
★★★★
Sore tiba......
Vitto dan Rana kembali lagi ke villa mereka. Mereka berdua menghabiskan waktu untuk jalan-jalan dan bermain di pantai. Vitto menuruti semua keinginan Rana, walaupun sebenarnya dia berniat menghabiskan waktunya bersama istrinya itu di dalam villa saja. Tetapi Vitto tidak tega melihat keinginan Rana yang begitu besar untuk jalan-jalan dan bermain di pantai layaknya anak kecil. Vitto merasa senang sekali, meskipun terlihat sederhana, tetapi wajah ceria dan penuh kebahagiaan terrlihat jelas di wajah istrinya.
Mereka kembali ke villa dan Vitto memutuskan untuk berenang di laut dan bermain seluncuran bersama dengan Rana. Raja tidak bisa mengungkapkan kebahagiaannya. Honeymoon seperti inilah yang selalu di bayangkan nya dulu. Tempat yang begitu indah, laut yang biru dengan pasir putih, tempat penginapan yang juga tidak kalah luar biasa cantiknya. Bahkan suami nya sangatlah tampan. Dan tidak pernah membayangkan jika dia akan menikah dengan seorang Vitto, Laki-laki yang selama ini hanya dia kagumi dan dia lihat di televisi ataupun sosial media, ternyata menjadi suami nya. Dan laki-laki itu sangatlah mencintai nya, dan tidak ada waktu sedetikpun tidak membuatnya bahagia.
Setelah selesai berenang di laut, Vitto dan Rana memilih untuk mandi dan beristirahat sebentar sambil menunggu malam datang, dan nanti mereka akan menikmati makan malam di villa saja.
Vitto keluar dari ruang ganti, dan sudah mengganti pakaiannya sementara Rana masih di kamar mandi. Karena perempuan biasanya lebih lama di dalam kamar mandi.
Setelah berganti pakaian, Vitto memilih duduk dan meluruskan kaki nya sambil bermain ponsel, menunggu istri nya selesai mandi. Hingga tidak lama, Rana berjalan menghampiri nya sambil di balut oleh handuk kimono. "Kau sudah selesai ya??? Tunggu ya aku ganti baju dulu..." Ucap Rana.
Vitto tersenyum. "Hanya ganti baju, tidak butuh waktu lama, eh aku akan mengambil champagne di pantry, kita minum itu sambil menikmati matahari terbenam... Kau setuju???" Tanya Vitto.
"Ya... Itu ide bagus... Aku ganti baju dulu..." Rana kemudian masuk ke ruang ganti dan Vitto beranjak dari tempat duduknya kemudian berjalan menuju pantry untuk mengambil gelas dan champagne yang tersedia di dalam pantry.
Sementara itu di tempat lain....
Arindah melepaskan jaket dokter putih miliknya dan meletakkannya di kursi putar nya. Dia baru saja selesai memeriksa pasien terakhirnya hari ini, dan dia akan beristirahat sebentar sebelum nanti berkeliling ke beberapa kamar perawatan untuk memeriksa pasien yang di rawat disana baru setelah itu pulang. Arindah diam memikirkan obrolannya dengan Vino. Lelaki itu mengatakan ingin mengenalnya lebih dekat lagi. Dan dari ucapannya, Arindah bisa melihat keseriusan dari Vino. Tetapi Arindah benar-benar tidak tahu harus menjawab apa, dia masih di lingkupi berbagai ketakutan tentang Vino, apalagi masalalu Vino dengan Rana yang berakhir dengan tidak baik. Hanya saja Arindah juga merasa senang dia ada kesempatan untuk bisa bersama Vino, karena selama ini itu yang dia harapkan. Dia pernah mencintai Vino dan juga cinta itu masih ada sebelum dia menikah. Sekarang dia tidak terikat dengan siapapun, yang artinya dia bisa dekat dengan laki-laki manapun yang dia mau.
Arindah mengusap kasar wajahnya. Bingung dan tidak tahu harus mengatakan apa tentang ajakan Vino. "Vitto...!!! Apa aku harus menghubungi nya dan meminta sarannya???" Gumam Arindah. "Ah tapi dia sedang berbulan madu, aku tidak mungkin mengganggu nya... " Lanjutnya lagi.
"Aku butuh saran Vitto, bagaimana ini???? Aku coba kirim pesan saja, jika dia tidak sibuk pasti akan membalasnya nanti, jadi aku bisa meminta sarannya...!" Arindah mengambil ponselnya dan mengirimi Vitto pesan.
..."Hai Vit.... Bagaimana bulan madu nya??? Maaf ya Vit aku mengganggu... Aku ingin menanyakan sesuatu tetapi Balas saja pesanku ini jika kau tidak sibuk.."...
Vitto membawa sebotol Champagne dan camilan berupa kue kering dari pantry. Vitto hendak membawanya ke belakang dan dia meletakkannya di atas sofa dan mengambil ponselnya, tetapi ponsel itu berkedip menandakan jika ada pesan masuk. Bersamaan dengan itu, Rana keluar dari ruang ganti, dan sudah cantik dengan minimal dress hijau yang di pakainya, senada dengan warna Tshirt yang di pakai Vitto.
"Arindah???" Gumam Vitto melihat layar ponselnya, menemukan pesan dari Arindah.
"Arindah???? Kenapa dengan Arindah??" Tanya Rana.
__ADS_1
"Ini, Arindah mengirim pesan... "
"Oh... Pesan apa??? Semua baik-baik saja kan disana???" Tanya Rana.
"Entahlah... Aku lihat dulu..." Vitto membuka ponselnya dan membaca pesan dari Arindah. Vitto tersenyum dan menunjukkan pesan itu kepada Rana yang duduk di sebelahnya.
"Ya sudah balas saja sekarang, mungkin penting..." Ucap Rana.
"Kita telepon saja bagaimana??? Supaya mengobrol nya enak, sepertinya ada sesuatu yang urgent.. "
Rana mengangguk. "Ya, telepon saja..."
Vitto tersenyum dan langsung menghubungi Arindah, sementara Rana memindahkan Champagne dan camilan ke atas meja. Vitto pindah ke sofa melingkar, duduk di sofa itu bersama dengan Rana.
"Hai Ndah...!" Vitto melambaikan tangannya ke kamera layar ponselnya, dia menghubungi Arindah melalui panggilan Video. Vitto meletakkan ponselnya di atas meja dan menyanggahnya dengan botol Champagne sehingga Vitto tidak perlu memegang ponsel nya.
"Eh kenapa kau menelepon??? Sorry sorry aku mengganggu waktu honeymoon kalian..."
"Tidak mengganggu, kebetulan aku dan Rana baru selesai mandi.... Kau di rumah sakit ya???" tanya Vitto.
"Maaf untuk apa, kami tidak sedang sibuk.... Kenapa Ndah??? Kau ingin bicara apa denganku???"
Arindah terdiam dan seperti sedang memikirkan sesuatu. Hal itu membuat Vitto dan Rana saling melempar pandangan. Terlihat beberapa saat kemudian, Arindah menarik napas panjang dan menghela nya. "Aku ingin berbicara tentang Vino.. " Gumam nya pelan.
"Vino?????" Vitto mengernyit. "Kenapa??? Ada apa dengannya??? Apa dia membuat masalah???" Tanya Vitto.
"Sudah terjadi sesuatu kemarin dan hari ini, dan aku benar-benar di buat bingung karena hal itu... "
"Terjadi sesuatu apa???" Vitto semakin penasaran sekaligus khawatir bahwa telah terjadi sesuatu disana.
Arindah pun menceritakan segala nya kepada Vitto dan Rana mengenai apa yang terjadi kemarin anatara Vino dan Reino. Serta apa yang tadi siang dia dan Vino obrolkan. "Vino meminta aku setuju menikah dengannya, awalnya alasannya terdengar konyol dan aku rasa mengada-ada saja, akan tetapi di akhir dia justru memintaku melakukan taaruf dengannya.. " Ucap Arindah.
"Taaruf???? Hahahahaha kau serius????" Tanya Vitto.
__ADS_1
"Ya, dia mengajakku taaruf dan dia mengajakku untuk saling mengenal lebih jauh lagi dalam sebuah pernikahan.. Lucu bukan??? Kau saja menganggap ini lelucon, lalu bagaimana denganku???" Gerutu Arindah.
"Aku hanya tidak menyangka, dari mulut Vino keluar kata taaruf, itu terdengar lucu sekali.....!" Ucap Vitto dan melirik ke arah Rana yang ada di sampingnya. "Eh tapi menurutku itu cukup bagus Ndah, dia seperti nya benar-benar berniat membantumu dan Naufal... Aku sangat terkejut ketika kau mengatakan Vino menawari mu untuk mengajakmu menikah... Padahal hanya karena dia ingin membungkam Reino, itu keputusan yang tidak mudah loh..."
"Ya aku tahu Vit.... Tetapi pernikahan itu adalah sesuatu yang sakral dan tidak boleh di anggap sebagai sebuah permainan, ini berhubungan dengan janji di hadapan Tuhan... Lalu bagaimana bisa aku menerima ajakan Vino itu??? Kami tidak saling mencintai, dan melakukan pernikahan dengan terpaksa seperti itu??? Tentu saja tidak bisa Vit... Akan jadi pernikahan seperti apa ini nanti nya????"
Vitto melempar senyum. "Tidak saling mencintai???? Apa kau yakin tidak saling mencintai???? Bukannya kau selalu mencintai nya selama ini???"
Arindah membuang muka dan kembali menatap layar ponselnya. "Itu dulu Vit, tetapi setelah aku berhubungan dengan Reino, aku membuang jauh-jauh perasaanku pada Vino... Jadi tentu saja saat ini suasana nya berbeda...?"
