
Sudah jam 9 lewat, tetapi tidak ada tanda-tanda pergerakan dari Rana. Restoran itu juga mulai sepi, hanya para pelayan yang sibuk membersihkan meja. Dia beranjak dari kursi tempatnya duduk, keluar dari restoran untuk kembali lagi ke depan tempat dimana temannya sedang menunggu diluar.
Setelah di dalam mobil, dia kembali menghubungi Vino dan menyampaikan bahwa dia tidak melihat Rana sama sekali beraktifitas di luar hotel. Mendapat omelan Vino sudah pasti mereka dapatkan, tetapi Vino masih belum menyerah. Bagaimanapun dia masih menginginkan Rana kembali dan segera ditemukan. Vino kemudian memerintahkan kedua orang bayarannya itu untuk menghubungi teman mereka lainnya dan bergantian berjaga. Sebagai upaya untuk memastikan Rana masih berada disana, Vino meminta mereka berdua untuk menginap dihotel itu dan besok melakukan pencarian lagi. Tetapi tetap harus ada yang mengawasi di depan.
★★★★
Keesokan harinya, Rana bangun pagi-pagi sekali. Dia harus menyiapkan sarapan untuk Vitto sebelum lelaki itu berangkat. Rana tahu Vitto pasti akan kembali pagi, jadi dia tidak mau membiarkan Vitto kembali tanpa makan. Setelah mencuci muka dan menggosok giginya, Rana langsung menuju dapur tanpa memeriksa kamar Vitto. Dia akan membangunkan lelaki itu jika sarapannya sudah siap.
Tidak terlalu istimewa, Rana membuat Rustico yaitu camilan gurih berupa puff pastry dengan isian daging, saus tomat serta mozarella. Vitto sangat menyukai sarapan yang ringan, itu sebabnya Rana membuat itu. Tidak butuh waktu lama karena Rana juga sering membuatnya. Tidak lupa Rana juga membuat jus buah delima merah yang menjadi kesukaan Vitto
Setelah siap, Rana menyajikannya di piring. Kemudian dia menuju kamar Vitto, mengetuk pintunya dan memanggil namanya tetapi tidak ada jawaban dari dalam. Rana menurunkan handle nya ternyata kamar itu tidak di kunci. Masuklah Rana ke dalam, tetapi ternyata tempat tidur itu kosong. Tidak ada Vitto disana.
"Vitto......! Apa kau ada di dalam kamar mandi??? Sarapan sudah siap, keluar dan sarapan dulu sebelum berangkat....!!!" Ujar Rana tetapi masih tidak ada sahutan disana.
Rana berjalan lagi menuju kamar mandi dan mengetuk pintunya, dan kembali memanggil Vitto. Tetapi tidak ada jawaban. Pintu kamar mandi itu Rana buka dan tidak ada siapapun. Rana mengernyit, bingung kemanakah Vitto pergi.
Rana keluar dari kamar Vitto, dan menjelajah seluruh ruangan yang ada di kamar itu, berpikir mungkin Vitto tertidur disana. Hasilnya kembali nihil, Vitto tidak ada.
Rana kemudian berjalan dan membuka pintu utama, disana bodyguardnya sedang duduk dan langsung berdiri ketika Rana datang. "Pagi nona Rana...!" Sapanya ramah.
"Pagi....! Vitto keluar ya? Kok di dalam tidak ada?" Tanya Rana kemudian.
"Tuan Vitto sudah pergi sejak semalam, sekitar pukul sepuluh malam tadi, apa beliau tidak berpamitan pada anda??? Ah mungkin karena anda sudah tidur jadi beliau tidak tega membangunkan anda....!"
"Jam sepuluh???? Kenapa dia tidak memberitahuku, dia bilang akan kembali pagi ini???" Gumam Rana. Dia kemudian kembali masuk dan memberitahu kepada bodyguardnya itu agar nanti tidak langsung pulang ketika penggantinya datang, dan mereka bisa sarapan bersama.
Rana mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Vitto tentang kekecewaannya pada lelaki itu karena pergi begitu saja tanpa berpamitan dengannya. Jika tahu seperti itu, seharusnya pagi ini dia tidak perlu capek-capek membuat sarapan istimewa untuk Vitto. Karena ujung-ujungnya Vitto sudah pergi sejak semalam.
Setelah mengirim pesan itu, dengan wajah kesal, Rana meletakkan ponselnya dan meninggalkan ruang makan. Dia akan mandi lebih dulu baru menyantap sarapannya. Setidaknya mandi membuat moodnya lebih baik.
Sementara itu, Vitto perlahan membuka matanya dan mencoba meraih ponselnya yang ada di meja. Dia mendengar ada pesan masuk. Vitto menguap tetapi dia bangun dan duduk bersandar kemudian melihat layar ponselnya, ternyata Rana mengiriminya sebuah pesan.
Senyum Vitto mengembang ketika membaca pesan itu, sudah dia duga sebelumnya bahwa Rana pasti akan marah karena semalam dia pergi begitu saja tanpa berpamitan. Alasan Vitto pergi semalam adalah karena dia merasa tidak enak kepada Rana. Kejadian ciuman itu membuat Vitto merasa malu sekaligus bingung bagaimana harus berhadapan dengan Rana. Vitto tidak berhenti mencemooh dirinya sendiri karena tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukannya, meskipun Rana juga merespon tetapi tetap saja Vitto merasa tidak enak. Dan itulah alasannya pergi semalam tanpa memberitahu Rana, dia rasanya belum sanggup berhadapan dengan Rana.
Vitto langsung membalas pesan Rana mengatakan maaf karena tidak memberitahu dan pergi begitu saja, Vitto memberi alasan bohong bahwa dia diminta oleh orang film agar segera kembali. Selain itu Vitto juga menyesal karena tidak bisa menikmati sarapan buatan Rana yang terlihat sangat lezat itu. Dan dia sangat menginginkannya tetapi dia meminta kepada Rana ketika nanti pulang, Rana harus membuatkan itu lagi. Di akhir pesannya, Vitto kembali mengucapkan permintaan maafnya kepada Rana dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
***
Rana sudah selesai mandi, berganti pakaian juga sudah mengeringkan rambutnya. Dia merasa lapar sekali dan rustico buatannya itu juga terlihat enak. Bergegas Rana ke ruang makan, dia duduk dan memotong rustico lalu menikmatinya. Ada nyala lampu notif di ponselnya, itu pasti Vitto yang sudah membalas pesannya. Rana mengambil dan membukanya, benar saja memang itu balasan dari Vitto.
Rana tersenyum membaca pesan itu, dan dia mencoba memahami kenapa Vitto semalam pergi begitu saja. Dan mengenai sarapan ini, tiba-tiba saja dia memiliki ide bagus. Rana lekas menghabiskan sarapannya kemudian sibuk menjalankan rencananya.
__ADS_1
Rana membuka pintu utama dan ternyata bodyguard pengganti serta Tania Bodyguard perempuannya sudah datang. Rana lekas menyuruh ketiga bodyguardnya itu untuk masuk dan sarapan bersama.
"Oh iya Mario, sebelum kau pulang bisakah kau membantuku sebentar saja???" Tanya Rana.
"Bisa nona, apa yang kira-kira bisa saya bantu???"
"Ketika kau keluar dari kawasan apartemen ini, atau ketika kau sampai di rumahmu, bisakah kau panggil ojek atau kurir pengantar barang untuk mengantar ini di lokasi syuting Vitto atau hotel tempat Vitto menginap sekarang... Aku membuat banyak untuknya tetapi dia tidak ada disini, jadi kupikir lebih baik ini dikirim kesana saja....! Bisa kan???"
Mario mengangguk. "Bisa nona, nanti setelah jauh dari sini saya akan mencari kurir untuk mengantarnya pada tuan Vitto...!"
Rana tersenyum. "Jangan gunakan namaku...! Ya sudah kau lanjutkan sarapanmu dan ini aku letakkan disini...!"
★★★★★
Vitto sudah bersiap untuk ke lokasi syutingnya dan dia kembali mendapatkan pesan dari Rana, dimana Rana mengirim sebuah foto paper bag dengan pesan bahwa itu akan segera meluncur ke hotel tempat Vitto menginap. Belum sempat Vitto menjawab apa isi dari paper bag itu, Rana kembali mengirim pesan bahwa itu berisi sarapan untuk Vitto. Vitto hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan sikap yang Rana tunjukkan. Vitto menyadari bahwa sepertinya Rana tidak ada masalah dengan kemarin. Vitto kembali teringat dengan ucapan Rana bahwa Rana meminta agar permasalahn kemarin dilupakan saja dan menganggap itu karena mereka berdua terbawa suasana saja. Tetapi meski Rana sudah mengatakan itu, masih ada perasaan tidak enak di dalam hati Vitto, dia takut Rana akan membencinya karena dia sudah berani melakukan hal itu. Lalu melihat sikap Rana sekarang, Vjtto yakin bahwa apa yang dikatakan oleh Rana kemarin adalah sebuah kebenaran bahwa Rana tidak terlalu ingin mengingat kejadian itu dan menganggapnya tidak pernah terjadi.
Vitto kemudian membalas pesan itu dan mengucapkan terima kasih. Vitto akan langsung memakannya karena dia juga belum sempat sarapan dan berniat sarapan di hotel tetapi ketika dia tahu bahwa Rana mengiriminya makanan, niat sarapan Vitto di hotel menjadi batal.
Beberapa menit kemudian, Rana menghubungi Vitto ahmgar segera keluar hotel karena yang mengantar makanan sudah berada disana. Vitto keluar bersama dengan managernya, karena dia memang harus segera ke lokasi syuting dan akan memakan makanan yang dikirimkan oleh Rana di dalam mobil. Vitto kemudian menyuruh managernya agar menemui kurir itu dan mengambil makanan itu sementara dia akan menunggu di dalam mobil.
Manager Vitto kembali dengan menenteng paper bag yang sama seperti di foto yang Rana kirim. Dia masuk dan menyodorkan paper bag itu. "Apa yang ada didalamnya? Dan dari siapa???" Tanyanya pada Vitto.
Vitto tersenyum sambil membukanya. "Dari penggemarku tentu saja, astaga baunya harum sekali.....!" Gumam Vitto ketika dia selesai membukanya. Ada 5 Rustico dan sebotol jus delima merah. "Ambillah ini enak sekali....!" Ujar Vitto lagi.
Vitto langsung membuka botol berisi jus delima itu, meminumnya kemudian mengambil Rustico buatan Rana dan langsung melahapnya. Sesuatu yang dibuat dengan cinta dan penuh kasih selalu terasa nikmat ketika dirasakan. Ini sarapan istimewa Vitto hari ini, dan Rana membuat khusus untuknya. Tidak hanya Vitto yang memejamkan matanya menikmati setiap gigitan rustico itu, manager Vitto juga memuji rasa dari makanan itu.
"Vino.....!!!!" Panggil Papanya, tetapi pikiran Vino terlalu kalut sehingga dia tidak mendengar panggilan Papanya. "Vinooo....!!!"
Teriakan itu akhirnya membuat Vino terlonjak. "Iya Pa...!"
"Kau kenapa??? Kenapa kau hanya mengaduk-aduk sarapanmu, apa kau sakit???"
"Ah tidak Pa... Hanya saja Vino sedang tidak bernapsu saja...! Papa segera habiskan sarapan Papa, lalu kita pergi ke kantor sekarang....!" Vino memundurkan kursinya dan berdiri meninggalkan Papanya yang masih menyantap sarapannya.
