Ku Temukan PENGGANTINYA

Ku Temukan PENGGANTINYA
Eps 133


__ADS_3

"Mama lah yang tidak berguna, Mama juga lah yang sebenarnya cacat, cacat pikiran serta hati Mama, Mama sama sekali tidak beeguna....!" Teriak Vitto dengan marah. Tatapannya tajam, matanya menyala penuh dengan kemurkaan terhadap sang Mama.


"Kenapa Mama menyalahkan Papa??? Apa selama ini Mama belum puas terus menyakitinya...!!!??? Mama sudah tidak memiliki hak apapun disini, juga tidak memiliki hak pada diriku ataupun Vino... Kami sudah dewasa dan bisa membawa diri kami sendiri tanpa perlu bantuan Mama....!"


Tatapan Vita tidak kalah tajamnya pada Vitto. Putranya itu sudah berani sekali kepadanya bahkan mendorongnya hingga hampir terjatuh. "Kau memang anak kurang ajar dan durhaka, aku yang melahirkanmu, dan kau malah berani sekali mendorongku dan memakiku, kau tidak akan jadi seperti sekarang jika bukan karenaku....!!"


Vitto tersenyum mengejek. "Mama memang melahirkanku, tetapi pernahkah Mama berpikir apa yang sudah Mama lakukan dulu itu benar??? Seorang ibu yang baik tidak akan pernah mengkhianati suaminya dan anak-anaknya, pengkhianatan itu begitu besar hingga membuat salah satu anakmu harus kehilangan nyawanya sia-sia, jangan pernah menyebut kau adalah seorang ibu.... Kau tidak pantas disebut sebagai Ibu....!"


"Vitto...! Jangan berteriak pada Mamamu....! Menyingkirlah dari depannya dan jangan mengatakan apapun lagi, kau tidak boleh lupa janjimu pada Papa...!" Ucap Papa Vitto.


Vitto menoleh memandang Papanya, kemudian memundurkan langkahnya menjauhi sang Mama. Vitto tidak bisa membantah atau menolak permintaan Papanya meskipun Vitto ingin sekali rasanya menyadarkan Mamanya dari drama ini. Mamanya harus diingatakan akan kesalahannya agar tidak semena-mena, tetapi Papamya menghalanginya.


"Vita...! Jangan bertengkar dengan putramu sendiri, jangan menyulut emosi Vitto jika kau tidak ingin kata-kata yang buruk keluar dari mulutnya, pergilah dan kita jalani saja persidangan itu... Kita bisa saling terbebas dari ikatan ini, kau bisa bahagia dengan hidupmu dan aku juga bisa bahagia dengan hidupku...!"


"Oh jadi memang benar bahwa Papa yang sudah mengajari anak-anak untuk melawanku, ini adalah rumah kita, aku juga memiliki hak berada disini lalu kenapa aku harus menuruti Papa untuk pergi dari sini???"


Suara tepuk tangan tiba-tiba terdengar dari pintu. Vino baru saja datang bersama dengan Angel di sampingnya. Vino tersenyum, berjalan masuk sambil bertepuk tangan, seolah mencemooh Mamanya.


"Woooww.... Wowww... Sejak kapan Mama punya hak atas rumah ini??? Hmmm... Sejak kapan??? Ini adalah rumahku, Papa memberikannya padaku dan dia tinggal bersama denganku sekarang, aku adalah pemilik tunggal rumah ini, bahkan Vitto juga tidak memiliki hak apapun lagi disini, karena dia sudah memiliki tempat tinggal sendiri!"


Vino terus melangkah masuk mendekati Mamanya. Vino berdiri tepat berhadapan dengan sang Mama masih dengan tatapan yang sama, tatapan mencemooh dan penuh rasa muak.

__ADS_1


"Tetapi meskipun rumah ini sudah menjadi milikku, bukan berarti Vitto ataupun Papa tidak boleh tinggal disini, aku mengijinkan itu, tetapi hanya mereka berdua saja dan kau seharusnya malu dengan ucapanmu, malu dengan dirimu sendiri, mengacalah sebelum berbicara...!"


Vino masih memandang sinis ke arah Mamanya sambil mengatakan berbagai hal untuk menyindir sang Mama. Mengupkan segala kemarahannya selama ini dan meminta agar Mamanya segera pergi dari rumah ini. Tetapi ternyata Mama Vino dan Vitto itu menolak dan tetap kekeuh akan berada disini sebelum suaminya membatalkan rencana untuk menceraikannya.


Mama Vino dan Vitto itu terus berbicara agar suami dan anaknya menuruti keinginannya karena dia tidak mau berpisah dari mereka. Tetapi hal yang sama juga dilakukan oleh Vino dia sudah terlalu muak dengan drama Mamanya dan sama sekali tidak mempercayai setiap perkataannya. Vino benar- benar curiga bahwa ada yang tidak beres dengan kehadiran mamanya kembali setelah bertahun-tahun pergi meninggalkan mereka.


Vita mendekati Vino, mencengkram bahu putra keduanya itu dan menatapnya nanar. "Vino.... Jika memang kau tidak mengijinkan Mama tinggal disini, setidaknya kau harus menghentikan perceraian ini.....!!! Tolong Vino, Mama tidak mau berpisah dengan kalian bertiga...!"


Vino tertawa mengejek, sambil membuang muka dan pura-pura meludah. "Mama sudah berpisah dengan kami sejak lama kan? Jadi kami sudah terbiasa hidup sendiri tanpa Mama, sudahlah cepat pergi atau aku akan menyuruh pengawal untuk menyeret Mama keluar dari rumahku...!" Vino mulai mengancam karena dia sudah merasa kesal sekali dengan Mamanya yang terus saja memaksa.


