Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 277


__ADS_3

"Sayang...?? Kenapa sampai harus mencari artikel nya???" Tanya Vitto sambil mengusap keringat yang mulai keluar di dahi nya.


"Kenapa??? Tidak boleh???" Tanya Rana. "Aku penasaran saja.. Lagipula kenapa harus membeli permen itu??? Memangnya aku pernah memprotes mu???? Bukankah setiap kita melakukannya kita sama-sama merasa puas, dan aku juga menikmati nya dengan baik??? Kau bisa bertahan cukup lama tanpa sesuatu seperti itu...?"


Vitto tersenyum malu. "Aku tidak membeli nya, seorang teman memberikannya padamu, lagipula aku pikir tidak ada salah nya juga kan mencoba nya, kita bisa benar-benar menikmati setiap waktu melakukannya, dan aku yakin nanti kau juga akan menyukai nya..." Vitto tersenyum berganti-ganti sambil mengedipkan mata menggoda Rana.


Rana mengangkat matanya dan mencubit pinggang Vitto. "Kau sudah memakan permen itu ya??" Tanya Rana.


"Iya.... Tapi aku hanya mencoba setengah saja, anggap saja itu pemanasan dan aku juga penasaran dengan reaksi nya... "


"Kau ini benar-benar ya???? Apa di otak laki-laki hanya itu saja setelah menikah???"


"Heiii memang nya kenapa??? Kita sedang honeymoon, lalu apa lagi yang di lakukan orang yang sedang honeymoon selain bercinta, bercinta dan bercinta..."


"Tempat ini begitu indah, perlu untuk di jelajahi, jadi tidak hanya bercinta saja yang bisa di lakukan disini... Sudah sudah... Ayo makan, aku sudah lapar sekali... "


"Kau lapar sekali atau sudah tidak sabar untuk bermain???" Tanya Vitto masih dengan nada menggoda Rana.


"Vitto...!!??" Ucap Rana dengan wajah memerah.


Vitto tertawa kemudian mereka berdua memulai makan bersama sambil menikmati pemandangan laut yang jernih di hiasi oleh semburat warna hingga dari matahari yang mulai tenggelam.


****


Sementara itu, di tempat lain, Vino melempar tubuhnya di atas tempat tidur. Sejak perjalanan pulang, dia terus memikirkan perihal ucapannya tadi pada Reino mengenai menikah dengan Arindah. Vino sendiri sebenarnya bingung dengan ucapannya, entah kenapa itu keluar begitu saja dari mulutnya, hal itu pastilah membuat Arindah bingung. Vino juga tidak mungkin mencabut ucapannya begitu saja, mengingat itu justru bisa membuat Reino semakin bisa bersikap sesuka nya pada Arindah dan Naufal jika tahu bahwa pernikahan yang sempat di ucapkan Vino ternyata hanyalah sebuah kebohongan. Satu satunya cara untuk menghentikan ulah Reino hanyalah mengikat Arindah ke dalam sebuah pernikahan. Tetapi Vino tidak yakin jika Arindah mau menikah dengannya atau tidak, dan itu sama sekali tidak pernah ada di pikiran Vino sebelumnya.

__ADS_1


"Aku bingung sekali... Ya Tuhan.....!!!" Vino mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


******


Vitto menutup makan sore nya bersama Rana dengan menikmati chocolate mousse. Rasa makanan yang sangat lezat dan juga di dukung dengan suasana yang luar biasa indah, tenang dan mempesona. Matahari sudah tenggelam tetapi masih meninggalkan semburat warna jingga yang begitu indah. Rana menyandarkan kepala nya di dada Vitto. Kebahagiaan saat ini yang dia rasakan tidak bisa dia gambarkan dengan kata-kata karena terlalu luar biasa. Dia merasa seperti sedang di culik oleh Pangeran tampan dan di bawa ke sebuah pulau yang sangatlah indah.


"Thanks for everything.....!!!" Gumam Rana dengan suara lirih.


"Kenapa terus berterima kasih???? Sudah sepantasnya aku memberikan sesuatu yang di sukai oleh istriku.. "


"Kau selalu memberi, tetapi sekalipun aku belum pernah memberi kepadamu.... Aku bingung harus memberimu apa? Mengingat kau sudah memiliki segala nya... " Ucap Rana.


"Apa aku pernah menuntutmu agar memberikanku sesuatu???? Kau hadir di kehidupan ku itu adalah pemberian yang luar biasa dari Tuhan, kau sudah memberikan warna di hidupku, membuatku setiap detiknya selalu jatuh cinta kepadamu bagiku itu sangatlah lebih dari cukup sayang..."


"Itu menurutmu, tetapi menurutku aku belum pernah memberikan sesuatu yang berkesan untukmu... "


"Kalau begitu hal yang paling bisa membuatku berkesan adalah ini...!" Vitto melepaskan pegangan nya pada bahu Rana, dan memegang pergelangan tangan Rana kemudian membimbing agar telapak tangan istrinya itu menyentuh miliknya. Vitto membimbing dengan mengusap-usapkan tangan Rana di miliknya. "Sssshhhh....... Inilah yang aku sukai..... Ku rasa permennya sudah mulai bereaksi, jantungku mulai berdetak cepat, dan rasanya ini sudah mulai memberontak.... Kita masuk ke dalam.... Aku sudah tidak tahan lagi..." Vitto berdiri dan mengaja Rana masuk ke dalam villa. Vitto tidak mau terlalu lama di luar, takut Rana nanti sakit karena terkena angin malam.