Vino keluar dari rumah dan akan menunggu papanya di depan. Selain itu sebenarnya dia juga akan menghubungi anak buahnya lagi untuk menemukan Rana. Perempuan itu sudah mempersulit hiduonya selama ini karena di harus kehilangan Vania, dan sekarang Rana berulah dengan kabur bahkan berani menggugat cerai dirinya padahal seluruh dendamnya belum sepenuhnya dia lakukan pada Rana. Sebelum rencananya berhasil, Vino masih belum terima jika Rana pergi darinya. Vino berniat akan terus mengejar Rana sampai dia mendapatkannya kembali. "Si bodoh itu sangat menyusahkan sekali.....!!!" Gumam Vino.
Vino mengambil ponselnya dan langsung menghubungi anak buahnya. "Sedang apa kalian sekarang???" Tanya Vino.
"Kami sedang sarapan di restoran hotel sekaligus kembali mengawasi keadaan bos, mungkin hari ini nona Rana keluar dari kamarnya....!"
Mendengar itu Vino mengernyit. "Cari cara lain untuk segera mengetahui di kamar berapa si bodoh itu tinggal....!"
"Kami harus bagaimana lagi bos???"
__ADS_1
"Bodoh....!!!! Periksa satu persatu kamar yang ada di hotel itu, Rana pasti ada disana.....!" Teriak Vino lagi.
"Bagaimana kami bisa memeriksanya satu persatu bos???"
"Shiiiitt.... Gunakan otak kalian.... Apa kalian tidak bisa berpikir? Disana ada banyak petugas hotel, cari salah satu atau dua orang dari mereka beri dia uang dan tugaskan dia untuk mengecek satu persatu kamar yang ada disana dengan menunjukkan foto Rana, bukankah aku sudah memberi kalian foto si bodoh itu????"
"Baik bos....!"
Mereka berdua beranjak dan langsung kembali ke kamarnya sambil mencari petugas hotel yang bisa mereka manfaatkan untuk mengetahui keberadaan Rana. Dan ketika mereka berjalan di lorong menuju kamarnya, mereka melihat seorang petugas hotel yang baru keluar dari sebuah kamar. Lekaslah mereka memanggil petugas itu dengan alasan agar petugas itu membersihkan kamar mereka. Petuga itupun langsung mengikuti mereka.
Ketika sampai di dalam, mereka langsung mengatakan bahwa mereka sedang mencari teman mereka yang menginap dihotel ini tetapi tidak tahu dimana kamarnya dan tidak punya kontaknya sehingga tidak bisa menghubunginya. Awalnya petuga hotel itu meragu untuk membantu kedua orang itu tetapi ketika melihat salah seorang dari mereka mengeluarkan beberapa lembar uang, dia jadi tertarik untuk membantu mereka. Kedua orang itu memberikan uang kepada petugas hotel itu agar bersedia berpura-pura mengecek setiap kamar yang ada di hotel ini untuk menemukan Rana. Mereka menunjukkan foto Rana kepada petugas hotel itu.
Petugas hotel itu terdiam sesaat ketika memandangi foto Rana, dimana dia seperti mengingat sesuatu. "Aku pernah melihatnya....!" Gumamnya pada kedua orang itu.
"Dimana???" Sela seorang dari mereka.
"Kemarin...! Tetapi sepertinya dia sudah tidak berada disini...!"
"Tidak berada disini? Apa kau yakin???"
"Iya, karena aku yang membersihkan kamar yang selesai digunakan oleh perempuan ini, kemarin siang aku melihatnya masuk ke kamar 103 saat aku hendak membersihkan kamar lain, tetapi selang 30 menit aku dihubungi oleh petugas bahwa aku diminta untuk membersihkan kamar 103 yang baru saja selesai digunakan... Aku yakin sekali bahwa perempuan yang masuk ke kamar itu adalah perempuan ini, dia kemarin memakai kemeja putih dan celana berwarna cokelat...!"
"Benar... Nona Rana kemarin memakai pakaian itu...!! Lalu apa lagi yang kau lihat???"
"Saat dia masuk ke kamar, seorang pria keluar dari dalam kamarnya, itu saja yang aku tahu.... Setelahnya aku kesana dan kamar itu memang sudah kosong...!"
Mendengar itu, mereka kemudian menyuruh petugas itu keluar dan tidak perlu memeriksa setiap kamar. Mereka berdua bingung bagaimana bisa mereka tidak melihat Rana keluar dari hotel ini, mengingat kemarin pandangan mereka sama sekali tidak beralih kemanapun selain ke hotel itu. Mereka lalu menghubungi Vino dan memberitahu hal itu. Mereka berdua juga sudah siap akan kembali di maki oleh Vino. Karena Vino pasti akan menganggaoereka melakukan kecerobohan.
Vino memasuki ruangannya, Papanya tadi sedang mengobrol bersama direktur di depan, dan ada pekerjaan yang menunggunya sehingga dia masuk lebih dulu. Vino melepaskan jasnya dan duduk untuk memulai pekerjaannya. Tetapi ketika dia baru menyalakan laptopnya, ponselnya berbunyi dan itu dari kedua anak buahnya. Vino berdiri dan berjalan menuju jendela. Amarah Vino memuncak ketika sekali lagi dia mendapat kabar yang tidak baik tentang Rana dari kedua orang itu. Vino memaki mereka dan mengata-ngatai mereka karena mereka teledor sekali dan bagaimana bisa mereka tidak tahu jika Rana keluar dari hotel itu. Padahal sejak kemarin dia mengingatkan agar mereka berhati-hati dan memastikan dengan baik setiap orang yang masuk dan meninggalkan hotel itu. Dengan kesal Vino menutup telepon itu.
"Rana.....!!! Bisa-bisanya kau terus mempermainkanku.......!!! Aaaargggghhhh......!!!!" Vino berteriak dan mengacak-acak rambutnya.
Ditengah kemarahan itu, ponsel Vino kembali berdering kali ini bukan kedua anak buahnya melainkan itu panggilan dari Angel.
"Hai sayang....!!!" Sapa Angel dengan manja.
"Hai...!" Jawab Vino singkat.
"Kenapa??? Suaramu terdengar tidak sedang baik, whats wrong???? Ceritakan padaku ada apa? Apa papamu membuatmu tertekan...???"
"Tidak sayang..... Ini bukan masalah Papa, ini adalah masalah tentang si bodoh Rana itu...! Aku kembali kehilangan jejaknya, anak buahku melapor bahwa ternyata Rana sudah meninggalkan hotel itu sejak kemarin, padahal aku sudah menyurub mereka agar fokus dengan keadaan di hotel itu, tetapi Rana malah sudah pergi....! Jika aku tidak lekas menemukannya bagaimana bisa pembalasanku terhadapnya akan berlanjut??? Bagaimana jika di oersidangan minggu depan seluruh perbuatanku di ungkap di depan banyak orang? Itu adalah masalah yang sangat besar bukan??? Si bodoh itu menggaet pengacara mahal, dan aku sangat tahu bagaimana cara mereka bekerja, dan mereka juga pasti sudah tahu permasalahanku dengan Rana, aku takut mereka mengatakan semua itu pada Papa nantinya, bagaimanapun aku harus bisa menemukan Rana, memberinya pelajaran bahkan jika perlu aku akan melenyaokannya sebelum dia bisa melangkah lebih jauh dari ini.... Aku benar-benar kesal sekali.....!!"
"Kau tidak akan pernah bisa menemukan Rana, dan kau juga tidak akan bisa menyentuh atau menyakitinya lagi, sudah cukup Vino, ini sudah cukup dan lupakan segala dendammu itu pada Rana.....! Sampai kapan kegilaanmu ini akan berakhir??? Sampai kapan...!!!!????"
__ADS_1
Suara itu membuat Vino terlonjak dan lekas dia mematikan panggilan Angel kemudian menoleh ke belakang menemukan Papanya ada disana menatapnya dengan tajam. Entah sejak kapan Papanya berada disana. Tetapi Vino yakin Papanya sudah mendengar apa yang tadi dikatakannya.
Vino menelan ludahnya ketika Papanya menjalankan kursi rodanya dan mendekat ke arahnya dengan tatapan yang sangat tajam kepadanya.