Seperti tidak peduli dengan ancaman Vino, Vita terus berteriak dan memaki suami serta kedua putranya. Amarah Vitto sebenarnya sudah memuncak tetapi dia mencoba menahan diri agar tidak mengatakan atau mengeluarkan umpatan pada Sang Mama. Sampai akhirnya batas kesabaran Vino juga habis, dia memanggil seluruh pengawal menyuruh mereka masuk dan membawa Mamanya pergi dari sini.


Dua pria masuk dan mereka segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Vino. Keduanya langsung memegang tangan Mama Vino dan menariknya keluar dari ruang tamu.


"Vino.... Vitto.... Kalian berdua memenag anak kurang ajar, berani sekali kalian melakukan ini pada Mama....! Mama menyesal melahirkan kalian.... Kalian berdua memang anak durhaka......!"


Vino dan Vitto berbalik arah dengan marah dan tidak melihat lagi Mamanya yang dibawa keluar oleh para pengawal. Mereka masih mendengar teriakan dan berbagai umpatan yang keluar dari mulut Mama mereka. Ini sangat menyebalkan sekali, Mama mereka tetap tidak berubah. Mamanya mengatakan bahwa dia yang sudah melahirkan mereka tetapi sikap, serta sifatnya sama sekali tidak mencerminkan seorang ibu sama sekali. Hal seperti itulah yang terkadang muncul dan menimbulkan kebencian di hati Vino dan Vitto, tetapi mereka masih mencoba menghormati bahwa Vita Mamanya dengan tidak mengatakan sesuatu yang buruk atau kotor, dan hanya mencela serta menyindir perlakuan dari Mamanya itu.


Vitto kali menatap Angel yang berdiri diam sejak tadi di sebelah Vino. Satu lagi pengkhianat besar yang sudah menghancurkan keluarganya ada di depan matanya. Pengkhianat yang masih melenggang bebas hingga saat ini. Keributan seperti ini terjadi di depan Angel, Vitto yakin Angel nanti atau entah kapan pasti akan menceritakan masalah ini pada si brengsek Jason. Hari ini bagi Vitto sudah cukup, emosinya sudah terkuras habis dan dia tidak mau hatinya menjadi lebih panas lagi harus berlama-lama melihat Angel, penghancur keharmonisan keluarganya. Angel sumber masalah dari segala masalah yang ada di keluarga ini.


"Papa....! Jangan terlalu pikirkan semua yang dikatakan oleh Mama tadi, Papa fokus saja dengan diri Papa juga perceraian ini, Mama memang sudah kehilangan akalnya... Vitto harus pergi, ada beberapa urusan yang harus Vitto kerjakan setelah ini, lagipula rumah ini terasa semakin sesak dan panas saja, Maaf Vitto tidak bisa disini terlalu lama...!" Gumam Vitto.

__ADS_1


"Kenapa kau buru-buru???" Tanya Vino.


"Aku ada janji makan siang dengan seseorang, dia sudah menungguku, aku harus pergi....!"


Vitto menyalami Papana dan memeluknya, sekali lagi dia meminta agar Papanya tidak terlalu memikirkan apa yang baru saja terjadi. Semua akan baik-baik saja, dan dia menjamin bahwa perceraian itu akan berjalan dengan baik.


Vitto keluar dari rumah Vino dan masuk ke mobilnya


Dia akan langsung pulang. Bertemu dengan Rana akan membuatnya merasa lebih baik. Rana menjadi tempat nyaman untuk berkeluh kesah, perempuan itu selalu menjadi pendengar yang baik bagi Vitto ketika dia menceritakan hari-harinya.Harinya benar-benar kacau harus berhadapan dengan kedua wanita gila itu, Angel dan Mamanya. Kedok Mamanya sudah terbongkar dan tinggal Angel saja, dan Vitto masih menunggu waktu itu akan tiba.


Vitto mengambil pknselnya dan dia menghubungi Rana agar menunggunya pulang dan makan siang bersama.


"Hai Ran.... Kau sedang apa????" Tanya Vitto langsung ketika Rana mengangkat panggilannya.


"Aku sedang memasak untuk makan siang. Kau masih di rumah Papamu???" Tanya Rana Balik.


"Tidak, aku akan pulang sekarang, kita makan siang bersama ya, beruntungnya kau belum makan siang dan saat ini sedang memasak untuk makan siang, aku sedang dalam perjalanan pulang...!".


"Hmmm kupikir kau akan makan siang bersama Papamu, ya sudah aku akan menambahi porsinya karena kau pulang, hati hati di jalan ya???"


"Oke...!" Vitto pun menutup panggilannya sambil mengendarai mobilnya menuju apartemennya yang dia tinggali bersama dengan Rana.

__ADS_1


Tanpa disadari oleh Vitto, dia diikuti oleh sebuah mobil di belakangnya. Siapa lagi juga bukan sang Mama yang ternyata sejak tadi belum pulang dan sengaja menunggu di sebelah rumah Vino untuk mengikuti Vitto, karena dia tahu jika tadi ada mobil yang terparkir di depan kemudian Vitto juga kebetulan ada di rumah itu, menandakan bahwa itu pastilah mobil Vitto. Dan dia bisa mengikutinya sehingga suatu saat bisa datang ke tempat tinggal putranya. Ini adalah moment yang bagus untuknya. Dan Vitto kali ini sendirian tanpa bodyguard seperti sebelumnya saat di bandara tempo hari.


__ADS_2