Vitto menggendong Rana membawa istrinya itu masuk ke dalam villa, tepatnya di ruang tamu. Vitto mendorong tubuuh Rana pada sofa lebar yang ada di pojokkan dan menciumi bibir dan seluruh wajah Rana. Vitto menindiih tumbuh Rana lalu kembali mencium kening perempuan yang sangat di cintai nya itu.


Ciuman itu berganti ke bawah, ke hidung, lalu bibir Rana dan dia membuka bibirnya memberi jalan untuk suaminya masuk, sambil berciuman dan memainkan lidah, mereka menikmati moment itu semakin dalam dan semakin dalan seolah sama-sama sedang mencari kepuassan.


Vitto melepaskan gaun putih yang dipakai Rana dan begitu sebaliknya, tangan Rana mencoba mengeluarkan sesuatu yang tersembunyi dibalik celana suaminya. Ketika sama-sama mendapatkan apa yang mereka cari, Vitto mulai memainkan senjatanya, menggesek-gesekkannya diarea V milik Rana, gerakan itu membuat sang istri menggeliat merasakan sensasi luar biasa, perlahan tapi pasti gerakannya semakin lembut sampai akhirnya membuat tubuh Rana menegang, melihat itu Vitto langsung membenamkannya, membuat keduanya menghela nafas pendek karena nikmat.


"Aaahhhh..... "

__ADS_1


Vitto bergerak pelan seolah menikmati setiap inci dari tubuh istrinya, dia menopang badannya dengan kedua lengannya agar Rana tidak terbebani oleh badannya, gerakan lembut itu membuat keduanya tidak bisa menghentikan suara mereka karena nikmat yang mereka rasakan.


Rana mengangkat sedikit kepalanya dan membisikkan sesuatu di telinga Vitto dengan suara parau, " Lebih cepat lagi gerakanmu sayang....!!" titah Rana.


Mendengar itu, Vitto mempercepat gerakannya membuat keduanya semakin terbuai dan tidak bisa mengontrol diri. Vitto kemudian melepaskan diri dan meminta Rana agar tengkuraap tetapi kedua kakinya berpijak di lantai. Vitto ingin mencoba dari belakang karena biasa nya perempuan menyukai gaaya yang seperti itu. Rana pun menuruti perintah suaminya dan dia sebenarnya sangat menyukai nya, rasanya begitu intens dan luar biasa menyenangkan dan nikmaat.


"Slow or fast....???" Tanya Vitto.


"Aku suka yang cepat...." Jawab Rana.


"Oke... Sesuai yang kau inginkan....!" Vitto menggessek miliknya lalu perlahan menenggelamkan dirinya dan bergerak dengan cepat sesuai dengan yang Rana inginkan. Rana terus meracau tidak karuan karena gerakan Vitto dan milik Vitto yang memenuhi dirinya. Begitu luar biasa dan Rana tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata, selain hanya bisa berteriak karena kenikmatan yang dia rasakan.


Sampai akhirnya keduanya mengeluarkan erangan kecil dan semburan hangat terasa didalam diri Rana bersamaan dengan itu, nafas Vitto juga tersenggal dan berbisik dengan suara parau, " Rana, Aku mencintaimu, sangat mencintaimu". Vitto lemas tetapi berusaha mengontrol dirinya.


Setelah ledakan pertama, Vitto dan Rana mengatur napas masing-masing. Vitto mengangkat Rana dan membawa istrinya ke kamar. Sampai disana Vitto membaringkan Rana di atas tempat tidur. Vitto juga ikut bernaring. Posisi Rana meringkuk membelakangi Vitto dan suaminya itu memeluknya dari belakang


Perasaannya dipenuhi dengan kehangatan, Vitto meniup bagian belakang telinga istrinya untuk membangunkannya karena Rana mulai memejamkan matanya untuk tidur dan memalingkan mukanya dan Vitto langsung menciumnya dengan lembut.


"Dia kembali menegang sayang... Kurasa ini efek permennya." Ucap Vitto dengan suara tersenggal.


Rana merasakan milik Vitto mulai mengeras lagi menyentuh bagian belakang tubuhnya, jemari suaminya itu langsung menangkup si kembarnya, memainkannya dengan sangat lembut, merayunya dan jemari Vitto mulai turun lalu memainkan pusat sensitif Rana dengan lembut serta menggodanya.


Rana mengerang dan mencoba membalikkan badannya tetapi Vitto menahannya.


" Jangan, kita akan mencoba seperti ini". Dengan lembut Vitto mengangkat sebelah kaki Rana yang masih terbaring miring membelakanginya, kemudian dari belakang Vitto menyelipkan asetnya yang panas dan keras memasuki area milik Rana yang lembut dan sudah basah.

__ADS_1


Rana setengah menjerit merasakan itu semua, ternyata gaya seperti ini membuat titik-titik yang biasanya tidak tersentuh kali ini menjadi tersentuh semua membangunkan sarafnya. Vitto membimbing Rana supaya mengikuti ritmenya, mereka bergerak dengan lembut, tidak terburu-buru, menikmati setiap detiknya dengan bahagia. Dan kemudian mereka terbang bersama mencapai ending yang luar biasa.


Penyatuan terus berlanjut seolah tidak ada habisnya. Dan mereka berdua mencoba bersatu dengan berbagai gaaya, terkadang Rana di bawah dan terkadang Rana di atas seperti seorang koboi yang menaiki kuda nya dengan liiar. Vitto benar-benar merasa luar biasa akibat permen yang di konsumsi nya. Puaaas dan menyukai nya. Vitto juga yakin bahwa Rana juga sangat menikmati Penyatuan mereka.


__ADS_2