus melakukan fitting gaun pengantinnya untuk yang terakhir kali. Segala persiapan sudah selesai di lakukan, dan lusa mereka akan menikah di salah satu ballroom hotel mewah yang ada disini. Vino sudah menyerahkan segala persiapannya pada wedding organized yang sudah berpengalaman atas rekomendasi Ariel. Vitto yang menyarankan Vino agar menghubungi Ariel untuk hal ini. Karena di pernikahan Vitto kemarin juga di urus oleh WO yang di rekomendasikan oleh Ariel.
__ADS_1
Arindah ternyata bukan tipikal perempuan yang ruwet, karena dia tidak terlalu menginginkan banyak hal untuk persiapan pernikahan ini, baik itu dekorasi, makanan ataupun gaun pengantin. Dan untuk gaun pengantin Arindah tidak menginginkan gaun yang khusus, dia bahkan langsung memilih gaun yang sudah ada di butik milik designer kenalan Vino, dan hanya perlu fitting saja untuk menyesuaikan tubuh Arindah sendiri tanpa harus di repotkan dengan hal ini itu. Arindah mengatakan waktu nya terlalu cepat untuk memikirkan berbagai hal yang justru akan semakin memperkeruh keadaan. Apapun yang menurut Arindah sudah bagus, tidak akan lagi di ubah-ubah, termasuk dekorasi pelaminan. Arindah menyerahkan semua nya pada Vino. Undangan juga sudah di sebar termasuk di kirim untuk Reino.
Setiap hari Vino selalu meyakinkan dirinya untuk bisa berubah dan menerima serta mencintai Arindah. Dan ternyata itu cukup berhasil. Dia membuka diri dan begitu juga dengan Arindah. Mereka berdua mencoba melepaskan tembok yang jadi penghalang dan berusaha menjalani hubungan yang normal seperti orang lain. Ketika jalan berdua, Vino selalu menggandeng dan menggenggam jemari Arindah. Meskipun di awal masih ada kecanggungan tetapi mereka mencoba membiasakan diri.
"Kau kenapa???" Tanya Vino pada Arindah yang sejak tadi terdiam.
Arindah menoleh dan tersenyum. "Tidak apa-apa...!" jawabnya pelan.
"Kau memikirkan Reino lagi??? Sudahlah... Jangan khawatirkan apapun, dia tidak akan berani berulah nanti, aku sudah membritahumu kan tentang apa yang akan aku lakukan padanya nanti..."
Arindah mengangguk. "Aku hanya takut dia berubah dan merusak acara..." Gumamnya.
"Tidak akan..." Vino menggenggam jemari Arindah, meyakinkan perempuan itu bahwa semua nya akan baik-baik saja nanti nya.
Mobil Vino berbelok menuju perumahan tempat Arindah tinggal. Ini sudah larut, sudah lebih dari jam sepuluh malam. Vino menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Arindah. "Kau tidak turun untuk mampir???" Tanya Arindah.
"Tidak... Ini sudah malam, Mama Papa pasti sudah tidur, begitu juga dengan Naufal, kau turun dan langsung beristirahat.... Besok kita sudah tidak boleh bertemu lagi sampai acara pernikahan... Aku harap kau tidak merindukanku... Hehe..."
Arindah terkekeh. "Ya sudah, kau hati-hati di jalan.. Dan bisakah kau melepaskan peganganmu??? Aku mau turun dan masuk ke dalam rumah???"
__ADS_1
"Owhhh sorry sorry...." Vino langsung melepaskan pegangan tangannya pada tangan Arindah dan membiarkan perempuan itu keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah.