Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 71


__ADS_3

Hari minggu, Vino hanya duduk diam di balkon kamarnya. Sudah hampir dua minggu dan dia masih belum menemukan keberadaan Rana membuatnya selalu dilingkupi kekesalan kepada semua orang disekitarnya, terlebih lagi mereka membuat kesalahan sudah pasti Vino akan mendamprat mereka. Orang-orang itu lebih memilih untuk menghindari kontak langsung dengan Vino karena mereka tidak mau jika menjadi sasaran kemarahan dari tuannya.


Vino sendiri tidak habis pikir bahwa dia sudah kehilangan Rana padahal dia sudah melakukan berbagai hal serta mengerahkan berbagai upaya untuk mencari keberadaan Rana, sayangnya semua itu tidak membawa hasil apapun. Rana hilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak apapun. Entah perempuan itu meminta bantuan siapa sehingga keberadaannya tidak diketahui sama sekali. Hilangnya Rana membuat Vino sama sekali tidak bisa tidur dengan tenang dan setiap harinya dia selalu saja terpikirkan oleh perempuan itu. Vino terbiasa meluapkan kemarahannya pada Rana dan ketika tidak ada Rana, seperti ada kekosongan yang mendera Vino. Rana sama sekali tidak pernah melawannya setelah sebelumnya dia sering mengancam perempuan itu. Rana memilih diam, dan menangis ketika dia mungkin merasa lelah dengan apa yang dialaminya. Vino takut jika keputusan Rana kabur adalah setelah kejadian pemerk*saan itu. Tangisan Rana bahkan masih terngiang-ngiang di telinganya ketika perempuan itu meminta berhenti, tetapi Vino mengabaikannya begitu saja.


Mobil Vitto memasuki gerbang rumah Vino. Vitto tadi sengaja pulang lebih dulu menggunakan taksi dari apartemennya ke rumahnya untuk mengambil mobilnya. Dia tidak mau Vino tahu tentang mobilnya yang terbaru yang dia gunakan untuk beraktifitas keluar masuk area apartemen ya g ditinggali Rana. Untuk menghindari seseorang mengikutinya ketika dia harus memakai mobil yang biasa dia gunakan. Vitto memarkir mobilnya sembarangan dan langsung keluar untuk menemui Vino yang sudah pasti ada di dalam.


Seperti biasa tanpa permisi, Vitto masuk begitu saja dan mengabaikan pelayan yang coba menyambutnya. Vitto melewatinya begitu saja ketika pelayan itu bertanya apakah Vitto ingin disiapkan kamar untuk menginap disini.


Vitto naik ke lantai dua menuju kamar Vino berada, tanpa mengetuk dia membuka dan masuk begitu saja. Vitto memutar pandangannya melihat kamar Vino yang hening, adiknya tidak ada di kamar dan mungkin saja Vino sedang ada di halaman belakang. Vitto hendak membalikkan badannya sampai akhirnya dia melihat seseorang duduk di balkon luar. Tidak lain itu adalah Vino.


Vitto melangkah pelan mendekati Vino, dan terus menatap punggung adiknya itu dari belakang. Vino sepertinya terlihat sedang melamun, karena tidak biasanya adiknya itu duduk diam tanpa melakukan apapun.


"Apa yang sedang kau pikirkan sehingga duduk termenung disni???" Ucap Vitto yang langsung membuat Vino terlonjak lalu menoleh ke belakang.


Vino memandangi kakaknya yang berjalan ke arahnya dan dia kemudian berdiri. "Kau...!!! Kenapa kau ada disini???" Tanya Vino heran.


"Memangnya kenapa jika aku ada disini??? Ini juga rumahku kan?" Vitto menarik kersi kayu dan duduk.

__ADS_1


"Tidak... Bukan begitu, aku hanya terkejut saja kau tiba-tiba ada disini, karena yang aku ahu kau sudah disibukkan dengan syuting untuk film barumu...!" Vino juga melakukan hal yang sama seperti Vitto yaitu duduk di kursi dan mereka berdua memandangi hijaunya taman belakang rumah mereka.


Vitto terkekeh. "Syuting film baruku ya??? Kau sepertinya perhatian sekali akhir-akhir ini dengan kesibukkanku, itu tidak pernah terjadi sebelumnya? Ada apa denganmu???" Tanya Vitto dengan nada mengejek.


Vino menoleh dan melempar senyumnya.


"Kenapa suaramu terdengar sinis begitu, aku kan hanya bertanya karena kau kemarin mengatakan jika kau sedang memulai proyek film baru...!"


"Aku sudah berhenti dan tidak akan kembali melanjutkan film itu, aku malas bekerja dengan orang-orang munafik dan tidak profesional seperti mereka" Gumam Vitto.