Vitto kembali tersenyum mendengar ucapan Arindah. "Berbeda??? Menurutku tidak.... Ayolah Ndah, kita sudah berteman selama bertahun-tahun, Aku sangat hafal seperti apa dirimu, bahkan mengenai perasaanmu terhadap seseorang aku sangat mengenalmu dengan baik... Kau menjalin hubungan dengan Reino hanya untuk membuat dirimu bisa melupakan semua perasaanmu pada Vino, kau mencoba menempatkan dirimu dan berusaha menjadi seorang istri yang baik untuk Reino, hanya karena kau harus melakukan itu dan mencoba mencintai nya meskipun kau sendiri merasa kesulitan melakukannya..."
Arindah terdiam. Benar apa yang di katakan oleh Vitto. Dia memang hanya berusaha untuk melupakan perasaannya pada Vino dan menjalin hubungan dengan Reino lalu menikah. Dia memang perlahan sudah melupakannya sampai akhirnya dia harus merelakan pernikahannya dengan Reino berakhir karena perselingkuhan Reino. Padahal dia selalu berusaha menjadi istri yang baik saat itu.
"Ndah... Benar bukan apa yang aku katakan taditadiYa aku tahu mungkin kau sudah melupakan Vino, akan tetapi apa iya seluruh perasaanmu terhadapnya sudah 100 persen pudar dan hilang??? Atau masih sedikit tersisa meskipun hanya satu persen??? Jika masih ada meski sedikit saja, tidak ada salahnya jika saat ini mencoba untuk kembali menumbuhkan cinta itu lagi, karena saat ini dia membuka pintu hatinya, Ini bisa jadi kesempatan yang bagus untukmu masuk..." Lanjut Vitto lagi.
"Aku takut Vit.... Masalalu Vino yang membuatku takut... " Gumam Arindah.
Vitto dan Rana kembali saling melempar pandangan. "Kau takut dia akan mengulangi apa yang pernah dia lakukan padaku dulu???" Tanya Rana dan Arindah mengangguk.
Vitto tersenyum tipis. Menyadari bahwa ketakutan Arindah memang beralasan. Ini bukan lagi tentang masalah cinta atau perasaan tetapi ada hal yang cukup menakutkan mengenai masalalu Vino. Perempuan pasti akan berpikir berulang kali untuk menikah dengan laki-laki yang punya riwayat pernah melakukan kekerasan dalam rumah tangga, apalagi dulu begitu menyakitkan untuk seorang istri seperti Rana yang harus menyaksikan seluruh perlakuan Vino. "Aku mengerti ketakutanmu Ndah, tetapi???? Permasalahannya berbeda, kau pasti tahu juga jika dulu Vino terpengaruh oleh Angel, sedangkan saat ini dia sudah tidak bersama nenek sihir itu, mungkin saat ini benar jika dia ingin mulai membuka diri dan menawarkanmu mengenai hal itu..."
"Apa kau masih memiliki perasaan pada Vino??? Ya mungkin seperti yang di katakan oleh Vitto tadi, meskipun hanya sedikit, apakah perasaan itu masih ada???" Tanya Rana.
Arindah termenung sesaat. "Entahlah...!" Gumamnya. Jika boleh jujur sebenarnya perasaan itu masih ada di hati Arindah meskipun tidak sebanyak yang pernah di miliki nya sebelum bersama Reino.
Rana tersenyum. "Kau masih memiliki perasaan terhadap Vino... Tetapi itu hak mu, kau menerima tawarannya atau tidak... Kau bisa memikirkannya dengan baik... " Ujar Rana.
"Tetapi Ndah, menurutku Vino mengatakan ini padamu adalah lebih kepada dia ingin menjaga mu, suasana saat ini jauh sekali berbeda dengan dulu ketika dia menikah dengan Rana, dia mungkin benar-benar ingin move on dan memperbaiki diri.. Dia juga berniat mengajakmu tinggal di rumahnya, itu artinya kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun, karena disana ada Papa, Vino tidak akan berani bersikap buruk padamu jika ada Papa.. Kurasa kau akan merasa nyaman disana, eh tapi itu tergantung padamu juga apa kau ingin menerima ajakannya atau tidak... "
"Yakinkan dirimu dulu Ndah... jangan gegabah.. " Rana menimpali.
"Oke... Begini saja, aku akan coba menghubungi Vino dan berbicara dengannya, aku akan mencoba menelisik lebih jauh lagi, mungkin ini akan membantumu untuk bisa mengambil keputusan" Ucap Vitto.
__ADS_1
Arindah mengangguk. Dan mengakhiri panggilannya dengan Vitto dan Rana. Tetapi sebelum itu dia meminta nomor kontak Cahya pada Vitto. Dan Vitto berjanji akan mengirimnya, meskipun dia bingung untuk apa Arindah meminta nomor Cahya. Tetapi mungkin untuk mengucapkan Terima kasih pada Cahya yang sebelumnya sudah menjaga Naufal saat di hotel. Setelah mengakhiri panggilannya dengan Arindah, Vitto mengirimkan nomor ponsel Cahya.