Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 176


__ADS_3

"Rana sayang.... Apa kau tahu, hari ini aku sangat bahagia sekali....!!" Ujar Vitto.


Dia dan Rana saat ini sedang berada di jalan untuk pulang setelah dari rumah Jeany.


"Bahagia???? Kenapa? Apa kau menang lotre???"


Vitto tertawa. "Ini bahkan lebih dari sekedar lotre...! Ayo tebak kenapa aku bisa sebahagia ini...!"


"Apa kau mendapat tawaran film baru??? Atau film mu yang kemarin rencananya akan di batalkan, sekarang akan kembali untuk tetap di tayangkan nantinya???"


"Tidak....! Semua tebakan mu salah....!"


"Lantas????" Tanya Rana heran.


"Proyek kerja sama dengan perusahaan Singapura selangkah lagi berhasil, walaupun sebenarnya tidak berhasil tidak masalaha yang terpenting pria tua itu datang kesini dan rencanaku menjebak Angel dengannya berhasil...!"


"Dia akan datang kesini???" Tanya Rana masih enggan mempercayai ucapan Vitto.


Vitto mengangguk. "Iya, pertengahan bulan depan, ya kurang sepuluh hari lagi...! Aku akan mempersiapkan semuanya, kamar hotel yang akan aku pasangi beberapa kamera."


Rana menoleh ragu pada Vitto. "Kau benar-benar akan melakukan itu??? Eh maksudku jika mereka benar-benar melakukan sebuah hubungan bad*n itu adalah hal pribadi dan sensitif, bagaimana bisa kau berniat melakukan hal semacam itu....!!! Kalau mereka tahu, bisa-bisa kau di tuntut..!"


Vitto menoleh dan tersenyum pada Rana. "Apa kau pikir aku tertarik dengan video s3x pria tua dengan perempuan yang lebih muda seperti video p*rno kakek-kakek jepang itu, hahaha astaga sayang... Aku sama sekali tidak tertarik mengoleksinya, jika nanti sudah ku dapatkan dan aku tunjukkan pada Vino, aku akan lekas menghancurkannya, aku hanya perlu menunjukkan pada Vino saja...!"


"Kenapa tidak langsung menggrebek mereka saja nanti bersama dengan Vino, ku rasa itu lebih baik....!"


"Tidak....!!!" Jaeab Vitto tegas.


Vitto kemudian menjelaskan kepada Rana jika tidak mau melakukan itu, alasannya tentu saja adalah menjaga nama baik perusahaan baik Prakarsa Corp. ataupun Perusahaan pria tua itu. Masalah ini bukanlah masalah yang melibatkan kedua perusahaan yang akan berakibat buruk. Ini di lakukan hanya untuk menjebak Angel, dan Vitto tidak ada masalah dengan pria tua itu. Jika video itu sudah terambil dan Vitto bisa menunjukkan itu pada Vino maka video akan langsung di hilangkan. Dan pria tua itu juga tidak perlu tahu dengan masalah itu, cukup membungkam Angel saja. Memberi perempuan itu pelajaran agar berhenti melakukan kekonyolan ini. Lalu keluarganya akan aman tanpa manusia-manusia toxic seperti Angel dan Jason.


"Aku harap ini tidak akan menambah masalah baru....!" Gumam Rana.


Vitto menggenggam jemari Rana dan melempar senyumnya. "Tidak akan sayang... Jangan khawatirkan apapun..." Vitto mencium jemari Rana.


★★★★★

__ADS_1


Di tempat lain, Jason berkemas di bantu oleh Vita. Jason akan kembali ke luar negeri dan meninggalkan Vita disini. Keputusan ini Jason ambil setelah kondisi saat ini kacau. Untuk menghindari hal yang lebih buruk lagi dan semakin malu dengan banyak orang. Jason meminta Vita agar menyelesaikan urusannya dengan suami dan anak-anaknya, serta perceraiaanya juga pengurusan harta gono-gini, mengingat hanya itu sekarang satu-satunya jalan yang harus di tempuh oleh Vita untuk mendapatkan uang dari suaminya. Usaha mereka yang kemarin sudah gagal total dan selain harta gono-gini tidak bisa lagi untuk di harapkan. Vita memahami kenapa Jason memutuskan sementara harus pergi, sebelum semuanya menjadi semakin memburuk nantinya.


Diam-diam Jason tentu tidak akan pergi ke tempat tinggalnya dengan Vita di luar negeri melainkan dia akan menemui Mamanya. Dia harus membohongi Vita mengenai hal itu, dan dia sudah sangat merindukan Mamanya. Wanita itu yang menyurub Jason untuk pulang kepadanya saja daripada harus pulang ke rumah yang di tinggalinya dengan Vita. Setidaknya jika Jason datang kesana mereka bisa bersenang-senang, selagi Vita menghadapi rumitnya permasalahan saat ini. Jason sangat merindukan bisa bercinta dengan Mama tirinya itu. Jason akan berangkat malam ini juga, semakin cepat dia pergi semakin baik pula dia terbebas dari masalah yang di alami oleh Vita.


###


Vitto dan Rana sampai juga di rumah. Mereka akan langsung beristirahat karena tadi sudah makan malam di rumah Jeany bersama keluarganya. Ada juga Edward yang tadi datang kesana. Edward tampaknya begitu perhatian sekali dengan Jeany, seolah ingin menebus semua kesalahannya dulu pada Jeany. Rana dan Vitto bisa melihat ketulusan itu dari mata Edward. Bahkan Rana berharap Edward bisa jadi teman baik untuk Jeany, mengingat Jeany sempat mengatakan kepadanya bahwa Edward selalu rutin datang ke rumah sakit seminggu sekali. Memberikan perhatian lebih pada Jeany.


"Sayang... Aku bersih-bersih badan dulu... Lengket....!" Ujar Vitto mengibas-ngibaskan jas yang di pakainya sambil mencium aroma tubuhnya yang sudah tidak wangi lagi.


"Aku juga, tetapi aku akan menyiapkan pakaian untukmu...!"


Rana kemudian menaiki tangga menuju kamar Vitto bersama dengan lelaki itu juga tentunya. Vitto tersenyum melihat perhatian yang selama ini Rana berikan kepadanya, bahkan keseharian mereka sudah seperti suami istri. Rana yang selalu sigap bangun pagi menyiapkan sarapan juga keperluan Vitto sehari-hari seperti pakaian dan hal lainnya. Bedanya jika suami istri itu tidur bersama dan melakukan hubungan bad'an, tetapi dia dan Rana tidak seperti itu, juga tidak terikat dalam pernikahan. Mereka hanya menjalani hubungan sepasang kekasih yang normal saja, dan yang menjadi sesuatu dalam hubungan itu adalah mereka tinggal di rumah yang sama.


Sebagai seorang laki-laki normal, Vitto sendiri tidak memungkiri jika terkadang ada sesuatu yang ada dalam dirinya sedikit memberontak untuk di lepaskan ketika berada di dekat Rana , terutama saat mereka berdua sedang berciuman atau berpelukan, tetapi Vitto menyadari bahwa dia tidak boleh melakukan hal itu pada Rana. Vitto harus bersabar untuk memberi ruang pada Rana. Perempuan itu memiliki pengalaman buruk mengenai berhubungan dengan laki-laki, dan Rana pasti memiliki ketidak nyamanan di dirinya. Selain itu, Rana juga belum sepenuhnya membuka diri untuknya, yang membuat Vitto harus tetap bisa menjaga jarak dan batasan yang ada.Vitto yakin akan ada saatnya Rana mau membuka diri, menerimanya seutuhnya, dan jika itu terjadi, Vitto tidak akan lagi menunggu waktu lama untuk menikahi Rana. Dia sudah tidak bisa menahan diri untuk mengikat Rana dan menjadikan Rana sebagai belahan hatinya yang akan menemaninya seumur hidupnya. Itu pasti akan terjadi suatu hari nanti, kali ini dia hanya cukup bersabar saja menunggu Rana benar-benar siap untuknya.


Sampai di kamar Vitto, Rana membuka lemari lelaki itu dan mengambilkan pakaian ganti untuk Vitto. Sedangkan Vitto melepaskan jas yang di pakainya. Rana menutup kembali lemari Vitto dan meletakkan pakaian Vitto di atas tempat tidur. Rana memandangi Vitto yang sedang duduk di sofa melepas sepatu nya. Rana teringat jika dia harus berbicara dengan Vitto mengenai hubungan mereka saat ini. Rana sejak tadi terpikirkan oleh setiap ucapan Jeany, dan membenarkan segalanya. Hal itu juga sebelumnya pernah di katakan oleh Cahya kepadanya. Memang alangkah lebih baiknya jika dia mulai membuka diri dan menerima Vitto sepenuhnya untuk melupakan segala masa lalunya dengan Vino.


"Vitto...!" Suara Rana melembut dan membuat Vitto mengangkat kepala, tersenyum.kepadanya.


"Ya...!!!" Jawab Vitto.


"Kenapa??? Ada apa???" Tanya Vitto.


Rana tersenyum dan menatap Vitto dalam-dalam. "Terima kasih kau sudah banyak membantuku, selalu ada untukku, merawatku dengan baik, memberi perhatian dan selalu ada untukku untuk menjagaku, kau juga mencintaiku, mau menerima seluruh kekurangan yang aku miliki, dan kau juga mau menungguku serta memberiku waktu untuk bisa menerimamu...! Terima kasih atas segalanya...!" Ujar Rana dan melanjutkan lagi perkataannya.


"Aku sudah memutuskan ini dengan baik, sudah memikirkan baim dan buruknya, dan jika aku dapati kau mengkhianati kepercayaanku seperti halnya yang dilakukan oleh Vino, aku akan pergi jauh dan tidak akan lagi mau mempercayai siapapun..."


Vitto mengernyit, tampak bingung dengan apa yang baru saja di ucaokan oleh Rana. "Maksudmu???"


Rana kembali tersenyum. "Aku menerimamu, menerima seluruh cintamu, dan aku berharap kau tidak menggunakan kata cinta dan perhatianmu selama ini untuk menyakitiku seperti halnya yang di lakukan oleh Vino, aku menerima cintamu dan aku akan selalu berusaha untuk mencintaimu juga...!" Ujar Rana dengan mata berkaca-kaca menatap Vitto.