"Tidak akan melanjutkan? Memangnya kenapa Vitt???" Tanya Vino.


Ekspresi Vino langsung berubah terkejut dan mulutnya ternga-nga mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh kakaknya. Vitto ternyata sudah tahu mengenai hal itu, dan sekarang Vitto pasti sengaja menyindirnya. Vino lekas memasang wajah datar dan berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang baru saja dikatakan oleh sang kakak.


Vino terkekeh. "Apa maksudmu??? Kenapa kau berkata seperti itu???"


"Sudahlah lupakan dan tidak usah mengelak, jangan kau pikir aku bodoh sehingga bisa dengan mudah kau permainkan, aku hanya mengatakan satu hal padamu, jika kau tidak menyukai kehadiranku baik disini ataupun di Villa dan dimana saja, kau bisa langsung mengatakannya saja tanpa harus membuang uangmu untuk hal tidak berguna seperti itu, jika kau mengatakannya, sudah pasti aku akan pergi seperti yang kau inginkan, itu sangat sederhana sekali...! Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku kecewa sekali dengan sikapmu itu, entah kenapa dan apa alasanmu melakukan itu aku sama sekali tidak peduli, satu yang pasti jangan bermain di belakangku...!"

__ADS_1


Vitto kemudian berdiri, dan pergi meninggalkan Vino begitu saja. Vitto pergi dengan wajah penuh kekesalan serta kekecewaan. Cara berpikir Vino begitu dangkal dan juga tidak memikirkan dampak apa yang bisa terjadi karena ulahnya itu.


Melihat kepergian Vitto, Vino langsung berdiri dan berlari menyusul kakaknya. Vino berusaha menahan kepergian Vitto seraya meminta maaf atas apa yang sudah dilakukannya. Vino mengatakan jika dia hanya iseng melakukan itu dan tidak bermaksud apa-apa. Tentu saja Vino harus berbohong mengenai alasan utamanya melakukan itu karena Vitto juga tidak boleh tahu tentang Rana. Vino berusaha keras menahan Vitto dan meminta maaf serta berjanji tidak akan mengulanginya lagi.


Sebenarnya itu hanya trik yang dilakukan oleh Vitto untuk memancing Vino, apakah adiknya itu akan jujur tentang alasannya melakukan itu atau tidak, walaupun Vitto tahu, bukan perkara mudah untuk Vino bisa mengatakan sebenarnya tentang Rana. Benar saja, Vino mengatakan hal lain mengenai alasan sebenarnya dia melakukan itu. Vitto sebenarnya marah sekali di dalam hatinya tetapi dia barus menahannya, dia tidak mau mengambil resiko, takut Vino akan curiga. Yang paling penting adalah keselamatan dari Rana.


"Oke baiklah, jika alasanmu hanya iseng, tetapi ingatlah satu hal Vino, aku tidak suka jika dibohongi ataupun dipermainkan....!" Gumam Vitto.


"Sorry sorry... Saat itu aku kesal saja, kau memarahiku dan curiga padaku tentang temanku Rana, padahal sudah jelas bahwa itu hanya sebuah permainan dan Rana sendiri yang mau melakukannya tetapi kau seperti tidak mempercayaiku, jadi karena kesal aku akhirnya melakukan itu untuk mengerjaimu...! Sorry sorry...!"


Vitto hanya bisa mendengus kesal. Tetapi disaat dia hendak berpamitan dengan Vino, seorang laki-laki datang dan berkata bahwa dia kembali gagal untuk menemukan perempuan itu. Sontak dengan cepat, Vino memberinya kode agar pria itu diam dan tidak melanjutkan ucapannya. Tampaknya pria itu tidak tahu jika ada kakak Vino disitu.


"Pergilah... kita bicara nanti...!!" Ucap Vino dan Pria itu langsung membalikkan badan dan keluar dari rah Vino.


Vitto mengernyit. "Menemukan perempuan? Perempuan siapa? Dan untuk apa kau mencarinya?" Tanya Vitto mencoba menelisik meskipun dia tahu bahwa perempuan yang dimaksud pastilah Rana.


"Oh itu, bukan apa-apa, aku hanya menyuruhnya untuk mencari perempuan yang akan menggantikan salah satu pelayan disini yang akan keluar...!" Jawab Vino kembali berbohong.

__ADS_1


Vitto hanya mengangguk kemudian dia berpamitan pada Vino untuk pulang. Saat berjalan keluar dari rumah adiknya itu, Vitto kembali mengernyit dan ingin sekali mengumpat kasar untuk memaki Vino. Entah ini sudah kebohongan yang ke berapa kali yang dilakukan Vino untuk menutupi segala kebusukannya.


★★★★★★


__ADS_2