
"Mereka benar-benar akan menikah... Bagaimana menurutmu???" Tanya Vitto pada Rana.
"Semoga ini pilihan yang tepat... Dan tentu saja aku merasa senang...."
Vitto melempar senyum. "Tidak apa-apa kan jika mereka nanti menikah dan kita menunda perjalanan kita ke Swiss???" Tanya Vitto lagi sambil menyesap kopi nya.
"Tidak masalah.... Ya masa kita tidak datang ke pernikahan adikmu..."
"Sekarang kita tinggal menunggu kabar dari Vino ataupun Arindah saja.... Mereka pasti nanti mengabari....!"
"Ya, kita tunggu saja...!" Gumam Rana. Mereka berdua pun melanjutkan sarapan mereka. Dan seperti biasa mereka akan menghabiskan waktu bersama untuk mengeksplor banyak tempat yang menarik di seputaran villa ini.
****
Sementara itu, Vino mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit untuk mengantar Arindah. Perasaan bahagia tidak bisa Vino ungkapkan karena dia berhasil meyakinkan kedua orang tua Arindah. Dan Arindah juga tadi membantu nya meyakinkan mereka. Vino juga mengatakan jika besok dia akan datang ke rumah Arindah untuk melamar Arindah secara langsung serta menentukan hari pernikahan mereka. Vino tidak tahu apakah besok dia akan datang sendiri atau bersama Papa nya, mengingat Papa nya juga belum mengiyakan permintaannya. Tetapi jikalau Papa nya tidak mau mengantarnya, Vino akan tetap berangkat sendiri melamar Arindah dan entah nanti dia akan beralasan apa ketika orang tua Arindah menanyakan keberadaannya.
"Sekarang katakan, apa yang kau inginkan dan tidak kau inginkan nanti setelah kita menikah...???" Tanya Vino pada Arindah yang duduk di sebelahnya.
Arindah diam dan menatap lurus ke depan. Vino menoleh menatap perempuan yang ada di sampingnya itu. Siluet Arindah begitu cantik. Vino tersenyum sendiri. "Kok diam???" Tanya Vino lagi.
Arindah menoleh. "Maksudmu apa bertanya seperti itu??? Apa kau akan berpikir pernikahan ini adalah sebuah permainan yang memiliki tata cara dan sebuah pengaturan???" Arindah bertanya balik pada Vino.
"Ah tidak-tidak... Bukan itu maksudku... Aku hanya ingin memastikan kenyamananmu saja... Aku tidak mau nanti kau merasa tidak enak akan suatu hal yang akhirnya membuatmu tidak nyaman... Jadi sekarang waktu yang tepat untuk membicarakan mengenai apa yang kau inginkan dan apa yang tidak kau inginkan...."
__ADS_1
"Tidak ada...! Hanya saja seperti pernikahan pada umumnya, aku tidak bisa menerima KDRT dan Perselingkuhan.. Itu saja!"
"Ya.... Aku berjanji tidak akan melakukan itu. dan aku juga akan berusaha untuk membuka hatiku untukmu, aku akan mencoba untuk mencintai mu dan menjalankan pernikahan ini layaknya sebuah pernikahan pada umumnya... Mengenai Naufal, kau juga tidak perlu khawatir, aku sangat menyayanginya nya dan aku akan menjadi ayah yang baik untuknya, dan dia bisa merasakan kasih sayang seorang ayah yang sesungguhnya, mengingat selama ini dia tidak pernah mendapatkan itu..."
"Aku akan pegang janji mu...." Ujar Arindah.
Vino mengangguk dan terus tersenyum. Entah kenapa saat ini dia merasa cukup nyaman berada di dekat Arindah. Rasa yang sama seperti dulu ketika bersama Angel, tetapi kali ini ada ketulusan yang tidak bisa Vino gambarkan. Dan berharap ini jadi awal yang baik untuknya bisa memulai sesuatu yang baru, menjadi lebih baik dan bertanggung jawab.
Mereka pun melanjutkan mengobrol hal lain selama perjalanan. Dan juga mulai mencari hari apa yang bagus untuk mereka menikah, sehingga besok mereka tinggal menyampaikan saja pada keluarga masing-masing. Dan hal itu akan membuat seluruh proses persiapan pernikahan lebih cepat lagi nanti nya. Jika lamaran sudah selesai, tentu tinggal pendaftaran dan juga mencari Wo serta designer untuk membuat pakaian Pengantin Arindah. Dan Vino serta Arindah juga mulai membahas pernikahan seperti apa yang di inginkan nya, Vino membebaskan Arindah. Dan Arindah tidak ingin yang aneh-aneh, hanya ingin kesakralan nya saja di pernikahan itu.
Tidak terasa, sampailah mereka di rumah sakit. Arindah melepaskan seat belt dan mengucapkan Terima kasih kepada Vino karena sudah mengantarnya.
"Iya sama-sama..... Oh iya, aku harus mengingatkanmu sekali lagi, bahwa kau tidak boleh berpisah dengan Vera apapun alasannya, jangan sampai kejadian yang kemarin terulang lagi... Jangan merasa risih, karena Vera juga tidak terlihat seperti bodyguard mu... Aku akan menjemputmu nanti, kabari jika kau sudah selesai dan akan pulang... Aku akan langsung menjemputmu..." Ucap Vino mengingatkan Arindah.
★★★★
Vitto dan Rana berbaring di kursi santai sambil berjemur. Dan terlihat jelas kulit kedua nya sudah berbeda dari sebelum datang kesini. Mereka menghabiskan waktu berenang, bermain air dan berjemur saat siang hari. Kebersamaan mereka membuat hubungan itu semakin intens dan lebih dekat lagi. Selain bersenang-senang. Vitto juga menjadi pendengar yang baik untuk Rana. Mereka bisa membahas apa saja yang menarik dari mulai hal kecil hingga isu-isu yang sedang hangat di perbincangkan. Dan Rana sangat senang sekali, merasa di perhatikan dan juga begitu di sayangi oleh Vitto. Dia kadang merasa sedang berada di pulau terpencil bersama pangeran yang sangat tampan, dan banyak hal yang bisa mereka lakukan ber sama-sama. Sangat menyenangkan.
Vitto meraih ponselnya ketika ponselnya berdering dan ada sebuah pesan masuk. "She said Yes...!" Begitulah bunyi dari pesan itu yang ternyata di kirim oleh Vino. Membuat Vitto terkekeh karena sebenarnya dia sudah tahu bahwa Arindah menerima tawaran adiknya itu.
"Kenapa???? Kau membaca pesan dari siapa???" Tanya Rana penasaran.
"Vino.. Dia memberitahu kalau Arindah mengatakan iya untuk menikah dengannya... Hahaha dia pikir aku belum tahu.. Hahaha.."
__ADS_1
Rana tersenyum. "Aku pikir kau menerima pesan dari penggemarmu..."
"Kau adalah penggemar beratku.. Hehe, oh iya aku akan menghubungi Vino dan menanyakan apa saja yang sudah di rencanakan oleh nya...!"
"Ya..!"
Vitto pun menghubungi Vino dan dalam beberapa kali deringan, panggilan itu langsung di jawab. "Hai Vit... Kau sudah membaca pesanku kan??? Aku senang sekali..." Ucap Vino.
"Ya... selamat untuk mu dan Arindah... Aku sebenarnya sudah mendengarnya dari Papa tadi pagi... Aku senang kau melibatkan Papa, dan jangan khawatir, Papa akan mengantarmu besok..."
"Hah????? Kau serius????" Tanya Vino tidak percaya.
"Iya tentu saja, kau anak kebanggaannya jadi dia pasti akan melakukan tugasnya sebagai orang tua dengan baik, dan ingatlah juga bahwa jangan terlalu sering berpikiran buruk tentang Papa, tidak baik dan dia pasti akan merasa sedih... Dan ya, sejauh apa persiapan mulai besok...??"
"Kalau Papa sudah setuju ya aku tidak menyiapkan apapun, toh tadi aku sudah mendapatkan restu orang tua Arindah.."
"Cincin??? Apa kau sudah membeli nya??? Besok kau kan akan melamarnya???"
"Astaga.... Belum... Itu hal penting kenapa aku bisa lupa..! Oke-oke aku akan membeli nya sekarang, kebetulan aku sedang ada di jalan...!"
Vitto mengernyit. "Astaga.... Kau ingin melamar seseorang dan kau lupa hal yang paling penting??? Lalu kau sudah menentukan hari???" Tanya Vitto lagi.
"Sudah... 10 hari mulai sekarang, dan besok setelah lamaran aku akan mendaftarkan pernikahannya ke kantor Urusan agama..." Ujar Vino.
__ADS_1