Vitto menelan ludahnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Dia mencoba menelaah setiap perkataan Rana, hingga akhirnya dia mengerti. Senyum bahagia Vitto pun langsung menghiasi wajah tampannya. "Kau serius???"


Rana menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Vitto mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Astaga....!!! Aku tidak percaya ini... Rana... Terima kasih..." Vitto memeluk Rana. "Aku berjanji padamu bahwa aku akan selalu mencintaimu dan menjagamu serta bayimu, kau bisa pegang janjiku ini dan aku tidak akan pernah mempermainkanmu seperti yang oernah Vino lakukan padamu... Tidak akan pernah, jika aku melakukan itu kah bisa langsung menyeretku ke penjara.... Terima kasih Rana sayang... Aku sangat mencintaimu...!"


"Aku juga...!" Gumam Rana dan membalas pelukan Vitto.


★★★★★


Vino berjalan sendirian di sebuah taman yang hijau dan sangat asri dengan pepohonan yang rindang. Berbagai bunga warna-warni. Sebuah pemandangan dan suasana yang begitu menyejukkan dan memanjakan mata. Vino menikmati suasana taman yang begitu cantik ini. Hingga tidak terasa langkahnya terhenti di depan sebuah danau buatan dengan air berwarna hijau toska yang begitu indah. Senyum Vino tersungging di bibirnya, dan ada bangku kayu di tepi danau di sebelah sebuah pohon. Vino berjalan kesana untuk beristirahat sejenak. Kakinya sedikit terasa pegal dan beristirahat sebentar akan membuatnya merasa lebih baik.


Vino duduk di bawah pohon dan memandangi danau itu dengan senyumnya yang tidak hilang di wajahnya. Danau dan taman ini begitu indah dan memanjakan mata. Sangat cocok untuk menghilangkan penat di tengah kesibukannya yang luar biasa selama ini.


Saat sedang melamun, tiba-tiba tangan Vino di sentuh oleh seseorang. Vino yang sedang melamun memandangi Danau pun teralihkan ke arah tangannya yang sesang di sentuh itu. Vino menoleh dan menemukan seorang anak kecil perempuan dengan wajah yang sangat cantik dan menggemaskan. Pipinya tembem tetapi Vino mengernyit ketika menyadari wajah dari anak kecil itu, entah kenapa wajah anak itu mirip seperti wajahnya saat kecil. Sangat mirip sekali.


Vino tersenyum, mengusap lembut pipi anak itu. "Hai sayang.. Kau tersesat ya??? Dimana orang tuamu???" Tanya Vino.


"Papa...!" Ucap anak itu dengan suara menggemaskan khas anak-anak.


Vino mengernyit. "Papa????" Vino menoleh ke segala arah dan tidak melihat siapapun. "Dimana Papa mu???" Tanya Vino lagi.


Tanpa di duga bocah kecil itu justru memeluk pinggang Vino. "Papa..... Papa... Papa....!"


Vino semakin bingung, dan tiba-tiba saja seseorang dengan cepat mengangkat anak kecil itu, menggendongnya dan langsung membawanya pergi tanpa mengatakan apapun. Tetapi anehnya, anak kecil itu terus berteriak menyebut kata Papa sambil terua melihat ke arah Vino yang bingung.


"Papa....!!! Papa...! Papa...!!" Teriak anak itu.


Takut terjadi sesuatu atau penculikan, Vino pun lekas mengejar perempuan yang menggendong dan membawa pergi anak itu.


"Hei tunggu.... Berhenti....!" Teriak Vino sambil mengejar perempuan itu tetapi perempuan itu tidak bergeming dan terus membawa pergi anak kecil itu.


Sampai akhirnya Vino berhasil meraih tangan perempuan itu dan menghentikan langkahnya juga. Perempuan itu menoleh ke arah Vino, dan betapa terkejutnya Vino melihat siapa perempuan itu. Ternyata itu adalah Rana. "Rana...???" Gumamnya.


Rana tidak mengatakan apapun dan melepaskan pegangan Vino dengan kasar lalu berlari pergi meninggalkan Vino bersama dengan anak kecil itu yang terus mengatakan Papa.


"Rana.......!!!!!!" Teriak Vino lagi memanggil nama Rana.


Terlonjak.....!

__ADS_1


Vino terlonjak dan bangun dari tidurnya. "Astaga.....!!!!" Ucapnya sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Aku hanya mimpi....!!!" Gumamnya lagi. "Mimpi macam apa itu, bisa-bisanya aku memimpikan gadis bodoh itu....! Heuhh...!" Vino meraih gelas berisi air putih di atas meja dan meminumnya. Dia masih merasa heran kenapa bisa dia bermimpi bertemu dengan Rana, padahal sama sekali dia tidak pernah lagi mengingat Rana dan sudah melupakan semuanya. Rana dan anak kecil itu, siapa dan apa maksudnya, Vino sama sekali tidak mengerti.


__ADS_2